Tiara

Tiara
Musibah


__ADS_3

Malam harinya Dewi dan Bagas makan malam di pinggiran Pantai Kuta. Bagas sudah berjanji kepada Dewi untuk tidak memberikan honeymoon mewah kepadanya.


Dewi malah ingin mengajak Bagas honeymoon sederhana dan mengasikkan. Dia ingin menunjukkan kepada Bagas bahwa tak selamanya kemewahan itu bisa membeli kebahagiaan.


Kebahagiaan itu berasal dari hati. Walau dengan sederhana tapi kita tetap bisa bahagia asalkan kita tidak lupa cara bersyukur.


Mereka makan malam bukan di Hotel mewah atau restoran mahal. Bagas mengajak Dewi makan di warung pinggiran di Pantai Kuta. Pilihan Bagas jatuh di Warung Makan Nikmat Kuta



Makan di sini saja sudah membuat wajah Dewi sangat gembira. Dengan sajian makan malam sederhana khas Jawa. Mereka memesan sop buntut, ayan goreng dan nasi campur.


Sambelnya sudah membuat Dewi dan Bagas keringatan memakannya.


"Aku gak nyangka di tempat seperti ini ada warung begini Mas" ujar Dewi.


"Aku tadi minta bantuan sama si Mbah" sambut Bagas.


"Mbah mana?" tanya Dewi heran.


"Mbah Goggle" jawab Bagas tersenyum.


"Ih aku kira Mbah apa Mas.. " balas Dewi.


"Gimana enak makananya?" tanya Bagas lagi.


"Enak banget Mas, sambelnya muantap" ungkap Dewi.


Bagas tersenyum melihat wajah istrinya. Ternyata benar yang Dewi katakan. Kemewahan tak selamanya bisa membeli kebahagiaan.


Contohnya saat ini mereka hanya makan makanan hidangan sederhana di warung makan ini tapi dia sudah bisa melihat wajah istrinya makan sambil berpeluh keringat karena semangat sekali makannya.


Bagas mengambil tisu dan mengelap keringat di wajah Dewi. Seketika Dewi jadi malu karena suaminya itu melakukan suatu tindakan yang romantis.


"Makasih Mas" ucap Dewi.


Mereka melanjutkan makan malam dengan sangat semangat. Setelah selesai makan mereka duduk sebentar menikmati suasana di sana malam hari.


"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Bagas.


"Malam ini kita jalan aja ya Mas di sekitar sini. Besok baru kita jalan - jalannya agak jauhan" jawab Dewi.


"Oke sayang, sesuka kamu saja. Aku akan menjadi guide kamu selama di Bali" sambut Bagas.


"Iya deeh yang sering ke Bali. Pasti dulu Mas ke sini sama para... " ucapan Dewi terpotong.

__ADS_1


Bagas meletakkannya jarinya di bibir Dewi, menyuruh istrinya untuk diam.


"Sayang jangan rusak suasana honeymoon kita dengan mengingat - ingat masa laluku. Aku sangat menyesalinya. Seandainya bisa aku hapus atau aku hilangkan dari ingatanku aku akan melakukannya" potong Bagas.


"Maag Mas.. " ujar Dewi dengan nada menyesal.


"Tidak apa - apa, tapi tolong jangan diulangi lagi ya" pinta Bagas.


"Iya Mas, aku tidak akan mengulanginya lagi" balas Dewi.


"Nah udah kuat belum jalannya? Udah siap untuk kegiatan kita selanjutnya?" ajak Bagas.


"Udah donk, aku udah kenyang dan sudah punya kekuatan yang besar untuk berjalan - jalan malam ini" sambut Dewi dengan semangat membara.


Bagas memanggil pelayanan warung dan membayar tagihan makan mereka. Setelah itu baru mereka melanjutkan acara mereka berjalan - jalan di pinggir Pantai Kuta.


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, terkadang berubah posisi Bagas merangkul bahu Dewi dan kadang Bagas memeluk Dewi dari belakang.


Mereka benar - benar menikmati malam ini berdua saja. Jujur walau Bagas sudah sering ke Bali tapi ini adalah pertama kalinya dia menikmati malam seperti ini.


Biasanya kalau malam seperti ini dia akan mengajak pasangannya makan malam di hotel mewah kemudian melanjutkan malam panjang dengan pasangan sesaatnya.


Tapi Istrinya memang sangat luar biasa, bisa - bisanya dia mempunyai ide seperti ini. Tapi Bagas sangat suka. Dia juga sangat menikmati malam panjang mereka dengan penuh kasih sayang.


"Ya sudah Mas aku akan tunggu kamu di sini tapi jangan lama ya" sambut Dewi.


"Oke sayang, kalau ada apa - apa hubungi aku ya" pesan Bagas.


"Iya Mas" jawab Dewi.


Dewi duduk di tepi pantai sedangkan Bagas segera berlari mencari toilet umum. Tak lama kemudian datang tiga orang pria yang terlihat seperti sedang mabuk.


Dewi yang melihat tiga pria itu langsung merasa was - was. Dewi melirik jam di tangannya sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Memang sekitar pantai masih ramai tapi dia baru sadar kalau dia duduk jauh dari orang lain.


Dan karena ini dilingkungan pariwisata pasti semua orang akan bertindak cuek. Dewi segera memeluk tasnya dengan erat.


"Eh ada cewek cantik sedang duduk sendirian" ujar seorang pria yang mulai mendekati Dewi.


Dewi semakin ketakukan ketika mendengar suara pria itu dan melihat dia berjalan mendekati Dewi.


"Hai cantik" sapa pria itu. Tapi Dewi tak menanggapinya. Dewi mengambil ancang - ancam untuk pergi dari situ.


"Hei mau kemana kamu cantik, jangan pergi donk, sini temani kami dulu" ujar teman pria satu lagi.


Dua orang sudah merapat, Dewi semakin ketakutan. Salah satu pria ingin menyentuh tangannya.

__ADS_1


"Ja.. jangan sentuh saya" Bentak Dewi histeris.


"Uuuuuh.. berani juga kamu cantik" ujar pria yang terakhir. Kini ketiga pria itu sudah mendekati Dewi dan ingin menggangu Dewi.


Dewi semakin ketakutan dan mulai menangis.


"Ja.. ja..ngan ganggu saya. Aa.. pa.. mau kalian?" tanya Dewi dengan air mata yang mulai menetes.


"Kami hanya ingin mengajak kamu bersenang-senang" jawab pria pertama.


"A.. aku ti.. dak.. mau" balas Dewi.


"Gak usah sok suci kamu. Ngapain kamu menutupi rambut kamu dengan kain. Ayo buka" perintah Pria kedua.


"Ja.. ngan.. to.. long ja.. ngan.. sakiti aa.. aku" pinta Dewi sembari memelas.


"Kalau kamu tidak ingin di sakiti maka bekerjasama lah dengan kami. Kami akan mengajak kamu bermain - main. Aku jamin kamu pasti tidak akan merasa sakit, malah kamu akan ketagihan hahaha" ucap pria yang ke tiga.


Dewi semakin takut dan semakin menangis kencang.


"Ja.. ngan.. To... tolooooooong" teriak Dewi sekuat tenaga tapi rasa takut sudah menguasainya. Suara Dewi terdengar bergetar dan tidak begitu kuat padahal rasanya Dewi sudah mengumpulkan semua kekuatan yang dia punya.


"Hahaha... kamu berteriak dengan suara seperti itu? Mana ada yang dengar. Lebih baik kamu gunakan suara kamu untuk mendes** di hadapan kami. Pasti suara kamu semakin merdu" ujar pria ke dua.


"Ma.. maaas Bagaaas tolong akuuuuu" ujar Dewi.


Pria pertama mulai ingin menyentuh bahu Dewi, Dewi langsung mengelak. Pria kedua hendak menarik jilbab yang di pakai Dewi. Dewi mengelak tapi tubunya sudah tertahan oleh tubuh pria ketiga yang ada di belakangnya.


Pria kedua berhasil menarik jilbab Dewi.


"Aaaaaw... toloooooong" teriak Dewi semakin keras.


"Mas Bagaaaaaas tolooooooong" teriak Dewi lagi.


Saat ketiga pria itu hendak mengangkat tubuh Dewi tiba - tiba datang seseorang dari arah belakang mereka.


"Bangsa* kalian, beraninya hanya pada perempuan dan main keroyokan" pria itu menarik tubuh dua pria yang ada di depan Dewi dan langsung memukulnya.


Bruk.. bruk..


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2