
Dewi keluar dari ruangan ujiannya dan dia melihat Bagas dan Ali masih menunggunya. Tapi ada yang aneh dengan tampilan Bagas. Bagas terlihat sangat tegang dan tidak ada senyuman dari wajahnya.
"Kamu kenapa Mas, kok gak senang melihat aku keluar dari ruangan?" tanya Dewi penasaran.
"Aku senang dan lega Wi. Akhirnya hari ini selesai, tinggal dua hari lagi. Aku sudah tidak sabar menunggu hari sabtu. Tadi hampir saja aku memukul Morgan" jawab Bagas.
"Morgan datang lagi? Dan dia tau dimana aku ujian?" tanya Dewi tak percaya. Dia benar - benar semakin takut dengan ancaman Morgan.
"Iya, dia datang mencari kamu sampai ke ruangan ini. Untung saja aku dan Ali menunggu kamu sampai ke kelas" jawab Bagas.
"Ya Allah Maaas... sayangnya aku lagi ujian, coba kalau hanya kuliah biasa. Aku pasti lebih memilih bolos dari pada harus bertemu dia, rasanya suasana seperti ini sangat menegangkan" balas Dewi.
"Sudahlah Kak lebih baik kita segera keluar dari kampus ini. Dari pada ketemu Morgan lagi dan terjadi keributan. Aku takut kami tidak diperbolehkan lagi masuk ke kampus dan Kakak tidak akan ada lagi yang bisa menjaga sampai di depan kelas" sambut Ali.
"Iya Al benar itu ucapan kamu. Kalau tidak karena ucapan kamu tadi sudah aku tonjok wajah si Morgan itu" ungkap Bagas.
"Ya sudah yuk kita pulang" ajak Dewi.
"Tapi aku lapar" ujar Ali.
"Kita cari makan dulu Al sebelum pulang" ujar Bagas.
"Lebih aman ke Cafe aja Mas ada Bapak dan Ibu di sana" potong Dewi.
"Iya benar kamu bilang" sambut Bagas.
"Yuk kita ke Cafe Kenangan" ajak Ali.
"Lets go" jawab Dewi.
Mereka berjalan bertiga meninggalkan kampus Dewi menuju Cafe Kenangan. Disana mereka sudah disambut oleh Pak Wijaya dan Bu Siti.
"Gimana tadi di kampus, Morgan masih tetap datang?" tanya Pak Wijaya.
"Seperti yang kita khawatirkan Pak" jawab Bagas.
"Dia benar - benar mengancam ya.. " sambut Pak Wijaya.
Bagas menghembuskan nafasnya kasar.
"Tinggal dua hari lagi Pak, setelah itu aku akan merasa sangat lega sekali. Aku bisa melindungi dan menjaga Dewi dua puluh empat jamjam" jawab Bagas.
"Semoga dua hari ini masih bisa diatasi ya Gas dan semuanya aman" ujar Pak Wijaya.
"Aamiin.. " jawab Bagas.
Dewi datang dengan membawa hidangan makan siang mereka.
"Nih Mas dimakan, ini semua aku yang masak" ujar Dewi.
Bagas langsung duduk dengan semangat.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Bagas
"Benar donk, masak bohong" jawab Dewi.
"Hem... wanginya. Pasti enak nih" sambut Bagas.
"Untuk aku mana Kak?" tanya Ali.
"Untuk kamu ambil sendiri gih di dapur, tadi kakak buatnya banyak" jawab Dewi.
"Ish.. cuma Mas Bagas aja yang dihidangin mentang - mentang sebentar lagi jadi istrinya Mas Bagas, adik sendiri di telantarkan" oceh Ali.
"Kalau kamu aku telantarkan pasti aku gak masakin buat kamu" jawab Dewi.
"Sudah Aaal.. ambil sendiri sana. Kamu kan udah besar, punya tubuh yang sempurna. Punya kaki dan tangan yang lengkap ya dipakai donk" potong Siti.
Dengan kesal Ali tetap melangkah walaupun langkahnya terasa sangat berat.
"Besok aku gak mau ah temani Mas Bagas lagi" komentar Ali kesal.
"Tenang Al, nanti setelah Mas dan Kakak kamu nikah, Mas akan belikan kamu PS terbaru" bujuk Bagas.
"Beneran Mas?" tanya Ali terkejut.
"Benar donk, masak bohong. Kamu kan udah banyak membantu dan sudah ikutan menjaga calon istrinya Mas" jawab Bagas.
"Jangan Mas.. nanti dia main aja kerjanya. Sampai lupa belajar" cegah Dewi.
"Aku janji Kak, Mas aku akan pintar bagi waktu" janji Ali.
"Oke.. " balas Dewi.
"Yeaaay.. asiiiik.. PS baru" teriak Ali.
"Makasih ya Maaaas, Kak Dewi yang manis yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Bagas Raksajaya.
"Heleeeh.. ada maunya baru muji - muji" oceh Dewi.
"Biarin.. aku lapar, mau makan duluuu" Ali langsung balik badan dan berjalan menuju dapur.
Bu Siti hanya bisa mengusap dada melihat tingkah anak - anaknya, sedangkan Pak Wijaya tertawa melihat candaan Dewi, Ali dan Bagas. Hari - hari Pak Wijaya kembali ramai berkat mereka semua dan Pak Wijaya merasa sangat bahagia hidup dan tinggal bersama Dewi dan Ali.
"Bapak dan Ibu sudah makan?" tanya Bagas.
"Sudah, tadi Ibu sudah masak makanan spesial untuk Bapak" jawab Pak Wijaya.
"Waah pasti enak kan Pak, karena Ibu memakai bumbu cinta seperti makanan aku saat ini" puji Bagas.
"Iya betul kata kamu. Masakan Ibu enaaak sekali, bapak sampai tambah makannya" sambut Pak Wijaya melirik ke arah istri tercintanya.
"Ayo Gas makan segera sebelum makanannya dingin, nanti kurang lezat rasanya" perintah Bu Siti.
__ADS_1
"Iya Bu, yuk Pak Bu.. makan lagi" ajak Bagas sebagai basa - basi.
"Lanjut Gas, sikat sampai habis" sambut Pak Wijaya.
Bagas memulai makan siangnya di temani Dewi. Dia benar- benar makan dengan sangat bersemangat bahkan sampai wajahnya keringatan sangkin asiknya makanan yang dimasak Dewi.
"Mmm.. enak sekali Wi. Benar kata Bapak, sepertinya aku mau tambah nih" ujar Bagas.
"Ingat berarti badan Gas nanti baju pernikahan kamu tidak muat lagi" sindir Bu Siti.
"Masak tiga hari bisa bertambah" potong Pak Wijaya.
"Bisa aja Mas, apalagi Bagas makannya semangat seperti itu" ujar Siti.
"Tenang Bu, nanti sore aku akan ajak Ali olahraga di perkebunan teh. Kan bisa tuh lari santai sambil menunggu senja" jawab Bagas.
Akhirnya semua makanan yang dimasak Dewi habis disantap Bagas tanpa sisa.
"Nanti kalau kita sudah menikah kamu sering buatin aku masakan itu ya" pinta Bagas.
"Iya Mas" jawab Dewi malu - malu. Rasanya dia masih malu bicara seperti itu di hadapan Bapak dan Ibunya.
Setelah selesai makan siang, Bagas, Dewi dan Ali bergegas pulang ke rumah Pak Wijaya.
"Kita pulang yuk.. aku ngantuk banget" ajak Ali.
"Ya sudah yuk pulang. Bu.. Pak kami pulang duluan ya" pamit Dewi kepada Bapak dan Ibunya.
Setelah berpamitan dengan Pak Wijaya dan Bu Siti mereka bergegas menuju rumah Pak Wijaya di Lembang.
"Mas sebelum balik ke rumah singgah ke supermarket sebentar ya. Aku mau beli sesuatu" pinta Dewi.
"Iya, tapi jangan lama - lama ya. Bahaya masih mengintai kita Wi, kita tidak boleh lengah. Bisa saja kan Morgan tetap memata - matai kita kemanapun kita pergi" jawab Bagas.
"Iya Mas, aku mengerti. Sebentar aja kok" jawab Dewi.
"Ya sudah kita singgah sebentar ya.. " Bagas langsung melakukan mobilnya dan masuk ke area parkiran supermarket.
Mereka keluar dari mobil untuk menemani Dewi masuk ke dalam supermarket. Dewi dengan cepat memberi sesuatu dan membayarnya di kasir.
Setelah itu mereka kembali menuju mobil dan saat hendak berjalan ke arah parkiran mobil tanpa sengaja Bagas melihat Morgan dan Siska sedang berbicara dengan serius.
Ngapain mereka berdua di sini? Sepertinya serius banget. Eeeh.. sepertinya mereka sedang bertengkar. Siska terlihat sedang menangis sedangkan Morgan terlihat sangat marah? Aaah.. tapi sudahlah.. itu bukan urusanku. Biar saja mereka dengan urusan mereka sendiri. Lagian aku harus menjaga Dewi dan menjauh dari Morgan. Batin Bagas.
Dia tetap melanjutkan langkahnya menuju mobilnya dan secepatnya meninggalkan area supermarket sebelum Morgan melihat mereka di sini.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1