
Setelah Roy dan Dian datang, Ridho dan keluarganya juga datang dan kini semua sedang bergabung dengan keluarga Tiara dan Bintang di ruang keluarga bersama para anak yatim piatu dari panti asuhan.
Dewi terlihat sendang gundah gulana menunggu seseorang yang sampai saat ini belum kunjung tiba. Seharian ini telepon dan pesannya juga tak kunjung tiba. Bahkan pesan dan telepon Dewi tidak ada satupun yang di jawab.
Biasanya Bagas selalu menghubungi Dewi. Sehari bisa berulang kali dia melakukan panggilan telepon. Kalau kirim pesan jangan di tanya lagi. Tak terhitung jumlah pesan yang di kirim Bagas setiap harinya.
Kadang bertanya apakah Dewi sudah makan, sudah shalat, sudah mandi, olah raga, sampai ngemil dan minumpun ditanya sudah berapa banyak. Kadang bisa membuat Dewi kesal sangkin seringnya dan Dewi juga malas untuk menjawabnya.
Tiba - tiba terdengar suara mobil dari depan.
"Assalamu'alaikum... " sapa Bagas.
"Wa'alaikumsalam eh Nak Bagas, masuuuk" sambut Siti.
"Bu kenalkan ini Papa Mamaku" ujar Bagas yang ternyata tidak datang sendiri. Dia membawa Papa dan Mamanya untuk berkenalan dengan keluarga Dewi.
"Eh iya.. Saya Siti Ibunya Tiara istrinya Bintang" sambut Siti. Siti menjabat tangan Papa dan Mamanya Bagas.
"Raksajaya" jawab Papa Bagas.
"Viona" ujar Mamanya Bagas
"Silahkan masuk Mas, Mbak. Acara sebentar lagi akan di mulai" Siti mengajak mereka masuk ke dalam dan berkumpul dengan yang lain di ruang keluarga.
Raksajaya bersama istrinya mengikuti Siti berjalan membawa mereka ke dalam rumah Bintang.
"Mas Bagas, Papa, Mama" sambut Dewi terkejut.
Bagas tersenyum ketika melihat wajah Dewi yang terkejut.
"Mas kok gak bilang ke sini bersama Papa dan Mama?" tanya Dewi.
"Kejutan" jawab Bagas sambil tersenyum nakal.
Dewi mencium tangan kedua orang tua Bagas dengan hormat.
"Pak, Bu" sapa Bintang di ikuti Tiara.
Mereka semua yang ada di ruangan itu saling berkenalan dan berjabat tangan Sangat terasa suasana kekeluargaan.
"Raksajaya" sapa Pak Bambang.
"Bambang... lama kita tidak bertemu" sambut Pak Raksajaya.
Mereka berdua saling berpelukan.
__ADS_1
"Kenalkan ini besan saya sekaligus sahabat saya sejak masa kuliah" Pak Bambang memperkenalkan Pak Wijaya kepada Pak Reksajaya.
"Wijaya" sambut Pak Wijaya
Mereka saling berjabat tangan.
"Karena semua sudah kumpul lebih baik kita nikmati hidangan makan malam dulu, setelah itu kita shalat isya berjamaah baru setelah itu acara inti yaitu pengajian dan minta doa" ujar Bintang.
"Ayo semua kita mulai makan" sambut Pak Wijaya.
Dewi yang tampak belum siap menerima kejutan seperti ini dari Bagas hanya bisa menunduk dan lebih banyak diam. Bagas mencoba mendekati pujaan hatinya yang sudah lama tidak bertemu.
"Wi.. kangen" goda Bagas sambil menyenggol lengan Dewi.
"Maaaas" jawab Dewi sambil mendelikkan matanya ke arah Bagas.
"Eh calon suami datang bukannya di sambut dengan senyuman malah di plototin" Jawab Bagas.
"Habis Mas Bagas ngeselin seharian gak ada kabar, telepon ataupun pesan" ungkap Dewi kesal.
"Lho kecarian juga toh, aku kira bosan" sambut Bagas.
"Ih Mas Bagas" Dewi memukul bahu Bagas.
"Ehm.. yang lagi dimabuk cinta" sindir Roy.
"Santai aja Wi, kita semua sudah ngerti kok" sambut Dian menggoda.
"Aku kan malu mbak Dian" jawab Dewi.
"Hahaha... semua juga dulu gitu kok sebelum terbiasa, lama kelamaan sudah santai aja" balas Dian.
Satu persatu mulai menyantap hidangan makan malam itu. Sekar sudah mempersiapkan dengan sesempurna mungkin.
Setelah selesai menyantap makan malam, mereka masing - masing mengambil wudhu dan dengan sebentar saya ruang keluarga sudah disulap untuk menjadi tempat shalat berjamaah.
Shalat jamaah di pimpin oleh Pak Wijaya sebagai imamnya. Shalat dilaksanakan dengan khidmat dan khusyuk. Setelah itu acara inti dimulai.
Acara di bawakan oleh pihak panti asuhan yang memimpin acara pengajian setelah itu meminta doa. Semoga kandungan Tiara sampai lahiran lancar dan juga semoga Ibu dan bayinya sehat.
Setelah selesai pengajian, anak - anak yatim piatu dari panti asuhan pamit undur diri untuk kembali ke panti asuhan. Mereka semua saling bersalaman. Tak lupa Bintang dan Tiara membagikan bingkisan dan juga amplop untuk mereka bawa pulang.
Satu persatu mereka keluar rumah Bintang dan berpamitan. Kini tinggal keluarga Ridho, Roy dan Bagas. Mereka ngobrol panjang di ruang keluarga rumah Bintang.
"Jadi Pak Jaya tinggal dimana sekarang?" tanya Bapaknya Ridho.
__ADS_1
"Saya tinggal di Bandung" Jawab Pak Wijaya.
"Bapak sudah menemukan istri dan anak Bapak?" tanya Sukamto.
"Sudah, Tiara ini lah anak saya yang selama ini saya cari. Dan wanita itu adalah mantan istri saya" Pak Wijaya menunjuk ke arah Siti.
"Mantan istri Pak?" tanya Pak Kamto.
"Iya, rupanya bertahun - tahun saya tidak muncul di hadapan mereka, istri saya menikah lagi. Tapi kemarin suaminya baru saja meninggal dunia. InsyaAllah saat Tiara lahiran anaknya yang ke dua saya akan kembali menikah dengan mantan istri saya" jawab Pak Wijaya.
"Waaah selamat Pak. Akhirnya Bapak bisa menemukan anak dan istri Bapak dan juga bisa hidup bersama kembali. Semoga Bapak dan keluarga senantiasa bahagia" ujar Pak Sukamto hormat.
"Nanti kalau waktunya sudah tiba, saya akan kabari dan undang kamu ke pernikahan ke dua saya bersama mantan istri saya" ujar Pak Wijaya.
"InsyaAllah kami akan datang Pak" balas Pak Sukamto.
Ridho menghampiri Bapaknya Tiara.
"Pak, saya baru mengetahui ternyata Bapak dulu adalah penyelamat keluarga kami. Saya tidak menyangka ternyata Bapak adalah Bapaknya Tiara yang sudah lama berpisah" ujar Ridho tulus.
"Iya, ternyata dunia ini sempit ya Kamto, Ridho. Tidak ada lagi hutang budi diantara kita. Kalian jangan merasa sungkan pada saya. Semua sudah berbalas. Dulu memang aku sudah membantu keluarga kalian tapi kamu Ridho juga sudah membantu putri saya Tiara melewati hari - hari terberat dalam hidupnya. Kamu menemaninya dan membantunya saat Tiara hamil, melahirkan dan membesarkan putranya Tegar. Bahkan kamu rela di panggil Papa sama Tegar. Aku sangat berterima kasih atas semua bantuan kamu kepada anak dan cucuku" ungkap Pak Wijaya dengan tulus.
"Tiara adalah sahabat saya Pak dan Tegar sudah saya anggap anak saya sendiri. Istri saya juga sama. Bagi kami Tegar adalah putra tertua kami" ujar Ridho.
"Terimakasih kalian sudah menyayangi Tegar dengan tulus. Aku juga membantu keluarga kamu Sukamto dengan tulus jadi kamu jangan merasa tidak enak hati ataupun sungkan kepadaku" ulang Pak Wijaya.
"Baik Pak Jaya" jawab Sukamto.
"Kalau begitu kami pamit pulang ya Pak, maaf putra saya sudah rewel dari tadi. Mungkin dia sudah ngantuk" ujar Ridho.
"Iya.. iya.. silahkan. Biasa itu namanya anak - anak pasti mereka mudah bosan" sambut Pak Wijaya.
"Mas Bintang, Tiara kami pamit pulang ya" Ridho berpamitan pada Bintang dan Tiara.
"Iya Dho, makasih ya" jawab Bintang.
"Hati - hati ya Dho" sambut Tiara.
"Tegar Papa pulang" sapa Ridho kepada Tegar.
"Oke Papa" Jawa Tegar.
Keluarga Ridho akhirnya pamit pulang dari rumah Tiara.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG