Tiara

Tiara
Akhirnya....


__ADS_3

"Yuk Mas kita ngobrol di belakang aja" ajak Dewi.


Dewi berjalan menuju teras belakang.


"Sana Gas, udah jangan ngambek ah" bisik Bintang.


"Jual ngambek apa, wong itu memang maunya dia kan berduaan dengan Dewi" sambut Roy.


"Dia lagi patah hati bro" balas Bintang masih sambil berbisik.


"Apaaa? Bagas patah hati?" tanya Roy tak percaya tapi masih sambil berbisik.


"Berisiiiiiiik" Bagas berdiri dan segera menyusul Dewi yang sudah lebih dulu berjalan ke teras belakang.


"Hahahaha bisa juga kamu patah hati, aku masih gak percaya" goda Roy. Tawa Roy terlihat sangat mengejek bagi Bagas.


Sial.. umpat Bagas dalam hati.


Bagas melihat Dewi sudah duduk di teras belakang, tubuhnya tampak tegang. Kedua tangan Dewi sedang meremas pakaian bagian bawahnya sendiri. Bagas jadi kasihan melihat Dewi seperti ini. Pasti Dia sangat bingung saat ini. Seketika perasaan Bagas luntur, dia sangat tak tega melihat gadis yang dia cintai ketakutan seperti ini.


"Kamu takut bertemu aku?" tanya Bagas begitu dia duduk di samping Dewi.


"Ha...? aah nggak Mas" elak Dewi.


"Kamu jangan bohong Wi, dari bahas tubuh kamu aku sangat tau. Mungkin saat ini kamu lebih memilih pergi ketimbang harus bertemu denganku. Kamu pasti gak suka kan melihat aku ada di sini?" tanya Bagas.


Dewi terlonjak kaget dengan pertanyaan Bagas.


"Ka.. kamu salah Mas. Aku tidak ada berpikir seperti itu" jawab Dewi.


"Bibir kamu berkata begitu Wi tapi lihat tubuh kamu tegang sekali. Santai aja Wi, aku tidak akan mengganggu kamu. Aku sangat tau diri dimana posisi aku saat ini" ujar Bagas.


Dewi menunduk takut dan dia bingung harus mengatakan apa lagi kepada Bagas. Rasanya Dewi ingin menangis, dia tidak siap Bagas bersikap cuek seperti ini kepadanya.


Dewi tiba - tiba kangen Bagas yang ramah, lemah lembut, suka tersenyum, tertawa dan bercanda juga perhatian kepadanya. Bukan Bagas yang seperti ini, mereka benar - benar seperti orang asing.


Bagas melihat wajah Dewi seperti ingin menangis.


"Apa kata - kataku terlalu kasar? Mengapa kamu bersedih?" tanya Bagas, suara Bagas jadi lembut. Dia menurunkan nada suaranya yang tadi sempat agak tinggi.


Dewi menggelengkan kepalanya.


"A.. aku.. aku kangen Mas Bagas" ucap Dewi jujur.

__ADS_1


Kedua mata Bagas melotot sempurna, tidak percaya dengan perkataan Dewi barusan. Bagas memutar tubuhnya tepat menghadap wajah Dewi.


"Aku gak salah dengar Wi? Kamu bilang apa barusan?" tanya Bagas tak percaya.


"Aku kangen sama Mas Bagas. Mas kok gak ada nelepon aku sebulan ini? Aku kan udah kasih nomor handphoneku yang baru sama Mas Bagas. Mas Bagas gak serius ya dengan ucapannya?" protes Dewi.


"Aku serius Wi, serius sekali. Aku hanya takut mengganggu kamu. Kan aku sudah janji tidak akan menggangu kamu. Meminta waktu untuk melupakan kamu. Sebulan ini aku sudah mencobanya Wi tapi aku tidak bisa. Wajah kamu selalu hadir dalam mimpiku, suara kamu, tawa kamu selalu terdengar di telingaku. Aku sudah seperti orang gila Wi di rumah memanggil - manggil nama kamu" ungkap Bagas.


Dewi menghapus air matanya.


"Jadi gimana Wi? kamu terima lamaran aku?" tanya Bagas tak sabar.


"Maas.. maaf kalau menikah aku rasanya belum siap" jawab Dewi menunduk.


Bagas terdiam, dia juga tidak menduga Dewi akan mengatakan hal ini.


"Tapi kamu menerima perasaanku kan?" tanya Bagas lagi.


Dewi menganggukkan wajahnya.


"Perasaan kamu juga sama kan?" tanya Bagas kembali.


Dewi menunduk sambil menganggukkan kepalanya karena malu. Bagas tersenyum dan tanpa sadar menarik kedua tangan Dewi sangkin senangnya.


"Yes... Terimakasih Wi... Oh.. Terimakasih Tuhaaaaaan" ucap Bagas senang.


Apalagi dalam keadaan seperti ini rasanya sangat sulit sekali untuk bertemu Dewi. Karena salah tingkah tak tau harus berbuat apa makanya tadi dia bersikap seperti marah kepada Dewi hingga Dewi salah sangka.


Ternyata saja sangka membawa berkah, Dewi malah mengutarakan isi hatinya. Bagas menatap wajah Dewi dengan senyum lebar merekah.


"Jadi status kita sekarang apa donk? Kamu tadi bilang suka sama aku kan? tapi kamu belum terima lamaran aku? kita pacaran?" Goda Bagas.


"Nggak. Aku gak mau pacaran" jawab Dewi


Bagas mengerutkan keningnya.


"Kamu mau hubungan yang bagaimana Dewiku kekasih hatiku" goda Bagas lagi.


"Ih Mas Bagas jangan panggil aku seperti itu. Aku kan malu" jantung Dewi berdetak kencang.


"Sekarang aku serahkan kepada kamu semuanya. Terserah kamu gimana hubungan kita sekarang yang penting perasaan kita sudah terhubung. Aku sabar kok menunggu kamu siap menerima lamaranku" janji Bagas.


Bagas sangat mengerti mungkin karena faktor usia Dewi belum siap untuk diajak nikah, di tambah lagi Bagas melamarnya terlalu cepat dan juga mungkin Dewi masih trauma dengan sebuah pernikahan karena melihat bagaimana rumah tangga Ibu dan Bapaknya.

__ADS_1


Menunggu satu atau dua tahun lagi juga dia akan sanggup. Toh Bintang juga memberikan waktu padanya sampai Dewi berumur dua puluh tahun. Yang penting saat ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dewi menerima cintanya dan juga membalasnya.


Tidak ada hal yang indah lagi saat ini selain ungkapan perasaan Dewi tadi. Seketika hilang raut murung dari wajah Bagas dan berubah menjadi senyuman bahagia.


"Aku mau menjadi calon istri Mas Bagas yang masih di bawah umur" kita jalani saja dulu ya Mas apa adanya sampai aku benar - benar siap. Aku janji kok gak akan lama. Aku hanya butuh waktu untuk menata hatiku dan merubah bayangan rumah tangga di kepalaku. Selama ini aku trauma dengan pernikahan Bapak dan Ibu" jawab Dewi.


Benar dugaanku, gadisku ini terluka dengan pernikahan orang tuanya. Batin Bagas.


"Siap.. aku akan menunggu kamu. Aku sabar kok tiap weekend apelin kamu ke Bandung" ujar Bagas.


"Itu namanya pacaran donk. Gak mau ah.. " ujar Dewi.


"Lho jadi gimana donk?" tanya Bagas bingung.


"Kita hubungan jarak jauh aja, telepon atau kirim pesan" jawab Dewi.


"Kalau aku kangen gimana?" tanya Bagas.


"Video Call kan bisa, aku takut kalau dekat - dekat Mas Bagas" jawab Dewi polos.


"Kamu takut apa Wi?" tanya Bagas penasaran.


"Aku takut di apa - apain sama Mas Bagas. Mas Bagas kan udah berpengalaman" jawab Dewi jujur.


"Hahaha... kamu lucu Wi.. Aku tidak akan apa - apain kamu. Aku bisa menjaga sikapku" ujar Bagas meyakinkan.


"Itu kan sekarang bisa bilang begitu kalau keseringan berduaan takut ada setan" celetuk Dewi.


"Makanya cepetan nikah biar halal" balas Bagas.


"Aku belum siap" jawab Dewi cemberut.


"Hahaha.. duh gemes aku lihat kamu Wi.. pengen cium rasanya" ujar Bagas.


"Tuh kan belum apa - apa udah nyosor mulu. Pokoknya aku gak mau dekat - dekat Mas Bagas" tolak Dewi.


"Oke.. oke.. tapi kalau aku kangen boleh ya sekali - sekali ketemu kamu di Bandung" bujuk Bagas.


Dewi tersenyum dan menganggukkan kepalanya malu. Bagas semakin tersenyum melihat sikap calon istri dibawah umurnya.


"Ehm... sepertinya mereka udah mendapatkan kata mufakat ini"....


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2