Tiara

Tiara
Tinggal bersama lagi


__ADS_3

Akhirnya Siti dan anak - anaknya kembali ke Bandung bersama dengan Wijaya. Siti pasrah dan ikut apa keputusan Bintang dan Wijaya.


Bagaimanapun tujuan mereka baik, mereka tidak ingin Siti dan anak - anaknya terluka karena di sakiti Tarjo lagi. Sesampainya di Bandung Wijaya melapor kepada polisi dan menceritakan apa yang terjadi dengan Siti dan anak - anaknya.


Polisi sudah menghubungi kantor pusat Jakarta dan mereka sudah mengirim utusan untuk memantau keadaan Siti dan anak - anaknya. Berjaga - jaga kalau Tarjo suatu waktu menghampiri mereka.


Mobil Wijaya singgah sebentar di rumah Siti. Siti dan anak - anaknya membawa beberapa keperluan mereka selama di rumah Wijaya.


Dewi dan Ali tak lupa membawa buku - buku pelajaran mereka karena sementara mereka akan berangkat ke kampus dan sekolah dari rumah Wijaya. Dan setelah selesai belajar mereka akan di jemput kembali oleh supir Wijaya.


Setelah semua barang yang dibawa sudah cukup mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Wijaya di perkebunan teh.


"Enak sekali ya Pak tinggal di sini. Udaranya sangat bersih dan sejuk" ucap Dewi sambil menatap perkebunan teh dari pintu kaca mobil.


"Iya Wi, selain itu warga di sini semua baik - baik sudah seperti keluarga. Mereka sangat kompak sekali" sambut Wijaya.


"Sudah berapa lama kamu tinggal di sini Mas?" tanya Siti.


"Setahun sebelum aku menjemput kamu dan Tiara di kampung. Dulu belum seluas ini perkebunanku tapi sangat cukup untuk membiayai kamu dan Tiara" ungkap Wijaya.


Hati Siti kembali terasa perih. Andai saja... yah.. hanya kata seandainya yang artinya tidak akan terwujud.


"Kamu mengelola ini sendiri?" tanya Siti.


"Tidak, mana bisa aku mengelola perkebunan ini sendirian. Aku dibantu oleh beberapa orang asistenku" jawab Wijaya.


Mobil berhenti tepat di sebuah rumah besar yang terletak di tengah - tengah perkebunan luas.


"Waaaah... semua ini kebun teh Bapak?" tanya Ali takjub.


"Semua hanya titipan Ali. Bapak hanya dipercaya Allah untuk mengelola ini semua. Sehingga Bapak harus bisa membagi - bagikannya kepada yang juga berhak untuk mendapatkannya" jawab Wijaya.


"Bapak orang baik ya, pantas saja Kak Ara juga baik" puji Ali.


"Kalian berdua juga baik karena kalian mendengar semua ajaran Ibu kalian" balas Wijaya agar Dewi dan Ali tidak berkecil hati mempunyai Bapak seorang buronan.


Ali dan Dewi membawa tas mereka masing-masing.


"Ayo masuk, Bapak sudah siapkan kamar untuk kalian selama kalian tinggal di rumah Bapak. Jangan sungkan ya" ajak Wijaya.

__ADS_1


"Baik Pak, terimakasih" jawab Ali dan Dewi bersama - sama.


Mereka masuk ke dalam rumah Wijaya yang sangat besar. Tak lama mereka disambut oleh asisten rumah tangga Wijaya.


"Bik perkenalkan ini Siti, Ibunya Tiara. Ini Dewi dan Ali adik - adiknya Tiara" ucap Wijaya memperkenalkan Siti dan anak - anaknya.


Asisten rumah tangga Wijaya menjabat tangan Siti dan anak - anaknya dengan penuh hormat.


"Tolong tunjukkan pada Ali dan Dewi dimana kamar mereka ya Bik" perintah Wijaya.


"Baik Tuan" jawab Bibik.


"Dewi, Ali ikut sama Bibik sana. Bawa barang - barang kita" sambut Siti pada anak - anaknya.


"Baik Bu" jawab Ali dan Dewi.


Ali dan Dewi kemudian mengikuti Bibik menuju kamar yang akan mereka tempati. Wijaya dan Siti menatap kepergian mereka.


"Kamu berhasil mendidik mereka menjadi anak - anak yang baik, soleh dan solehah" puji Wijaya.


"Alhamdulillah Mas, anak - anak memang tidak pernah merepotkan. Mereka sangat mengerti apa yang sedang aku alami. Dari dulu mereka tidak pernah punya permintaan yang berlebihan. Begitu juga dengan Tiara. Dia sangat banyak sekali membantuku membesarkan dan menyekolahkan adik - adiknya" jawab Siti.


"Waktu Tiara menikah aku mengundang Mas Danu, dia yang menikahkan Tiara karena kamu tidak ada. Tapi Mas Danu gak ada cerita padaku Mas kalau kamu balik ke kampung?" tanya Siti.


"Saat aku pulang ke kampung kamu, aku tidak pulang ke kampungku. Jadi Mas Danu tidak tau keberadaanku sampai sekarang" jawab Wijaya.


Siti menatap ke arah Wijaya.


"Kenapa Mas?" tanya Siti.


"Karena dia tidak pernah setuju aku menikah dengan kamu" jawab Wijaya.


"Tapi dia baik kok kepadaku, malah dia dengan senang hati menikahkan Tiara waktu itu" balas Siti.


"Yah mungkin dia sudah banyak berubah, atau dia merasa bersalah karena dulu sudah melarang aku menikah dengan kamu. Hingga lahirlah Tiara. Dia merasa mempunyai tanggung jawab kepada Tiara sebagai Pakdenya" ungkap Wijaya.


Siti terdiam, dia tidak menyangka ternyata seperti itu yang terjadi dengan keluarga Wijaya. Pantas saja dulu keluarga Wijaya tidak pernah menjenguk atau menanyakan keadaan Siti dan Tiara.


Bagaimana kehidupan mereka, apakah mereka bisa makan dan lainnya. Siti mengusap dadanya.

__ADS_1


"Dulu aku mempunyai mimpi membuat kebun sayuran di belakang ini khusus untuk kamu. Kamu kan paling suka memasak. Kalau bahan - bahannya langsung di panen sendiri dari kebun pasti segar sekali rasanya" ungkap Wijaya sambil menatap kedepan.


Siti mengikuti pandangan Wijaya.


"Semua hanya mimpi Mas dan tak semua mimpi bisa jadi kenyataan" sambut Siti.


"Entah mengapa aku sangat yakin suatu saat mimpiku akan menjadi kenyataan makanya sedikit lahan ini aku kosongkan untuk bertanam sayur - sayuran. Lihatlah apakah kamu tidak tertarik dengan sayur - sayuran segar itu" Wijaya menunjuk ke arah kebun sayur miliknya yang terletak di taman belakang rumahnya.


"Kalau kamu tidak lelah.. boleh tidak kamu memasakkan makanan kesukaanku" pinta Wijaya lembut.


Siti kembali melirik ke arah Wijaya.


"Boleh Mas, kamu putik saja sayur-sayuran itu dan bawa ke dapur. Aku akan segera memasakkannya untuk kamu" jawab Siti.


"Terimakasih Sit, ternyata Allah masih memeberikan aku kesempatan untuk merasakan masakan kamu lagi. Aku selalu membayangkan bagaimana keluarga kecil kita dulu hidup bahagia" mata Wijaya terlihat berkaca - kaca.


"Maaaaas.... " ujar Siti, raut wajahnya terlihat sangat sedih dan merasa bersalah.


"Kamu tidak pernah salah Sit, aku yang salah. Aku tidak pernah marah kamu sudah menceraikan aku. Aku marah pada diri sendiri yang begitu bodoh dan tidak bisa menjaga kamu dan Tiara" Wijaya menyeka air mata di ujung matanya.


Siti sudah menangis dalam diam. Lagi - lagi kata seandainya yang bermain dalam fikirannya.


Seandainya aku lebih bersabar.... Seandainya kamu datang lebih cepat...


Seandainya waktu bisa kuputar kembali..


Seandainya aku tidak bertemu Mas Tarjo..


Siti menangis...


"Kita tak bisa menyalahkan takdir Sit, tidak bisa marah pada Allah karena DIA lah yang sudah menuliskan ini semua" ujar Wijaya.


"Iya Mas aku tau.. " jawab Siti.


"Aku tetap menunggu kamu Sit.. bahkan sampai aku mati aku akan setia menunggu kamu.. Kamu tetap menjadi cinta pertama dan terakhirku" tegas Wijaya.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2