Tiara

Tiara
Part 9


__ADS_3

Masih di pinggir jalan yang sama, saat ini kedua orang yang baru saja saling meninggikan suara itu tampak terdiam. Yang satu dengan gaya tak terima nya karna baru saja di tampar oleh sosok anak yang tidak di kenal nya, sedangkan yang satu lagi, dengan ekspresi muka merah padam masih mencoba untuk meredakan amarah.


"K..kamu barusan mena..menamparku??" Bertanya sembari menatap tak percaya.


" Iya,.. lalu emang kenapa?"


" K..kamu.. Dasar gila."


Dua orang anak kecil sedang saling meninggikan suaranya di pinggir jalan, layak nya dua orang dewasa yang sedang bertengkar hebat. bagi orang-orang yang sekedar lewat dan melihat nya hanya dengan sekilas, pemandangan ini akan tampak sedikit lucu. namun bila di dengarkan dan di simak dengan lebih lanjut, maka pembicaraan ke dua anak itu akan melebihi pembicaraan dua orang dewasa.


" Heh,.. gila katamu... apa kamu nggak ngaca.. apa kamu pikir tingkah mu barusan yang ingin mengakhiri hidup bisa di anggap waras hah?? "


" Iya,.. asal kamu tau ya,.. tindakan ku barusan adalah tindakan paling waras yang pernah ku lakukan sejak aku hidup."


" Cih,.. tindakan waras seperti apa itu,.. lagipula mengerti apa kamu tentang hidup hah?" Setelah mengatakan itu, Tiara kemudian menatap lekat sosok anak laki-laki di depan nya itu.


Rambut pirang karna terbakar matahari, dengan pakaian yang terlihat bolong sana-sini di tambah dengan badan kurus dan kotor adalah penampilan sesungguhnya dari anak itu. Melihat tampilan itu, Tiara tak bisa tak menunjukkan raut wajah kasihan.


Melihat orang di depan nya yang langsung terdiam setelah mengatakan kata yang terakhir di tambah tatapan nya yang intens menatap seluruh tubuh nya, anak itu tak bisa tak semakin kesal.


" Lihat apa kamu hah? apa kamu sudah puas dengan menatapku seperti itu.. apa kamu tau, kamu itu sama aja dengan semua orang yang pernah ku temui. tatapan mu kali ini adalah, tatapan yang paling ku benci dari setiap orang-orang yang pernah melihat ku."


Mendengar hal itu, Tiara tak bisa tak semakin menunjukkan raut wajah kasihan. Ia tau apa yang di alami oleh anak malang ini. walau ia belum pernah berada sampai di posisi nya ini, tapi Tiara bisa secara jelas merasakan nya. dan jujur saja, bila Tiara mencoba membandingkan nasib, maka bisa di bilang Tiara lebih sedikit beruntung dari pada anak ini.


" Hentikan tatapan menjijikkan mu itu. atau akan ku congkel matamu."


Mendengar hal itu, Tiara hanya bisa langsung memejamkan matanya. mendongakkan kepalanya ke atas, sembari menarik nafas panjang, Tiara akhirnya mulai membuka suara lagi.

__ADS_1


" Berapa usia mu sekarang?"


Mendengar orang yang di depan nya malah menanyakan hal yang aneh, anak laki-laki itu tak bisa tak mendengus kesal. " Cih, mau apa kamu dengan menanyakan usia ku?"


Mendengar jawaban dari anak itu, Tiara hanya bisa menanggapinya dengan helaan nafas lalu mengulang kembali pertanyaan nya. " Jawab saja. berapa umur mu sekarang?"


" Dua belas tahun." Menjawab dengan sangat ketus.


" Dua belas tahun,.. Itu arti nya kamu setahun lebih tua dariku." Berhenti sejenak lalu menatap mata anak laki-laki di depan nya. " Mau mendengarkan cerita??"


" Hah,.." Mendengar apa yang di ucapkan oleh sosok asing di depan nya, anak laki-laki itu tak bisa untuk tak menjadi semakin bingung. " Maksud kamu apa?"


Mendengar respon anak laki-laki di depan nya, Tiara hanya bisa tersenyum kecil. sembari langsung mencari tempat duduk yang nyaman dan langsung menempatkan tubuh nya disana, Tiara perlahan membuka suara. " Dulu, aku pernah punya seorang teman. Teman ku itu adalah sosok yang yang sangat ceria dan aku merasa hidup nya sangat sempurna.


kau tau, ia punya dua orang tua yang sangat menyayanginya. apa pun yang ia inginkan pasti di belikan, dan segala sesuatu pasti berjalan sesuai dengan keinginan anak itu.


" Lalu apa yang terjadi dengan teman mu itu.." Tak tau sejak kapan, tapi anak laki-laki yang ia ajak bercerita itu sudah duduk di samping nya dan mendengarkan cerita nya dengan khidmat.


Tersenyum sejenak karna ceritanya di dengarkan, Tiara kemudian menambahkan." Setelah mendengarkan ayahnya meninggal dalam kecelakaan, teman ku itu kemudian Syok dan pingsan. Temanku itu seperti tidak menerima takdir. apalagi hari dimana ayah nya teman ku itu meninggal merupakan hari yang bisa terbilang cukup penting untuk nya.


saat itu, setelah ia terbangun dari pingsan nya, aku melihat sendiri bagaimana hancurnya teman ku itu. ia menjerit-jerit dan meminta keadilan dari takdir. Tapi, ia tidak mendapatkan balasan apa apa.


dan kau tau apa skenario terburuk yang terjadi setelah kepergian ayah nya teman ku itu??" Menceritakan begitu, tak terasa ada genangan air yang mengalir dari mata Tiara, yang langsung di hapus dengan kasar oleh jari tangan nya.


" Apa yang ter.." anak laki-laki itu penasaran dengan kisah yang di bagikan Tiara. namun, melihat orang yang di sampingnya itu mengeluarkan air mata tapi langsung disekanya, anak itu langsung terdiam.


" Tak sampai dua minggu setelah ayah nya teman ku itu meninggal, Ibunya yang dulu sangat menyayangi dan tak pernah menolak keinginan dari teman ku itu, langsung berubah drastis. Ibunya yang dulu tak pernah berani bahkan meninggikan suaranya di depan putri tersayang nya itu, berubah

__ADS_1


menjadi sangat suka memukulinya dan menyuruhnya berkerja tanpa henti. Memakinya di saat ada kesalahan kecil, dan tak membiarkan nya menganggur di depan matanya.


dan yang lebih buruk lagi adakah, anak itu kemudian seperti di Kurung. tak di izinkan kemana-mana dan hanya boleh keluar saat ada urusan mendesak.


Di depan orang lain, atau saat ada tamu yang berkunjung, ibu nya akan memperlakukan nya dengan sangat baik. tapi bila sudah tidak ada, ibunya akan memukulinya hingga tubuh anak itu lebih dengan memar dan bekas luka.


tapi kau tau, teman ku itu tak pernah menyerah meski sang ibu telah berlaku kasar terhadap nya. ia tetap berdoa supaya ibu nya itu berubah dan perilaku nya bisa kembali seperti dulu. walau tanpa sang ayah yang menemani disisi nya.


Bodoh memang, karna ia masih bertahan saat perlakukan sang ibu sudah kelewat batas. tapi kau tau, hal itu di lakukan karna kesabaran dari teman ku itu masih ada. dan mungkin saat dia sudah tidak tahan lagi, kita tak tau hal apa yang bisa ia lakukan untuk mengakhiri nya. tapi yang jelas, jalan yang ia tempuh bukan lah jalan yang sama yang akan ia ambil dengan jalan yang kau coba tempuh hari ini."


Dirasa cukup, Tiara kemudian mengakhiri ceritanya dengan langsung menarik nafas panjang dan mengambil botol minum yang tadi isi nya sempat tumpah.


" Ada ibu yang setega itu terhadap anak nya sendiri.." Setelah mendengarkan kisah yang di bagikan Tiara, anak laki-laki itu kemudian menatap Tiara dengan tatapan tak terbaca.


Ia seperti tau kisah yang di ceritakan Tiara itu kisah siapa. tapi ia tak mengatakan nya dengan lebih lanjut dan hanya menghela nafas panjang sebagai balasan.


Mendengar pertanyaan dari orang di samping nya, Tiara kemudian hanya menghela nafas dan mengangguk. kemudian bersuara lagi.


" Kau tau, apa tujuan dari aku bercerita tentang teman ku itu ke kamu? aku bercerita begitu, bukan dengan tujuan membandingkan nasib dan takdir yang kalian berdua alami. tapi juga, untuk memberikan mu motivasi supaya kamu bisa bangkit dari keterpurukan mu.


seperti teman ku itu, yang masih mau berusaha dan bertahan walau sekian banyak penderitaan telah ia alami. dan satu hal yang harus kau ingat. seberat apapun masalah yang sedang kau hadapi sekarang, jalan keluar yang bisa kau lakukan bukan hanya mengakhiri semua nya secara instan.


Banyak cara untuk membalas perlakukan mereka terhadap mu. seperti membalas dendam terhadap mereka yang menyakitimu dengan cara menunjukkan bahwa kamu itu hebat dan tidak seperti apa yang mereka lihat dan katakan.


kamu bisa membuktikan dirimu dengan bangkit dan berdiri melampaui mereka."


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2