
"Siapa pria itu?" tanya Pak Wijaya ingin tau.
"Dia teman kuliah kami Pak. Bintang, Roy dan Dian kenal dengannya. Dari dulu aku memang selalu bersaing dengannya dalam hal cewek, tapi dia selalu bersaing dengan Bintang dalam hal prestasi. Bahkan sampai sekarang dia sering menjadi pengganggu bisnis perusahaan ku dan Bintang" ungkap Bagas.
"Dari tampangnya Bapak lihat dia pria yang ambisius. Dan tipe orang yang tidak suka melihat orang lain tenang ataupun bahagia. Saat ini mungkin dia melihat kamu sudah lebih tenang dan bahagia sehingga dia berniat ingin mengusik kamu. Hati - hati Bagas, pria seperti itu berbahaya" ujar Pak Wijaya mengingatkan.
"Iya Pak, aku akan lebih berhati - hati lagi ketika menghadapi dia" jawab Bagas.
Tak lama hidangan mereka pun tiba. Para pelayan menyajikan semua makanan yang mereka pesan di atas meja makan.
Bagas bersama yang lainnya memulai makan bersama. Walau tadi sempat ada sedikit masalah tapi mereka sudah berusaha untuk melupakannya.
"Bapak dan Ibu nanti mau honeymoon kemana?" tanya Bagas.
"Ah kamu Gas sudah tua kok pakai honeymoon" bantah Siti.
"Lho tapi kamu katanya pengen umroh" potong Pak Wijaya.
"Ibu pengen umroh?" tanya Dewi terkejut.
Siti tertunduk malu.
"Iya Ibu sudah lama pengen pergi umroh tapi belum kesampaian" jawab Siti
"Ya sudah Pak, nanti saya pesankan tiket untuk Bapak dan Ibu pergi umroh ya" sambut Bagas.
"Jangan Gas biar Bapak saja yang pesan" cegah Pak Wijaya.
"Gak apa - apa Pak. Anggap saja itu kado pernikahan dari aku dan Dewi" jawab Bagas.
"Gimana Sit, kamu mau?" tanya Pak Wijaya.
"Terserah Mas Aja" jawab Siti.
Bagas dan Dewi saling pandang dan tersenyum.
"Nanti kalau tanggal menikah Bapak dan Ibu sudah di tetapkan aku akan minta surat - surat kelengkapan Bapak dan Ibu ya untuk memesan tiket dan paket umroh Bapak dan Ibu" ujar Bagas.
"Oke Gas, terimakasih" jawab Pak Wijaya.
__ADS_1
"Terimakasih ya Gas" sambung Bu Siti.
Bagas tersenyum menatap kedua calon mertuanya itu. Mereka melanjutkan makan siangnya sampai selesai. Setelah itu mereka berjalan sebentar di sekitar Mall.
"Sit, kita cari hadiah buat Tegar yuk. Aku sudah lama tidak belikan dia mainan" ajak Pak Wijaya.
"Ayo Mas kita cari" sambut Siti.
Bagas dan Dewi juga mengikuti mereka dari belakang.
"Kalian jalan - jalan aja kemana kalian mau, gak usah ikutin kami. Nanti kalau kami sudah selesai mencari mainan Tegar Bapak akan hubungin kalian" ujar Pak Wijaya.
Waah si Bapak emang keren, tau aja kalau aku emang pengen banget jalan berdua sama calon istriku ini. Batin Bagas senang.
"Baiklah Pak kalau begitu kamu jalan ke tempat lain. Jangan lupa hubungi kami, kalau Bapak dan Ibu sudah selesai berbelanja ya" sambut Bagas.
"Iya, sudah jalan sana" usir Pak Wijaya.
Dia juga sangat mengerti keberadaan dia dan Siti membuat Bagas sungkan. Padahal Bagas sudah ingin sekali jalan berdua dengan Dewi. Pak Wijaya bisa melihatnya karena dia juga dulu pernah muda.
"Ayo Wi" ajak Bagas.
"Hahaha melihat mereka berdua aku jadi teringat waktu kita muda dulu ya Sit" ujar Pak Wijaya.
"Ingat apa Mas? Kita saat muda dulu kan gak pernah jalan - jalan ke Mall?" tanya Siti bingung.
"Bukan soal jalan - jalan di Mallnya Sit tapi semangat dan cinta mereka yang membara. Aku dulu juga merasakan hal yang sama seperti yang Bagas rasakan. Dan itu aku rasakan hanya kepada kamu. Bahkan sampai saat ini perasaan aku tidak pernah berubah. Aku ingin selalu membahagiakan kamu, karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaanku" jawab Pak Wijaya.
"Ah Mas ini bisa saja" Siti tertunduk malu.
"Ayo Sit kita cari mainan untuk cucu kita" ajak Pak Wijaya.
Pak Wijaya dan Siti berjalan menuju toko yang menjual berbagai macam mainan anak - anak. Sedangkan Bagas dan Siti berjalan menuju toko jam tangan.
"Ngapain ke sini Mas?" tanya Dewi.
"Aku ingin membeli jam tangan" jawab Bagas.
"Lho bukannya jam tangan Mas udah banyak? Aku sering perhatikan Mas sering pakai yang berbeda - beda jenisnya" balas Dewi.
__ADS_1
"Jam tangan aku memang banyak tapi gak ada yang sama dengan jam tangan kamu" ujar Bagas
"Maaaas" panggil Dewi.
"Tadi saat aku tawari kamu gelang emas kamu gak mau. Kata Bapak karena usia kamu yang masih muda mungkin kamu belum memerlukan perhiasan semewah itu. Jadi aku mikir apa ya perhiasan yang pantas buat kamu. Aku langsung ingat jam tangan. Selain itu perhiasan, jam tangan juga sangat berguna kan untuk kamu pakai ke kampus. Nanti setiap kamu lihat jam kamu pasti ingat aku terus" ungkap Bagas sambil tersenyum manis.
"Ih Mas ini emang selalu ada aja idenya... " Dewi memukul bahu Bagas.
"Iya donk kalau aku gak punya banyak ide kamu pasti gak mau nikah dengan aku" balas Bagas.
"Aku menikah dengan Mas bukan karena itu kok" bantah Dewi.
"Jadi karena aku tampan?" tanya Bagas penuh percaya diri.
"Tampan tapi sudah tua. Kalau sudah tua nanti ketampanan akan hilang juga" sindir Dewi.
"Jadi karena apa donk kalau begitu?" tanya Bagas sembari mereka masuk ke dalam toko jam tangan.
"Karena melihat kesungguhan Mas. Bukan hanya kesungguhan Mas untuk mencintai dan memperjuangkan aku tapi kesungguhan Mas untuk benar - benar ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku melihat Mas memang benar - benar orang yang baik walau pernah punya masa lalu yang kurang baik" jawab Dewi dengan penuh keyakinan.
"Terimakasih Dewiku.. kamu memang selalu bisa jadi pemenang hatiku. Kata - kata kamu itu membuat aku selalu ingin berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan aku tidak takut lagi kamu mengetahui buruknya masa laluku karena kamu bisa menerima segala kekuranganku bahkan kamu mau dengan senang hati membantuku menjadi pria yang lebih baik lagi" ujar Bagas dengan penuh semangat.
"Kita sama - sama belajar ya Mas, aku juga punya banyak kekurangan. Mungkin saat sekarang ini Mas belum bisa melihatnya tapi nanti setelah kita menikah semua akan terlihat secara nyata. Ku harap pada saat itu kamu tidak kecewa sudah menikahiku dan kamu juga sabar mengadapiku. Karena aku sadar dengan usiaku yang masih belia ini mungkin aku akan sangat labil. Tolong ingatkan aku di saat nanti aku lupa statusku sebagai istri kamu" sambut Dewi.
Bagas mengelus puncak kepala Dewi yang tertutup jilbab.
"Aku yakin calon istriku ini pasti akan sangat dewasa dalam menjalani rumah tangga kita nanti" balas Bagas memberi semangat.
Dewi membalas ucapan Bagas dengan senyuman.
"Nah sekarang mari kita pilih jam tangan yang sesuai dengan selera kita berdua dan kamu senang memakainya" ajak Bagas.
Mereka segera melihat - lihat jam tangan yang terpajang di etalase toko dan memilih jam tangan yang mereka suka.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1