Tiara

Tiara
Sibuknya Sekar


__ADS_3

Akhirnya Bagas menyempatkan kencan sebentar ala anak ABG. Dia dan Dewi tadi sempat makan dan nonton setelah mengambil cincin nikah Pak Wijaya dan Bu Siti.


Kini mereka sudah sampai kembali di rumah Bintang. Dimana rumah sudah ramai, ternyata Papa dan Mama Bintang juga sudah datang.


Sekar dan Siti sedang sibuk membicarakan tentang pesta syukuran Zia plus pesta pernikahan Siti dan Pak Wijaya dua minggu lagi.


Bagas dan Dewi masuk dan menghampiri mereka.


"Pak, Bu ini cincin pernikahan kalian" Dewi menyerahkan kotak perhiasan kepada Siti.


"Boleh aku lihat Sit?" tanya Sekar antusias.


"Boleh" Siti menyerahkan kotak perhiasan yang menyimpan cincin pernikahan Siti dan Pak Wijaya kepada sahabat plus besannya Sekar.


Sekar membukanya..


"Waaah cantik sekali" puji Sekar takjub.


"Makasih Kar" balas Siti.


Sekar memandang wajah bahagia Siti.


"Akhirnya kamu bahagia ya Sit. Lupakan kejadian lampau, jalani masa depan bersama Mas Jaya" ujar Sekar.


"Iya Kar" balas Siti.


"Eh Sit aku punya kenalan MUA yang nanti akan merias kamu, mau ya biar aku pesanin. Kamu harus tampil cantik di depan Mas Jaya" ucap Sekar semangat.


"Udah ah Kar yang biasa - biasa aja. Malu udah tua" jawab Siti.


"Lho gak apa - apa donk namanya pernikahan kan sekali seumur hidup. Eeeh kamu udah mau tiga kali ya nikahnya hehehe.. " ujar Sekar.


Siti jadi malu mendengar perkataan Sekar.


"Pokoknya tidak berlebihan Sit, natural tapi cantik, gimana. Mau ya?" desak Sekar.


"Ya sudah terserah kami" jawab Siti menyerah.


"Nah gitu donk. Eh iya, gaun pengantinnya belum di pesan" ujar Sekar panik.


"Sudah Ma, kemarin Ibu dan Bapak sudah pesan barengan sama Bagas dan Dewi" jawab Tiara.


"Kapan selesainya?" tanya Sekar.


"Minggu depan Tante. Sebenarnya gaun Ibu sudah selesai, karena waktunya masih cukup kata Tante yang punya Butik gaunnya mau fi loundry dulu biar nanti bisa langsung pakai" jawab Dewi.

__ADS_1


"Syukur deh kalau sudah siap. Tante jadi lega Wi. Nanti siang EO akan datang ke sini untuk membicarakan konsep pesta kita. Kalau pesta di rumah mereka kan harus survei rumah ini untuk merancang dekorasinya" atur Sekar bersemangat.


"Tuh yank, gak salah kan kalau Mas hubungi Mama. Dia pasti senang direpotin seperti ini" bisik Bintang pada istrinya.


"Mungkin Mama kamu dulu cita - citanya pengen jadi EO juga Bin, dari saat Tiara tujuh bulanan aku perhatiin Mama kamu memang suka ngurusin pesta ya. Semua harus terlihat sempurna" sambut Bagas.


"Oh iya, gak boleh ada yang salah sedikitpun" jawab Bintang.


"Bin... nanti kita buat ayunan untuk Zia ya di ruang keluaga ini, terus pakai dekorasi balon dan hiasan - hiasan princess ala negeri dongeng. Warna pink, uuuh... pasti cantik" ucap Sekar penuh semangat.


"Terus nanti untuk kursi pengantin kita buat di ruang tamu aja, jadi para undangan bisa duduk di halaman depan pasang tenda dan pesan kursi" Sekar sudah sibuk mengatur sana sini.


"Kok berasa kamu yang mau nikahan ya Bin" sindir Bagas.


"Untung aja aku nikahnya di Bandung dan saat itu Mama gak bisa datang karena Papa baru selesai operasi jantung. Kalau gak, gak kebayang deh gimana repotnya Mama" ujar Bintang.


Tiara hanya bisa tersenyum melihat mertuanya sibuk mondar - mandir.


"Cateringnya gimana Bin?" tanya Sekar sambil berteriak.


"Ma tanya aja nanti sama EO nya, aku pusing mikirinnya" jawab Bintang.


"Undangan?" tanya Sekar lagi mengingatkan.


"Harus segera selesai Bin, karena waktunya tinggal dua minggu lagi. Nanti kita gak sempat nyebar undangannya" oceh Sekar.


"Iya Maaaa" jawab Bintang.


"Sit mahar kamu apa? eh yuk kita harus pergi beli semua pernak pernik hantaran kamu" ujar Sekar panik.


"Kaaaar udah yang sederhana aja" tolak Siti.


"Gak bisa enak aja... Mas Jaya kan sekarang udah kaya, udah jadi juragan teh. Kalau dulu ya iya boleh sederhana, sekarang gak boleh. Ayo kita pergi" Sekar langsung menarik Siti untuk pergi.


Siti tak kuasa menolak ajakan Sekar sahabatnya.


"Mas Jay, kami mau pergi belanja seserahan pernikahan. Mana kartu ATM nya" pinta Sekar blak - blakan.


"Hahaha.. Mama kamu hebat Bin, lihat wajah Papa kamu dan Bapak terkejut di todong begitu" ujar Bagas.


"Mama aku yang itu Gas orangnya, paling heboh kalau urusan beginian. Makanya aku sengaja panggil dia pagi - pagi biar beres semua. Tiara kan baru sembuh jadi belum boleh terlalu capek" jawab Bintang.


"Maaa... apa ini?" tanya Pak Bambang terkejut.


"Mas Jay kan mau nikah dengan Siti dua minggu lagi. Walau sudah tua tapi pernikahan gak boleh sesederhana itu juga. Cuma ijab kabul doank. Harus ada seserahannya donk. Aku dan Siti mau pergi belanja buat cari seserahan pernikahan Mas Jay dan Siti. Ayo Sit minta kartu ATM Ma Jay, biar kira kuras isinya" perintah Sekar.

__ADS_1


Siti hanya diam dan malu.


"Ih gemes aku lihat kamu. Mas Jay buruan minta kartu ATM nya" desak Sekar.


Pak Wijaya tersenyum sambil mengeluarkan ATM dari dalam dompetnya.


"Akhirnya ada juga ya yang kuras isi ATM aku. Selama ini aku kira itu mustahil. Nih Sit habisin aja semua. Nanti aku kirim pinnya ke nomor kamu ya" ujar Pak Wijaya senang.


"Ada ya orang senang ATM nya di bobol" celetuk Sekar.


"Kalau untuk orang tersayang pasti rela Tante. Aku juga kalau Dewi minta, dengan rela akan menyerahkan kartu ATM ku" potong Bagas.


"Sama Ma, kalau Tiara mau aku juga akan kasi kartu ATM ku" sambut Bintang.


"Tapi Papa kamu kok nggak?" tanya Sekar.


"Kalau Mama kamu di kasih kartu ATM, habis seluruh dunia ini di borong" jawab Pak Bambang.


"Ish.. pelit" ejek Sekar.


"Hahaha... " semua tertawa melihat wajah kesal Sekar.


"Bin, kalau EOnya datang kabari Mama ya, kalau bisa diundur aja besok pagi, ada yang lebih penting lagi yang harus Mama selesaikan" ujar Sekar.


"Oke Ma" jawab Bintang.


Siti dan Sekar akhirnya pergi berbelanja di antar Mang Kardi.


"Apa semua wanita seperti itu ya kalau pergi berbelanja?" tanya Pak Bambang.


"Hahaha... pada dasarnya semua wanita suka berbelanja Bam, cuma beda di levelnya aja. Siti, Tiara dan Dewi lebih sederhana. Mereka tidak begitu doyan belanja. Tapi percayalah mereka juga suka belanja" jawab Pak Wijaya.


"Iya benar Pak, kalau Ara itu paling suka kalau dibawa belanja ke pasar. Semua jenis makanan pasti ingin di borong. Katanya dia mau masak ini dan itu, semangat sekali" sambut Bintang.


"Dewi nggak kok. Dia gak suka belanja" tolak Bagas.


"Belum Gas. Dewi masih polos, nanti kalau dia udah tau bergaya, udah jadi istri kamu siap - siap deh ATM kamu di gerus sama dia" potong Bintang sambil tertawa.


"Hahaha" Pak Wijaya dan Pak Bambang ikutan tertawa bersama mereka.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2