
"Wi... ini seandainya ya.. Seandainya Bu Siti bercerai dengan Bapak kamu dan kembali bersama Pak Wijaya, Bapaknya Tiara kamu setuju gak?" tanya Bagas penasaran.
Dewi terdiam dan terlihat sedang berfikir.
"Aku setuju aja Mas. Pak Wijaya juga baik dan sepertinya sangat sayang pada Ibu. Tidak seperti Bapak yang suka nyakitin Ibu" Dewi tampak sedih.
"Iya aku lihat Pak Wijaya masih sangat mencintai Ibu. Aku malah salut padanya, bertahun - tahun tidak bertemu tapi dia masih setia mencari Bu Siti. Walau dia tak tau kalau dia sudah diceraikan oleh Bu Siti. Dan hebatnya dia tidak menikah lagi" ungkap Bagas.
"Begitulah arti kesetiaan sebenarnya Mas. Bukan seperti Mas suka mainin perempuan" sindir Dewi.
Makjleb... mati aku. Batin Bagas.
"Aku sekarang udah tobat Wi. InsyaAllah aku setia menunggu pujaan hatiku sampai dia cukup umur" Ungkap Bagas.
"Hahaha... sepertinya Mas Bagas beneran jatuh cinta ya. Salut sama tuh cewek bisa buat Mas Bagas berubah. Kapan - kapan kenalin aku ya sama calonnya Mas Bagas" pinta Dewi.
"Beres.. nanti kalau sudah tiba waktunya kamu pasti aku. Aku akan mengenalkannya pada kamu" jawab Bagas.
Hehehe... aku jadi lucu ngebayangin aku mengenalkan namanya kepada dirinya sendiri. Pasti Dewi terkejut banget saat itu. Tawa Bagas dalam hati.
"Cie.. cie... pasti lagi mikirin calonnya ya, sampai senyum - senyum gitu" goda Dewi.
Bagas jadi semakin tersenyum.
"Wi... Mas mau tanya, seandainya kamu dapat calon suami seperti Mas ini. Kamu mau gak terima?" tanya Bagas serius.
"Maksud Mas play boy seperti Mas Bagas?" tanya Dewi kurang yakin.
"He.. em... " Bagas mengangguk kan kepalanya.
"Aku sih gak masalah asal dia sudah bertaubat atau berubah. Apapun yang dulu itu adalah masa lalu. Dan aku tidak akan mempersoalkannya yang penting jangan ada buntutnya ya Mas. Seperti Mas Bintang dan Kak Ara. iiiih.. serem deh kalau sampai ketemu mantan yang seperti mantannya Mas Bintang. Jiwa berperangku blingsatan. Pengen tak cabik - cabik tuh cewek keganjenan godain suami orang. Salah sendiri dulu kenapa gak bisa menjaga pacaranya eh salah kenapa dulu dia yang tinggalin Mas Bintang. Giliran Mas Bintang sudah menikah dan bahagia dia iri" ungkap Dewi kesal.
__ADS_1
Mati aku.... Bagas mengingat - ingat siapa mantan pacarnya yang posesif. Sepertinya gak ada deh. Selama ini dia aman - aman aja sama mantan - mantan pacaranya. Kalau hubungan mereka sudah selesai ya selesai.. tidak ada lagi hubungan lain di depan. Toh Bagas melakukannya atas dasar mau sama mau dan tau sama tau. Pikir Bagas.
Tak lama pelayanan datang mengantarkan pesanan merek. Bagas dan Dewi mulai menyantap hidangan makan siang mereka.
"Kembali lagi ke Bu Siti, Wi. Kalau Bu Siti misalnya bercerai dengan Bapak kamu dan menikah lagi kamu mau itu tinggal bersama mereka?" tanya Bagas.
Dia kembali teringat hubungan Pak Wijaya dan Bu Siti yang sepertinya belum selesai. Masih ada sesuatu yang tertinggal dari tatapan mereka. Cinta yang sangat dalam.
"Aku sih pengennya gak mau gangguin Ibu lagi sama Pak Wijaya Mas. Biarlah mereka bahagia diujung usia mereka. Selama ini Ibu selalu menderita menikah dengan Bapakku. Ibu sering mendapatkan pukulan dari Bapak. Ibu berjuang sendiri untuk membesarkan dan menyekolahkan aku, Kak Ara dan Ali. Sudah saatnya Ibu bebas dari semua itu dan memikirkan kabahagiaanya sendiri. Kemarin aja aku melihat mereka memasak bersama di dapur rumahnya Pak Wijaya. Pak Wijaya memanen sayur di kebunnya sendiri, menangkap ikan sendiri dari kolam di belakang rumahnya. Mereka tertawa bahagia seperti bernostalgia dengan masa lalu mereka" ungkap Dewi.
Dewi menarik nafas panjang.
"Aku belum pernah melihat Ibu sebahagia itu Mas. Di situ aku sadar Bapak terlalu banyak sudah menyakiti Ibu. Walau Bapak adalah Bapak kandungku tapi aku malu Mas. Malu rasanya mempunyai Bapak seperti dia" Dewi terlihat sedih.
Bagas menatap wajah Dewi dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Seandainya kita lahir bisa memilih siapa orang tua kita, aku tidak ingin menjadi anak Bapak. Tapi kalau aku berkata seperti itu aku akan menjadi anak durhaka Mas. Bagaimanapun buruknya perbuatan Bapak kepada Ibu, aku, Kak Ara dan Ali dia tetaplah Bapakku, Bapak kandungku.. Aku hanya bisa mendoakan semoga Bapak sadar dan bertaubat" Akhirnya Dewi meneteskan air matanya.
"Wi.. jangan nangis, aku ke sini mengajak kamu makan kan bukan untuk melihat kamu menangis? Aku ingin belajar mempunyai calon istri yang belum cukup umur. Kita kan mau lucu - lucuan dan seru - seruan ke sini. Bukan untuk bersedih" bujuk Bagas.
"Maaf Mas aku jadi terbawa suasana dan lepas kontrol" jawab Dewi.
"Gak apa - apa, tapi kamu berhenti menangis ya".. bujuk Bagas.
Karena aku tidak tahan melihat kamu menangis, rasanya aku ingin sekali memeluk kamu Wi. Dan kalau hal itu aku lakukan, sudah pasti aku akan di penggal Bintang. Batin Bagas.
"Ayo cepat habiskan makanan kamu, setelah ini kita jalan - jalan. Temani dan ajari aku ya kencan dengan anak di bawah umur" pinta Bagas.
Seketika Dewi terkejut.
"Mas ngajak aku kencan?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Bukan ngajak kencan tapi pura - pura kencan biar nanti kalau aku bertemu dengan calon istri belum cukup umurku aku tau apa yang harus aku lakukan padanya. Maklum umur kami kan jauh berbeda. Jadi aku sudah lupa apa yang saat ini sedang viral di kalangan anak muda" elak Bagas.
"Oke. Tapi gak apa - apa nih kalau Mas Bagas jalan denganku. Kalau keluarganya calon istri Mas Bagas yang belum cukup umur itu lihat kita gimana? Bisa - bisa lamaran Mas Bagas di tolak?" tanya Dewi.
"Aku akan bilang kalau kamu adalah adikku. Adik dari sahabatku. Bila perlu aku ajak kamu dan Bintang untuk bertemu mereka menjelaskan semuanya" ungkap Bagas.
"Baiklah kalau begitu. Mas Bagas siap - siap aja tekor hari ini alias siap - siap aku kuras uangnya" ucap Dewi semangat.
"Gak masalah, kamu tidak akan membuat aku jatuh miskin Wi" jawab Bagas.
Tapi yang ada kamu semakin membuat aku jatuh cinta. Hahaha... jatuh cinta berjuta rasanya. Tawa Bagas dalam hati.
Mereka segera menyelesaikan makan siang mereka.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Bagas.
"Bener ya Mas Bagas mau belajar pura - pura kencan dengan anak di bawah umur?" tanya Dewi.
"Benar" jawab Bagas.
"Kalau begitu Mas Bagas harus ikutin apa yang aku mau, gimana?" tantang Dewi.
"Gak masalah" jawab Bagas sambil tersenyum sabar menghadapi pujaan hatinya.
"Kalau begitu setelah ini kita ke Mall. Aku ingin nonton di bioskop. Gimana?" ajak Dewi semangat.
"Ayo... kita tancap sekarang" sambut Bagas semangat.
Hahaha... mimpi apa aku tadi malam bisa kembali kencan seperti anak ABG. Bagas tertawa bahagia dalam hati.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG