
Sudah lima menit Tiara berjalan setelah tadi, dia memutuskan untuk mencari 3 orang yang tepat untuk mendapatkan buku yang diberikan oleh kakek tua dan ayahnya sebelumnya. namun hingga saat ini ia masih belum juga menemukan ketiga orang itu.
Memang saat ini sedang berada di pasar dan pasti banyak orang yang berlalu lalang. Namun menurutnya, masih belum ada orang yang tepat untuk mendapatkan ketiga buku itu. karena yang ditemuinya sedari tadi hanyalah orang-orang dewasa yang menjajakan jualannya. dan sebagian lagi adalah para pembeli
Tak patah semangat, Tiara terus saja melangkahkan kakinya. menyusuri jalan jalan dan lorong-lorong yang ada di pasar itu. namun hingga beberapa lorong telah ia jalani, ia belum juga menemukan orang yang menurutnya tepat. hingga pada saat ia melewati lorong yang terakhir di pasar itu, ia menemukan sesosok laki laki yang berpenampilan Kumal dan bertubuh kurus. Laki laki itu sedang membelakangi jalan dan tampak seperti sedang memperhatikan sesuatu yang ada di tangannya.
Tiara menghentikan langkahnya sejenak lalu memandangi laki laki yang menurutnya masih remaja tersebut. Ia menatapnya Lamat lamat memandangi penampilannya dari atas ke bawah. Hingga pada akhirnya, Tiara menghela nafas kasar sebelum pada akhirnya ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri laki laki itu.
" Pe.. permisi kak." sapa Tiara sedikit gugup sembari memandang ke arah laki laki yang kini telah menoleh ke arahnya. setelah barusan Tiara menghentikan langkah dengan jarak yang sudah terbilang dekat.
"...."
Tidak ada balasan. yang ada hanyalah keheningan yang tercipta setelah sapaan itu dilontarkan.
Waktu seakan berhenti untuk sesaat karna laki laki itu, tak kunjung membalas sapaan dari Tiara.
" Ka.. kak." Ucap Tiara lagi. masih gugup, tapi kini Tiara berjalan lebih dekat ke tempat laki laki tadi.
" Kamu berbicara kepadaku,.." Seolah tidak percaya bahwa anak kecil yang ada di depannya menyapa dirinya, laki laki itu malah menolehkan kepalanya ke kiri dan kekanan. mencari orang lain yang berada di dekatnya, namun nihil, tidak ada orang lain selain dirinya. karna memang di lorong ini, jarang di temukan lapak penjual karna sempitnya jalan dan lahan untuk dijadikan lapak para penjual.
" I.. iya kak. Tia bicara sama kakak." ucap Tiara lagi sembari mendongkakkan kepalanya menatap laki laki yang memang jauh lebih tinggi darinya itu.
" Ada apa kamu memanggilku,.. apa kamu kesasar di gang sempit ini, dan tak tau jalan kembali??" ucap laki laki itu setelah memastikan bahwa benar dia yang di panggil oleh anak kecil di depannya itu.
" Ti.. bukan kak. Tia hanya ingin bicara sebentar sama kakak." ucap Tiara lagi sembari kini ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari tempat dimana ia bisa duduk. pasalnya ia merasa kalau kakinya sudah pegal. karna sedari tadi terus saja berjalan.
" Bicara,.. bicara apa, apa kamu mengenalku..??" ucap pria itu lagi sembari menaikkan alisnya sebelah, karna bingung. sebab ia tidak merasa kalau ia mengenal anak kecil yang bertampang asing di depannya itu. jangankan mengenal, bertemu aja rasanya baru kali ini.
" Tidak kak. Tia nggak mengenal kakak. hanya saja, Tia merasa kalau kakak adalah orang yang paling tepat untuk Tia ajak bicara. dan nanti Tia akan menitipkan sesuatu juga untuk kakak." ucap Tiara lagi, sembari kini melangkahkan kakinya mendekati sebuah kardus yang terbuka lebar dan tergeletak di pinggir jalan lorong dekat dengan anak laki laki itu.
__ADS_1
" Lalu, kalau kamu tidak mengenal ku, buat apa kamu mau berbicara dan menitipkan barangmu kepadaku. apa kamu tidak jijik untuk sekedar berdekatan dengan ku dengan penampilanku yang Kumal dan bau seperti ini." ucap laki laki itu lagi sembari menatap aneh kepada Tiara.
" Kenapa Tia harus jijik sama kakak. kakak kan bukan kotoran atau sesuatu hal yang menjijikkan hingga membuat Tia harus menjauh dari kakak." ucap Tiara lagi sembari menempelkan bokongnya pada kardus yang tergeletak tadi.
Yang benar saja,.. anak laki laki itu merasa ada yang aneh dengan anak yang baru datang menghampirinya itu. pasalnya baru pertama ini ada orang yang datang dan mengajaknya berbicara tanpa merasa jijik padanya. karna biasanya, kemana pun dia pergi, orang orang akan selalu menatap dia dengan pandangan jijik dan merendahkan. bahkan tak jarang pula ada yang langsung mengusirnya dari hadapannya ketika ia tanpa sengaja lewat dari hadapan orang itu. dan kini, seorang anak kecil ini, malah datang dan menatapnya dengan mata yang menurutnya sangat asing dan indah secara bersamaan itu.
" Apa kamu tidak salah orang Tia. aku bukanlah kenalan atau orang yang mengenal kamu loh,..
kenapa kamu malah datang kesini dan mengajak aku berbicara. apa kamu tidak merasa takut sama aku,.. bisa aja kan aku malah berbuat jahat sama kamu disini. apalagi disini kan sepi. tidak ada orang lain."
" Aku tidak takut sama kakak. karna Tia tau kalau kakak Tidak akan melakukan hal hal aneh kepada Tia. lagipula dari mata kakak, Nampak kok kalau kakak itu orang baik." ucap Tiara lagi sembari memandangi laki laki di hadapannya.
" Eh, ngomong ngomong, kakak tau dari mana kalau namaku itu Tia." ucap Tiara merasa aneh. pasalnya tadi laki laki itu jelas jelas menyebut namanya.
Anak laki laki yang mendengar penuturan Tiara barusan merasa hangat pada hatinya untuk pertama kalinya. matanya tanpa sadar berkaca kaca karna ucapan Tiara mengingatkan nya pada mendiang ibunya yang telah meninggalkannya untuk selamanya sejak lima tahun yang lalu. " karna kamu sedari tadi selalu menyebut diri mu sendiri dengan nama Tia." ucap laki laki itu kembali sembari menoleh kearah lain lalu menghapus jejak air dari matanya menggunakan tangannya.
" eh kak, kesini deh. duduk bareng Tia. karna waktu Tia tidak banyak dan harus segera bicara sama kakak." ucap Tiara lagi sembari menepuk tempat kosong di sampingnya.
" Yakin kamu nggak akan jijik dan kebauan sama aku." ucap laki laki itu lagi sembari terlihat ragu dan gusar.
" Nggak loh kak,.. sini aja dulu sebentar bareng Tia. karna Tia juga harus segera pergi." ucap Tiara lagi sembari menatap laki laki yang tampak ragu untuk mendekat ke arahnya itu.
" Baiklah. Tapi awas nanti kalau kamu langsung kabur setelah aku duduk disana ya." ucap laki laki itu sembari berjalan dan duduk di tempat yang Tia tepuk tadi.
"Nah kan, Tia nggak kabur,.." Ucap Tiara sembari tersenyum dan menatap laki laki yang sudah duduk di sampingnya itu.
" Iya deh iya,.. jadi kamu mau ngomong apa tadi." ucap laki laki itu sembari memperhatikan Tiara yang jadi tampak diam dan seperti menimbang nimbang sesuatu.
Tiara tidak langsung menjawab pertanyaan dari laki laki yang telah duduk disampingnya itu. melainkan langsung melepas tas yang sedari tadi di punggungnya itu lalu membukanya dan memperhatikan tiga buku yang ada disana.
__ADS_1
"Buku yang mana yang akan ku beri ya,.. yang kuning kah, atau yang biru. tapi yang hitam tampak lebih bagus." gumam Tiara dalam hati, karna memang ketiga buku yang di beri sebelumnya kepada Tiara memiliki sampul berwarna kuning, biru dan hitam. Untuk isi dari buku itu sendiri sampai sekarang Tiara belum mengetahuinya. karna memang sebelumnya ketika ia ingin membukanya, ia malah dilarang oleh kekek tua itu.
"yang biru aja deh, karna yang biru tampak lebih menarik." gumam Tiara lagi sembari menarik buku yang lumayan tebal itu dari tasnya.
" Ini ada hadiah untuk kakak.." ucap Tiara sembari menyodorkan buku yang tadi di ambil dari tasnya, ke orang yang ada di sampingnya itu.
" Buku apa ini??" tanya laki laki itu sembari menerima buku yang Tiara sodorkan barusan.
" Tia nggak tau kak, tapi Tia mau kakak baca dan pelajari apa yang ada di dalam buku itu." ucap Tiara. karna pikirnya tidak mungkin ayahnya memberikan buku yang isinya bukan sesuatu yang penting untuk di pelajari. jadi Tiara bilang saja seperti itu.
Laki laki itu kembali menatap heran kepada Tiara. " Buku apa ini dan bagaimana kamu bisa tau klo aku bisa membaca."
" Gampang aja kak, kan tadi waktu Tia datang kesini, kakak lagi pegang dan baca koran itu." ucap Tiara sembari menunjuk ke sudut jalan dimana disana teronggok banyak sekali koran bekas. Dan koran itu adalah sesuatu yang diperhatikan oleh laki laki itu tadi.
" Oh,.." ucap laki laki itu sembari menatap Tiara yang kini merapikan tasnya kembali dan tampak akan pergi.
" Kamu mau pergi sekarang??" ucap laki laki itu, pelan serasa tidak rela.
" iya kak, Tia nggak punya banyak waktu. dan takut kelamaan disini kalau tidak segera beranjak. dan oh ya kak, Tia memang nggak tau apa isi dari buku itu. tapi Tia tau kalau buku itu berisi hal penting dan sangat berguna untuk kehidupan kakak kedepannya. jadi Tia harap, kakak bisa mempelajarinya dengan baik agar buku itu berguna kedepannya. Dan yah, namaku adalah Tiara. kalau kakak siapa..?? ucap Tiara sembari memandang lekat pada laki laki itu.
" Namaku Rafka." ucap laki laki itu sembari memandang tak rela ke arah Tiara
" Baiklah kak rafka, Tia percaya kalau kakak bisa dan kuat. jadi selamat belajar dan berjuang ya,.." ucap Tiara sembari menampilkan senyuman yang lebar. lalu berbalik dan melangkahkan kaki menjauh dari lorong itu meninggalkan laki laki yang bernama rafka itu dengan rasa tidak relanya.
" semoga kita bisa bertemu lagi dimasa depan Tia,.. dan kuharap, ketika kita bertemu, keadaan ku sudah lebih baik." ucap rafka dalam hati sembari memandangi Tiara perlahan menjauh.
j***angan lupa untuk meninggalkan jejak ya 🙏
** see you in the next chapter 🙏😇*****
__ADS_1