
"Wijayaaaaaa... " panggil Pak Bambang.
Pak Bambang segera keluar dari mobilnya dan segera menghampiri pria tua yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Wijaya kan?" tanya Pak Bambang lagi.
Pak Wijaya berhenti dan menoleh ke arah Pak Bambang. Dia tampak sedang berfikir lama, mengingat siapa pria yang ada di hadapannya ini.
"Prakasa.. Aku Prakasa.." ucap Pak Bambang.
"Bambang Prakasa?" tanya Pak Wijaya.
"Iya benar Bambang Prakasa. Lama tak bertemu kamu" Mereka saling berpelukan.
"Apa kabarmu, kau terlihat masih gagah di usia kita yang sudah tak muda lagi" ucap Pak Wijaya.
"Hahaha... kamu lebih gagah. Aku sih sudah Rudal ( rusak dalam)" jawab Pak Bambang.
"Hahahaha.... " mereka kembali tertawa.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Pak Bambang.
"Aku ingin mengantarkan kenalanku. Katanya di sini rumah orang tuanya" jawab Pak Bambang.
"Kenalan kamu? rumah orang tuanya di sini? Siapa dia?" tanya Pak Bambang dengan perasaan bergemuruh.
Pintu mobil Pak Wijaya terbuka.
"Papa.... " panggil Tiara.
"Tiara... kamu selamat nak? kami mencari kamu selama tiga hari ini tapi kami tidak menemukan jejak kamu" ucap Pak Bambang.
Tiara keluar dari mobil Pak Wijaya dan segera memeluk Pak Bambang. Bintang yang berada di mobil paling belakang setelah mobil Pak Bambang bisa terkejut melihat wanita yang sedang memeluk Papanya.
"Tiaraaaaaaa" teriak Bintang.
Semua orang yang mendengar teriakan Bintang keluar dari mobil dan juga keluar dari rumah.
"Pa... Mas Bintang Pa.. " Tiara meminta perlindungan Pak Bambang.
__ADS_1
"Sudah.. sudah.. lebih baik masalah ini kita bicarakan di dalam secara tenang. Semua hanya kesalah pahaman saja" jawab Pak Bambang tenang.
"Ayo Wijaya silahkan masuk ke dalam rumah" ajak Pak Bambang.
Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di ruang tamu.
"Ibu mana?" tanya Tiara.
"Ibu sedang shalat dzuhur di atas Kak" jawab Dewi.
"Tegaaaar" Bu Bambang memeluk dan menggendong cucunya.
"Ra... maafkan Mas Ra tidak bisa menjaga kalian. Tidak bisa membuat kamu percaya pada Mas. Semua yang kamu lihat tidak seperti yang kamu fikirkan. Aku dan Siska tidak ada hubungan apapun. Aku juga tidak tau bagaimana dia bisa masuk ke ruanganku padahal aku sudah memperingatkan satpam di perusahaanku untuk mengusir Siska kalau dia datang. Tapi memang saat itu Siska menggunakan jilbab untuk menutupi wajahnya. Mungkin karena itu mereka terkecoh. Pada saat kalian datang, aku tidak melakukan apapun, aku pun terkejut mengapa tiba - tiba ada orang yang memelukku dari belakang. Dan saat aku ingin mengejar kalian dia menahanku dengan seluruh kekuartannya sehingga aku tidak bisa bergerak cepat. Maafkan aku Tiara... aku terlambat. Saat aku sampai dibawah kalian sudah pergi. Tolong percayalah padaku... " Bintang menangis sambil terus menggenggam tangan Tiara.
Tiara melihat sekelilingnya, semua orang yang ada di sekitar mereka sangat berharap Tiara akan menerima permintaan maaf Bintang.
"Kamu masih belum mempercayaiku Tiara? Aku janji setelah kita kembali ke Jakarta aku akan membawa semua bukti - bukti kalau aku memang tidak melakukan apapun dengan Siska saat itu. Yang terpenting saat ini kalian sudah kembali bersama kami di sini. Aku tidak bisa kehilangan kalian, aku tidak bisa hidup tanpa kamu dan anak - anak kita" ungkap Bintang.
Tiara membalas genggaman tangan Bintang, kini kedua tangan mereka saling menggenggam erat.
"Maaas.. aku juga minta maaf kepada kamu. Karena aku tidak mempercayai kamu sepenuhnya. Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan pada saat itu. Hatiku sudah dikuasai cemburu dan amarah sehingga pergi begitu saja dari kantor kamu tanpa mencari tau dan berfikir jernih tentang apa yang terjadi. Aku pergi membawa Tegar bersamaku dengan keadaan yang sangat kacau hingga sampai.. sampai... aku membahayakan hidup Tegar, hidupku dan bayi yang ada di dalam kandunganku" Tiara mulai terisak.
"Kalau seperti ini kan kita semua sudah lega. Akhirnya kesalah pahaman bisa diselesaikan dengan baik. Jadi gimana ceritanya kamu bisa bertemu dengan Tiara, Wijaya?" tanya Pak Bambang kepada Pria Tua bernama Wijaya yang sudah menyelamatkan Tiara dan Tegar.
"Mobilku ada di lokasi kejadian, aku dan beberapa anggotaku mencoba menyelamatkan Tiara dan Tegar. Pada saat kejadian mereka berdua pingsan dan kami segera melarikan mereka ke rumah sakit terdekat. Tetapi setelah Tiara sadar, Tiara ingin keberadaannya disembunyikan dulu. Akhirnya aku menutup semua akses termasuk pihak polisi juga" jawab Wijaya.
"Pantas saja kami tidak menemukan Tiara dan Tegar padahal dua hari ini kami sudah mencarinya ke semua Rumah Sakit dan klinik di semua pelosok kota Bandung tapi tidak ada informasi tentang mereka bahkan kami sudah bertanya kepada pihak polisi tentang kecelakaan yang di alami Tiara dan Tegar tapi kami tidak menemukan jawaban. Aku juga sempat curiga dan berfikir siapa dibalik semua ini. Aku sudah merasakan hal yang aneh kalau ada orang yang melindungi Tiara dan menyembunyikannya" ungkap Bambang.
Wijaya tersenyum kepada Bambang.
"Terimakasih ya Jay.. Kamu sudah menyelamatkan menantu dan cucuku" ucap Bambang kepada Wijaya.
"Ternyata Tiara adalah menantu kamu, berarti suami Tiara putra kamu ya.. Setelah aku perhatikan wajahnya memang mirip seperti wajah kamu saat muda dulu" jawab Wijaya.
"Papa kok bisa kenal sama Pak Wijaya?" tanya Tiara.
"Dia sahabat Papa waktu kuliah dulu. Dia pernah sekali menemani Papa untuk bertemu dengan Mama. Setelah Papa berhasil melarikan Mama kamu dari kampung dan menikahinya, Papa tidak pernah lagi bertemu dengan Wijaya. Sekian lama ya... akhirnya kita bertemu lagi. Untung saja aku masih mengenali kamu tadi" ungkap Bambang.
"Jadi Papa sahabatnya Pak Wijaya? Syukurlah" balas Tiara.
__ADS_1
"Hahaha.. Ternyata hikmah dari menyelamatkan kamu, saya bisa bertemu dengan sahabat saya dulu" sambut Wijaya senang.
Tiba - tiba Siti datang dari arah belakang setengah berlari menghampiri Tiara.
"Tiara.. kamu sudah kembali nak" Siti memeluk erat Tiara dan menangis.
"Ibu.. maafkan aku sudah membuat kalian semua khawatir" jawab Tiara membalas pelukan Ibunya.
"Kamu baik - baik saja? bagaimana keadaan kandungan kamu?" tanya Siti.
"Aku dan kandunganku baik - baik saja Bu. Alhamdulillah" jawab Tiara.
"Tegaaaaaar... " Siti meraih cucunya dari gendongan Bu Bambang dan kini gantian menggendong Tegar.
"Eyaaaang" ucap Tegar.
Siti memeluk erat Tegar dalam gendongannya.
"Kamu baik - baik saja kan sayang? Kamu jaga Mama kamu kan?" tanya Siti.
"Aku baik - baik saja eyang, aku juga jagain Mama dan adek bayi yang ada dalam perut Mama" jawab Tegar bijak.
Semua orang tersenyum mendengarkan jawaban Tegar yang polos.
Tegar turun dari gendongan Siti dan berjalan menghampiri Pak Wijaya.
"Opa.. ini aku kenalkan sama eyang aku yang pintar masak. Tadi pagi kan aku janji sama Opa akan mengenalkan Eyangku pada Opa" ucap Tegar sambil menarik lengan Wijaya.
Wijaya berdiri dan berjalan mengikuti kemana Tegar membawanya. Wijaya menatap wajah Siti dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Ini eyang Itiku Opa" ucap Tegar.
Wijaya dan Siti saling pandang.
"Siti.... "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG