
Pernikahan Bagas dan Dewi tinggal sebulan lagi. Persiapan pernikahan sudah tujuh puluh persen selesai. Dewi sedang sibuk menghadapi ujian semester sehingga dia tidak bisa bertemu dengan Bagas minggu ini.
Pagi ini seperti biasa Dewi diantar oleh supir Pak Wijaya ke kampus. Hari ini Dewi ujian untuk dua mata kuliah. Tadi malam dia sampai begadang karena belajar untuk mempersiapkan ujian hari ini.
Dengan semangat empat lima Dewi mengikuti ujian hari ini di kampus. Setelah selesai ujian Dewi meminta Pak supir untuk mengantarnya ke Mall karena ada sesuatu yang ingin dia beli.
Minggu depan Tegar akan ulang tahun yang ke lima, Dewi ingin membelikan kado untuk Tegar. Bagas sudah mengirimkan uang untuk kado mereka dua dan Bagas menyerahkan semuanya kepada Dewi untuk membeli kado yang Dewi sukai.
Dewi kini sedang berjalan di dalam Mall, dia masuk ke toko mainan anak - anak mencari kado yang tepat untuk Tegar. Akhirnya Dewi menemukan satu set mobil lengkap dengan sirkuit balapnya dan remote kontrol.
Dewi tersenyum melihat mainan itu. Tegar pasti sangat menyukainya. Batin Dewi.
Dewi segera membayar mainan tersebut dan membawanya untuk kembali ke dalam mobil. Saat hendak kembali ke area parkir tanpa sengaja Dewi lewat ke toko pakaian laki - laki.
Dewi melihat ada sebuah dasi yang menarik perhatiannya. Dia teringat pada calon suaminya, Bagas. Dewi masuk ke dalam toko itu dan meminta pegawai toko untuk mengambil dasi yang dia inginkan.
"Dasi yang bagus. Ternyata mata kamu sangat bagus dalam memilih sesuatu. Selera kamu patut diacungi jempol" puji seorang pria.
Dewi melihat siapa sosok pria yang sedang bicara dengan dirinya dan ternyata pria itu adalah Morgan. Alangkah terkejutnya Dewi ketika melihat Morgan bisa ada di Bandung.
"Ka.. kamu?" ujar Dewi.
"Terkejut banget wajahnya. Apa karena aku terlalu mempesona makanya kamu sebegitu takjubnya melihat wajahku" ujar pria itu penuh percaya diri.
"Me.. mengapa kamu bisa ada di sini?" Dewi melirik ke kanan dan ke kiri mencari sosok wanita yang selalu bersama Morgan belakangan ini yaitu Siska mantan pacar abang ipar Dewi, suaminya Tiara.
"Ya bisa donk sayang. Aku ini seorang pengusaha yang mempunyai bisnis di kota ini. Apalagi jarak Jakarta - Bandung sangat dekat. Hanya tiga jam saja aku sudah bisa sampai ke kota ini" jawab Morgan dengan tersenyum menggoda.
Dewi merasa merinding karena ucapan Morgan barusan. Dia memanggil Dewi dengan sebutan sayang.
Dasar playboy cap buaya.. pantang lihat cewek segar langsung di embat. Kamu pikir aku ini seperti wanita - wanita kamu yang lainnya. Sorry ya, aku tidak serendah itu. Batin Dewi.
__ADS_1
Dewi segera mempercepat urusannya. Dia meminta pegawai toko untuk membungkus dasi yang ingin dia beli dan kemudian membayarnya dengan kartu yang diberikan Bagas untuknya.
"Pakai ini saja, biar saya yang bayar" Morgan mengeluarkan kartu kreditnya.
"Tidak usah terimakasih. Saya punya sendiri. Tolong pakai yang ini saja, atau saya tidak jadi membeli dasi ini" tolak Dewi.
Menarik.. wanita ini ternyata punya prinsip. Walaupun usianya masih muda tapi dia mempunyai harga diri yang tinggi. Aku semakin suka melihat dan menggodanya. Batin Morgan.
"Aku tulus lho.. mending uang kamu, kamu gunakan untuk membeli keperluan kamu lainnya. Seperti tas, pakaian dan make up" ujar Morgan.
"Aku tidak memerlukannya" jawab Dewi.
Pelayanan langsung membuat transaksi dengan menggunakan kartu debit milih Dewi. Setelah membayar dasi tersebut Dewi memasukkan dasi itu kedalam bungkusan kado untuk Tegar.
"Jangan membenciku seperti itu Nona, aku tidak berniat jahat. Aku ini teman kuliahnya Bagas jadi bisa juga menjadi teman kamu kan? Bagaimana kalau kita mulai pertemanan ini dengan makan siang bersama" pinta Morgan untuk merayu Dewi.
"Maaf aku tidak lapar dan aku sudah janji dengan Ibu untuk makan siang di rumah. Permisi aku harus pergi karena Ibu dan Bapakku mungkin sudah menungguku di rumah" tolak Dewi tegas.
Dewi hanya diam dan mundur untuk pergi menjauh dari Morgan. Tapi Morgan terus mengikuti Dewi mensejajarkan tubuhnya hingga mereka berjalan beriringan.
"Sorry.. aku tidak berniat mengejek. Aku malah salut dengan keluarga kamu. Sekarang sangat sulit sekali menemukan keluarga seperti itu. Biasanya karena kesibukan masing-masing, baik antara orang tua dan anak sangat sulit untuk berkumpul bersama apalagi untuk makan siang bersama di rumah" ujar Morgan.
Dewi terus diam dan semakin mempercepat langkahnya. Morgan menyadari hal itu dan dia tersenyum.
"Kamu sepertinya sangat takut denganku. Niat aku tulus lho, aku ingin berteman dan berkenalan dengan kamu" Morgan mengangkat tangannya dan menyodorkannya ke depan.
"Morgan" ujar Morgan memperkenalkan dirinya.
"Dewi" Dewi tidak menyambut tangan Morgan.
"Maaf Mas Morgan, aku sangat terburu - buru jadi tolong jangan halangi langkahku untuk pulang. Aku sudah di tunggu oleh Bapak dan Ibuku di rumah. Jadi aku tidak punya banyak waktu untuk berbincang dengan kamu" sambut Dewi.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini aku mengerti. Tapi jika lain kali kita bertemu aku harap kamu mau makan bersamaku" pinta Morgan.
"Maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Permisi" jawab Dewi.
Dewi segera melangkah pergi meninggalkan Morgan berdiri terpaku menatap kepergian Dewi.
"Wanita yang cantik, lugu, sederhana dan menarik. Sepertinya dia wanita baik - baik. Zaman sekarang ini sudah sulit untuk menemukan wanita seperti itu. Siska saja yang sudah tidak bersegel lagi, masih matre, gadis itu aku yakin sekali dia masih suci tapi dia mempunyai kelas yang lebih tinggi di mataku. Aku sudah bosan bertemu dengan wanita - wanita seperti Siska. Aku tidak keberatan bersaing dengan Bagas. Dari dulu hingga sekarang kami sudah sering bersaing untuk mendapatkan sesuatu" ucap Morgan sambil tetap tersenyum menatap kepergian Dewi.
Sepertinya aku harus mencari tau dikampus mana dia kuliah. Batin Morgan.
Morgan segera menelepon sesorang untuk mencari tau informasi mengenai Dewi.
"Halo coba kamu cari tau informasi tentang calon istrinya Bagas Raksajaya. Aku ingin tau semua informasi tentang wanita itu hari ini juga" perintah Morgan.
"Baik aku tunggu secepatnya" ujar Morgan sebelum dia menutup teleponnya.
Morgan berjalan menuju ke suatu tempat untuk melanjutkan tujuannya datang ke tempat ini. Siang ini dia mempunyai janji dengan salah satu clientnya di kota ini. Mereka sepakat untuk makan siang bersama di Restoran yang ada di Mall ini.
Setelah sampai di tempat yang dia tuju, Morgan segera masuk dan memesan meja untuk dia dan clientnya yang sebentar lagi akan tiba.
Saat Morgan duduk menunggu kedatangan clientnya tiba - tiba ponsel Morgan bergetar tanda pesan masuk. Morgan membukanya dan membaca isinya.
Morgan langsung tersenyum karena isi pesan itu berupa informasi tentang Dewi calon istrinya Bagas Raksajaya. Semua informasi tentang Dewi sudah Morgan dapatkan.
Bersiaplah Bagas, sebentar lagi kita akan bersaing untuk mendapatkan gadis itu. Aku akan pastikan kali ini aku yang akan menang. Karena taruhannya kali ini sangat tinggi nilainya. Batin Morgan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1