
Setelah Pak Wijaya dan Bu Siti pulang umroh orang tua Bagas datang ke rumah Bintang untuk melamar Dewi secara resmi.
"Jadi kedatangan kami ke rumah ini adalah untuk melamar Dewi secara resmi. Seperti permintaan Dewi kemarin. Dua bulan lagi akan kita laksanakan akad nikah dan pesta pernikahan mereka. Apakah tidak sebaiknya hal ini kita bicarakan dan rencanakan mulai dari sekarang" ujar Papa Bagas memulai pembicaraan.
"Kami menerima dengan baik maksud dan tujuan keluarga Raksajaya datang ke rumah kami ini. Memang beberapa bulan yang lalu kita sudah pernah membahas hal ini dan Dewi sepakat untuk menikah setelah dia selesai ujian semester dan setelah saya dan Ibunya Dewi menikah. Karena memang waktunya tidak lama lagi memang sebaiknya kita rencanakan sejak sekarang" sambut Pak Wijaya.
"Jadi apakah sudah positif dua bulan sejak saat ini kita selenggarakan pesta pernikahan mereka?" tanya Pak Raksajaya.
"Gimana Sit, Bintang dan Tiara?" tanya Pak Wijaya.
Siti menatap menantu dan anaknya. Kemudian menganggukkan kepalanya ke arah suaminya.
"Baik, kami setuju dengan waktu tersebut. Pernikahan Dewi dan Bagas kita laksanakan dua bulan dari sekarang" tegas Pak Wijaya
"Alhamdulillah.. " gumam Bagas senang.
"Kalau begitu kita sudah bisa mulai memesan gedung, WO yang lainnya?" tanya Pak Reksajaya.
"Kalau mengenai itu biar Bagas aja Pa yang mengurusnya. Gaun dan Cincin pernikahan sudah selesai. Soal gedung dan EO aku akan pakai milik clientku. Papa ataupun Bapak tidak perlu repot memikirkannya. Aku juga sudah urus surat kepindahan Dewi kuliah. Begitu selesai ujian dan nilai Dewi sudah keluar. Dewi akan langsung aku pindahkan ke kampus di Jakarta ini" jawab Bagas.
"Baguslah kalau kamu sudah berpikir jauh ke depan Gas" sambut Pak Raksajaya.
"Dewi bagaimana? Apakah ada permintaan lain?" tanya Istri Pak Raksajaya.
"Tidak Ma, aku dan Mas Bagas sudah membicarakan yang lainnya Ma. Dan kami sudah sepakat dengan semuanya. Jadi apapun yang Mas Bagas putuskan aku akan ikut" jawab Dewi.
"Syukurlah kalau kalian akur. Memang lebih baik seperti itu. Belajar mulai sekarang. InsyaAllah rumah tangga kalian akan adem" sambut Bu Viona Mamanya Bagas.
Siti tersenyum menanggapi ucapan Mamanya Bagas. Dia sebelumnya sudah mengingatkan Dewi agar Dewi selalu patuh pada suaminya setelah menikah. Dan mungkin Dewi sudah mulai belajar.
"Setelah menikah tinggal di rumah Mama ya" pinta Viona.
Dewi menatap wajah Bagas.
"Ma.. maaf, kami akan tinggal di apartemen. Kami ingin belajar mandiri lagian apartemen lebih dekat jaraknya ke kampus Dewi dari pada dari rumah Mama" jawab Bagas.
Pak Raksajaya menatap istrinya.
"Ma, biarlah mereka membangun rumah tangga nya sendiri, biarkan mereka mandiri. Kita tidak perlu ikut campur dalam rumah tangga mereka" cegah Pak Raksajaya.
"Baiklah kalau begitu" jawab Viona.
Tak lama Tiara datang dengan membawa beberapa makanan ringan untuk disajikan kepada keluarganya dan juga keluarga Bagas.
__ADS_1
"Silahkan Om, Tante di makan" ujar Tiara.
"Ini buatan kamu Ra?" tanya Viona.
"Bukan Tante, aku gak sempat karena Zia masih terlalu kecil suka rewel. Ini Dewi yang masak" jawab Tiara.
"Waaah calon mantuku rupanya yang buat. Pinter ya ternyata" puji Viona.
Dewi hanya bisa tersenyum malu. Viona langsung mencoba makanan yang dihidangkan Tiara.
"Mmm.. enak Wi. Wah Bagas pasti gendut ini nikah sama kamu kalau kamu pinter masak. Bagas kan doyan makan" ujar Viona.
"Mama... aku kan bisa ngejim" elak Bagas.
"Kalau mau cari seserahan pernikahan sama Tante aja Gas. Nanti Tante akan ajak Dewi beli perlengkapan yang pasti akan buat kamu senang" Ujar Sekar.
"Waaah boleh Tante" sambut Bagas.
"Kamu tinggalkan sahabat ATM kamu tapi di isi penuh. Seperti Mas Jay" Sekar memainkan sebelah matanya ke arah Pak Wijaya.
Pak Wijaya tertawa mengingat apa yang dilakukan Sekar pada istrinya. Benar kata Sekar, semuanya membuat mata Pak Wijaya senang saat Siti memakainya. Pak Wijaya sama yang sudah hampir tua bisa bangkit kembali semangat masa mudanya apalagi Bagas yang masih kuat.
"Gampang Tante, saat ini pun bisa langsung aku serahkan pada Dewi" jawab Bagas.
"Gimana Bu apa gak ngerepotin? Dewi katanya lagi sibuk persiapan ujian" pinta Bagas.
"Ibu sih gak masalah tapi takutnya Sekar yang berhalangan" jawab Siti.
"Kalau urusan belanja tidak akan ada halangannya Sit. Kalau udah ada jadwal aku bisa reschedule" sambut Sekar cepat
"Kamu mau ikutan Vi? Kan yang mau nikah anak kita. Bagaimana kalau kita belanja bareng?" ajak Siti.
"Boleh Sit. Nanti kita atur jadwal ya" balas Viona.
"Hem... wanita kalau udah urusan belanja cepat banget langkahnya. Kakinya berubah jadi kaki seribu" sambar Pak Raksajaya
"Hahaha... benar kamu Sa" jawab Pak Bambang.
"Hah lega.. aku tinggal cari WO dan gedung. Yang lain biar para Mama deh yang cari" ujar Bagas sambil bernafas lega.
"Trus bantuan aku apa donk?" tanya Bintang.
"Kamu tiket honeymoon aja deh" jawab Bagas.
__ADS_1
"Boleh, dua malam tidur di Villa Bapak di Lembang" ungkap Bintang.
"Kakak ipar pelit. Aku aja kasih tiket umroh sama Bapak dan Ibu masak kamu cuma kasih begituan" protes Bagas.
"Emangnya kamu mau berapa hari? Seumur hidup juga kalau kamu mau tinggal di Lembang Bapak pasti akan sangat senang" sambut Bintang.
"Aku bukan protes berapa lamanya Bin tapi tempatnya dekat amat" ujar Bagas.
"Ya udah satu malam di kepulauan Bajo" jawab Bintang.
"Satu malam?" tanya Bagas tak puas.
"Lah katanya bukan masalah waktunya tapi tempatnya" komentar Bintang.
"Terserah kamu deh, kalau kamu pelit aku juga bisa pesan sendiri" jawab Bagas kesal.
"Hahaa... ada yang ngambek Wii" Goda Bintang.
"Maaaas" panggil Tiara.
Bintang menatap wajah istrinya yang tampak marah.
"Oke deh karena istriku marah padaku gara - gara kamu. Seminggu di kepulauan Bajo. Gimana?" tanya Bintang serius.
"Naaah gitu donk. Kalau itu aku mau" sambut Bagas dengan cepat.
"Semangat banget mau honeymoon" goda Bintang.
"Yoi... kamu kayak gak pernah ngerasain aja" sambut Bagas.
"Kalian ini paling senang bertengkar gak jelas seperti itu. Pusing kami melihat tingkah kalian sudah mirip Tegar. Sepertinya kalian masih pantas rebutan mainan bareng Tegar" ledek Pak Bambang.
"Bagas ini Pa" jawab Bintang.
"Ngadu.. emangnya kamu aja yang punya Papa. Papaku juga lagi ada di sini kok" jawab Bagas.
Refleks Bintang menginjakkan kakinya ke kaki Bagas sangkin kesalnya membuat Bagas berteriak karena kesakikan. Membuat semua yang ada di situ tertawa dan menggelengkan kepala mereka melihat tingkat kedua sahabat itu yang sulit sekali akur.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1