
Pagi - pagi Dewi terbangun karena bunyi alarm dari handphonenya. Dewi membuka matanya dan dia melihat wajah teduh Bagas masih tidur dengan lelapnya.
Dewi perlahan-lahan mengangkat tangan Bagas yang sedang memeluk tubuhnya dan Dewi memutar tubuhnya membelakangi Bagas dan hendak turun dari tempat tidur.
"Aaaaaw..... " pekik Dewi.
Teriakan Dewi membuat Bagas terbangun dari tidurnya dan mendapati Dewi tidak ada lagi dalam pelukannya.
"Yaaaank kamu kenapa?" tanya Bagas.
Bagas langsung duduk dan menghadap ke arah Dewi. Dewi tampak meringis kesakitan.
"Sakit Maaas" ujar Dewi.
Dewi memegang bagian bawah tubuhnya sambil meringis.
Bagas langsung mendekati Dewi. Dia sangat tau apa yang sedang dirasakan Dewi saat ini karena semua itu berkat ulah Bagas tadi malam.
"Kamu mau kemana?" tanya Bagas.
"Mau ke kamar mandi Mas, aku mau mandi dan shalat subuh. Sebentar lagi adzan subuh" jawab Dewi.
Raut wajah Dewi masih terlihat meringis karena sakit. Bagas segera mengangkat tubuh mungil istrinya.
"Maaas... " teriak Dewi.
"Ssssttt... masih pagi jangan ribut sayang.. " ujar Bagas.
"Tapi turunkan aku Mas, aku bisa jalan sendiri" elak Dewi.
"Jalan dengan kondisi kamu seperti ini? tadi aja saat kamu mau turun dari tempat tidur kamu udah meringis kesakitan" balas Bagas.
Dewi terdiam dah menyembunyikan wajahnya di balik bahu Bagas karena malu. Bagas meletakkan Dewi di bathhup dan memenuhi bathup dengan air hangat.
"Agar menghemat waktu kita mandi bersama saja ya" ucap Bagas.
Dewi menganggukkan kepalanya karena malu. Pagi ini adalah mandi pertama mereka setelah menikah. Setelah melewati malam panjang yang begitu melelahkan bagi Dewi tapi tidak bagi Bagas. Akhirnya mereka tidur beberapa jam sebelum adzan subuh.
Setelah selesai melaksanakan mandi wajib Bagas dan Dewi keluar kamar mandi dengan menggunakan Bathrobe. Masih tetap dalam gendongan Bagas, Dewi dibawa kembali ke kamar dan diletakkan di pinggir tempat tidur.
Dewi berdiri dan mencoba berjalan dengan pelan.
"Masih sakit?" tanya Bagas penuh perhatian.
"Udah tidak begitu sakit Mas" jawab Dewi.
Dewi meraih lemari pakaian dan memilih pakaian untuk dia dan suaminya. Setelah selesai berpakaian mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah.
__ADS_1
Ini juga shalat jamaah mereka pertama kali setelah menikah. Bagas merasakan sebuah ketenangan di dalam hatinya. Rasanya dadanya sangat adem sekali bisa bersama - sama beribadah dengan wanita yang paling dia cintai setelah Mamanya.
Setelah selesai shalat Bagas melantunkan doa untuk rumah tangganya, meminta agar Allah segera menitipkan amanahnya kepada mereka berupa anak - anak yang soleh dan solehah.
Usai shalat Dewi meraih tangan Bagas dan menciummya kemudian Bagas membalasnya dengan mengecup lembut kening Dewi dan sedikit lebih lama.
Kemudian Dewi bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Bagas yang tak ingin berjauhan dengan istrinya hari ini mengikuti Dewi dari belakang.
"Hari ini kamu mau kemana?" tanya Bagas.
Hari ini adalah hari sabtu, setelah sepekan sibuk bekerja tibalah waktunya hari libur bersama keluarga kecilnya. Dia ingin menyenangkan hati istrinya.
"Aku gak pengen kemana - mana Mas. Kita di rumah aja yuk, nonton film korea bersama - sama" ajak Dewi.
"Emangnya ada film yang bagus?" tanya Bagas.
"Ada, kemarin aku baru dikasih film sama temenku. Jadi ingat, dia berpesan aku nontonnya setelah menikah saja. Filmnya bagus" ucap Dewi polos.
Bagas tersenyum mendengar cerita Dewi.
Pasti istriku ini dikerjain teman - temannya. Mengapa menonton filmnya setelah menikah. Aku mencium sesuatu di sini tapi aku suka wanginya.. Hahaha... dasar anak ABG, aku sudah lebih dulu melaluinya dari kalian. Tawa Bagas dalam hati.
"Ya sudah kita sarapan pagi dulu setelah itu baru kita nonton bersama, gimana?" tanya Bagas.
"Okey... " sambut Dewi.
"Nasi goreng, Mas mau? Atau pengen yang lain?" Dewi memberi tawaran.
"Aku mau, nasi goreng saja. Aku udah laper sekali. Tadi malam sudah bekerja keras membuat proyek masa depan" jawab Bagas.
"Proyek masa depan? Kayak pembangunan saja pakai proyek" balas Dewi.
"Ya emang seperti itu yank, tadi malam kan kita udah ngaco bahannya, tinggal nunggu dia berkembang di perut kamu ini" Bagas memeluk Dewi dari belakang dan mengelus lembut perut Dewi.
Sontak sikap Bagas ini membuat wajah Dewi memerah karena malu.
"Maaas kalau kamu terus seperti ini aku jadi gak bisa masak" protes Dewi.
"Aku kan gak gangguin kamu" jawab Bagas polos.
"Gimana gak gangguin kalau tanggannya udah kemana-mana" ujar Dewi.
"Kamu kerja menggunakan tangan kan? Ya sudah aku janji tidak akan ganggu tangan kamu. Aku cuma peluk kamu aja dari belakang" balas Bagas.
"Gak bisa donk Mas. Mas mau tangan aku kena wajan panas?" tanya Dewi.
"Gak mau sayang.. aku gak mau kamu terluka. Oke.. oke.. aku tunggu kamu di meja makan aja ya tapi tolong buatin aku kopi buat teman baca berita" pintar Bagas.
__ADS_1
"Oke.. tunggu sebentar ya" Dewi akhirnya lepas dari pelukan Bagas dan Bagas kini sudah duduk dengan tenang di depan meja makan sambil membuka handphonenya untuk membaca berita bisnis hari ini.
Saat dia melihat istrinya sibuk memasak, Bagas merasa Dewi sangat cantik pagi ini. Dewi langsung mengambil potret Dewi.
Cekreeek...
"Apa yang Mas lakukan?" tanya Dewi.
"Mengambil foto kamu" jawab Bagas sambil tersenyum.
"Jangan donk Mas" cegah Dewi sambil menutup wajahnya.
"Kenapa gak boleh sayang? Kamu kan istri aku. Masak aku gak boleh ambil foto istriku sendiri?" tanya Bagas.
"Tapi jangan di posting di sosial media ya.. Aku kan lagi gak pakai jilbab" pinta Dewi.
"Iya sayang, Mas gak akan posting foto kamu, cukup Mas simpan di memory handphone Mas saja. Kalau di kantor Mas kangen kamu, Mas kan bisa pandangin foto kamu ini" jawab Bagas.
Dewi menggelengkan kepalanya menanggapi sikap suaminya itu. Kemudian dia melanjutkan memasak.
Tak lama kemudian Dewi selesai memasak dan menghidangkan nasi goreng untuk sarapan pagi mereka berdua.
Tak lama kemudian mereka selesai sarapan. Bagas mulai menyusun peralatan makan mereka.
"Mas jangaaan... biar aku saja" cegah Dewi.
"Tidak apa sayang... ini rumah tangga kita, kita jalani sesuka hati kita. Tidak harus kamu sebagai istri yang melayani aku seperti raja. Aku juga bisa melayani kamu sebagai ratu. Yang penting kita saling mengerti kedudukan kita dan ikhlas. Aku rasa tidak akan ada yang berdosa di sini" ujar Bagas tulus.
Dewi menatap ke dalam mata Bagas.
"Biarkan aku yang mengerjakannya ya.. kamu duduk atau siapkan saja semua peralatan kita untuk menonton. Katanya mau nonton film Korea bareng" perintah Bagas.
"Baiklah Mas, kalau begitu aku ke ruang TV aja ya" sambut Dewi.
"Oke sayang" balas Bagas.
Bagas tersenyum menatap kepergian istrinya kemudian menatap peralatan makan mereka yang kotor.
Seumur - umur baru kali ini aku mencuci piring di dapur, tapi tak apa deh demi nyenengin hati istri. Apapun akan aku lakukan. Batin Bagas.
Bagas menarik nafas panjang dan kemudian mulai melakukan aktivitasnya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1