Tiara

Tiara
Rahasia terbongkar


__ADS_3

"Mama.. Mama... aku mau pipiiiiiis.... " teriak Tegar yang berlari ke arah meja mereka.


Sontak Roy dan Bintang melirik ke arah suara anak - anak itu dan mereka melihat seorang anak laki - laki keluar dari ruangan Dian dan berlari menghampiri Tiara.


Tiara terlihat sangat terkejut dan seketika wajahnya memucat.


Ya Tuhaaaan... Batin Tiara.


Bukan aku yang merencanakannya Ra. Allah lah sebaik - baiknya berencana. Hal ini memang harus terjadi Ra. Batin Dian.


"Kamu.... " ucap Bintang.


"Om baik.... " balas Tegar.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Dian terkejut.


"Sudah, aku sudah pernah bertemu anak ini saat grand opening cafe di Bandung, pertemuan kedua di Jogja. Dan ini ketiga kalinya kami bertemu" jawab Bintang.


"Sebentar ya Om, aku kebelet pipis. Ayo Ma... aku sudah tidak tahan pengen pipis" desak Tegar sudah tidak tahan.


"Ayo kita ke toilet" ucap Tiara.


Tiara segera menyusul Tegar yang sudah berlari lebih dahulu ke toilet.


"Itu anak Tiara Yan?" tanya Bintang penasaran.


"Iya" jawab Dian.


"Kok wajah kalian mirip ya Bin. Waktu pertama kali aku melihat anak itu aku memang merasa wajahnya tidak asing lagi tapi aku berfikir mirip siapa ya. Begitu aku melihat kalian berdua tadi jelas sekali kalau wajah kalian sangat mirip" ungkap Roy.


Bintang terdiam... rekaman memory lima tahun lagi langsung berputar di kepala Bintang.


"Yan berapa usia anak itu?" tanya Bintang.


"Empat tahun Bin" jawab Dian.


Bintang menghitung waktu... otaknya terus berfikir menyesuaikan kisahnya dengan kisah Tiara. Melihat kemiripan wajahnya dengan wajah Tegar anaknya Tiara. Semuanya mengarah kepada fakta bahwa anak itu adalah....


Triiiiing...


HP Dian berbunyi tanda pesan masuk. Dia membukanya dan ternyata Tiara yang mengirimkan pesan kepada Dian.


Tiara


Mbak Dian, aku harus pulang. Tegar sakit perut. Mungkin masuk angin Mbak. Maaf ya Mbak aku gak bisa melanjutkan pertemuan kita malam ini. Salam buat Mas Roy dan Mas Bintang.


Dian menghempaskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Kenapa Yan, siapa yang kirim pesan?" tanya Roy penasaran.


"Tiara, katanya dia harus pulang karena Tegar sakit perut" ucap Dian.


"Roy, Yan aku juga harus balik. Tiba-tiba aku ingat ada janji sama client di tempat lain. Sorry ya aku cabut" ucap Bintang.


Bintang segera meraih tas kerjanya dan melangkah keluar dari Cafe Kenanga. Bintang masuk ke dalam mobil dan melaju menuju apartemen rumahnya.


Pantas saja kemarin dia berbohong saat aku tanyakan mengenai anaknya waktu di Jogja.


Bintang kembali teringat perkataan Tiara waktu mereka di Jogja. Apa alasan Tiara merahasiakan semuanya dari pria yang sudah menghamilinya.


Siaaaal..... apakah aku Papa dari anak kamu? Teriak Bintang di dalam mobil.


Dia harus segera sampai di apartemen. Sesuatu yang sudah lama dia simpan dan tak pernah dia buka lagi sejak peristiwa malam itu. Bintang hanya melihatnya satu kali. Keesokan harinya saat dia mendapati dia terbangun sendiri di kamarnya dan melihat noda di atas seprainya yang di tinggalkan oleh wanita itu.


Sesampainya di apartemen Bintang segera masuk ke ruang kerjanya dan membuka laptopnya. Dia mencari hasil rekaman CCTV dari kejadian malam itu.


Sekali lagi Bintang menyaksikan dan memperbesar wajah wanita yang ada di sofanya malam itu kemudian wanita itu masuk ke kamarnya berjalan dengan sempoyongan karena mabuk.


Setelah itu keesokan harinya Bintang melihat video, bagaimana wajah Tiara yang menangis sedih meninggalkan apartemennya.


Ya Tuhaaaan.... ternyata wanita itu adalah Tiara. Tiaralah wanita yang selama ini dia cari. Ternyata wanita ini berada sangat dekat darinya.


Bintang mengusap kasar wajahnya.


Maafkan aku telah membuatmu menderita selama ini. Maafkan aku membuatmu berjuang sendiri melahirkan dan membesarkan benih yang ku titipkan di perutmu. Maafkan aku yang sudah menghancurkan hidupmu.


Harusnya malam itu aku bisa menahan hasratku. Seharusnya malam itu aku mengunci pintu kamarku.


Air mata Bintang jatuh deras di pipinya. Rasa bersalahnya malah semakin besar setelah mengetahui siapa wanita yang selama ini dia cari dan sudah dia rusak hidupnya.


Kembali Bintang teringat perkataan Dian.


Tiara di usir dari rumahnya karena hamil di luar nikah. Tiara wanita baik - baik harus melahirkan seorang anak tanpa suami bahkan dia tidak tau siapa laki-laki yang sudah merusak hidupnya.


Tidak... tidaaaaak... Tiara tidak mungkin tidak mengenaliku. Malam itu memang dia mabuk tapi pagi harinya dia bangun pasti sudah sadar. Tambah lagi wajahku sangat mirip dengan wajah anaknya.


Bintang kembali teringat perkataan Tiara.


Flashback On


"Karena dia sudah memiliki kekasih Mas dan aku tidak ingin dia terpaksa menerima aku dan anakku. Tapi yang paling aku takutkan, dia tau dan malah mengambil anakku dari sisiku" jawab Tiara jujur.


"Itukan hanya ketakutan kamu saja Tiara. Siapa tau kalau kamu jujur bukan hal itu yang terjadi. Misalnya dia mau menerima kamu dan anak kamu mungkin dan kalian hidup bersama bahagia" sambut Bintang.


"Hidupnya dan hidupku bagaikan langit dan bumi Mas. Aku rasa sangat sulit untuk dia bisa menerima aku. Aku dari keluarga yang tidak berada sedangkan dia dari keluarga kaya. Jangankan dia, keluarganya juga pasti tidak akan setuju menerimaku" ungkap Tiara sedih.

__ADS_1


Flashback Off


Jadi itu alasan kamu untuk tidak jujur padaku Tiara. Kamu kejam Tiara, kamu jahat. Kamu sudah menyembunyikan rahasia besar ini dariku.


Kamu menutupinya tanpa pernah sedikitpun bertanya bagaimana perasaanku.


Hatiku sangat sakit Tiara... aku sudah menjadi pria bejat yang memanfaatkan seorang gadis saat tak sadarkan diri hingga wanita itu hamil.


Aaaaaaaaaaa........ Tiaraaaaa... kamu jahat.. jahat sekali. Anak kita... anak kita...


Flashback On


"Namaku Tegar Prakasa. Nama kita mirip ya Om. Sama - sama ada Prakasanya"


Flashback Off


Tegaaaaaaaar...... Ini Papa nak... Ini Papaaaaaaaa.....


Bintang menangis meraung di atas sofa ruang kerjanya.


Maafkan aku Tuhaaaan... Maafkan aku... Aku sudah merusak hidup seorang wanita baik - baik. Aku sudah menelantarkan anakku.


Aku.. aku.... huhu... uu.... uu....


Bintang terus menangis terisak semua berputar dalam ingatannya kejadian lima tahun yang lalu. Kini dia sudah mengingat jelas wajah Tiara


Pertemuan pertama dengan Tegar, mulai mengenal lebih dekat sosok Tiara yang kuat dan tangguh. Mulai merasa nyaman berada di dekatnya hingga... hingga... kejadian malam ini.


******


Sementara di rumah Ridho dan Tari.


Tegar sudah tidur dalam mimpi panjangnya.


Tiara duduk bersimpuh di atas sajadah, berdoa dan mengadu kepada Allah sambil menangis.


Ya Allah aku pasrahkan semua padaMU. Kalau memang ini jalan yang terbaik untuk kami ringankanlah langkah kami.. Jika tidak jangan pisahkan aku dengan anakku ya Allah. Aku tak bisa hidup tanpa Tegar.


Tiara menangis dalam sujud panjang dan meminta keluar dari semua permasalahan ini tanpa ada yang tersakiti.


Tiara tak berharap lebih, hanya Bintang mau mengakui Tegar sebagai anaknya sudah cukup. Agar dia tau siapa Papanya dan dia tidak merasa sedih lagi di sekolah


Selebihnya biarlah semua berjalan seperti sebelumnya. Biarlah dia kembali ke Bandung esok pagi - pagi sekali. Untuk menenangkan fikirannya dan bersiap jika nanti Bintang menuntut jawaban dari ribuan pertanyaan yang akan dia utarakan pada Tiara.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2