
"Sial... mereka beneran pergi bersama....." Bintang memukul stir mobilnya.
Dadanya terasa sesak dan hatinya sakit menyaksikan Tiara dan Tegar pergi bersama Roy.
Tiara dan Roy belum menikah tapi rasanya Bintang sudah merasakan kehilangan. Kehilangan rumah untuk dia pulang.
Melihat senyuman Tiara kepada Roy sebelum masuk kedalam mobil membuatnya ingin berteriak dan mencegah mereka pergi berdua.
Apakah aku sudah terlambat untuk menyadari dan mengakui perasaanku pada Tiara? Tapi seandainya aku utarakan perasaanku aku akan merusak hubunganku dengn Roy. Dia sudah serius mendekati Tiara dan itu semua atas izinku.
Aku membiarkan bahkan memberikan dia jalan selebar - lebarnya untuk mendekati Tiara dan juga anakku. Aku sungguh jahat kalau melarangnya mendekati Tiara lagi kalau sudah sejauh ini.
ukh.. ukh.. ukh.... Bintang memukul stir mobil nya berkali-kali.
Setelah satu jam berdiam diri di mobil akhirnya Bintang memutuskan untuk pergi ke Cafe Kenanga untuk menghilangkan kegalauan hatinya.
"Tumben weekend kamu ke sini. Biasanya ke Bandung?" tanya Dian.
"Tiara dan Tegar lagi di Jakarta" jawab Bintang kesal.
"Lho bagus donk, kok malah kesal. Wajah kamu jelek banget" ledek Dian yang memang merasa aneh. Sejak Bintang datang ke Cafe wajahnya sudah kusut banget seperti baju tiga hari dipakai gak di cuci dan di setrika.
Bintang melemparkan tubuhnya ke sofa meja kerja Dian.
"Kamu kenapa Bin, ada masalah dengan Tiara?" tanya Dian penasaran.
"Yan... " panggil Bintang.
"Apa?" tanya Dian semakin penasaran.
"Udah deh gak jadi" jawab Bintang.
"Ih nih anak, dibilang anak - anak tapi sudah punya anak. Yan.. Yan.. apa sih?" tanya Dian kesal.
__ADS_1
"Mmm.. Yan salah gak kalau aku melarang Roy mendekati Tiara?" tanya Bintang akhirnya.
Jleb... akhirnya ngerasa juga kamu Bin. Kena karma kamu kan? Di suruh tanggung jawab gak mau, cuma mau ngasih nafkah doank. Giliran ada yang mau nanggung jawabi baru kamu kalang kabut. Galau lu, rasaaain. Umpat Dian kesal dalam hati.
"Salah donk" jawab Dian.
"Kenapa salah Yan?" tanya Bintang frustasi.
"Apa hak kamu melarang Roy mendekati Tiara. Kamu dan Tiara tidak punya hubungan apapun. Tiara itu wanita bebas yang boleh dekat dengan pria manapun termasuk Roy. Lagian kenapa baru sekarang ngelarangnya brooooh. Dulu bukannya kamu sendiri yang bilang Tiara itu wanita bebas jadi boleh dekat dengan siapapun. Gitu kan yang kamu bilang dulu waktu Roy meminta izin pada kamu untuk mendekati Tiara. Sekarang kamu jilat ludah kamu sendiri" umpat Dian.
"Yan.. apa gak ada kesempatan untuk aku berubah?" tanya Bintang.
"Terlambat. Nyesal kamu sekarang?" tanya Dian kesal.
Bintang menganggukkan kepalanya pasrah kepada Dian.
"Kamu itu sudah menyia - nyiakan wanita yang baik Bin, Ibu yang pintar mengurus anak dan rumah tangga. Padahal sejak awal kamu yang punya kesempatan paling besar untuk mendekati dan menikahi Tiara. Sekarang kamu mau apa? Roy sudah dekatin Tiara baru kamu ketakutan. Takut di tinggalkan" sindir Dian.
"Iya Yan, aku ngaku salah. Aku memang bodoh sudah menyia - nyiakan waktu dan kesempatan yang aku punya. Sekarang rasanya hatiku sakit banget Yan" Bintang terlihat sangat kacau dan matanya berkaca - kaca.
"Aku mulai menyadari perasaanku pada Tiara Yan. Aku sangat nyaman berada di dekatnya dan kini aku merasa takut kehilangan" jawab Bintang sedih.
Bintang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dian tersenyum dan merasa kasihan dengan pria yang ada di depannya ini. Dari dulu nasib percintaan sahabatnya ini selalu apes.
Padahal Bintang bukan tipe pria yang suka bermain perempuan. Hubungannya dengan Siska berakhir tragis. Siska mengkhianati cintanya.
Kini perasaan yang rumit antara dia, Tiara dan Roy. Bisakah Bintang keluar dari hubungan segitiga ini sebagai pemenangnya. Dian tidak bisa memilih antara Bintang dan Roy karena mereka berdua sama - sama sahabat Dian.
Walau sebenarnya di awal cerita Dian sangat berharap Bintang lah yang menikah dengan Tiara mengingat diantara mereka sudah ada Tegar. Tapi karena Bintang menolaknya di awal. Dian tidak bisa memaksanya.
Benar kata orang penyesalan selalu datang terlambat. Tapi apakah memang Bintang sudah terlambat? Mengingat Tiara dan Roy belum menikah. Tapi takutnya akan ada hati yang terluka diantara mereka.
__ADS_1
Dan Dian tidak bisa memilih siapa diantara mereka berdua yang harus dia dukung. Mungkin biarlah takdir yang menentukannya. Batin Dian.
"Aku harus bagaimana Yan?" tanya Bintang.
Dian melihat sahabatnya itu dengan wajah kasihan. Kali ini sepertinya Bintang benar - benar galau. Waktu Bintang patah hati karena Siska dia tidak seperti ini.
Sekarang saja Tiara belum benar - benar menikah dengan Roy, Bintang sudah sekacau ini. Gimana nanti kalau Tiara akan menikah dengan Roy.
Aku rasa Bintang akan hancur, lebih hancur dari saat dia di khianati Siska. Batin Dian.
"Mmmm... menurut aku. Apa tidak ada salahnya hal ini kamu bicarakan baik - baik dengan Roy. Kalau kalian berdua serius ingin menikahi Tiara bersainglah dengan adil tanpa harus menjatuhkan lawan kalian. Apalagi kalian kan bersahabat. Jangan sampai karena hal ini persahabatan kita yang sudah lama terjalin jadi rusak Bin" Ucap Dian memberi ide.
"Apa Roy mau teruma ya Yan?" tanya Bintang polos.
"Aku rasa dia mau Bin, Roy juga gak egois kok. Dia pasti akan memikirkan Tegar. Hubungan ini bukan hanya antara kamu, Roy dan Tiara. Ada kebahagiaan Tegar yang harus kalian fikirkan. Jangan karena ego kalian bisa membuat Tegar tersakiti dan akhirnya dia yang akan menjadi korban" nasehat Dian.
"Bagaimana aku mengatakannya pada Roy?" tanya Bintang bingung.
"Kamu itu memang beneran bodoh ya... Hal seperti itu juga harus aku ajari. Kalian berdua kan laki - laki. Selesaikan secara laki - laki donk. Jangan tanya aku, aku kan perempuan. Biasanyakan pemikiran laki - laki dan perempuan berbeda. Nanti kalau aku kasih ide, gak sesuai lagi dengan cara kalian" Dian menepuk bahu Bintang kesal.
"Awww... sakit Yan. Kamu udah kayak Ibu tiri, kajam" ejek Bintang.
"Emang kamu punya Ibu Tiri, kok tau Ibu Tiri kejam?" tanya Dian.
"Iya ya. Ibu kandung sendiri juga kejam" jawab Bintang.
"Husss... kamu gak boleh bilang begitu Bin. Kamu kan gak tau apa alasan Mama kamu dulu berbuat seperti itu pada kamu. Dan sekarang juga kamu gak tau apa yang sedang dia rasakan? Kamu juga waktu itu lagi puber, sifat pembangkang dan keras kepala kamu lagi di ubun - ubun makanya jalan yang kamu pilih adalah keluar dari rumah dan menjauhi mereka. Kamu gak pernah kan bicara dari hati ke hati sama orang tua kamu? Aku rasa tidak ada sikap dan perbuatan manusia tanpa maksud dan tujuan Bin. Cobalah menyikapinya dengan dewasa. Toh kamu juga sudah punya anak. Pasti kamu taulah bagaimana rasanya punya anak" ucap Dian mengingatkan.
Bintang terdiam dan memikirkan perkataan Dian.
"Kalau aku pulang dan membawa Tegar dan Tiara menghadap mereka, kira - kira apa yang akan mereka katakan ya Yan?"...
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG