
Dua hari berikutnya Bagas dan Ali lebih tenang menjaga Dewi di kampus karena Morgan tidak muncul batang hidungnya. Bagas berpikir apa ini ada hubungannya dengan yang dia lihat di supermarket kemarin ya.
Jiwa keponya meronta ingin tau. Apakah ini ada hubungannya dengan dia dan Bintang. Seperti kecurigaan Bagas dan Bintang, Morgan dan Siska bekerja sama untuk menghancurkan hidupnya dan Bintang.
Target Morgan adalah dia dan target Siska adalah Bintang. Apakah dia harus memberi peringatan kepada Bintang agar lebih berhati - hati pada Siska.
Bagas segera meraih ponselnya dan menghubungi Bintang. Karena perasaannya semakin tak tenang melihat Morgan dan Siska tidan menunjukkan wajah mereka dua hari ini.
Bagas takut mereka menyusun rencana yang lebih besar untuk dirinya dan Bintang. Lebih baik ingatkan Bintang sekarang dari pada semuanya terlambat.
"Assalamu'alaikum Gas, ada berita penting?" tanya Bintang langsung.
"Wa'alaikumsalam Bin, tidak ada kabar penting tapi aku punya firasat buruk tentang Morgan dan Siska" jawab Bagas.
"Firasat gimana?" tanya Bintang penasaran.
"Dua hari yang lalu aku melihat Morgan dan Siska di parkiran supermarket menuju Lembang. Aku perhatikan dari jauh merek sedang terlibat pembicaraan serius dan sepertinya mereka bertengkar Bin. Aku lihat Morgan sepertinya sedang marah sedangkan Siska menangis" ungkap Bagas.
"Ada apa ya? Apa Siska melakukan kesalahan di kantorny Morgan?" tangan Bintang serius.
"Aku punya pemikiran kalau Siska itu gak benar - benar bekerja di perusahaan Morgan Bin. Itu pasti akal - akalan mereka saja dan mereka berencana karena ingin bekerjasama untuk menghancurkan hidup kita" jawab Bagas.
"Jadi mengapa Morgan marah pada Siska?" Bintang bertanya dan semakin penasaran.
"Kamu sudah batalin proyek kerjasama dengan perusahaan mereka?" tanya Bagas.
"Sudah dan Morgan bisa menerima alasanku dengan baik" jawab Bintang.
"Terus Siska menerima begitu saja gagal untuk mendekati kamu?" selidik Bagas.
"Oh iya aku lupa cerita sama kamu. Morgan mengajak aku makan siang bertiga dengan Siska tapi sebelum kami makan tiba - tiba Morgan keluar karena sebuah alasan. Hanya tinggal kami berdua dengan Siska" ungkap Bintang.
"Waaaah kalian makan berdua?" tanya Bagas tak percaya.
"Tidak Gas, aku gak jadi makan bedua dengan Siska. Dia berusaha merayu aku, memohon maaf dan dengan berbagai alasan. Bahkan dia mau menjadi yang kedua karena dia tau kalau Tiara tidak bisa hamil lagi. Jadi dia bersedia menjadu ibu dari anak - anakku selanjutnya tanpa harus menceraikan Tiara" jawab Bintang.
"Gila? Dia berkata seperti itu?" tanya Bagas tak percaya.
"Iya bahkan dia berusaha ingin memelukku tapi aku menolaknya dan aku segera pergi meninggalkan Restoran tempat kami berencana makan siang bersama" jawab Bintang.
__ADS_1
"Apa karena itu mereka bertengkar? Siska gagal menjalankan misinya?" tanya Bagas lagi
"Bisa jadi Gas tapi kan misi Morgan untuk menghalangi pernikahan kamu kan juga belum berhasil? Dan jika besok kamu dan Dewi jadi menikah itu artinya misi Morgan juga gagal kan?" Bintang balik bertanya.
"Akh... masalahnya jadi lebih ruwet. Pusing aku memikirkannya. Aku gak tenang kalau Morgan terlihat santai begini. Aku takut dia punya rencana yang lain" jawab Bagas.
"Tenang Gas. Kamu perketat aja penjagaan Dewi. Jangan lengah dan saran aku sampai besok kamu dan Dewi jangan kemana - mana lagi" nasehat Bintang.
"Saat ini kamu lagi dimana?" tanya Bintang.
"Aku di kampus Dewi nungguin dia ujian" jawab Bagas.
"Bagus, kamu jagain Dewi setelah selesai ujian langsung pulang" saran Bintang.
"Iya Bin aku akan pulang setelah Dewi selesai ujian" sambut Bagas.
"Kamu dan Tiara kapan datang?" tanya Bagas.
"Setelah selesai shalat jumat aku langsung keluar kantor untuk jemput Tiara dan anak - anak. Setelah itu kami lansung ke Bandung. Aku dan Papa udah janjian ketemuan di puntut tol Jakarta - Bandung-" jawab Bintang.
"Oke Bin, aku senang jika kamu juga datang secepatnya. Aku merasa lebih tenang. Papa dan Mamaku juga siang ini akan berangkat ke Bandung. Roy katanya berangkat sendiri karena Dian sudah hamil besar tinggal menunggu hari lahiran saja. Dia gak mau kalau anaknya lahir di Tol. Bisa lebih jelek nama anaknya. Dari Cenang menjadi Tolandung" komentar Bagas.
"Biar gak setres Bin. Udah panas kepalaku dari tadi mikirin saat ini Morgan ada di mana" jawab Bagas.
"Ada dia salah, gak ada juga jadi masalah Gaaaaas.. Gas.. Udah syukuri saja kalau Morgan tak muncul lagi di kampus Dewi" ujar Bintang.
"Iya, alhamdulilah.. Ya sudah Bin hati - hati di jalan ya. Sampai ketemu sore nanti di rumah" ujar Bagas.
"Oke bro.. besok kamu harus memanggilku Kakak Ipar" pinta Bintang.
"Ah kamu gila hormat. Mending istri kamu Tiara. Walau aku jelas - jelas akan menjadi adik iparnya tapi dia masih sopan dan tetap memanggilku Mas" protes Bagas.
"Itukan istriku, beda donk sama aku" elak Bintang.
"Itu mah akal - akalan kamu saja. Kamu emang suka cepat - cepat jadi tua" ejek Bagas.
"Hahaha adik ipar, Daaaaah..." balas Bintang.
Bintang menutup teleponnya dan akhirnya Bagas dengan wajah kesal juga harus menutup ponselnya dan menyimpannya.
__ADS_1
Ini adalah hari terakhir Dewi ujian dan karena hari ini adalah hari jumat jadwal ujian tidak begitu padat. Dewi hanya punya 1 mata kuliah yang diujiankan. Pukul sepuluh pagi ujian Dewi sudah selesai.
Sesuai dengan pesan seluruh keluarganya Bagas, Dewi dan Ali segera bergegas pulang. Mereka tak ingin terjadi sesuatu kepada mereka apalagi dua hari ini Morgan tak muncul membuat perasaan Bagas semakin tidak enak.
"Kita langsung pulang Mas?" tanya Dewi begitu masuk ke dalam mobil Bagas
"Iya Wi, pikiranku semakin tak tenang" jawab Bagas.
"Morgan tidak muncul lagi hari ini?" tanya Dewi.
Bagas menganggukkan wajahnya.
"Semua sesuai rencana, aku rasa tak ada yang bocor. Mungkin Morgan dan Siska mendapat masalah yang serius beberapa hari yang lalu sehingga Morgan tidak bisa terus memata - matai kita" jawab Bagas.
"Apakah kita sudah bisa bernafas lega Mas?" tanya Dewi.
"Belum, aku belum bisa tenang sebelum kita sah menikah. Sebaiknya kita lebih cepat pulang dan persiapkan segala sesuatunya untuk esok hari" jawab Bagas.
"Iya Mas lebih baik begitu, ya sudah langsung pulang saja biar nanti shalat jumat dan makannya di rumah saja" ujar Dewi.
"Iya" Bagas langsung menyalakan mobilnya dan menjalankannya.
Sesampainya di rumah Pak Wijaya sudah mulai ramai oleh para pekerja dan penduduk setempat perkebunan berkumpul untuk mempersiapkan pesta sederhana pernikahan Bagas dan Dewi besok.
Penjagaan di sekitar perkebunan teh semakin di perketat apalagi semakin mendekati hari H. Para keluarga dari Jakarta juga sudah mulai bersiap - siap untuk berangkat ke Bandung usai shalat Jum'at.
Semakin mendekati hari - H jantung Bagas semakin berdebar. Dia tampak semakin tegang.
Akankah pernikahan berjalan dengan lancar dan mulus.. ?
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers.. terimakasih kalian terus setia membaca novel aku ini. Jangan lupa dukung terus ya dengan memberikan komentar, like, vote, hadiah kalian.. Agar aku lebih bersemangat untuk melanjutkan ceritanya.
Terimakasih 😍😍
__ADS_1