
"Ra... kita menikah yuk...... " tiba - tiba kata itu keluar dari mulut Bintang begitu saja.
Sontak membuat Tiara terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Bintang akan mengeluarkan kata - kata itu.
"Apa maksud Mas?" tanya Tiara tidak percaya.
"Aku melamar kamu. Mau kah kamu menikah denganku, membangun rumah tangga yang utuh bersama Tegar?" tanya Bintang sambil terus menatap ke manik mata Tiara.
"Ke.. kenapa Mas mengatakan itu? Karena Tegar?" tanya Tiara.
"Kalau aku bilang bukan karena Tegar, aku salah Ra. Tapi semuanya bukan hanya karena Tegar, tapi karena aku juga membutuhkan kamu. Aku butuh rumah yang setiap hari tempatku pulang, di dalamnya ada kamu dan Tegar. Kita bahagia bersama menjadi sebuah keluarga" ungkap Bintang.
"Kenapa Mas memilih aku, karena aku Mamanya Tegar?" tanya Tiara. Tiara butuh sebuah alasan untuk meyakinkan perkataan Bintang sebelumnya.
"Ra jujur aku katakan antara kamu dan Tegar tidak bisa dipisahkan. Kalau aku katakan bukan karena Tegar aku sudah berbohong tapi Tegar bukan alasan yang paling besar. A.. aku.. mencintai kamu Ra. Aku tidak tau kapan perasaan itu hadir tapi yang jelas aku sudah terbiasa berada dekat dengan kamu, aku merasa nyaman dan aku merasa kehilangan dan sepi saat kamu tidak ada Ra. Awalnya aku kira itu karena kamu dan Tegar adalah satu paket. Dimana ada kamu pasti ada Tegar. Tapi entah mengapa akhir - akhir ini aku merasa sangat cemburu melihat kamu bersama Roy, hatiku terasa sakit Ra.. dan takut kehilangan kamu. Maaf kalau perasaanku datang terlambat" ungkap Bintang.
"Iya Mas, kamu terlambat. Aku sudah berjanji untuk menjawab perasaan Mas Roy dua minggu lagi" elak Tiara.
"Menjawab perasaanya kan bukan berarti menerima kan Ra. Kalau kamu menolak itu kan hak kamu. Roy tidak bisa memaksa" sambung Bintang.
"Tapi posisi kamu juga sama Mas. Kamu tidak bisa memaksa aku juga untuk menerima kamu" protes Tiara.
"Iya aku tau posisi aku dan aku tidak akan memanfaatkan Tegar sebagai alasannya. Kemarin aku sudah mengatakan kepada Roy perasaanku pada kamu. Kami sepakat untuk mengungkapkan perasaan kami pada kamu, biarlah kamu yang menentukan siapa yang akan kamu pilih. Kami siap jika salah satu diantara kami yang kamu tolak Ra" ungkap Bintang.
"Jadi Mas Roy juga tau akan hal ini?" tanya Tiara terkejut.
"Iya, aku dan Roy adalah sahabat. Aku tidak mau kalau dia mengira aku menikungnya dari belakang atau aku memanfaatkan Tegar sebagai alasan agar kamu menerima aku. Aku ingin bersaing sehat Ra untuk mendapatkan hati kamu. Kamu bebas menentukan pilihan kamu. Aku tidak memaksa kamu untuk menjawab sekarang Ra. Kamu coba fikirkan lagi sampai kamu benar - benar yakin dengan perasaan kamu. Aku mohon Ra untuk kali ini jangan fikirkan Tegar tapi fikirkan perasaan kamu yang sesungguhnya. Masalah Tegar nanti kita bisa fikirkan bersama - sama. Kalau kamu memilih Roy, aku akan membantu untuk meyakinkan Tegar agar dia bisa menerima Roy sebagai Papanya. Aku sudah siap Ra, asal kalian tidak melarangku bertemu Tegar dan memberikan aku waktu bersama Tegar" pinta Bintang.
Entah mengapa Tiara merasa kali ini Bintang serius dan tidak egois ataupun memaksakan kehendaknya.
Apakah Mas Bintang sudah berfikiran dewasa dan tidak ingin menang sendiri? batin Tiara.
"Ra.. " panggil Bintang lagi.
"Kamu mau kan mempertimbangkan perasaanku?" tanya Bintang pelan.
Tiara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah Mas aku akan mempertimbangkannya tapi janji ya seandainya salah satu dari kalian aku pilih, tidak akan merubah hubungan kalian" ucap Tiara.
"Sebelum kamu meminta aku dan Roy lebih dulu sudah berjanji seperti itu Ra. Kami benar - benar akan menerima apapun keputusan kamu dan tidak akan mempengaruhi hubungan kami sebagai seorang sahabat. Kamu bebas, tidak ada yang memaksa kamu untuk lebih berat sebelah. Posisi aku dan Roy sama Ra walau ada Tegar. Please... jangan fikirkan Tegar tapi fikirkanlah hati kamu yang akan memilih siapa?" tegas Bintang.
"Iya Mas.. aku akan memikirkannya" jawab Tiara.
Untuk sesaat mereka hanya saling tatap dan canggung.
"Kalau begitu aku ke kamar Tegar ya Ra" ucap Bintang.
"Iya Mas" balas Tiara.
Bintang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Tegar. Di dalam kamar dia melihat Tegar sangat nyenyak tertidur.
Lega rasanya sudah mengutarakan perasaannya kepada Tiara tapi entah mengapa menatap wajah anaknya ini dia sangat sedih.
"Kalau Mama kamu menolak Papa, secara hukum kamu akan menjadi anak Roy sayang. Papa gak sanggup kalau seandainya hal itu terjadi. Kamu anak Papa, darah daging Papa mengapa harus menjadi anak pria lain. Tapi di sini bukan hanya memikirkan kebahagian kita saja. Mama kamu juga pantas bahagia. Maafkan Papamu ini yang terlalu bodoh dan lambat nak" Bintang mengecup kening putranya lama, air matanya menetes di pipinya.
Tiara yang sedang berjalan dari dapur menuju kamarnya secara tak sengaja mendengar perkataan Bintang dengan suara yang begitu sedih.
Tiara bersandar ke dinding.
Tiara masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Bagaimanapun dia dan Bintang adalah orang lain di rumah ini, harus bisa saling jaga. Dia tidak mau melakukan perbuatan dosa lagi baik disengaja ataupun tidak.
Tiara meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Ibunya.
Tiara
Bu, apakah Ibu sibuk? Aku ingin menelepon?
Tak lama ponsel Tiara bergetar tanpa pesan masuk. Tiara membuka dan membacanya.
Ibu
Tidak nak, teleponlah.. Ibu tunggu
Tiara langsung menelepon Ibunya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ndook" ucap Siti.
"Wa'alaikumsalam Bu" jawab Tiara.
"Kamu sudah sampai Bandung?" tanya Siti
"Sudah Bu, tadi pagi jam sepuluh" jawab Tiara.
"Cepat sekali, kamu ngebut ya?" tanya Siti khawatir.
"Nggak, tadi pagi Mas Bintang datang ke rumah Ridho dan dia menawarkan untuk mengantarkan kami sampai Bandung. Ibu dan adik baik - baik saja kan" tanya Tiara.
"Baik Nduk" jawab Siti.
"Bapak mana Bu, dia tidak curiga kan kemarin kita pergi?" tanya Tiara mengkhawatirkan Ibu dan adik - adiknya.
"Biasa Ra.. Bapak kamu masih tidur jam segini. Ibu dan adik kamu baik, Bapak tidak curiga dan tidak tau kemarin kita ketemuan" jawab Siti.
"Syukurlah kalau begitu. Kapan - kapan kita ketemuan lagi ya Bu?" pinta Tiara.
"Iya, tapi tidak bisa terlalu sering Ra, nanti Bapak kamu curiga" balas Siti.
"Iya, aku ngerti" jawab Tiara.
"Kamu kok tumben telepon Ibu jam segini, biasanya sering malam hari teleponnya. Ada yang ingin kamu bicarakan pada Ibu?" tanya Siti penasaran.
Ibunya ini memang selalu tau kalau hati anaknya sedang gundah gulana. Tebakannya langsung tepat sasaran
"Iya Bu ada yang mau aku ceritakan sama Ibu" jawab Tiara.
Tiara menarik nafas panjang.
"Bu, barusan saja Mas Bintang melamar aku.......
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG