Tiara

Tiara
Penyelamat


__ADS_3

Bruk.. bruk..


Pria itu memukul dua pria dan menendangnya hingga mereka jatuh tersungkur.


"Aaaw... toloooong" teriak Dewi lebih kencang agar orang lain mendengar.


Dua pria sudah jatuh kini hanya tinggal seorang pria yang memeluk Dewi dari belakang.


Mungkin karena Dewi merasa sudah ada orang yang membantunya sehingga semangat dan kekuatannya muncul. Dengan sangat kuat Dewi menginjak kaki pria itu kemudian Dewi memutar tubuhnya dan menendang ************ pria ke tiga.


"Cepat hubungi Bagas" perintah pria yang menolong Dewi.


"I.. iya.. " jawab Dewi. Dewi sempat terpaku sesaat ketika melihat siapa pria yang menolongnya.


Ternyata pria itu adalaha Morgan pantas saja dia mengenal Bagas dan menyuruh Dewi menghubungi Bagas.


Morgan sedang berkelahi dengan dua pria sedangkan pria ke tiga masih kesakitan karena tendangan Dewi tepat mengenai inti tubuhnya.


Dewi langsung meraih jilbabnya dan memakainya kembali kemudian dia mencari ponselnya dan menghubungi Bagas.


"Halo" ucap Bagas dari seberang.


"Ma.. maas to.. loooong" ucap Dewi.


"Kamu kenapa Wi?... oke Mas akan segera ke sana" Bagas langsung menutup teleponnya dan berlari sekuat tenaga ke tempat dimana dia tadi meninggalkan Dewi.


Jantung Bagas rasanya mau copot ketika mendengar Dewi meminta tolong. Semoga dia belum terlambat. Bagas berlari dengan kekuatan penuh. Dari kejauhan dia melihat ada seorang pria sedang berkelahi dengan dua orang pria. Satu pria sedang terbaring menahan rasa sakit.


Dimana Dewiku? tanya Bagas dalam hati.


Tiba - tiba Bagas melihat Dewi yang berdiri tak jauh dari pria yang berkelahi.


"Dewiiiii" teriak Bagas.


"Maaas tolong Maaas" sambut Dewi.


Bagas melihat ternyata Morgan yang sedang berkelahi dengan dua pria itu. Dengan cekatan Bagas langsung ikut berkelahi membantu Morgan. Kini mereka bertarung satu lawan satu. Dengan cepat dua pria itu bisa dikalahkan oleh Bagas dan Morgan. Tapi dengan wajah babak belur mereka berlari sambil menarik satu pria yang masih kesakitan di bagian selangkangannya.


"Kamu dari mana?" tanya Morgan kesal.


Dewi langsung berlari ke dalam pelukan Bagas.


"Maaaas" panggil Dewi.


"Maaf aku lama ya, toiletnya jauh" jawab Bagas sambil membalas pelukan Dewi.


Bagas menatap wajah Morgan dengan penuh rasa terimakasih. Ada luka di sudut bibir Morgan, mungkin tadi terkena pukulan salah satu pria yang bertarung dengan Morgan.


"Terimakasih Gan kamu sudah menyelamatkan istriku" ujar Bagas.


"Kamu gila ya meninggalkannya sendirian di sini" bentak Morgan.

__ADS_1


"Tadi belum sepi begini.. i.. iya aku salah. Maafkan aku sayang, lain kali aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian lagi" ucap Bagas dengan rasa bersalah.


"Iya Mas gak apa - apa" jawab Dewi.


"Untung saja istri kamu itu pemberani. Aku yakin senjata pria itu tidak akan bisa berdiri lagi setelah ditendang istri kamu" ujar Morgan.


"Benarkah sayang?" tanya Bagas kepada Dewi.


Dewi menganggukkan kepalanya ke hadapan Bagas.


"Ya sudah kita pulang yuk" ajak Bagas.


"Kamu menginap di hotel mana Gan?" tanya Bagas.


"Aku menginap di Hotel XXX" jawab Morgan.


"Lho sama dengan kami, kalau begitu kita bareng saja balik ke sana" ajak Bagas.


"Kalian naik apa?" tanya Morgan.


"Kami jalan kaki. Tadi kami hanya berjalan - jalan saja di sekitar Pantai Kuta" jawab Bagas.


"Ya sudah kalau begitu bareng aku saja kembali ke Hotel. Aku bawa mobil" ajak Morgan.


"Okey" Bagas menggandeng tangan Dewi dan mereka berjalan beriringan menuju mobil Morgan.


Tak lama kemudian mereka bertiga kembali ke Hotel dimana mereka menginap.


"Gan kamu rencana mau kemana malam ini?" tanya Bagas.


"Belum ada rencana. Besok aku mau meeting pagi. Sepertinya aku langsung istirahat aja deh" jawab Morgan.


"Ngopi yuk.. tapi setelah aku antar istriku dulu ke kamar ya" ajak Bagas.


"Ah nanti jadi ngeganggu acara kalian. Kalian ke sini kan mau honeymoon" elak Morgan.


"Halaaaah honeymoon masih ada enam hari lagi. Lagian biar istriku istirahat aja malam ini. Tadi dia pasti shock, biarlah malam ini dia tidur dengan tenang. Gak usah aku ganggu" ujar Bagas.


"Oke kalau begitu aku tunggu" sambut Morgan.


"Yuk yank kita naik ke kamar" ajak Bagas.


"Mas Morgan terimakasih ya tadi udah nolongin aku" ucap Dewi tulus.


Morgan melihat wajah Dewi benar - benar tulus. Wanita yang pintar dan tau bagaimana berterima kasih. Pikir Morgan.


"Iya sama - sama. Lain kali kalau nungguin suami di tempat yang ramai" pesan Morgan.


"Iya Mas, lain x aku ikut Mas Bagas aja deh kemana pun dia pergi. Mending aku tungguin aja dia di depan toilet" jawab Dewi menyesal.


"Mending sekalian aja kamu ikut masuk ke dalam toilet" sambung Morgan.

__ADS_1


"Woi... toilet umum. Klo toilet kamar mandi udah aku hajar" ujar Bagas.


"Dasar kampr** lo" umpat Morgan.


"Hahaha.. oke bro tunggu sini ya, aku ke atas sebentar ngantar Dewiku" ucap Bagas.


Bagas dan Dewi berlalu. Mereka segera berjalan menuju lift dan naik ke lantai paling atas dimana kamar mereka berada. Sedangkan Morgan menatap kepergian Bagas dan Dewi sampai bayangan mereka menghilang di balik pintu lift.


Baru kali ini rasanya bisa bercanda lepas dengan Bagas layaknya teman. Sebenernya memang mereka tidak pernah berkelahi sampai babak belur. Mereka hanya bersaing saling sikut, rebutan, saling sindir dan saling ejek.


Morgan tak mengerti sejak kapan mereka jadi lawan dan saingan dalam hal apapun terlebih wanita. Mungkin karena Bagas dulu terkenal di kalangan wanita.


Sebenarnya Bagas, Roy dan Bintang terkenal di kalangan wanita dikampusnya. Tapi Bintang tipe setia, dia berpacaran dengan Siska sedangkan Roy patah hati dengan wanita sehingga dia menjadi play boy.


Sementara Bagas hampir sama sifatnya dengan dia. Morgan pernah naksir dengan seorang wanita di kampus ternyata wanita itu menyukai Bagas dan berpacaran dengan Bagas.


Sejak saat itulah persaingan mereka dimulai. Setiap pacar Bagas selalu Morgan rebut, ada kepuasan tersendiri rasanya bisa merebut pacar Bagas.


Dan itu berlanjut sampai mereka dewasa dan menjadi seorang pengusaha muda. Mereka selalu bersaing dalam bisnis terlebih wanita.


Morgan segera masuk ke dalam restoran hotel, dia memilih meja yang ada di luar agar bisa santai sambil menikmati rokok bersama Bagas.


Tak lama seorang pelayan datang, Morgan memesan kopi hitam. Setelah pelayan pergi Morgan melempar pandangannya ke luar. Menikmati udara malam di hotel yang tak jauh dari Pantai Kuta.


Tak lama kemudian Bagas datang menghampirinya dan duduk di depannya.


"Sorry lama menunggu" ujar Bagas.


"Gak apa kok. Gimana istri kamu, sudah tenang?" tanya Morgan.


"Alhamdulillah sudah tenang. Syukur dia bukan wanita yang lemah. Dia hanya butuh istirahat tidur, besok pagi pasti kekuatannya akan kembali dan dia ceria kembali" jawab Bagas.


"Kamu beruntung ya bisa menemukan wanita seperti dia. Cantik, ceria, masih muda lagi" puji Morgan.


"Ya aku sangat beruntung bisa menemukannya" jawab Bagas.


Bagas menatap kearah Morgan. Kali ini i Bagas tidak merasa takut atau khawatir kalau Morgan akan berusaha merebut Dewi darinya.


Bagas merasakan pandangan Morgan berbeda, bukan pandangan persaingan apalagi benci ataupun iri. Morgan benar - benar tulus mengatakan hal itu.


"Kamu juga pasti punya peri keberuntungan Gan, seperti aku menemukan Dewi keberuntungan aku. Tapi sebelum kamu mencarinya kamu harus berubah dulu. Kalau kamu tidak berubah dan terus berbuat seperti apa yang kita lakukan dulu, kamu pasti tidak akan menemukan peri kamu Gan. Karena setiap hari kamu hanya bertemu dengan setan - setan pecinta isi dompet kita saja. Percaya deh padaku" nasehat Bagas.


Morgan menatap hamparan laut dan menarik nafas panjang.


"Aku ingin berubah Gas, aku bosan hidup seperti ini. Entah mengapa aku terus merasa hampa dan tak tau kemana tujuan hidupku" ungkap Morgan.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2