
Dian mengantarkan Tiara ke kantor Bintang, di sana sudah menunggu Tegar di ruangan Bintang.
"Assalamu'alaikum Mas" sapa Tiara ketika dia memasuki ruangan Bintang.
Kini hampir semua karyawan sudah mengenal Tiara dan Tegar. Bintang sudah memperkenalkan Tiara dan Tegar sebagai istri dan anaknya saat rapat bulanan.
Sebenarnya banyak terdengar bisik - bisik suara sumbang yang bercerita bahwa Bintang menikah dengan Janda. Ada juga yang berfikiran bahwa Tiara dan Bintang sudah lama menikah dan punya anak hanya saja cerai, kini mereka rujuk kembali.
Bintang dan Tiara tidak menghiraukan perkataan mereka. Sejak awal mereka sudah memprediksikan bahwa hal itu akan terjadi jadi jauh - jauh hari mereka sudah mempersiapkan mental mereka.
"Wa'alaikumsalam, sudah selesai urusan dengan Dian?" tanya Bintang.
Bintang keluar dari meja kerjanya dan menyambut mesra istrinya. Entah mengapa siang ini dia sangat merindukan wanita ini.
Bintang langsung menarik lengan Tiara dan membawanya dalam pelukannya.
"Sudah Mas, barusan aku diantar sama Mbak Dian ke sini" jawab Tiara.
Bintang mengecup lembut kening Tiara.
"Tegar mana Mas?" tanya Tiara.
"Di ruang istirahat sedang tidur, setelah makan dia ngantuk katanya. Kamu sudah makan?" tanya Bintang penuh perhatian.
"Sudah tadi sama Mbak Dian sebelum ke sini" balas Tiara.
"Kamu lelah?" tanya Bintang.
Tiara menggelengkan kepalanya.
"Kalau capek dan ngantuk susul Tegar ke dalam ya, aku mau nyiapin kerjaan dulu biar bisa pulang bareng kalian" ucap Bintang.
"Iya, kamu lanjutin kerja aja Mas. Aku santai aja dulu di sofa ibu" balas Tiara.
Bintang melepaskan pelukannya dan kembali duduk di depan meja kerjanya sedangkan Tiara duduk santai di sofa ruang kerja Bintang.
__ADS_1
Tiba - tiba ponsel Tiara berbunyi, tanda pesan masuk. Tiara membukanya ternyata pesan dari Putri teman kuliah yang baru saja dia temui tadi saat bersama Dian.
Pesannya berisikan undangan reuni kampusnya. Tiara menarik nafas panjang, hatinya sangat resah. Jujur dia sebenarnya tidak ingin datang tapi ada rasa kangen juga pengen bertemu dengan teman - temannya di kampus dulu.
Bintang melirik ke arah istrinya, sepertinya istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa yank?" tanya Bintang.
"Gak ada apa-apa Mas" jawab Tiara.
"Tapi kok seperti dapat berita buruk gitu wajahnya?" desak Bintang.
"Tadi saat aku temani Mbak Dian ke WO aku ketemu teman kuliahku. Rupanya dia pemilik WO tempat Mbak Dian mempercayakan proses pernikahannya" ungkap Tiara.
Bintang kembali berdiri dan mendekati istrinya. Dia duduk di dekat Tiara dan memeluknya.
"Terus... apa hubungannya dengan wajah kamu ini sayaaaaaang? Teman kamu itu mantan pacar kamu?" tanya Bintang gemas.
"Ih Maaas, teman aku itu cewek. Masak jeruk makan jeruk. Lagian aku dulu gak pernah punya pacar kok" balas Tiara.
"Iya.. iya.. aku tau. Aku yang pertama seeegalanya bagi kamu kan?" ulang Bintang.
"Teruuuus kenapa wajahnya sedih gitu sayaaaang?" goda Bintang.
Bintang mencium lembut pipi Tiara.
"Teman aku itu memberikan undangan reuni kampus minggu depan" ungkap Tiara akhirnya.
"Seru donk, kamu kan bisa datang dan bertemu dengan teman - teman kamu dulu waktu di kampus" jawab Bintang.
"Mas ngizinin aku pergi?" tanya Tiara terkejut. Dia tidak menyangka suaminya akan memberinya izin.
"Ya izin donk, aku kan gak mau membatasi pertemanan dan pergaulan kamu. Asalkan kamu tau batasan kamu sebagai seorang istri dan Ibu, aku akan memberi izin sayang" ucap Bintang.
Ada sedikit keceriaan yang terpancar dari wajah Tiara. Setidaknya untuk datang ke acara itu dia sudah mengantongi restu suaminya.
__ADS_1
Tapi lagi - lagi dia teringat, kalau seandainya di sana dia bertemu dengan Ida dan pacarnya Diki, apa yang harus dia lakukan? Di undangan tertera boleh membawa pasangan.
Haruskah aku mengajak Mas Bintang datang ke acara reuni kampusku seperti yang Mbak Dian sarankan tadi waktu di mobil? Batin Tiara.
Wajah Tiara kembali sedih dan Bintang melihat perubahan wajah Tiara barusan.
"Ada apa lagi sayang, aku kan udah kasih izin, senang donk.. jangan cemberut gitu?" tanya Bintang.
"Mmmm... anu Mas. Aku.. aku.. takut ketemu Ida di sana" ungkap Tiara.
"Siapa Ida?" tanya Bintang penasaran.
"Sahabatku di kampus sekaligus tetangga aku di kampung. Rumah kami dulu tidak berjauhan. Itu sebabnya dia bisa di ajak Bapak Tiriku untuk menjebak aku malam itu saat kita bertemu" jawab Tiara.
"Kenapa kamu takut ketemu sama Ida lagi. Apa dia mengancam kamu?" tanya Bintang penasaran.
Tiara menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak pernah mengancamku, aku hanya takut dia mengatakan yang tidak - tidak tentang aku di sana saat acara reuni. Dia pasti tau alasan aku diusir dari kampung karena hamil Tegar hasil hubungan gelap dengan pria yang aku temui malam itu" ungkap Tiara sedih.
Bintang menatap wajah istrinya dengan sangat dalam. Kalau sudah mengingat tentang kejadian malam itu lima tahun yang lalu pasti wajah istrinya ini akan berubah menjadi sendu.
Istrinya memang mengalami masa - masa sulit sejak kejadian malam panas mereka lima tahun yang lalu. Bintang fikir setelah dia menikahi Tiara, Tiara tidak akan terbebani dengan kejadian lima tahun yang lalu tapi ternyata fikiran nya tidak segampang itu.
Tiara tetap memiliki trauma dengan kejadian lima tahun yang lalu. Baik mengenai apa yang dia alami pada malam itu dan juga apa yang dia alami setalah kejadian malam itu.
Bintang memeluk erat tubuh istrinya di atas sofa dan mengecup lembut bibir Tiara.
"Kamu mau aku temani ke acara itu? Nanti kalau Si Ida itu mengganggu kamu di sana aku akan membela kamu. Bila perlu aku akan beberkan rekaman CCTV saat dia menjebak kamu di diskotik" ucap Bintang.
"Maaaas... aku tidak mau sampai seperti itu. Tidak perlu semua orang tau tentang masa lalu aku" bantah Tiara.
"Terkadang untuk meluruskan suatu masalah kita perlu mengorek luka lama sayang. Tapi luka itu tidak akan sakit lagi, justru itulah cara untuk menyembuhkan luka kamu. Kamu tidak akan terbebani lagi saat orang - orang memandangi kamu dengan penuh tanda tanya. Baru menikah tapi mengapa anaknya sudah sebesar itu? Kamu fikir aku tidak memperhatikan perubahan wajah kamu setiap mendengar orang - orang berbisik seperti itu pada kita. Apa perlu aku menceritakan pada dunia asal mulai pertemuan kita? Aku tidak menganggap itu aib karena malam itu kamu di jebak dan kamu mabuk. Aku juga saat itu sedang mabuk. Kalau seandainya saat itu kamu dan aku tidak dalam keadaan mabuk, aku yakin kita tidak akan pernah melakukannya. Tapi kalau kamu tanya aku sekarang, aku sangat bersyukur kita sudah melakukannya dan menghasilkan Tegar. Karena kalau tidak terjadi tentu aku tidak akan bertemu kamu dan menikah dengan kamu" ungkap Bintang.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG