Tiara

Tiara
Mencarimu


__ADS_3

Jika sayapku patah bagaimana aku bisa terbang lagi...


Seperti itulah saat ini yang dialami Tiara. Seekor burung yang jatuh di tanah dan tak bisa terbang bebas karena sayapnya sudah patah.


Seperti seorang narapidana yang sedang menunggu hukuman mati. Rasanya dadanya sesak dan sulit bernafas jika membayangkan dia akan bertemu dengan Bintang.


Apa yang harus dia katakan? Mengaku atau menghindar lagi? Tiara sangat bingung saat ini.


"Sayaaang bangun.. kita harus balik ke Bandung pagi ini" Setelah shalat subuh Tiara membangunkan Tegar dan mengajaknya untuk bersiap pulang.


"Jam berapa ini Ma, aku ngantuk sekali. Mengapa kita cepat sekali kembali ke Bandung?" tanya Tegar.


"Mama ada pekerjaan yang harus Mama selesaikan di Bandung sayang. Kalau kamu masih ngantuk nanti tidurnya di lanjutkan di mobil ya" bujuk Tiara.


"Baiklah Ma. Kita langsung pulang?" tanya Tegar.


"Iya sayang. Semua barang kita sudah Mama letak di mobil. Tinggal kamu saja yang belum masuk" jawab Tiara.


"Memangnya aku barang ya Ma?" tanya Tegar dengan polosnya.


"Iya, kamu barang berharga Mama" balas Tiara.


Tiara tersenyum dan menuntunnya ke mobil. Tiara meninggalkan kunci rumah Ridho di tempat persembunyian yang sudah diberi tahu kan si Bibi sebelumnya.


**********


Sementara di apartemen Bintang.


Bintang terbangun dari tidurnya. Rupanya tadi malam dia tidur di sofa ruang kerjanya karena terlalu lelah menangis.


Seketika Bintang tersadar dan bangkit. Dia meraih dompet, handphone dan kunci mobil. Setelah itu berjalan keluar menuju parkir mobil dan segera meluncur ke apartemen Dian.


Ting... Tong...


Dian melihat jam di kamarnya. Siapa yang bertamu pagi - pagi seperti ini.


Ting... Tong...


Bel kembali berbunyi kali ini lama dan tak berjeda. Dengan berat hati Dian berjalan ke arah pintu dan mengintip dari layar monitor di depan pintu.


Bintang? Ngapain dia datang ke sini pagi - pagi? Batin Dian.


Dian segera membuka pintu apartemennya.


"Ngapain kamu datang sepagi ini?" tanya Dian keheranan.


"Ada yang ingin kutanyakan pada kamu Yan" jawab Bintang.


"Masuklah" Dian mempersilahkan Bintang masuk.

__ADS_1


Mereka duduk di sofa ruang TV.


"Ada apa Bin?" tanya Dian.


"Kamu tau semua cerita tentang Tiara?" Bintang mulai bertanya.


Sudah kuduga, kamu pasti akan bertanya tentang itu. Ucap Dian dalam hati.


"Iya aku tau" jawab Dian singkat.


"Termasuk siapa pria bejat yang sudah menghamilinya?" desak Bintang.


"Dia tidak pernah menyalahkanmu atas kejadian malam itu. Dia sadar, dia melakukannya pada kamu malam itu tanpa paksaan dan saat itu kalian dalam keadaan mabuk" ungkap Dian.


"Sudah lama kamu tau?" tanya Bintang.


"Saat Tiara melahirkan. Ridho sahabat Tiara yang sebelumnya juga bekerja di Cafe datang ke sini dan menceritakan semuanya. Aku mencoba menghubungi kamu tapi nomor kamu tidak aktif. Aku memberikan alamat apartemen kamu kepada Ridho tapi Ridho bilang kamu tidak ada di apartemen. Saat dia bertanya kepada pengelola apartemen kamu kata mereka kamu sudah lama tidak pulang" ungkap Dian.


"Saat itu aku pergi setelah mengetahui pengkhianatan Siska" jawab Bintang.


"Setelah Tiara melahirkan dia memohon kepadaku untuk merahasiakan semua ini dari kamu. Dia pernah melihat kamu bersama Siska. Dia taunya kamu sudah punya pacar, jadi dia tidak mau mengganggu hubungan kalian karena kehamilannya. Berulang kali aku sudah memaksanya untuk berkata jujur kepada kamu. Tapi dia katakan dia belum siap. Dia takut kamu tidak menerima penjelasannya dan menolaknya. Tapi yang paling dia takutkan kamu membawa Tegar pergi dari sisinya. Dia tidak sanggup berpisah dari Tegar. Mungkin kalau hal itu terjadi dia akan mati" sambung Dian.


Dian menarik nafas panjang.


"Tapi sebenarnya aku kesal banget sama kamu. Masak kamu tidak mengenal wajah Tiara padahal kalian sudah melewatkan malam yang panjang bersama hingga Tegar ada. Saat melihat wajah datar kamu ketika pertama kali bertemu Tiara rasanya aku pengen memukul kepala kamu Bin. Siapa tau otak kamu rada geser sampai lupa ingatan" ucap Dian kesal.


Bintang membuang nafasnya secara kasar. Sementara Dian hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Trus kejadian tadi malam, kamu kah yang merencanakannya Yan?" tanya Bintang.


"Bukan aku seratus persen. Roy yang meminta meeting berempat di Jakarta. Aku hanya menghubungi Tiara dan menyuruhnya datang ke Cafe membawa Tegar. Dengan harapan agar kamu bisa melihat wajah Tegar. Ternyata harapanku terkabul. Lihatlah wajah anak kamu sangat mirip sekali dengan kamu" jawab Dian.


Bintang terdiam mencoba meresapi semua perkataan Dian.


"Dimana Tiara saat ini?" tanya Bintang.


"Dia menginap di rumah Ridho" jawab Dian singkat.


"Tolong kasih alamatnya Yan" pinta Bintang.


"Apa tujuan kamu menemuinya?" tanya Dian.


"Aku ingin menyelesaikan semuanya Yan" jawab Bintang.


"Dengan cara apa dan bagaimana menyelesaikannya?" tantang Dian.


Bintang terdiam dah menarik nafas panjang.


"Jujur aku tidak tau apa yang akan aku lakukan Yan. Aa.. aku.. hanya ingin menatap wajah putraku" jawab Bintang jujur.

__ADS_1


"Terus, kamu mau mengambilnya dari Tiara?" tanya Dian.


"Tidak Yan , aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan memisahkan seorang anak dari Ibunya" ungkap Bintang.


"Kamu akan bertanggung jawab pada Tiara?" tanya Dian lagi.


"Ya tentu saja" balas Bintang.


"Dengan cara apa, menikahinya?" desak Dian.


Bintang terdiam lagi.


"Aku belum tau Yan. Aku belum berfikir sejauh itu. Ini masih terlalu mengejutkan untukku Yan. Aku masih belum siap memikirkannya. Aku hanya ingin melihat anakku. Biarlah semua mengalir seperti air, mengikuti arus kemana angin membawanya" ucap Bintang.


Dian menatap wajah sahabatnya itu.


"Kamu tau Bin, sudah lama hal ini aku rencanakan tapi aku tidak berani melanggar janjiku pada Tiara. Dia wanita yang sangat baik Bin" ungkap Dian.


"Aku tau Yan, dia wanita yang sangat kuat. Tapi aku belum mempunyai perasaan apapun padanya" sambut Bintang.


"Tidak bisakah alasan kamu bersatu dengan Tiara adalah karena Tegar?" tanya Diah.


"Entahlah Yan, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Tolong berikan alamat rumah Ridho" pinta Bintang.


Dian memberikan alamat rumah Ridho. Setelah mendapatkannya Bintang segera berlari meninggalkan apartemen Dian dan kembali ke mobil. Setelah itu dia melaju menuju alamat rumah yang diberikan Dian.


Tidak memakan waktu panjang karena ini masih pagi dan juga hari libur jalanan masih sepi. Bintang sudah sampai di depan rumah Ridho.


Bintang menekan bel terus menerus sampai tetangga sebelah rumahnya keluar dan mengatakan bahwa rumah itu sudah kosong dari tadi pagi.


Bintang mengirim pesan kepada Dian dan meminta nomor telepon Tiara. Setelah mendapatkannya Bintang segera menghubungi Tiara.


Tapi panggilan teleponnya tidak di jawab.


"Dimana kaliaaaan?" tanya Bintang pada diri sendiri.


Bintang kembali masuk ke mobil dan melaju menuju Tol. Dia harus segera menyusul Tiara ke Bandung.


Dia harus gerak cepat sebelum Tiara menghilang selamannya dan membawa Tegar sehingga Bintang tidak bisa bertemu mereka lagi.


"Tegaaaar tunggu Papa naaaak. Papa akan datang menemui kamu. Papa kamu belum mati, Papa kamu masih hidup. Papalah Papa kamu" ucapnya sambil menghapus air matanya yang sudah menetes di pipi.


Mobil melaju dengan kencang menembus pagi yang masih dingin dan sepi. Akankah waktu berpihak kepada Bintang?


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2