Tiara

Tiara
Resepsi


__ADS_3

Setelah kepergian Sumi dari lokasi pesta Bintang menyuruh Tiara untuk menyimpan pemberian dari Mamanya. Tiara menyimpan benda tersebut di kamarnya sedangkan Bintang ikut duduk bersama pada sahabatnya.


"Dugaan kamu benar Bin, tadi Siksa datang tepat saat kalian akan ijab kabul" lapor Bagas.


"Benar kan? Aku memang sudah menduganya, dia pasti tidak akan tinggal diam" jawab Bintang.


"Tapi ada sesuatu yang menjadi tanda tanya dalam hatiku dari tadi, aku baru ingat sekarang. Tadi Roy kamu sempat bilang, untung saja kami sudah mengetahui kedok kamu dari dulu dan tidak pernah tertipu dengan buku rayu kamu. Apa kalian pernah...?" tanya Dian ragu - ragu.


"Pernah ya kan Gas" jawab Roy.


"Apa, benarkah?" tanya Dian tak percaya.


"Kalian pernah di goda dan di rayu Siska juga?" Bintang juga tidak percaya.


"Iya dan saat itu dia masih menjadi pacar kamu" tegas Bagas.


"Gila bener dia ya, dasar wanita jalan*" umpat Bintang.


"Selain kami pernah melihatnya selingkuh kami berdua juga pernah di rayunya. Makanya kamu mengingatkan kamu dulu. Tapi kamu sih udah cinta buta sama dia sampai gak terima dengan apa yang kami katakan" sindir Roy.


"Sorry bro... aku menyesal akan hal itu dan terimakasih, kalian memang sahabat aku yang paling baik. Kalian sudah dua kali menyelamatkan aku" sambut Bintang.


"Kenapa dia kali Bin?" tanya Bagas bingung.


"Pertama dulu saat aku masih pacaran dengan Siska, kalian mati - matian mengingatkan aku bahkan kita sampai bertengkar dan berkelahi. Yang kedua saat tadi. Kalian selamatkan aku lagi, kalau tidak aku gak bisa membayangkan akad nikahku akan seperti apa" ungkap Bintang.


"Itulah artinya sahabat, susah senang bersama" jawab Dian.


"Aku berhutang budi pada kalian" ucap Bintang.


"Dan itu juga arti sahabat, tidak ada hutang budi. Semua dilakukan atas dasar ikhlas" sambung Roy.


Mereka berempat tertawa.


"Udah ah, bubar.. bubar.. istirahat shalat malah di salah gunakan untuk menggosip. Yuk Roy, Gas shalat ke mesjid. Biar Bintang shalat di rumah aja. Susah bawa dia begitu, masih lengkap dengan pakaiannya" ajak Dian.


Roy dengan sigap berdiri sedangkan Bagas masih garuk - garuk kepala.


"Katanya mau tobat seperti aku. Ayok perbaiki diri sejak sekarang. Biar jodohnya juga diperbaiki Allah. Lihat aku begitu ingin tobat Allah langsung kabulkan doa - doaku tiga belas tahun yang lalu" ucap Roy kepada Bagas.


Dian mendelikkan matanya ke arah Roy.


"Iya deh aku ikut" jawab Bagas.

__ADS_1


"Aku masuk ke kamar ya, mau nyusul Tiara shalat" ucap Bintang.


"Sabar ya Bro masih siang, nanti malam aja buka - bukannya" goda Bagas.


"Asem lu... " Bintang mengangkat tangannya pengen memukul Bagas sedangkan Bagas sudah lari menjauh dari Bintang.


Bintang berjalan menuju kamar menyusul Tiara yang sedang membuka gaun nikahnya dan mencopot semua pernak pernik jilbabnya.


"Sini aku bantu sayang? Kenapa gak panggil aku sih. Lihat nih kamu kewalahan bukainnya" ucap Bintang.


Tiara tertunduk malu dan pasrah. Dari tadi dia memang sulit membuka kancing belakang gaunnya.


Setelah resletingnya sudah di buka, Tiara buru - buru ke kamar mandi.


"Ngapain ke kamar mandi gantinya Ra, ganti di sini aja. Kan kita sudah sah, lagian aku mau melihatnya" goda Bintang.


"Maaaaaas... malu ah" Tiara langsung masuk kamar mandi dengan membawa baju ganti.


Bintang melepas jasnya kemudian menggulung lengan bajunya sampai siku.


Tak lama Tiara keluar kamar mandi dengan memakai baju rumahnya.


"Cepatan Mas ambil wudhu biar kita shalat bareng. Sebentar lagi MUAnya akan datang mau make up lagi" perintah Tiara.


Blush... lagi - lagi pipi Tiara merah karena ucapan Bintang.


Bintang segera mengambil wudhu ke kamar mandi setelah itu mereka shalat berjamaah. Shalat pertama yang mereka lakukan bersama - sama.


Bintang kini sudah semakin baik beribadahnya dan dia sudah memantapkan dirinya untuk menjadi imam di dalam keluarga yang akan dia bangun ini.


Mereka shalat dengan khusyuk, lantunan doa yang Bintang lantunkan dan disambut dengan aminnya Tiara di setiap akhir doa Bintang. Sungguh rasa haru yang sangat di rasakan mereka berdua.


Selesai shalat Siti membawakan makan siang untuk Bintang dan Tiara ke kamar. Sambil menunggu MUA datang untuk menghias mereka lagi. Bintang dan Tiara makan siang bersama di dalam kamar.


Tegar sedikitpun tidak mengganggu aktivitas mereka karena dia sedang asik bermain dengan Om dan Tantenya di luar.


Tak lama team MUA datang untuk menghias kembali wajah Tiara. Siang ini. mereka berganti pakaian lagi dengan gaun resepsi.


Saat Tiara di hias, Bintang tak henti - hentinya melirik ke arah Tiara.


"Si Mas liatin Mbaknya terus tuh" goda perias pengantinnya.


"Takut hilang kali Mbak" jawab Tiara.

__ADS_1


Bintang tentu saja mendengarnya.


"Aku belum puas memandangnya Mbak, ternyata istriku ini sangat cantik sekali" puji Bintang.


Wajah Tiara kembali memerah.


"Aduh Mas, udahan godainnya. Lihat wajah si Mbaknya merah merona ini" ucap Perias Pengantin.


Setelah selesai mereka kembali ke depan dimana pesta berlangsung. Masih banyak tamu undangan yang berdatangan. Para karyawan Cafe dan beberapa pelanggan tetap di Cafe juga turut Tiara undang. Para tetangga komplek juga masih banyak yang berdatangan.


Acara berlangsung meriah sampai sore hari. Dan akhirnya selesai pukul empat sore.


Tamu undangan sudah kosong sehingga team WO segera membereskan dan merapikan peralatan mereka dengan sigap dan membersihkan rumah Tiara seperti semula.


Bintang dan Tiara juga sedang bersiap - siap di kamar. Mereka sudah berganti dan sesuai dengan rencana awal mereka, mereka akan menginap di Hotel satu malam.


Bintang dan Tiara keluar kamar sambil membawa sebuah koper. Mereka berpamitan pada seluruh keluarga.


"Tegar Mama dan Papa pergi dulu ya, satu malam aja" ucap Tiara pamit.


"Iya Mama, jangan lupa oleh - oleh ya" jawab Tegar.


"Mama gak pergi jauh sayang, hanya pergi ke Hotel saja untuk satu malam" tolak Tiara lembut.


"Aku tau, aku cuma minta nanti pulangnya Mama sama Papa bawain aku seorang adik karena kata Om Roy Mama sama Papa mau buat adik di Hotel" ungkap Tegar.


Spontan Bintang mendelik ke arah Roy sementara Roy hanya senyum dan tertawa melihat wajah Bintang yang sudah sangat malu karena ucapan putranya itu.


"Sayaaaang buat adik itu gak bisa secepat itu. Pakai proses, nanti perut Mama kamu gendut dulu selama sembilan bulan setelah itu baru adik kamu lahir. Gak bisa langsung dalam satu malam ada adeknya sayang" ungkap Bintang lembut menjelaskan pada putranya.


"Ooh begitu ya Pa, kalau begitu Mama makan yang banyak ya biar perutnya cepat gendut" balas Tegar dengan polosnya.


Tiara tersenyum dan mengelus kepala putranya penuh kasih sayang.


"Iya sayang nanti Mama makan yang banyaaaak sekali biar perut Mama cepat gendutnya. Malam ini kamu tidur sama eyang ya. Besok baru Mama pulang sama Papa" jawab Tiara.


"Oke Mamaaaa" balas Tegar.


"Jadi anak baik ya sayang" Tiara mencium kedua pipi anak kesayangannya itu. Begitu juga dengan Bintang, setelah itu baru mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju hotel.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2