
Tiara menanggapinya dengan anggukan kepala. lalu dengan perlahan, ia menarik tas nya yang sedari tadi di punggung.
membukanya saat sudah ada di hadapannya, ia kemudian mengeluarkan sebuah dompet kecil berwarna biru.
Membuka dompet itu, disana terlipat rapi beberapa lembar uang yang nominal nya cukup besar.
Ia memang selalu membawa uang yang segitu banyak nya setiap hari ke sekolah. dan alasannya hanya satu. "Untuk persiapan biaya, siapa tau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. dan kami tidak ada di sana." Itu lah yang ayah nya katakan.
Tiara sendiri menyadari bahwa uang ini sangat tidak di perlukan oleh nya. bukan kah ia selalu di antar dan di jemput oleh ayah nya ketika waktu berangkat dan pulang sekolah tiba?? lalu biaya mendadak apalagi yang ia butuhkan di saat keamanan nya sendiri selalu terjaga.
Namun tiara tau bahwa ini semua demi ke baikan nya. jadi, ketimbang menghabiskan waktu untuk menolak uang pemberian ayah nya itu, lebih baik ia langsung terima saja. toh ia juga tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan nanti.
Dan saat ini, uang itu tengah berada di dompet nya. Ia sadar bahwa sebentar lagi ia akan pergi. dan segala sesuatu yang ada padanya juga akan menghilangkan begitu saja. jadi, daripada uang nya menghilang dan tak terpakai, lebih baik ia memberikan nya saja kepada anak yang sangat memiliki tekad yang tinggi ini.
" Moran, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. tapi sebelum itu, kau harus berjanji, sejanji-janjinya kalau setelah aku mengatakan apa yang ingin ku katakan, apapun yang akan ku berikan di penghujung kata, kau akan menerima nya." Berbicara sembari menatap penuh harap ke arah Moran.
Disisi lain, Moran yang mendengar nya tak bisa tak semakin mengernyitkan alis nya. bukankah barusan anak ini sedang tidak dalam keadaan mood yang kurang bagus?? dan lagi, tadi kan anak ini sudah bercerita, lalu apalagi yang ia mau katakan sekarang.
Berfikir begitu, Moran kemudian hanya bisa menghela nafas. sembari mengatakan " Baik lah.. Sebisa mungkin aku akan menerimanya."
"Benneran ya... awas kalau kamu menipu dan tidak menuruti janjimu."
" Iya,.. Aku janji. tapi ngomong-ngomong kamu mau ngasih aku apa??" Bertanya dengan penuh penasaran.
" Aku akan mengatakan nya nanti. tapi sebelum itu, aku akan sedikit bercerita dulu.
Jadi dulu itu, aku pernah bermimpi kalau aku pergi ke masa depan.
di dalam mimpiku itu, pada gambaran masa depan, tekhnologi sudah semakin canggih dan segala sesuatu nya terbuat dari mesin yang bergerak sendiri atau kata lain nya Robot.
Saat aku bermimpi itu, aku juga menemukan bahwa tenaga manusia tidak terlalu di perlukan lagi. semua bergantung pada robot. dan manusia hanya bertugas untuk mengontrol pekerjaan robot saja.
__ADS_1
kau tau, dalam mimpi itu aku sangat heran dan sedikit kagum. Segala sesuatu yang kutemui terlihat sangat keren dan luar biasa.
Tak ada kata yang bisa menggambarkan kekaguman ku selain kata luar biasa. dan kau tau apa yang paling ku kagumi, Orang-orang di masa depan dalam mimpiku itu, sangat luar biasa. Otak mereka sangat kreatif dan digunakan dengan baik.
Bukan hanya robot saja yang mereka ciptakan. tapi berbagai produk kecantikan yang bisa langsung merubah wajah manusia menjadi sangat cantik juga ada. Kalau tidak salah, dalam mimpiku mereka menyebutnya 'Skincare dan Operasi plastik.' Aku tidak tau apa yang mereka lakukan atau gunakan dengan jelas. tapi yang pasti, dalam waktu 10 tahun kedepan dalam mimpiku itu, semua akan sangat berbeda." Menghela nafas dan menjeda.
" Apa kau mengerti tentang apa yang aku katakan??"
Moran sedikit bingung dengan cerita Tiara. bukan kah katanya dia hanya bermimpi?? tapi kenapa rasanya, semua yang dialami nya merupakan pengalaman pribadi di dunia nyata nya??
" Jujur saja, aku tidak terlalu mengerti tentang apa yang kau katakan. karna kau juga mengatakan kalau kau hanya menceritakan apa yang kau lihat dalam mimpimu."
Tiara yang mendengar nya tak bisa tak langsung Menghela nafas panjang. ia sadar kalau ia tak bisa menyalahkan anak yang di samping nya ini. karna bagaimana pun, kata-kata yang ia ucapkan barusan ia katakan merupakan bagian dari mimpinya. dan lagipula, berdasarkan usia dari Moran yang masih terbilang muda, bukan saat tepat untuk ia menceritakan tentang masa depan yang sebenarnya akan terjadi kepadanya.
" Kau tau, aku sangat percaya bahwa apa yang ada di dalam mimpiku itu akan menjadi kenyataan dalam beberapa tahun ini. dan aku mengatakan nya padamu, karna aku tau kalau kau itu pintar dan bisa dengan cepat langsung tanggap mengerti tentang penjelasan ku itu.
Dan satu lagi, aku tau kalau kau juga sedang memikirkan masa depan mu sendiri. Aku tau kalau kau tidak yakin dengan kehidupan mu yang kau pilih sekarang. karna bagaimana pun hidup di jalanan itu tidak enak.
Pilihan masa depan mu sendiri kau masih tidak tau. mau jadi apa kau di masa depan, dan apa tujuan hidup mu pun kau masih tidak tau.
peluang mu untuk sukses sangat besar. tekad mu sangat kuat dan itu bisa ku lihat dari matamu.
Maka dari itu aku percaya kalau kau bisa mewujudkan itu dengan menjadi salah satunya."
Menjeda lagi dan langsung menatap Moran yang mendengarkan ceritanya dengan tatapan tidak yakin.
" Kenapa aku merasa bahwa kau sangat mengenalku walau kita masih baru pertama kali bertemu ya.. aku merasa kalau kau tau apa saja apa yang ada di pikiran ku. bahkan pertanyaan yang hanya ku simpan rapi di hatiku ku pun kau tau."
Matahari sudah semakin terbenam. Waktu Tiara pun sudah tinggal sedikit lagi. Tiara sudah tidak punya waktu untuk sekedar bercanda lagi dengan anak di samping nya ini. namun mendengar perkataan Moran barusan, Tiara tidak bisa tak sedikit tertawa.
" Hahaha. Kau tau, Gurat wajah dan air di matamu itu bisa mengatakan dengan jelas tentang apa yang kau rasakan sekarang kepadaku.
__ADS_1
Aku bisa tau dengan jelas apa yang kau rasakan. dan aku juga bisa langsung tau dengan bagaimana perasaan mu saat ini." Menggelengkan kepala pelan lalu langsung menarik nafas dalam.
" Apa yang lucu dari kata-kata ku barusan??" Moran tidak tau bagian mana dari kata-kata nya barusan yang lucu. ia hanya menyuarakan apa yang ia pikirkan. tapi kenapa Tiara malah menanggapinya dengan tawa..
" Tidak ada yang lucu memang. aku hanya ingin tertawa saja saat mendengar ucapan mu." Tersenyum sebentar lalu melanjutkan.
"oh ya, aku ingin kau menepati janjimu yang tadi, sekarang." Suasana kembali menghening. baik Tiara maupun Moran tidak ada yang membuka suara.
Suara angin yang bertiup kembali terdengar di telinga Tiara. Cahaya sang mentari senja pun telah perlahan memudar. Sedikit lagi.. tinggal sedikit lagi..
" Disini aku punya Sedikit uang. Aku ingin kau menggunakan nya untuk masa depan mu. aku tak ingin kau menggunakan nya untuk berfoya-foya." Menarik uang dari dompet lalu langsung memasukkan nya ke tangan Moran lagi.
Moran terkejut lagi. dan kali ini ia sangat terkejut hingga rasanya jantung nya akan melompat keluar. ia tak percaya bagaimana bisa ada orang seperti Tiara, sang anak yang baru saja menyelamatkan nyawanya, membantu biaya Makannya dan kini memberikan sedikit modal untuk masa depan nya?? bukan kah ini sedikit berlebihan dan keterlaluan...
" Ti..Tiara,... apa ini. kau jangan begini kepadaku.
A..aku tak ma.."
" Jangan menolak. karna aku tidak akan mau menerima penolakan mu itu." Memotong dengan tegas perkataan yang bahkan belum selesai di ucapkan oleh Moran itu.
" Aku akan pergi sebentar lagi. dan kau tau, setelah aku pergi, segala yang ada padaku sekarang tidak akan ada gunanya lagi. jadi, ku mohon tolong hargai pemberian ku dan terima saja."
Waktu kembali berlalu dengan cepat. kini, matahari telah hampir sepenuh nya terbenam. Tiara saat ini seperti tengah berlomba dengan waktu. ia sudah tidak punya waktu lagi untuk bercakap-cakap dengan Moran. jadi dengan sekali tarikan tangan, uang itu sudah ada di tangan Moran dan Tiara langsung bangkit berdiri.
" Kau tau, aku percaya bahwa kau bisa untuk meraih masa depan yang baik. Jangan kecewakan kepercayaan ku. maju dan bangkit lah. karna masa depan yang cerah sedang menantimu.
sekian dulu pertemuan kita untuk saat ini. di masa depan, aku berharap semoga kita akan bisa bertemu lagi. Jadi, selamat tinggal Moran.."
Tanpa memperhatikan ekspresi Moran, Tiara langsung saja berlari sekuat tenaga. ia tau bahwa waktunya sudah habis sekarang. jadi ia hanya bisa pergi untuk mencari tempat yang sepi supaya ia bisa menghilang dengan damai tanpa ada yang melihat.
Tepat dua puluh meter dari tempat nya berlari sebelum nya, terdapat sebuah pohon yang besar nya sedikit melebihi besar pohon yang ia dan Moran tempati sebelum nya. Dan karna Tiara hanya melihat pohon ini yang ia bisa gunakan, Tanpa memikirkan apapun lagi, Tiara langsung bergegas ke sana.
__ADS_1
Tempat yang sepi dan malam yang hampir datang menemani Tiara yang saat ini tengah mengatur nafas nya. Sembari menarik nafas panjang Tiara hendak berucap." Ah, lelahnya.." Namun sebelum kata-kata itu terucap, angin dingin yang akan membawa nya kembali tubuh aslinya telah menerpanya hingga membuat nya menghilang seiring dengan hembusan angin malam yang tiba tiba berhembus kencang.
~Bersambung~