Tiara

Tiara
Kuras ATM Part. 1


__ADS_3

Tiara dan Dewi sedang berada di kamar Tiara karena Zia haus dan Tiara sedang menyusuinya.


"Kak tadi waktu di Mall aku bertemu dengan Siska" lapor Dewi.


"Yakin kamu itu Siska?" tanya Tiara.


"Yakin karena tadi kami sempat berdebat" jawab Dewi geram.


"Kamu berdebat dengan Siska?" tanya Tiara.


"Iya, habis aku kesal mendengar dia jelek - jelekin kita terlebih jelekin Kakak. Katanya kita ini cewek kampung. Dari pada dia cewek penggoda. Tampangnya aja udah seperti wanita bayaran. Iiih.. amit - amit" jawab Dewi.


"Kamu ngapain ngeladenin dia. Percuma Wi, wanita seperti itu tidak akan puas hanya menyerang dengan kata - kata" larang Tiara.


"Kakak mau mengalah terus? Dulu gara - gara dia kakak kecelakaan di Tol, terus dia juga udah rusakin gaun Kakak waktu acara tujuh bulanan. Sampai kapan kakak mau mengalah terus?" tanya Dewi kesal.


"Kakak bukan mengalah Wi. Kakak gak mau punya musuh" balas Tiara.


"Tapi bukan kita yang mulai duluan Kak. Kakak kan gak merebut Mas Bintang tapi dia sendiri yang ninggalin Mas Bintang dulu. Dia selingkuh dengan pria lain dan akhirnya Mas Bintang putus dengan dia. Setelah Mas Bintang semakin sukses dia mau datang lagi untuk merusak rumah tangga Kakak. Aku gak rela dia merusak kebahagiaan Kakak" ujar Dewi.


Tiara menarik nafas panjang.


"Kakak gak tau harus berbuat apa padanya" ungkap Tiara.


"Kakak harus bisa mempertahankan apa yang kakak punya. Jangan menyerah, Mas Bintang sudah menjadi milik Kakak, suami Kakak. Jangan biarkan wanita lain merebutnya, walau wanita itu dulu pernah menjadi mantannya. Yang namanya mantan tempatnya di tong sampah. Sesuai dengan kata pepatah buanglah mantan pada tempatnya. Mantan seperti Siska itu ya tempatnya di tong sampah. Aku yakin dia udah gak original lagi" komentar Dewi.


Tiara hanya diam.


"Nanti, kalau Kakak ketemu dia lagi. Saran aku labrak aja dia langsung. Jangan mau kalah. Kakak mau dia merebut Mas Bintang, terus jadi ratu di rumah ini mengambil semua yang Kakak punya termasuk Tegar dan Zia?" tanya Dewi.


Tiara menunduk. Dewi tau, Kakaknya ini punya hati yang sangat baik. Walau orang sudah sangat jahat kepadanya pasti Tiara tidak akan membalas mereka.


Dulu Ida sudah menghancurkan hidup Tiara, menjebaknya bersama Bapak. Mereka ingin menjual Tiara pada juragan kampung mereka. Tiara hanya bisa diam.


Dia pergi setelah di usir dari rumah. Menjalani hidup sendirian padahal dia sedang mengandung Tegar. Begitu juga saat Siska datang ingin merebut Bintang lagi.


Tiara malah memilih lari meninggalkan Bintang sampai akhirnya dia kecelakaan di jalan tol menuju Bandung. Walau karena kecelakaan itu akhirnya Tiara bertemu dengan Bapak kandungnya.


Terakhir saat tujuh bulanan Siska kembali mengganggu hidup Tiara. Merobek gaun Tiara tapi Tiara memilih diam dengan alasan tidak mau mengajari anaknya yang ada dalam kandungan untuk balas dendam.


Sungguh mulia sekali hatimu Kak Ara? Tapi sampai kapan kamu terus berbuat seperti itu? Terkadang dalam hidup ini kita memang harus melawan penjajah, apalagi penjajahan di atas dunia ini memang harus di hapuskan. Tegas Dewi di dalam hati.


"Pokoknya kakak harus lebih hati - hati dan kalau Kakak butuh bantuan aku siap kok berada di depan Kakak. Mungkin Kakak mikirin masa depan Tegar dan Zia. Kalau aku belum ada Kak yang di pikirin" ujar Dewi.


"Mas Bagas?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Menurut aku Mas Bagas hampir sama seperti aku, darahnya rada panas. Aku udah berapa kali melihat dia hampir saja memukul pria yang aku duga adalah musuhnya. Kalau saja aku tidak menghentikannya aku yakin akan terjadi pertikaian. Jadi Kakak tenang aja, ada aku dan Mas Bagas siap membantu " jawab Dewi penuh semangat.


"Makasih Wi" sambut Tiara.


*******


Di Mall terbesar di kota Jakarta.


"Kita mau kemana Kar?" tanya Siti.


"Mmm... beli perlengkapan alat shalat" jawab Sekar.


"Aku udah punya" ujar Siti.


"Tapi bukan pemberian Mas Jaya kan?" tanya sekar.


"Iya, aku beli sendiri" jawab Siti.


"Nah itu, yang namanya seserahan itu harus pemberian calon suami kepada calon istrinya" balas Siti.


Mereka masuk ke sebuah Toko yang menjual alat - alat perlengkapan shalat. Siti dan Sekar mulai memilih mukena yang bagus untuk Siti.


"Nih Sit yang ini cantik" ujar Sekar..


"Mahal banget Kar, yang lain aja yang lebih murah" tolak Siti.


"Ada mutu ada harga. Kalau mau yang cantik, bagus dan adem ya memang mahal harganya. Udah beli aja, aku yakin uang Mas Jay di ATM banyak" desak Sekar.


Siti tampak Bimbang.


"Mbak tolong dibungkus yang ini ya" pinta Sekar.


"Baik Bu" jawab pegawai toko.


Setelah satu set mukena di bungkus mereka segera membayarnya di kasir.


"Berikan kartu ATM Mas Jay ke mereka. Coba lihat handphone kamu lihat nomor sandinya" perintah Sekar.


Siti mengikuti perintah Sekar kemudian melaksanakan semua yang dibilang Sekar.


"Satu barang selesai, yuk kita cari yang lain" ajak Sekar.


Sekar menarik lengan Siti dan berjalan ke toko yang lain.


"Alat make-up?" tanya Siti.

__ADS_1


"Iya, kalau kamu sudah menikah dengan Mas Jay, kamu akan terbiasa dibawa Mas Jay ke acara pesta rekan bisnis Mas Jay. Kamu harus punya semua ini Sit agar kamu terlihat cantik saat datang ke acara tersebut. Kamu mau Mas Jay malu membawa kamu dan memperkenalkan kamu sebagai istrinya?" jawab Sekar


Siti terdiam lahir. Sekar langsung memilih beberapa peralatan make up lengkap untuk Siti. Kemudian menyuruh pegawai toko untuk menghitungnya.


Siti kembali membayar belanjaannya dengan menggunakan kartu ATM Pak Wijaya.


Kini Sekar dan Siti berjalan ke sebuah butik di dalam Mall.


"Apalagi ini?" tanya Siti


"Gaun untuk kamu pakai di acara pesta atau acara resmi menemani Mas Jay. Udah tenang aja biar aku yang pilih untuk kamu" jawab Sekar.


Sekar memilih beberapa gaun untuk Siti dan kemudian Siti membayarnya. Setelah itu mereka berjalan ke toko sepatu dan Tas.


"Sekar ini udah terlalu banyak" elak Siti.


"Udah tenang aja. Kamu mau pergi undangan udah pakai gaun cantik, make - up bagus terus pakai tas keresek dan sendal jepit?" tanya Sekar.


Siti kembali diam. Sekar memilih beberapa sepatu dengan berbagai jenis juga beberapa tas dengan beraneka bentuk kemudian membawanya ke bagian kasir.


"Bayar Sit" Perintah Sekar.


Siti terpaksa mengeluarkan ATM Pak Wijaya dan membayarnya.


Kemudian mereka keluar dari toko. Wajah Siti terlihat lelah.


"Kar udahan ya" pinta Siti.


"Belum, satu lagi" jawab Sekar.


"Apalagi Kar?" tanya Siti bingung.


"Yuk ini yang terakhir aku janji" ajak Sekar.


Sekar menarik lengan Siti walau terasa berat tapi Siti terpaksa ikut bersama sahabatnya itu. Sampai lah mereka di sebuah toko pakaian tidur.


Sekar sengaja membawa Siti ke tempat pakaian tidur yang berbentuk sexy.


"Ya ampun Kaaar.. aku gak sanggup melihatnya" Siti menutup matanya karena malu persis seperti anak ABG.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2