
Setelah selesai memilih jam tangan couple Bagas dan Dewi memilih membeli es krim dan duduk di sebuah cafe sambil menunggu Pak Bagas dan Bu Siti menghubungi mereka.
Dewi tak henti - hentinya melirik ke arah jam tangan barunya. Bagas memperhatikan tingkah laku Dewi dan tersenyum.
"Sepertinya kamu sangat senang sekali ya kita beli jam tangan couple?" tanya Bagas.
"Baru kali ini Mas aku punya barang semahal ini. Ya kecuali handphone dan laptop yang Mas belikan" jawab Dewi jujur sambil mencicipi es krimnya.
"Kamu suka gak? Itu yang paling penting" tanya Bagas lagi.
"Suka Mas, suka sekali. Terimakasih ya" balas Dewi dengan senyum terbaiknya.
Bagas jadi tertular senyuman Dewi, dengan mudahnya dia juga ikut tersenyum.
"Aku yang lebih suka kamu" goda Bagas.
Sontak Dewi terdiam dan tertunduk malu.
"Maaas.. jangan sering menggodaku seperti itu. Aku hanya wanita lugu dan sederhana.. Ingat itu. Aku takut akan berubah menjadi wanita rakus" balas Dewi.
"Tidak, aku yakin kamu tidak akan berubah menjadi wanita seperti itu kecuali memang aku yang memanjakan kamu dengan apa yang bisa aku berikan untuk kamu. Jadi lain kali jangan protes ya kalau aku beli benda - benda lainnya" ujar Bagas.
"Tuh kaaaaan" protes Dewi.
Tiba - tiba ponsel Bagas berdering.
"Bapak" ujar Bagas sebelum mengangkat telepon. Dewi buru - buru menghabiskan es krimnya yang tinggal sedikit lagi.
"Ya Pak... sudah siap belanjanya?" tanya Bagas.
"Sudah Gas, tapi kami sedikit kerepotan membawa hadiah untuk Tegar. Kamu dan Dewi bisa ke sini kan?" jawab Pak Wijaya.
"Bisa - bisa Pak, kami akan segera ke sana" sambut Bagas.
"Ya sudah, kami ada di Toko Dunia Mainan. Cepat kalian ke sini. Kami tunggu ya" ujar Pak Wijaya.
"Oke Pak" Bagas menutup teleponnya.
"Mereka sudah siap Mas?" tanya Dewi.
"Sudah, yuk kita ke sana. Bapak dan Ibu keberatan bawa banyak mainan untuk Tegar" jawab Bagas.
"Namanya juga cucu kesayangan Mas. Tegar pasti senang banget dapat banyak hadiah" sambut Dewi.
"Yuk kita ke sana" ajak Bagas.
Bagas segera membayar es krim mereka kemudian berjalan beriringan dengan Dewi menuju Toko Dunia Mainan yang disebutkan Pak Wijaya tadi.
__ADS_1
Benar saja di sana Pak Wijaya dan Bu Siti membawa beberapa bungkus mainan sampai mereka kewalahan untuk membawanya pulang.
"Wah banyak sekali Pak Bu hadiah untuk Tegar. Dia pasti senang sekali ini" ujar Dewi sambil membawa beberapa bungkus mainan yang lainnya di bawa oleh Bagas.
"Sekali - sekali Wi, udah lama banget gak belikan Tegar mainan. Bapak hanya bawa teh saja sebagai oleh - oleh setiap datang menjenguknya" jawab Pak Wijaya.
Bagas dan yang lainnya berjalan menuju lapangan parkir tempat dia menyimpan mobilnya. Bagas memasukkan semua bungkusan yang berisi mainan Tegar ke dalam bagasi mobilnya.
Setelah itu mereka semua masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk kembali pulang ke rumah Bintang. Satu jam kemudian mereka sudah sampai ke rumah Bintang.
"Tegaaaaar cepetan ke sini" teriak Bagas.
Tegar yang sedang asik bermain dengan Ali segera berlari ketika mendengar Bagas berteriak memanggil namanya.
"Ya Om, ada apaaa?" tanya Tegar dengan nafas yang memburu karena baru selesai berlari.
"Lihat sini apa yang kami bawa" Bagas segera membuka bagasi mobilnya.
Alangkah terkejutnya Tegar ketika melihat banyak sekali mainan di dalam bagasi mobil Bagas.
"Waaaaow... mainan" teriak Tegar kesenangan.
Tiara dan Bintang keluar dari dalam rumah dan melihat apa yang sedang dikeluarkan Bagas.
"Banyak sekali mainannya. Siapa yang membelikan semua ini?" tanya Tiara.
"Bapak" jawab Bagas dan Dewi kompak.
"Pak jangan terlalu memanjakan Tegar nanti jadi kebiasaan" ujar Tiara.
"Hahaha... tidak apa - apa sekali - sekali" sambut Pak Wijaya.
"Sayaaang ayo ucapin apa sama Opa?" tanya Tiara.
"Makasih Opa" jawab Tegar.
"Sama - sama sayang. Sama Eyang juga, karena Eyang yang pilih semua mainan ini" sambut Pak Wijaya.
Tegar langsung memeluk Siti.
"Terimakasih Eyaaang" ujar Tegar.
"Sama - sama sayang... Yang rajin ya belajarnya biar nanti dibeliin Opa lagi mainan yang lain" balas Siti.
"Oke Eyang, Opa" jawab Tegar.
Mereka masuk sambil membawa semua bungkusan yang berisikan mainan Tegar.
__ADS_1
"Jalan - jalan kemana aja tadi Bu di bawa Mas Bagas?" tanya Tiara.
"Kami ke Butik langganan keluarga Bagas untuk pesan gaun. Setelah itu di ajak Bagas ke Mall dan toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan" jawab Siti.
"Waaah pasti seru ya. Ibu juga terlihat sangat senang sekali. Aduh ada yang silau" goda Tiara sambil memegang tangan Siti yang menggunakan gelang emas yang baru dibelikan Pak Wijaya untuknya.
"Iya tadi baru dibelikan Bapak kamu" jawab Siti malu.
"Cantik, ternyata Bapak pinter juga memilih perhiasan seperti ini" puji Tiara.
"Bapak hanya melirik kemana arah tatapan Ibu kamu. Dia selalu melirik ke arah gelang ini. Bapak ingat sejak dulu Bapak memang belum pernah memberikan Ibu kamu perhiasan. Jadi Bapak ingin menebusnya" ungkap Pak Wijaya.
Tiara merangkul tangan Bapaknya.
"Bapak sayang banget ya sama Ibu. Aku sangat bahagia melihat kalian seperti ini" ucap Tiara dengan mata berkaca - kaca.
"Bapak ingin menebus kesempatan Bapak dulu yang sempat terlewatkan. Dulu Bapak tidak sempat membahagiakan kamu dan Ibu kamu, sekaranglah saatnya. Bapak sangat bersyukur Allah masih memberikan Bapak kesempatan itu" ungkap Pak Wijaya.
"Terimakasih Bapak masih ada dan kuat sampai setia ini sehingga aku bisa merasakan bagaimana bahagianya memiliki Bapak" ujar Tiara.
Tanpa terasa air matanya jatuh perlahan ke pipi.
"Lho kita kan ingin bersenang - senang kamu malah menangis" Pak Wijaya memeluk lembut tubuh putrinya.
"Aku menangis bahagia Pak" sambut Tiara.
"Hormon kehamilan Pak yang membuat Tiara jadi gampang menangis" potong Bintang.
"Bapak juga belum ada memberikan kamu apa - apa sampai sejauh ini. Kalau ada yang kamu inginkan jangan ragu untuk memintanya pada Bapak ya" ujar Pak Wijaya.
"Bapaaak... Aku sebagai suami Tiara merasa sangat malu kalau sampai Tiara meminta kepada Bapak. Itu berarti aku sudah gagal menjadi suami yang baik untuk Tiara kalau sampai aku tidak sanggup memenuhi semua permintaan Tiara" protes Bintang.
"Hahaha... Bapak lupa kalau kamu lebih kaya dari Bapak" sindir Pak Wijaya.
"Ah Bapak bisa aja merendah padahal kebun tehnya lebih lebar dari kantorku" balas Bintang.
Mereka tertawa karena mendengar candaan Bintang dan Bapak mertuanya itu.
"Yuk kita masuk ke salam, Bapak dan Ibu sudah capek dari tadi kebanyakan jalan dan berdiri di Mall" ajak Pak Wijaya.
"Eh iya yuk kita masuk ke dalam untuk istirahat" sambut Tiara.
Semua berjalan masuk kedalam rumah sambil saling merangkul. Bintang merangkul Tiara yang sedang hamil besar sedangkan Dewi tentu saja tidak merangkul Bagas melainkan merangkul Siti, ibunya.
Hari ini mereka sangat bahagia karena sudah dibahagiakan oleh pria yang sangat mereka cintai.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG