Tiara

Tiara
Pembicaraan mesra siang hari


__ADS_3

"Kasian ya Mas, Mas Bagas.... " ucap Tiara saat dia dan suaminya sedang istirahat tidur siang di rumahnya.


Kalau hari libur begini hal - hal seperti ini yang sangat dirindukan Bintang. Dia bisa mesra - mesraan dan manja - manjaan dengan istrinya seharian.


Tapi karena mertuanya sedang ada di rumah dia tidak bisa seharian di kamar. Bintang harus mengajak Pak Wijaya ngobrol - ngobrol santai di rumahnya. Agar mereka betah berkunjung ke rumah Bintang.


"Haha.. gak apa - apa yank di kerjain sedikit dianya. Biar pikirannya gak jorok melulu. Aku tau apa yang ada di dalam pikirannya. Dia pasti merencat kencan romantis berduaan dan pojokan sama Dewi. Kasihan Dewi pikirannya bisa di kotori sama Bagas" jawab Bintang menang.


"Ih Mas tega banget lihat temannya menderita" sambut Tiara.


"Biarin dia menderita tapi kan mereka gak berbuat dosa. Dari pada kita biarin berduaan bisa bahaya. Kalau Dewi mau di ajak nikah sama Bagas itu lain cerita. Mereka bebas melakukan apa saja karena sudah halal" ungkap Bintang.


"Aku harus bujuk Dewi nih biar cepat - cepat nikah sama Bagas. Kalau mereka nikah pasti Dewi di boyong Mas Bagas ke Jakarta. Aku jadi punya saudara di sini. Bisa sering - sering ketemu Dewi" ucap Tiara senang.


"Udah biarin aja si Bagas di siksa dulu setahun atau dua tahun. Selama ini dia sudah cukup foya - foya sama para cewek" sambut Bintang.


Tiara menarik nafas panjang.


"Kasihan Dewi, dia mungkin trauma dengan rumah tangga Ibu sehingga dia takut diajak nikah. Padahal nasib orang kan beda - beda. Walau nasib Ibu seperti itu, belum tentu nasib anaknya juga sama. Contohnya aku, kan beda banget nasibnya seperti Ibu" ujar Tiara.


"Tiap orang punya garis kehidupan yang berbeda - beda sayang. Yakinkan Dewi akan hal itu. Lagian Ibu juga kan sebentar lagi akan bahagia" sambung Bintang.


"Mas kok tau?" tanya Tiara.


"Kumis Bapak kamu saja sudah mencurigakan" jawab Bintang.


"Hahaha... Mas ini lucu banget. Gimana bisa kumisnya Bapak mencurigakan?" tawa Tiara pecah.


"Bapak itu suka senyum - senyum kalau lihat Ibu. Dan kalau Bapak senyum pasti kumis Bapak terangkat lebih tinggi. Aku langsung curiga pasti Bapak udah nembak Ibu nih atau jangan - jangan udah lamar Ibu" jawab Bintang.


"Hahaha... " Tiara tertawa sampai menangis. Sudut matanya mengeluarkan air karena lucu mendengar jawaban Bintang.


"Sejak kapan kamu jadi ahli nujum Mas? Kok bisa kamu menebak seperti itu?" tanya Tiara tak percaya.

__ADS_1


"Benar ya? Bapak udah lamar Ibu?" Bintang terkejut dan tak percaya dengan perkataan Tiara.


Dia sama sekali gak menyangka Pak Wijaya akan secepat itu melamar Bu Siti padahal belum juga selesai masa iddahnya.


Tiara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Waaaah Bapak garcep juga ya. Takut keduluan orang kali ya" puji Bintang.


"Hahaha.. kayak Ibu masih muda aja banyak yang naksir sampai Bapak takut di duluanin orang. Bapak hanya ingin segera bahagia dan membahagiakan Ibu" ungkap Tiara.


"Kamu senang mereka bisa bersatu kembali?" tanya Bintang sambil menggenggam tangan istrinya dengan mesra.


"Senang banget Mas. Aku malah gak pernah membayangkan hal ini terjadi. Dulu aku sering berharap Bapak datang menjemput aku dan Ibu. Seiring berjalan waktu Ibu menikah dengan Pak Tarjo dan Bapak tidak muncul juga. Aku pikir Bapak sudah tidak ada lagi di dunia ini. Atau aku pikir Bapak sudah menikah lagi dan punya keluarga baru sehingga dia melupakan kami. Ternyata Bapak masih hidup. Bapak masih mencari kami dan dia tetap setia pada Ibu. Dia tidak menikah lagi dengan wanita manapun" Kini wajah Tiara berubah sendu. Dia terharu mengingat kisah cinta Bapak kandungnya Pak Wijaya.


"Mereka adalah orang tua kandungku. Tak ada orang yang punya keinginan sangat besar untuk mereka berdua bersatu kecuali aku Mas. Aku sangat.. sangat ingin sekali mereka kembali bersatu dan bahagia. Melupakan masa lalu mereka yang penuh derita dan hidup bersama bahagia sampai hari tua" ungkap Tiara.


Bintang mengecup tangan Tiara mesra dan membelai lembut perut istrinya.


"Kita juga akan seperti mereka sayang, aku akan setia pada kamu sampai kita tua. Kita akan bahagia bersama sampai maut memisahkan kita" janji Bintang.


"Hey... cinta tulus tak berharap balasan sayang... melihat orang yang kita cintai bahagia kita akan ikut bahagia. Begitu juga sebaliknya, kita akan bersedih melihat orang yang kita cintai bersedih. Aku bisa membuat kamu bahagia itu adalah kewajibanku. Nah disaat kamu merasa bahagia barulah aku bisa bahagia" ujar Bintang pernuh kasih sayang.


Tiara merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya menghapus jarak diantara mereka. Tiara memeluk erat tubuh Bintang. Dan menghirup dalam - dalam bau tubuh Bintang.


Seperti ini saja berada dalam pelukan orang yang dia cintai dia sungguh merasa sangat bahagia. Dia pun juga merasakan hal yang sama. Melihat Bintang bahagia otomatis sudah membuatnya bahagia.


"Kamu benar Mas, cinta tulus tak mengharapkan balasan. Aku juga tulus mencintai kamu sampai kapanpun" ungkap Tiara.


Bintang menatap wajah istrinya dan kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Tiara. Mengecupnya dengan dalam dan merasakan manisnya cinta mereka.


"Terimakasih ya Allah.. KAU telah menghadirkan wanita cantik ini di dalam hidupku. Terimakasih Bapak Ibu berkat kalianlah wanita ini bisa lahir kedunia ini. Terimakasih sayang.. kamu sudah mengisi hidupku yang dulu sepi, kamu telah melahirkan Tegar dan sebentar lagi putri kecil kita ini. Membuat hidupku jadi lebih sempurna. Aku tidak ingin yang lain lagi. Cukup kalian saja... cukup ya Allah.. Cukup kalian saja yang ada di dalam hidupku. Aku tidak mau yang lain, siapapun itu" ujar Bintang dengan mata berkaca - kaca.


"Awww... " pekik Tiara.

__ADS_1


"Kenapa sayang? Apa yang sakit?" tanya Bintang.


"Anak kamu nendang Mas" jawab Tiara sambil mengendurkan pelukannya.


Bintang meraba dan mengelus lembut perut istrinya dan merasakan gerakan yang kuat dari dalam perut istrinya.


"Iya sayang... aku bisa merasakannya" ujar Bintang.


Bintang mendekatkan kepalanya sejajar dengan perut Tiara. Dia membelai dan mengecup lembut perut istrinya.


"Sayang... sehat - sehat ya di dalam sana. Papa dan Mama sangat menyayangi kamu juga Kak Tegar. Tumbuhlah jadi putri yang cantik, secantik wajah Mama kamu dan secantik hati dan akhlak Mama kamu. Baik budi ya sayang jangan suka buat Mama sedih, jangan suka buat Mama marah dan ngambek. Jangan tendang Mama dengan keras - keras sayang. Karena kamu bukan pemain bola" ujar Bintang.


Tiara tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Kamu itu akan menjadi putri kesayangan kami, jadilah anak solehah yang bisa membanggakan Papa dan Mama juga pembela Papa dan Mama kelak di akhirat" sambung Bintang.


Bintang mendekatkan telinganya ke perut Tiara. Lalu menatap wajah Tiara.


"Dia jawab Aamiin sayang... " Bintang mendekatkan lagi telinganya ke perut Tiara.


"Dia jawab Iya Papa... " ujar Bintang.


Untuk yang ketiga kalinya Bintang mendekatkan lagi telinganya ke perut Tiara.


"Yank dia minta dijenguk katanya... " sambung Bintang.


Sontak Tiara memukul manja lengan suaminya sambil tertawa melihat tingkah Bintang yang mulai menggodanya. Tangan Bintang sudah mulai nakal meraba kemana - mana.


"Maaaaaaas" ucap Tiara.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2