Tiara

Tiara
Saling memaafkan


__ADS_3

Pak Bambang kini sudah dipindakan ke kamar VIP. Walau kondisinya masih lemah tapi dia sudah berhasil melewati masa kritisnya.


Bintang, Tiara, Tegar dan Bu Bambang masih setia menunggui Pak Bambang di rumah sakit. Walau situasinya sedang berduka karena keluarga mereka sedang mendapat musibah tapi di sisi hati mereka yang lain. Mereka sangar bahagia bisa berkumpul seperti ini.


Beribu rencana yang telah difikirkan dan dirancang oleh Bu Bambang untuk mempertemukan Pak Bambang dengan putranya Bintang. Tapi ternyata Allah punya rencana sendiri.


Mereka dipertemukan dengan cara seperti ini. Kalau di fikir - fikir memang inilah yang terbaik. Allah tau mana yang baik untuk umatNYA. Karena tadi mereka memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Tegar mereka mengesampingkan ego mereka.


Dan dengan teguran lembut, Allah membuat Pak Bambang cidera dan mengorbankan dirinya demi menyelamatkan anak dan cucunya. Membuat Bintang tersadar betapa besarnya cinta orang tua kepada anaknya.


Begitulah yang dia rasakan kepada Tegar putranya. Hidupnya pun akan dia pertaruhkan demi keselamatan dan kebahagiaan putranya. Seperti itu juga yang dilakukan Pak Bambang untuknya.


Pak Bambang membuka matanya dan melihat seluruh keluarganya satu persatu.


"Tegaaaar... " panggil Pak Bambang lemah.


"Ya Opaaa.... " jawab Tegar. Tegar mendekat ke arah Pak Bambang dan mencium tangan Pak Bambang lembut.


"Opa terimakasih sudah menyelamatkan Tegar tadi. Kalau Opa tidak datang mungkin aku dan Papa yang kena" ucap Tegar sambil menangis.


"Su.. daaah.. jangan menangis.. yang penting kamu sela.. maaat" jawab Pak Bambang.


"Terimakasih Pa... Papa sudah menyelamatkan Tegar" ucap Tiara sambil mencium tangan mertuanya.

__ADS_1


"Kamu sehat kan? Kandungan kamu baik - baik saja?" tanya Pak Bambang.


"Sehat Pa, jangan fikirkan kesehatanku. Yang terpenting kesehatan Papa saat ini" jawab Tiara.


Pak Bambang kini menatap wajah putranya sangat dalam. Air mata mengalir dari sudut matanya.


"Bin.. taaaaang... maafkan Papaaaaa" ucapnya sambil terisak.


Bintang tak tega melihat Papanya kini terlihat tak berdaya. Dengan penuh haru dan kasih sayang Bintang langsung memeluk Papanya.


"Tidak Pa... Bintang yang salah.. Seharusnya Bintang yang meminta maaf kepada Papa. Maafkan Bintang Pa... " Bintang kembali menangis saat berpelukan dengan Papanya.


Hubungan darah lebih kental dari pada air. Dan tidak akan bisa terhapus walau apapun yang terjadi. Seperti itulah perasaan mereka saat ini.


Rasa marah, kesal dan emosi selama bertahun - tahun kini hilang sudah digantikan oleh rasa takut kehilangan. Ternyata mereka masih diberikan kesempatan bertemu dengan cara seperti ini.


"Papa banyak bersalah pada kamu. Papa selalu mengabaikan keberadaan kamu. Merebut dan menghancurkan kenangan masa kecil kamu. Harusnya Papa yang menggoreskan kenangan indah dalam ingatan kamu tapi Papa malah menorehkan luka dalam memory di otak kamu. Papa tak pernah memberikan perhatian kepada kamu. Papa selalu membuat kamu kecewa dan Papa melupakan dan mengabaikan kamu nak. Maafkan Papa" ucap Pak Bambang terisak.


"Sudah Pa... sudah.. aku sudah memafkan Papa. Semua tidak sepenuhnya kesalahan Papa. Papa melakukannya juga demi aku kan. Demi masa depan dan demi kebahagiaanku. Aku yang salah mengartikannya dan tidak sabar, aku suka memberontak dan melawan perkataan Papa sehingga aku lari dan keluar dari rumah. Aku fikir aku bisa hidup tanpa kalian tapi nyatanya.. aku selalu merindukan kalian. Aku selalu ingin pulang hanya saja egoku lebih besar Pa. Aku malu untuk mengakui kesalahanku. Aku menyakiti diriku sendiri dengan membunuh rasa rindu itu menggantikannya dengan rasa benci" ungkap Bintang.


"Mengapa kamu tidak pulang nak... Papa selalu menantikan kamu pulang. Papa selalu menunggu kamu kembali dan memeluk Papa. Sudah biasa seorang anak itu nakal tapi senakal nakalnya seorang anak pasti Papa sebagai orang tua akan memaafkannya. Mengapa kamu tersinggung dan malah pergi dari rumah. Hati Papa sangat sakit ketika kamu pergi. Papa telah gagal menjadi orang tua" sambut Pak Bambang.


"Tidak Papa tidak gagal. Papa mendidikku dengan cara Papa sendiri. Aku tai diluar sana Papa terus memantau kegiatanku, memantau perusahaanku dan diam - diam membantuku. Berapa kali Papa mencoba untuk menjatuhkan aku tapi aku sadar itu semua untuk membuat aku kuat karena dunia diluar sana sangat kejam. Dunia bisnis sangat berbahaya. Papa mampu membuat aku sekeras karang menempah aku menjadi sosok petarung dan tak kenal rasa takut. Dulu mungkin aku berfikir Papa melakukannya karena ingin aku jatuh tapi sekarang aku sadar apa yang aku fikirkan itu salah. Papa sangat menyayangiku.. Papa mencintaiku dan Papa rela mengorbankan hidup untukku. Terimakasih Pa.. terimakasih atas kasih sayang Papa selama ini. Terimakasih atas perhatian Papa selama ini dan terimakasih atas cinta Papa padaku selama ini" Bintang mengecup lembut kening Papanya.

__ADS_1


"Terimakasih juga nak, kamu adalah hidupku. Kamulah kebahagiaanku dan kamu adalah masa depanku. Aku tak bisa hidup tanpa kamu. Maafkan Papanya yang kerasa ini yang tak tau cara mencurahkan kasih sayangnya kepada anaknya. Membuat kamu salah sangka dengan arti kasih sayang yang Papa berikan kepada kamu" Pak Bambang mengelus lembut rambut Bintang.


Sudah lama sekali mereka tidak saling mencurahkan perasaan mereka yang terdalam. Tidak mengakui perasaan masing - masing dan sudah lama juga tidak berkasih sayang seperti saat ini.


Mereka terus menangis dalam pelukan. Tiara dan Bu Bambang juga sedang berpelukan hanya Tegar yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Tapi karena dia masih kecil dan belum mengerti apapun dia hanya ikut menangis melihat orang - orang yang dia sayang juga sedang menangis saat ini.


Mang Kardi dan Bik Sumi yang baru tiba di rumah sakti juga ikut menangis menyaksikan dua orang tersayang di dalam rumah mereka kini sudah berdamai. Berdamai dengan orang tersayang mereka, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan waktu dan yang terhebat mereka berdamai dengan diri sendiri.


Mereka menang dari rasa benci, menang dari rasa dendam dan menang dari godaan setan yang selalu meniupkan godaan - godaan mereka untuk terus saling bermusuhan.


Bintang dan Pak Bambang sudah menang. Menang dalam cobaan hidup yang sudah bertahun - tahun mereka lalui.


Kini semua dapat bernafas dengan lega, semua bisa tersenyum bahagia. Tangisan ini adalah tangisan kebahagiaan.


Tiba - tiba pintu ruang rawat inap Pak Bambang terbuka dan muncullah Siti, Ibunya Tiara beserta dua adik Tiara dan Bagas.


"Tiara... Tegaaaar.. Bintaaaang... " panggil Siti dengan wajah penuh ke khawatiran.


"Ibu... " Tiara langsung berlari menyambut kedatangan Ibunya.


"Apa yang terjadi nak, mengapa ini sampai terjadi? Bagaimana keadaan kamu dan keluarga kamu?" ....


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2