Tiara

Tiara
Operasi penyelamatan Tiara 3


__ADS_3

Setelah satu jam berlalu akhirnya operasi selesai. Para Dokter dan Perawat keluar dari ruang operasi. Bintang dan semua yang menemaninya di ruang tunggu berdiri menyambut kedatangan Dokter dan Timnya.


"Bagaimana istri saya Dok?" tanya Bintang begitu dia menghampiri Dokter


"Alhamdulillah operasinya berhasil" ucap Dokter.


"Alhamdulillah.. " sambut Bintang dan yang lainnya.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Bintang.


"Keadaan istri Bapak stabil, kita hanya tinggal menunggu pasien sadar dan menunggu waktu pemulihan" jawab Dokter.


"Terimakasih Dok" jawab Bintang.


"Terus beri semangat pada istrinya ya Pak, untuk mempercepat pemulihannya" nasehat Dokter.


"Baik Dok" Bintang menjabat tangan Dokter dengan sangat hormat mengungkapkan rasa terimakasihnya karena Dokter sudah menyelamatkan nyawa istrinya.


Setidaknya dia bisa bernafas lega karena operasi Tiara berhasil dan tinggal menunggu Tiara sadar untuk pemulihan. Selanjutnya biarlah waktu yang menjawabnya.


Bintang yakin perlahan - lahan Tiara bisa menerimanya dengan ikhlas dan dia berjanji akan meyakinkan Tiara bahwa cintanya tidak akan pernah pudar dan berubat kepada Tiara. Sampai kapanpun dia akan tetap mencintai Tiara.


Seluruh keluarga dan para sahabat juga ikut merasa lega karena Tiara bisa terselamatkan dan operasinya juga berhasil. Tak mengapa rahim Tiara di angkat yang penting Tiara selamat.


Tiara sudah dipindahkan di ruang pemulihan. Kini semua keluarga dan para sahabat sedang melihat bayi mungil anak kedua Bintang dan Tiara.


Sekar menggendong putri Bintang dengan penuh hari.


"Cucu Oma cantik... terimakasih sayang kamu dan Mama kamu sudah berjuang untuk tetap bersama kami" ucap Sekar.


"Waaah cantik sekali ya anaknya Tiara dan Bintang" puji Dian.


"Anak kuaaat" ucap Pak Bambang.


"Oma Tegar mau lihat adek" pinta Tegar.


Bagas langsung menggendong Tegar.


"Hup... sekarang Kakak Tegar udah bisa kan lihat adek bayinya?" tanya Bagas.


"Sudah Om, makasih" jawab Tegar.


"Gimana adeknya?" tanya Sekar.

__ADS_1


"Adek bayinya cantik sekali, pipinya enduuut" jawab Tegar.


"Aku gemas pengen cubit pipinya" sambung Tegar.


"Eits.. gak boleh sayang adeknya masih terlalu kecil" cegah Pak Bambang.


"Oma.. kapan aku bisa bertemu Mama?" tanya Tegar.


"Sabar ya sayang Mama kamu masih bobok nanti kalau Mamanya sudah bangun baru kamu bisa bertemu dengan Mama" jawab Sekar.


"Mama kok lama banget boboknya, masak Mama gak mau ketemu adek bayi? Mama belum gendong adek kan?" tanya Tegar ingin tau.


"Tadi setelah Mama melahirkan adek, Mamanya minum obat jadinya ngantuk makanya belum sempat gendong adek bayinya. Nanti kalau Mamanya Tegar udah bangun pasti Mama langsung gendong adeknya" jawab Sekar lagi.


"Anak kamu memang pintar banget Bin, nanya sampai ke situ. Kalau aku yang di tanya begituan bingung aku mau jawab apa?" ujar Roy kepada Bintang.


"Kamu harus belajar dari sekarang Roy, sebentar lagi kan kamu juga akan punya anak. Dan jaga Dian baik - baik. Jangan sampai apa yang terjadi denganku terjadi juga pada kalian. Cukup aku saja yang merasakan seperti ibu, kalian jangan" ucap Bintang mengingatkan.


"Iya Bin, aku ngeri membayangkan kalau Dian yang mengalami hal seperti Tiara. Kalian sih enak udah punya dua anak, sepasang lagi. Kalau aku dan Dian satu aja belum" balas Roy.


"Jaga Dian baik - baik Roy jangan kasih dia naik turun tangga lagi, berbahaya" sambung Bintang.


"Iya, makasih Bin kamu udah ngingatin aku" jawab Bagas.


"Bapak, Ibu" Bintang langsung menyambut kedatangan mertuanya itu dan mencium tangan mereka dengan hormat.


"Bagaimana keadaan Tiara Bin?" tanya Bu Siti langsung.


"Tiara masih belum sadar Bu. Dia masih di ruang pemulihan dan masih dibawah pengaruh obat bius pasca operasi" jawab Bintang.


"Anak kamu?" tanya Pak Wijaya.


"Alhamdulillah anak aku selamat dan sehat. Tuh Pak, Bu. Ibu dan yang lainnya lagi lihat adek bayi di ruangan bayi" Bintang menunjuk ke arah ruangan bayi.


"Kami mau lihat Bin" pinta Siti.


"Ayo Bu, kita masuk" sambut Bintang.


Bintang menemani kedua mertuanya masuk ke ruangan bayi. Pak Wijaya dan Siti mendekat ke arah Sekar yang sedang menggendong bayinya Bintang dan Tiara.


Ketepatan siang itu para anak bayi dibawa ke ruangan orang tua mereka masing - masing sehingga ruangan bayi terlihat sepi.


"Ya Allah cucu kita Kar. Mas lihat cantiknya cucu kita" ujar Siti kesenangan ketika melihat putri Tiara yang sangat cantik dan gemuk.

__ADS_1


"Iya Sit, putih dan bersih banget" sambut Sekar


"Boleh aku gendong. Aku ingin sekali menggendongnya" pinta Siti.


"Boleh tentu saja boleh. Ini kan cucu kita bersama" ucap Sekar.


Sekar memberikan bayi itu kedalam gendong Siti. Bayi mungil itu berpindah dari gendongan Sekar ke gendongan Siti.


"Sayang eyaaang sehat - sehat ya.. kelak jadi anak yang sholehah" ujar Siti.


"Aamiin" sambut Sekar.


Pak Wijaya mendekati Bintang.


"Gimana tadi ceritanya Bin? Mengapa Tiara bisa jatuh dari tangga" tanya Pak Wijaya.


"Tadi pagi Tiara ingin membangunkan Tegar Pak. Jadi dia naik ke lantai atas ke kamar Tegar. Lalu setelah Tegar bangun dia turun. Nah pas turun itu dia terjatuh. Aku tidak tau Tiara jatuh dari ketinggian berapa yang jelas saat aku berada di tempat itu Tiara sudah pingsan dan berdarah. Aku, Tegar dan Mang Kardi segera membawa Tiara ke Rumah Sakit. Tiara langsung di operasi karena mengeluarkan banyak darah bahkan tadi dia sudah mendapatkan transfusi darah. Bayi kami berhasil di selamatkan hanya... " Bintang tak sanggup melanjutkan.


"Hanya apa Bin?" tanya Siti penasaran, dia tidak sabar ingin tau apa yang terjadi dengan anaknya.


"Hanya saja Tiara mengalami benturan yang cukup kuat sehingga rahimnya rusak dan harus diangkat makanya tadi operasinya lama" lanjut Bintang.


"A.. apaaaa, rahim Tiara diangkat?" tanya Siti terkejut.


Sekar segera menenangkan Siti.


"Tidak ada cara lain Sit, Dokter harus segera mengambil langkah itu kalau tidak nyawa Tiara jadi taruhannya. Kesempatan Tiara hidup hanya tinggal sedikit lagi. Bintang mau tak mau harus menyetujuinya" sambut Sekar.


Siti dan Pak Wijaya saling pandang. Ternyata anak mereka mengalami kecelakaan yang cukup berat sehingga rahimnya harus diangkat.


"Ba.. bagaimana kalau nanti Tiara sadar dan mengetahui akan hal itu?" tanya Siti.


"A.. aku juga tidak tau Bu, bagaimana nanti akan menyampaikannya pada Tiara" jawab Bintang sedih.


Pak Wijaya berusaha tenang dan memberikan semangat kepada Bintang, walaupun sebenarnya dia juga sangat sedih dengan apa yang dialami oleh anak dan menantunya.


"Ingat Bin, Allah memberikan cobaan yang berat seperti ini karena kalian sanggup untuk menerima dan menghadapinya. Bapak yakin, walaupun Tiara akan sangat terluka saat dia mengetahuinya nanti tapi seiring berjalannya waktu dia pasti akan bisa menerimanya. Percayalah itu dan kamu juga harus terus memberikan semangat kepada Tiara agar dia bisa melewati semua ujian ini dengan sabar" nasehat Pak Wijaya.


"Iya Pak, InsyaAllah aku akan kuat menemani Tiara walau apapun yang terjadi" sambut Bintang.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2