Tiara

Tiara
Dibakar api cemburu


__ADS_3

Morgan


Cantiknya calon istriku 😍


Handphone Bagas bergetar tanda pesan masuk. Dia membuka pesan tersebut yang ternyata dari Morgan. Karena penasaran selama ini Morgan tidak pernah mengirimkan pesan kepadanya.


Bagas langsung membuka isi pesan tersebut. Alangkah terkejutnya Bagas saat melihat foto Dewi sedang membaca buku. Sepertinya foto tersebut berada di kampus Dewi.


Dari mana Morgan mendapatkan foto ini? Sepertinya foto ini dia ambil secara dekat? Apa Morgan sedang bersama Dewi? Dewi kan lagi kuliah, untuk apa Morgan datang ke kampus Dewi. Batin Bagas.


Bagas membaca ulang pesan Morgan.


Calon istriku? Apa maksud Morgan calon istrinya? Tanya Bagas dalam hati.


Enak saja, Dewi itu calon istriku. Kalau dia mau cari calon istri, cari saja yang lain. Jangan calon istriku yang dia rebut. Masih banyak wanita lain di luar sana. Bagas geram dalam hati.


Bagas langsung menghubungi Dewi tapi sayang ponsel Dewi tidak aktif. Bagas teringat kalau sepekan ini Dewi sedang ujian di kampusnya.


Mungkin saat ini Dewi sedang ujian. Batin Bagas.


Bagas merasa resah dan sangat khawatir. Pernikahannya dengan Dewi tinggal sebulan lagi dia tidak mau ada sesuatu yang mengganggu rencana pernikahannya apalagi berusaha untuk membatalkannya.


Hal ini tidak boleh terjadi, apalagi seorang Morgan yang tak pernah main - main dengan Bagas. Selama ini mereka selalu bersaing secara terang - terangan. Bagas semakin gelisah.


Memang kata orang kalau sudah semakin mendekati hari H pernikahan pasti banyak sekali cobaan. Hanya saja ini bukan cobaan, Bagas merasa ini adalah sebuah ancaman dalam pernikahannya. Yang mana jika Bagas tidak bisa melaluinya itu artinya pernikahannya akan gagal dan itu artinya dia bisa kehilangan Dewi untuk selamanya.


Bagas segera meraih tas, ponsel dan kunci mobilnya. Dia berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan kerjanya kemudian melangkah menuju parkir mobil.


Mobil di nyalakan dan Bagas langsung tancap gas menuju Tol Jakarta Bandung. Dia harus bisa menjaga calon istrinya dari ancaman Morgan.


Tiga jam kemudian Bagas sudah sampai di Bandung, karena hari sudah sore pasti Dewi sudah pulang. Bagas langsung menuju Lembang ke rumahnya Pak Wijaya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" ucap Bagas ketika sampai di rumah Pak Wijaya.


"Wa'alaikumsalam. Lho.. Mas Bagas? Aku kira Ibu dan Bapak yang pulang dari Cafe" sambut Dewi.


"Kenapa, kamu terkejut aku datang ke sini?" tanya Bagas penasaran.


"Iya, Mas Bagas gak ada kasih kabar kalau mau datang" jawab Dewi.


"Aku tadi siang telepon kamu tapi gak aktif" balas Bagas.


"Aku kan kuliah dan lagi ujian makanya handphonenya aku matiin" jawab Dewi.


"Trus habis ujian kamu kemana?" selidik Bagas.


"Aku langsung pulang" jawab Dewi.


"Serius?" Desak Bagas.


"Serius" jawab Dewi.


Dewi terlihat terkejut, itu kan foto dia tadi siang saat di kantin makan bersamaaaa.... apakah Morgan memotret dia dan mengirim fotonya ke Bagas? Mata Dewi melotot bulat sempurna.


"Foto aku" jawab Dewi berusaha bersikap biasa saja karena memang dia tidak melakukan apapun.


"Kamu gak tanya aku dapat foto ini dari mana dan kapan?" tanya Bagas kesal.


"Itu foto tadi siang saat aku sedang makan di kantin menunggu kelas kedua siang hari. Saat aku sedang makan bersama teman - temanku tiba - tiba Morgan datang. Aku gak tau mengapa dia bisa ada di kampusnya dan apa tujuannya" ungkap Dewi menjelaskan kepada Bagas karena Dewi melihat wajah Bagas mulai memerah karena marah.


"Dia mengirim pesan dengan mengatakan kalau kamu adalah calon istrinya. Apa coba maksudnya?" tanya Bagas.


Dewi mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan kalau dia tidak atau apa maksud dari pesan Morgan tersebut.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apapun dengannya. Kemarin saat aku pergi ke Mall membeli kado ulang tahun untuk Tegar tanpa sengaja aku bertemu dengannya di sana. Dia mengajak aku makan tapi aku menolaknya. Dia mengatakan kalau kali bertemu lagi setelah itu aku tidak boleh menolak ajakan dia lagi. Tadi siang aku tidak tau mengapa dia ada di kampusku dan tiba - tiba saja dia sudah ada di kantin saat aku dan teman - temanku makan. Aku tidak mau buat keributan Mas di kampus. Jadi aku biarkan saja dia makan bersama kami. Aku tidak sendiri, ada teman - temanku di sampingku" ungkap Dewi jujur.


"Kenapa kamu gak cerita pada Mas?" tanya Bagas.


"Aku kan tidak melakukan apa - apa Mas. Memang aku mau cerita sama Mas tapi rencananya nanti malam saat Mas lagi santai sepulang dari kantor. Gak tau ternyata malah Morgan sendiri yang kirim foto aku ke Mas" jawab Dewi.


"Kamu tau Wi, Morgan itu berbahaya. Sejak dulu dia dan aku sering bersaing. Dia tidak senang kalau aku lebih maju dari dia dalam hal apapun. Baik dalam urusan bisnis dan pacar. Sering beberapa kali teman - teman wanitaku di godanya tapi aku tidak peduli karena mereka bukan siapa - siapa aku. Tapi kamu.. kamu berbeda Wi. Kamu adalah calon istriku, masa depanmu dan calon Ibu untuk anak - anakku kelak. Aku tidak akan membiarkan dia mencuri kamu dari aku. Aku tidak akan membiarkan dia menggagalkan rencana pernikahan kita apalagi merebut kamu. Aku harus menghentikannya. Dan aku akan cuti empat hari ke depan. Sampai kamu selesai ujian. Setelah itu kamu ikut aku ke Jakarta untuk mempersiapkan pernikahan kita sampai hari pernikahan kita. Aku tidak mau Morgan melakukan sesuatu yang bisa saja membahayakan hidup kamu dan hubungan kita" tegas Bagas.


Dewi terdiam, dia tidak menyangka ternyata situasinya sangat serius. Dia kira Morgan hanya iseng untuk menggodanya tapi ternyata dari cerita Bagas ini jauh lebih menakutkan.


"Baik Mas, aku akan ikut apapun mau kamu" jawab Dewi.


"Empat hari ini kamu aku antar dan temani di kampus ya. Tidak ada bantahan karena aku tidak mau mendengarnya" ujar Bagas.


"Iya Mas" jawab Dewi menunduk.


"Kamu jangan takut aku tidak marah pada kamu. Aku hanya kesal dengan Morgan karena dia terus mengganggu hidupku. Dan aku cemburu Wi.. Aku cemburu dan aku takut kehilangan kamu karena aku sangat mencintai kamu. Aku tidak main - main Wi. Yang lainnya boleh dia raih dan rebut dariku karena mereka tidak berarti bagiku. Tapi kamu adalah hidupku, aku tidak akan membiarkan dia merebut kamu dariku" ulang Bagas tapi kali ini Bagas berkata dengan sangat tegas.


"Maaf Mas.. " Dewi meneteskan airmatanya. Tiba - tiba Dewi merasa bersalah kepada Bagas karena menganggap persoalan ini begitu gampang.


Bagas menarik nafasnya panjang. Dia tidak tega melihat Dewi bersedih dan menangis.


"Sudah Wi.. jangan menangis, kamu tidak salah kok. Ini pelajaran untuk kita berdua agar kita sama - sama kuat untuk menghadapi semua cobaan dalam hubungan kita baik sekarang ataupun yang akan datang. Yang penting kita saling terbuka dan saling percaya. Dalam hal ini Mas sangat percaya pada kamu. Kamu tidak akan mengkhianati Mas. Mas malah takut kamu itu akan diapa - apain sama Morgan makanya Mas harus menjaga kamu selama beberapa hari ke depan" ungkap Bagas lembut.


"Iya Mas aku mengerti" jawab Dewi.


Dewi segera menghapus air matanya dan menatap wajah calon suaminya dengan satu keyakinan mereka harus saling menguatkan. Karena sebentar lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri. Mereka akan sama - sama menjalani kehidupan berumah tangga yang akan menghadapi banyak sekali cobaan.


Benar kata Bagas, mereka harus saling terbuka, saling percaya dan saling menguatkan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2