
"Naaaah itu dia yang di tunggu - tunggu. Brooooo sini...... " panggil Bagas.
Tiara berdiri menyambut tamu yang baru saja datang. Pria dengan stelan jas lengkap plus kaca mata hitam yang baru saja dia lepaskan dari wajahnya.
Betapa terkejutnya Tiara melihat siapa yang baru saja datang. Rasanya ingin sekali dia lari dan bersembunyi tapi dia tidak punya kesempatan lagi.
Hanya tinggal doa yang Tiara panjatkan. Semoga saja laki-laki yang ada di hadapannya tidak mengenalnya.
"Selamat datang Pak di Cafe kami, silahkan masuk. Apakah Bapak bersama keluarga atau... " ucap Tiara menyambut Bintang yang berdiri di depan pintu masuk.
"Saya temannya Dian dan Roy" potong Bintang.
"Baik Pak, silahkan masuk" Tiara membawa Bintang masuk dan mengantarnya sampai ke meja Dian dan teman-temannya.
"Hai Bin, akhirnya kamu datang juga ya" sambut Roy.
"Sorry, aku telat" balas Bintang.
Tiara memandang wajah Dian seolah - oleh meminta bantuan karena saat ini situasinya sangat mendebarkan baginya. Di sini ada Tegar dan juga Bintang.
Dian berusaha tidak mengerti dengan arti tatapan Tiara.
"Kenalkan Bintang, ini Tiara pengelola Cafe di sini" ucap Dian memperkenalkan Tiara. Dian memang sengaja melakukannya. Dia ingin melihat reaksi Bintang, apakah Bintang mengenal Tiara.
Dulu, beberapa bulan yang lalu Bintang pernah melihat Tiara di Cafe nya di Jakarta tapi waktu itu Tiara sedang hamil empat bulan sehingga wajah dan tubuh Tiara sedikit berubah menjadi lebih gendut.
Wajar kalau Bintang tidak mengenal Tiara lagi. Tapi sekarang Tiara sudah kembali langsung seperti dulu bahkan kini badan Tiara lebih berisi sedikit membuat dia semakin cantik.
"Oh iya Maaf tadi tidak menyapa kamu dengan baik. Bintang" ucap Bintang sambil mengulurkan tangannya.
"Tiara, Pak" jawab Tiara sambil menerima ukuran tangan Bintang. Mereka saling berjabat tangan.
Seketika wajah Tiara memucat dan berkeringat. Dia sungguh tidak menduga akan terjadi hal seperti ini. Dian tidak ada memberitahu bahwa Bintang akan datang malam ini ke Cafe ini.
"Silahkan duduk Pak dan nikmati hidangan kami malam ini. Saya pamit dulu" Tiara langsung mengambil langkah untuk meninggalkan Dian dan para sahabatnya.
Tak lama Tiara menyuruh salah seorang karyawannya untuk bertanya menu tambahan di mejanya Dian. Tiara kembali ke tempatnya semula menerima tamu undangan yang datang malam ini.
"Sebentar ya aku mau ke kamar mandi dulu" ucap Bintang.
Bintang berjalan menuju kamar mandi yang terletak di daerah belakang tetapi pintu masuknya dari bagian samping Cafe.
Saat di kamar mandi tanpa sengaja Bintang melihat seorang anak laki - laki kecil yang sedang kesulitan mencuci tangannya di wastafel karena tingginya tidak sampai.
"Kamu mau cuci tangan?" tanya Bintang.
"Iya Om tapi tanganku tidak sampai" jawab Tegar.
__ADS_1
"Sini bantu" balas Bintang.
Bintang mengangkat tubuh Tegar dan membantunya mencuci tangannya di wastafel. Mereka berdua sama - sama melihat ke kaca yang ada di depan mereka. Kemudian tegar tersenyum ramah kepada Bintang.
"Terimakasih ya Om" ucap Tegar.
"Sama - sama" jawab Bintang.
Tak lama Ridho keluar dari kamar mandi dan melihat Tegar baru saja turun dari gendongan Bintang.
"Tegar kamu ngapain nak?" tanya Ridho.
Jantung Ridho berdetak kencang. Bisa - bisanya Tegar baru saja di gendong Bintang. Dan mengapa Bintang bisa ada di sini? Oh iya Dia kan sahabatnya Mbak Dian. Batin Ridho.
"Aku tadi mau cuci tangan Pa tapi gak sampai jadi Om ini mrmbantuku" jawab Tegar.
"Maaf anak saya sudah merepotkan anda" ucap Ridho.
"Oh tidak apa - apa" jawab Bintang.
"Sudah bilang makasih sama Om nya sayang?" tanya Ridho.
"Sudah Papa" jawab Tegar.
"Makasih sudah membantu anak saya" ucap Ridho kepada Bintang.
Tegar keluar dari kamar mandi bersama Ridho. Kini hanya tinggal Bintang terdiam memandang kepergian mereka.
Perasaan apa ini? Mengapa wajahku dan anak itu mirip? Bintang kembali teringat saat dia dan Tegar tadi menatap cermin bersama - sama. Wajah mereka sangat dekat sekali.
Bintang merasa perasaan yang mengganjal. Siapa mereka, apakah aku mengenalnya? tanya Bintang dalam hati.
Tak lama Bintang tersadar dia segera masuk ke dalam toiltet.
Di dalam Cafe, Ridho yang baru masuk bersama Tiara langsung berjalan menghampiri Tiara.
"Ra tadi aku ketemu Bintang di toilet. Dia baru saja membantu Tegar cuci tangan di westafel. Perasaanku jadi tidak enak" ucap Ridho.
"Iya Dho, aku juga sama. Jangan sampai dia melihat Tegar bersamaku. Tolong secepatnya bawa Tegar pulang ke rumah sama Tari dan jangan sapa aku lagi" pinta Tiara.
"Baik kalau begitu kami lebih baik segera pulang" balas Ridho.
Bintang kembali masuk ke dalam Cafe dan melihat sekeliling Cafe. Dia kembali melihat anak kecil itu duduk bersama sepasang suami istri.
Akh... mungkin mereka adalah orangtua dari anak itu. Batin Bintang.
"Tegar kita pulang yuk.. Udah malam" ajak Ridho.
__ADS_1
"Kita tunggu Mama saja Pa. Kasihan Mama tinggal sendiri" jawab Tegar.
"Mama masih lama sayang, Mama kan masih kerja. Nanti Papa jemput lagi Mama kamu" bujuk Ridho.
"Lho Dho, kenapa kita cepat pulang?" tanya Tari bingung tiba-tiba saja Ridho mengajak Tegar dan Tari pulang.
"Aku lagi sakit perut" Ridho memberi kode memainkan sebelah matanya kepada Tari.
Walau Tari bingung tapi dia mengerti kode yang diberikan Ridho. Biarlah nanti saja di rumah dia tanyakan pada Ridho apa alasan mereka pulang.
"Ya udah, yuk Tegar kita pulang" ajak Tari.
"Bentar Tante, aku pamit sama Mama dulu ya" ucap Tegar.
"Duh gak sempat lagi Sayang. Nanti saja di mobil kita telepon Mama ya. Perut Papa udah sakit banget" jawab Ridho.
Tari membawa Tegar ke arah pintu keluar di susul Ridho menyusul di belakang mereka. Bintang melihat mereka keluar dari Cafe.
Kenapa aku terus mencari - cari sosok anak itu ya. Aku ingin melihat wajahnya lagi. Batin Bintang.
Dian melihat Tegar keluar dari Cafe bersama Ridho dan Tari.
Sepertinya rencanaku kali ini gagal. Batin Dian.
"Bro.. pernah gak kalian melihat anak kecil terus wajahnya mirip seperti kalian?" tanya Bintang pada Roy dan Bagas.
"Nggak. Emang kenapa?" tanya Roy.
"Barusan aku ketemu sama anak kecil wajahnya mirip banget denganku" jawab Bintang.
"Anak kamu kali" ledek Bagas.
"Sembarangan kamu. Anak itu bersama dengan Papa dan Mamanya datang ke sini. Mana mungkin anak aku. Lagian anak aku dari Hongkong. Ngawur kamu... " bantah Bintang.
"Trus mana anaknya? Aku penasaran pengen lihat semirip apa dia sama kamu" ujar Roy.
"Barusan pulang sama orangtuanya" jawab Bintang.
"Perasaan kamu aja kali Bin" ujar Bagas
"Iya ya, mungkin hanya perasaanku saja" balas Bintang.
Perasaan kamu tidak salah Bin, anak itu memang anak kamu. Anak kamu dan Tiara. Apa kamu lupa kamu pernah berbuat sesuatu pada wanita yang tidak kamu kenali? Batin Dian.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG