
Setelah selesai wisuda Tiara mengajak Ibunya dan Ridho makan di salah satu Restoran. Kemarin Mbak Dian memberikan Tiara bonus atas kelulusannya sebelum Tiara meminta izin tidak kerja hari ini karena dia wisuda.
Tiara dan Ibunya naik taxi online sedangkan Ridho mengikuti mereka dari belakang.
Sampailah mereka di sebuah Restoran mewah dan mahal.
"Kamu kok bawa Ibu ke sini Ra. Makan di sini pasti mahal. Sayang uang kamu, lebih baik di simpan saja buat biaya kamu lahiran nanti" ucap Siti.
"Gak apa - apa Bu, sekali - sekali. Biaya lahiran aku udah aku tabung dari gaji. Ibu tenang saja" jawab Tiara.
"Benar Bu, gak apa - apa donk sekali - sekali merayakan sebuah keberhasilan Tiara. Ini kan hari paling membahagiakan untuk Tiara Bu" sambung Ridho.
Mereka duduk di meja yang dipersilahkan pelayanan Restoran. Tiara memesan menu spesial untuk mereka bertiga.
"Kamu kapan wisuda nya Dho?" tanya Siti kepada Ridho.
"Aku minggu depan sidang meja hijau Bu setelah itu dua bulan kemudian baru wisuda" jawab Ridho.
"Pasti Ibu Bapak kamu senang sekali ya Dho" ujar Siti.
"Iya Bu, mereka senang sekali mendengar berita itu sampai mereka sudah berencana datang ramai - ramai dari kampung untuk melihat aku wisuda" jawab Ridho senang.
"Syukurlah, semoga kamu berhasil dan setelah wisuda mendapat perkerjaan yang lebih baik" doa Siti.
"Aamiin.. terimakasih doanya Bu" balas Ridho.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang. Tiara mempersilahkan Ibunya untuk memulainya lebih dahulu.
Wujud rasa sayang dan hormat Tiara kepada Ibunya. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan dan menyekolahkannya sampai dia tamat kuliah seperti hari ini.
Walau bukan kehidupan yang mewah yang bisa Siti berikan tapi Tiara sangat bahagia bisa terus bersama dengan Ibunya sampai satu bulan yang lalu saat Bapak Tirinya mengusit Tiara dari rumah.
"Adik - adik sehat kan Bu?" tanya Tiara.
"Alhamdulillah sehat, mereka kirim salam sama kamu. Mereka sangat senang mendengar kamu wisuda. Sayangnya saat ini mereka sedang sekolah, kalau tidak sudah Ibu bawa untuk melihat kamu wisuda. Agar mereka lebih semangat sekolahnya dan meniru kamu" ungkap Situ.
"Jangan seperti saya Bu, Ibukan tau hidup saya sudah hancur. Mereka berhak menjadi orang yang lebih baik dari saya Bu" jawab Tiara.
"Nak.. bagi Ibu kamu adalah anak Ibu yang paling baik. Apa yang kamu jalani saat ini bukanlah kesalahan kamu. Kamu hanyalah korban nak" ucap Siti memberi semangat.
Tiara hanya terdiam sambil melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Kamu sudah menemui pria itu lagi dan memberi kabar tentang kehamilan kamu?" tanya Siti.
Tiara menggelengkan kepalanya.
"Dia harus tau apa yang alami. Kamu sedang mengandung anaknya, dia berhak tau" desak Tiara.
"Aku tidak mengenalnya Bu, tidak tau siapa namanya dan apa pekerjaannya. Yang aku lihat apartemennya sangat mewah dan sepertinya dia bukan pria sembarangan. Aku tidak mau kalau dia menuduhku menjebaknya dan mendapatkan keuntungan dari hal itu. Yang lebih buruk lagi, kalau dia tau aku hamil anaknya, dia bisa saja menyuruhku menggugurkan kandunganku. Aku gak mau itu terjadi Bu " jawab Tiara sedih.
"Udahlah Ra, gak usah di ingat - ingat lagi. Nanti kamu jadi sedih lagi. Ingat kata dokter kamu gak boleh stres" Ucap Ridho mengingatkan.
Tak lama lewat sepasang wanita dan pria yang juga ingin menikmati makan siang di Restoran itu
Tiara melihat mereka dan tiba-tiba wajahnya memucat.
"Kenapa Ra, kamu sakit? Kok wajah kamu pucat?" tanya Siti.
"I... ii... itu Bu.. Itu dia" Tiara menunjuk ke arah pria yang sedang berjalan dengan seorang wanita cantik.
"Siapa Ra?" tanya Siti.
"Dia Bu, dia.. dialah Bapak dari anak yang ada dalam kandunganku" Sontak Siti dan Ridho melihat kearah pria yang di tunjuk Tiara.
"Dho... please jangan Dho... " cegah Tiara.
"Dia ada di sini Ra, sekalian saja kita ceritakan semuanya Ra. Biar dia tau dan kamu tidak menanggung ini sendiri" jawab Ridho.
"Kalau dia mengelak bagaimana Dho. Dia mengaku tidak mengenal aku dan aku tidak punya saksi malam itu. Lagi saat itu aku tidak diperkosa, semuanya.. semuanya.. " Tiba-tiba Tiara memegang erat perutnya.
"Ra... kamu kenapa Ra" ucap Siti khawatir.
"Perutku sakit sekali Bu" ucap Tiara.
"Dho bawa Tiara ke Rumah Sakit" perintah Siti.
Ridho segera memanggil taxi dan membawa Tiara masuk ke dalam mobil.
"Ibu naik duluan ya, aku menyusul di belakang. Aku bayar tagihan makan kita tadi" ujar Ridho.
Taxi segera melaju menuju Rumah Sakit terdekat. Tiara langsung dibawa ke UGD untuk pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Siti.
__ADS_1
"Baik Bu, tapi dia tidak boleh stres ya. Kalau putri Ibu stres dia akan mengalami kontraksi. Kalau terlalu sering bisa membahayakan janin yang ada dalam kandungannya. Apalagi saat ini dia masih hamil muda" jawab Dokter.
"Baik Dok, saya mengerti. Apakah anak saya bisa saya bawa pulang" tanya Siti.
"Bisa Bu, saya sudah kasih resep obat yang harus dimakan, ingat jangan sampai Ibu Tiara stres" jawab Dokter sambil mengingatkan.
"Iya Dok. Terimakasih" balas Siti.
Dokter berlalu dari hadapan Siti.
"Bagaimana keadaan Tiara Bu, apa kata Dokter?" tanya Ridho ingin tau.
"Kata dokter Tiara tidak boleh stres, kalau dia stres bisa membahayakan janin yang ada dalam perutnya. Sekarang dia sudah boleh pulang" jawab Siti.
"Ibu yakin Tiara sudah boleh pulang?" tanya Ridho tak percaya.
"Iya, tadi Ibu sudah bertanya. Sepertinya kita memang tidak usah menanyakan pria itu lagi pada Tiara. Dia bisa stres dan kontraksi lagi. Lebih baik kita diam saja sampai Tiara sendiri yang meminta kita untuk melakukan sesuatu" jawab Siti.
"Baiklah Bu, kalau memang itu yang terbaik. Ayo Bu kita bawa Tiara pulang" ajak Ridho.
Siti membawa Tiara balik ke kosannya Tiara. Sesampainya di kos Tiara langsung terbaring di tempat tidur.
"Ibu lihat kan tadi, pria itu bersama seorang wanita cantik. Mungkin dia sudah menikah Bu, aku tidak mau merusak rumah tangga mereka. Tolong Bu, jangan tanya lagi tentang pria itu. Aku tidak mau mengetahui tentangnya dan tidak mau berhubungan dengan pria itu lagi Bu. Biarlah anak ini aku besarkan sendiri. Aku sanggup Bu. Jangan lagi kalian bujuk aku untuk mencari atau menemui pria itu. Aku tidak mau" Tiara menangis terisak.
"Iya nak, Ibu tidak akan bertanya lagi pada kamu. Sekarang kamu istirahat ya. Maaf Ibu harus pulang, Bapak kamu tidak tau Ibu pergi menemui kamu. Kalau sampai dia tau Ibu bertemu kamu dia pasti marah besar Maaf kan Ibu nak" ucap Siti.
"Iya Bu, gak apa - apa. Aku bisa melalui ini sendiri. Salam buat adik - adik ya Bu" balas Tiara.
"Ibu pulang ya nak, Assalamu'alaikum" Siti pamit pulang.
"Wa'alaikumsalam" jawab Tiara.
Siti pulang di antara Ridho sampai ke jalan besar setelah itu Siti pulang dengan menaiki bus sampai ke rumahnya.
Hari ini untuk kedua kalinya Tiara melihat wajah pria itu lagi. Ada rasa takut yang menghantuinya. Takut kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya dan takut disalahkan atas apa yang terjadi dengan mereka malam itu.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1