Tiara

Tiara
Ending


__ADS_3

Enam tahun berikutnya.


"Mama.. Mama... " panggil Zia.


"Ya sayaang... " jawab Tiara.


"Bunda datang" ucap Zia.


"Bunda Ida?" tanya Tiara lagi.


"Iya" jawab Zia cepat.


"Suruh masuk donk, Mama akan keluar sebentar lagi ya" balas Tiara sambil tersenyum pada putri bungsunya.


Tiara selesai berdandan dan segera melangkah ke luar kamar. Dia melihat Ida sahabat kecilnya kini sudah duduk di ruang keluarga.


"Sendiri?" tanya Tiara.


"Iya donk Ra, sama siapa lagi?" tanya Ida.


"Yah siapa tau datang berdua sama Mas mm.. mm.. " jawab Tiara.


"Pasti Mas Bintang ini yang cerita kepada kamu. Awas nanti ya" umpat Ida.


Tiara tertawa karena sudah berhasil menggoda sahabatnya Ida. Ida sudah selesai menjalani hukumnya di penjara lebih cepat satu tahun. Dia mendapatkan remisi satu tahun lebih cepat dari hukuman semula.


Setelah itu Ida benar - benar membuka lembaran baru hidupnya. Dia berdamai dengan masa lalu dan kembali menjalin hubungan yang baik dengan Tiara juga keluarganya yang lain.


Kini Ida bekerja di Perusahaan Bintang sebagai salah satu staff nya di kantor. Oleh sebab itu Tiara mengetahui gosip yang sedang beredar kalau Ida sedang dekat dengan seorang duda yang baru saja di tinggal mati istrinya.


Tiara sangat mendukung kabar gembira itu, makanya dia selalu menggoda Ida agar beneran mau menerima lamaran duda tersebut.


"Udah Da.. Terima saja lamaran Mas Mmm.. Mmm.. " goda Tiara lagi.


"Apa sih Ra" elak Ida.


"Mas itu baik lho, aku sudah kenal lama dengan dia. Dulu dia sangat baik dengan almarhumah istrinya tapi sayang umur istrinya tak panjang karena penyakit asma akut yang dideritanya. Dia juga sudah mempunyai dua anak yang besar - besar. Kamu kan langsung dapat paket duda keren" dukung Tiara.

__ADS_1


"Aku takut Ra" ungkap Ida.


"Takut apa?" tanya Tiara.


"Takut dengan masa laluku sebagai mantan narapidana" jawab Ida.


"Kamu kan bukan penjahat. Kamu hanya membantu Bapak saja waktu itu untuk menculik Dewi. Lagian sekarang kamu juga sudah sangat berubah jauh lebih baik. Aku rasa Mr. Mahmud tidak akan memandang rendah masa lalu kamu" dukung Tiara.


"Tapi anak - anaknya apakah bisa menerima aku dengan baik?" tanya Ida.


"Ya kamu pendekatan dulu dengan keluarganya. Nanti kamu kan bisa tau sendiri bagaimana sambutan dari anak - anaknya" jawab Tiara.


Tak lama kemudian Dewi datang bersama dua anaknya Cantika dan Dewa.


"Bundaaaa... Mamaaa.... " panggil Cantika kepada Ida dan Tiara.


"Hai sayaaang" sambut Ida.


"Bunda sudah lama datang?" tanya Cantika.


"Belum lama kok. Sini sayang duduk dekat bunda" jawab Ida.


"Kami diantar supir Kak, Mas Bagas masih ada urusan nanti malam baru jemput kami ke sini" jawab Dewi.


"Ooo" balas Tiara.


"Mbak Ida sama siapa datangnya?" tanya Dewi dengan wajah menggoda.


"Kalian berdua sama aja ya pertanyaannya" jawab Ida kesal.


"Ya habis betah amat sendiri. Sekali - sekali datangnya rame - rame gitu. Berempat, kan asik" goda Dewi.


"Banyak amat Dek berempat, siapa aja tuh?" tanya Ida nggak ngerti.


"Iya sama Mas Mahmud dan anak - anaknya" jawab Dewi sambil tersenyum.


"Nah lho.. Raaaa.. Kenapa Dewi bisa tau?" tanya Ida.

__ADS_1


"Ada deeeeh" jawab Tiara.


"Issh... kalian gak asik. Anak gantengku mana?" Dewi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju teras belakang mencari Tegar yang sedang asik berenang.


"Hai anak Bunda.... " sapa Ida pada Tegar. Dia sengaja meninggalkan Dewi dan Tegar karena malu di bully mereka tentang Mahmud duda keren yang lagi mendekatinya di kantor.


"Hai Bunda.. datang sama siapa?" tanya Tegar polos.


"Ih gak kamu, Mama sama Tante kamu sama saja. Kenapa sih pada nanyain Bunda datang sama siapa? Bunda kan selalu datang sendiri" jawab Ida kesal.


"Iya kalau begitu aku ganti deh pertanyaannya. Bunda datang bawa apa?" tanya Tegar.


"Oh ya ampuuun... maafkan Bunda sayang. Bunda lupa pesanan kamu, Bunda janji deh nanti kalau Bunda datang sepatu impian kamu pasti sudah Bunda belikan" jawab Ida.


"Jangan di manjain Da. Apa - apa yang dia minta sama kamu harus dikabulkan. Kamu kan harus nabung untuk pernikahan kamu" goda Tiara lagi.


"Ya Allah Ra, stop deh ledekin aku tentang pernikahan. Aku malu tau" balas Ida.


"Daaaa... kamu harus memikirkannya lho. Umur kita sudah tiga puluh empat tahun. Kalau kamu nikah umur sekarang kamu masih sempat mempunyai momongan. Dewi aja sepuluh tahun lebih muda dari kita sudah punya dua anak, yaah walaupun kamu menikah dengan Mr. Mahmud langsung dapat dua anak tapi apakah kamu gak kepengen punya anak sendiri. Merasakan hamil dan melahirkan" nasehat Tiara.


"Tapi Ra... " ucap Ida takut


"Tapi apa Da. Jangan bilang kamu masih takut.. dan takut lagi. Sudah saatnya kamu pikirkan masa depan kamu. Umur semakin bertambah. Kamu mau sendirian terus sampai kita tua?" tanya Tiara.


"Nggak Ra. Kalian semua sudah berkeluarga hanya tinggal aku yang masih sendiri. Aku juga pengen bahagia seperti kalian tapi aku memang benar - benar masih takut" jawab Ida bimbang.


"Kamu masih ingatkan apa yang aku ucapkan tadi pada kamu. Ketemu aja dulu sama Mr. Mahmud dan anak - anaknya. Nanti baru kasih jawaban padanya setelah pertemuan kalian. Pastikan dulu anak - anaknya menerima kamu dengan baik baru lanjut. Kamu ceritakan aja empat mata padanya tentang masa lalu kamu" pesan Tiara.


Ida menatap ke arah air yang ada di dalam kolam renang. Dia menarik nafas panjang.


"Coba kamu pertimbangkan nasehat aku ini. Kamu adalah sahabat aku Da dan ternyata kita bersaudara. Walau kita tidak memiliki hubungan darah tapi kamu tetap saudara aku. Aku ingin kamu juga bahagia dalam hidup ini" ujar Tiara sambil merangkul bahu Ida.


"Terimakasih Ra.. kamu tau, terkadang untuk bertemu kalian sama aku masih sangat malu. Setelah apa yang aku lakukan di masa lalu. Kalian masih mau menerima aku dengan baik. Kalian bantu aku hidup dengan layak. Begitu juga aku berhadapan dengan orang lain. Aku butuh percaya diri yang lebih Ra" ungkap Ida.


"Kamu hanya tidak berani memulai. Aku yakin begitu keberanian kamu itu muncul dan kamu sudah melangkah, kamu tidak akan mau berhenti Da. Allah sudah kasih kesempatan kamu untuk berubah dibalik itu Allah pasti sudah mempersiapkan kebahagiaan untuk kamu. Sambutlah kebahagiaan kamu dengan senyuman Da. Jangan dengan sebuah ketakutan. Tidak ada yang bisa menolong kamu kecuali kamu sendiri yang memulainya. Semua yang kami lakukan dan katakan pada kamu, kalau di hati kamu tetap menolak. Itu tidak akan pernah berhasil. Saran aku pikirkanlah kembali tawaran Mr. Mahmud. Kami selalu mendoakan semoga kamu bahagia" ucap Tiara memberikan semangat.


Ida menatap dalam ke mata Tiara kemudian memeluk Tiara erat.

__ADS_1


"Terimakasih Ra, terimakasih atas semua dukungan kamu" jawab Ida dengan mata yang berkaca - kaca.


__ADS_2