
"Ya.. aku melihat kalian sedang tidur di kamar ini tanpa pakaian. Kamu ingin menyangkalnya? Aku melihat semuanya dengan mataku sendiri" ucap Roy.
"Tidak.. tidak mungkin Roy. Aku tidak melakukan apa - apa. Aku tidak mengingat apapun yang aku ingat kita berpisah di ruang seminar dan masuk ke kamar masing-masing. Aku mandi kemudian aku memesan makanan dan minuman. Setelah aku selesai mandi aku makan dan minum. Kemudian setelah selesai makan aku merasa tubuhku sangat lelah dan aku mengantuk. Setelah itu aku tidak ingat apapun" ungkap Bintang.
Roy terdiam dan tampak sedang berpikir.
"Bin jangan - jangan ini jebakan Siska" ujar Roy.
Mata Bintang terbuka lebar.
"Bisa jadi tapi bagaimana bisa dia masuk ke dalam ke kamarku?" tanya Bintang.
"Ayo kita cari tau" Ajak Roy.
Mereka segera keluar dari kamar dan menuju kantor administrasi hotel. Roy dan Bintang menemui bagian keamanan. Mereka menceritakan apa yang terjadi dengan Bintang tadi malam dan mereka meminta izin untuk melihat CCTV tadi malam.
Dengan bantuan pihak hotel mereka mereka memeriksa dan melihat hasil rekaman CCTV tadi malam.
Mereka melihat sekitar jam sepuluh malam Bintang masuk ke dalam kamarnya, lima belas menit kemudian pelayan hotel masuk ke kamar Bintang membawa makanan yang di pesan Bintang.
Sekitar lima belas setelah itu Siska datang dengan membawa botol minuman beralkohol dan masuk ke kamar Bintang dengan menggunakan kunci cadangan. Satu jam kemudian baru Roy datang bersama salah satu pelayan yang membantunya membuka pintu kamar Bintang.
Sekitar dua puluh menit setelah itu Siska keluar dari kamar Bintang dengan wajah bahagia. Bahkan dia sempat terlihat tertawa setelah keluar dari kamar Bintang.
"Sialan.. ini memang rencana Siska Roy" Tangan Bintang mengepal karena geram.
"Benar Bin, dia katakan kepadaku kalau kalian ketemu di Bar, kamu mabuk dan mengajaknya ke kamar. Tapi nyatanya dia yang datang sendiri ke kamar kamu dan membawa sebotol minuman" sambut Roy.
"Tapi bagaimana aku membuktikkan kalau aku tidak melakukan apapun dengannya di kamar?" tanya Bintang.
"Sayang sekali Bin, CCTV di dalam kamar hotel tidak ada. Ada jeda satu jam jaraknya antara waktu Siska masuk dengan aku datang. Waktu satu jam itu bisa untuk melakukan apa saja Bin termasuk untuk kamu melewatkan waktu satu jam bersama Siska di kamar. Aku tidak bisa membuktikan kalau kamu benar atau salah. Yang jelas aku melihat kamu dan Siska tidur di ranjang tanpa busana" ungkap Roy.
"Dia sudah berbohong Roy" ucap Bintang kesal.
"Tapi dia pasti punya senjata untuk membela diri" jawab Roy.
Penjelasan Roy membuat Bintang semakin emosi.
"Sial.. Sial.. Siaaaal.." Bintang memukul dinding karena kesal.
"Apa yang harus aku lakukan Roy? Aku tidak ingat apapun" ujar Bintang.
"Pak bisa cek siapa pelayan yang membawa minum ke kamar?" selidik Roy.
"Baik Pak" jawab pegawai Hotel.
Mereka segera mengecek hasil rekaman CCTV dan menzoom wajah pelayan tersebut kemudian mengidentifikasi wajahnya.
"Maaf Pak sepertinya ada penyusup di sini. Kami tidak mengenal siapa pelayan tersebut. Kami akan mencari tau siapa pria itu dan secepatnya kami akan mengabarkannya kepada Bapak" ujar Pegawai Hotel.
"Baik, ini kartu nama saya. Kalau kalian menemukan sesuatu segera hubungi saya" pesan Roy.
__ADS_1
"Iya Pak. Kami akan segera menyelesaikan masalah ini" jawab pria tersebut.
Bintang dan Roy kembali ke dalam kamarnya tetapi kamar Bintang sudah di rapikan sehingga tidak ada lagi bukti yang tersisa di kamar.
"Sial... " umpat Bintang setelah sampai di kamar.
"Sabar Bin, semua pasti akan terbuka. Kita ikuti saja apa maunya Siska" nasehat Roy.
"Aku tidak semangat lagi berada di kota ini. Aku ingin segera kembali ke Jakarta" ucap Bintang.
"Baiklah kalau begitu aku akan ikut kamu pulang. Aku kembali ke kamar aku dulu" sambut Roy.
Roy segera keluar dari kamar Bintang. Bintang membereskan semua barang - barangnya. Dia mandi dan bersiap hendak berangkat pulang ke Jakarta secepatnya.
Satu jam kemudian Bintang dan Roy sudah berada di Restoran hotel menikmati sarapan pagi sebelum mereka kembali ke Jakarta.
"Sebaiknya sesampainya di Jakarta kamu ceritakan saja semuanya kepada Tiara Bin. Agar dia bisa bersiap - siap kalau Siska melakukan penyerangan" pesan Roy.
"Apakah dia mau percaya Roy?" tanya Bintang khawatir.
"Kamu harus bisa meyakinkan Tiara agar percaya dengan kata - kata kamu. Menurut aku lebih baik dia tau kejadian ini dari mulut kamu langsung dari pada dia taunya dari mulut Siska lebih berbahaya. Siska pasti punya senjata lain untuk menyerang Tiara. Kalau Tiara sudah mengetahui cerita ini dari kamu tentu Tiara akan melakukan persiapan sebelum ketemu Siska" jawab Roy.
Bintang terdiam mencerna semua perkataan Roy.
"Benar juga apa yang kamu katakan. Aku akan berkata jujur kepada Tiara. Walau awalnya berat tapi aku yakin pada akhirnya Tiara akan percaya kepadaku" ujar Bintang.
"Baguslah kalau kamu mikirnya juga begitu" sambut Roy.
"Oke" jawab Roy.
Mereka segera menyudahi sarapan pagi mereka kemudian dengan diantar oleh pihak Hotel Bintang dan Roy sampai di Bandara satu jam kemudian.
Bintang dan Roy akhirnya kembali ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta Bintang langsung menuju ke rumahnya. Tapi ternyata di rumahnya sedang ramai.
Ada kedua orang tua Bintang, kedua orang tua Tiara, Bagas, Dewi dan Ali. ternyata mereka sedang berkumpul di rumah Bintang.
"Assalamu'alaikum" ucap Bintang ketika dia memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam" jawab semua yang ada di rumah Bintang.
"Lho Mas kok sudah sampai? Katanya pulangnya sore?" tanya Tiara terkejut.
"Iya tugasku di sana sudah selesai dan aku malas untuk menghadiri acara tersebut sampai selesai. Aku merindukan keluargaku, istri dan anak - anakku jadi aku pulang lebih cepat" jawab Bintang.
"Cih alasan, baru juga tak sampai sehari pisahnya. Lebaaay.. " ejek Bagas.
"Biarin" balas Bintang.
Tiara menyambut suaminya dengan pelukan dan langsung melayani suaminya itu dengan baik.
"Bik tolong bawa koper Mas Bintang ke kamar" perintah Tiara pada asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Baik Non" jawab wanita itu.
"Mas mau minum, biar aku ambilkan" tanya Tiara
"Boleh, teh hangat saja. Kepalaku terasa sedikit berat, mungkin karena perjalanan tadi" jawab Bintang.
Bintang bergabung dengan Pak Bambang, Pak Wijaya dan Bagas di taman belakang. Sedangkan para wanita lagi sibuk membahas tentang pesta resepsi pernikahan Bagas dan Dewi.
Wajah Bintang terlihat sangat kusut.
"Kamu kenapa Bin, kok wajah kamu begitu? Seperti sedang banyak masalah aja?" tanya Bagas.
"Aku memang sedang punya masalah besar saat ini dan aku belum menemukan jawabnya" jawab Bintang.
"Masalah apa? Perusahaan kamu?" tanya Pak Bambang.
"Tidak Pa, aku punya masalah rumah tangga" jawab Bintang.
"Ada masalah apa kamu dengan Tiara. Papa lihat kalian baik - baik saja tadi?" selidik Pak Bambang.
"Bukan Tiara yang bermasalah Pa, tapi aku. Dan masalahnya ini terjadi tadi malam di Jogya. Makanya aku cepat pulang ke Jakarta karena aku tidak mau lama - lama di sana" jawab Bintang.
"Ada apa dengan kamu di Jogja?" Tanya Pak Wijaya ingin tau.
"Pa, Pak.. kalian percaya kan kalau aku sangat mencintai Tiara dengan segenap perasaanku, hidupku dan hatiku?" tanya Bintang.
Pak Bambang dan Pak Wijaya saling pandang, mereka merasa bingung dengan pertanyaan Bintang barusan.
"Kami percaya" jawab Pak Wijaya.
"Kalau kalian mendengar kabar aku selingkuh, apakah kalian percaya?" tanya Bintang.
Pak Bambang dan Pak Wijaya terdiam dengan pertanyaan Bintang.
"Kamu selingkuh Bro?" tanya Bagas terkejut.
"Mana ada orang yang mengaku sendiri kalau dia selingkuh. Biasanya setelah tertangkap basah baru ngaku" Bintang membela diri.
"Kami percaya kamu tidak akan selingkuh dan mengkhianati Tiara" ujar Pak Wijaya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Bin?" tanya Pak Bambang penasaran.
"Tadi malam Siska menjebak aku di hotel. Aku tidak tau apa yang terjadi denganku tadi malam, aku tidak mengingat apapun tapi paginya aku mendengar dari Roy kalau dia memergokiku tidur dengan Siska di kamarku" ungkap Bintang jujur.
"Apa? "... tanya Pak Bambang, Pak Wijaya dan Bagas bersamaan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1