Tiara

Tiara
Nasehat Ridho


__ADS_3

Dua minggu kemudian Tiara mengambil cuti ke Jakarta. Dia sudah berjanji pada Ibu dan kedua adiknya untuk bertemu dengan mereka.


"Assalamu'alaikum Tante Ai.... " panggil Tegar yang baru sampai di rumah Ridho dan Tari.


"Wa'alaikumsalam anak Tante yang ganteng. Uh sekarang kamu sudah besar banget ya" jawab Tari.


"Tante perutnya kok gendut, banyak makan ya?" tanya Tegar dengan polos.


"Di perut Tante kamu ini ada adeknya Gar, sebentar lagi kamu akan jadi seorang Kakak" ucap Ridho.


"Ow yaaaah? Serius Pa?" tanya Tegar tidak percaya.


"Serius donk sayang, Papa kan juga pengen punya anak sepintar dan seganteng kamu" balas Ridho sambil mengelus kepala Tegar.


"Sudah berapa bulan Tar?" tanya Tiara.


"Tiga jalan empat Ra. Kamu ada meeting di Jakarta?" tanya Tari.


"Nggak, aku cuti tiga hari mau ketemu Ibu dan adik - adikku. Mereka kangen dan pengen ketemu langsung sama Tegar. Adik - adikku kan belum pernah ketemu Tegar langsung" jawab Tiara.


"Kamu sudah bisa berhubungan dengan Ibu kamu lagi?" tanya Ridho.


"Sudah Dho, tiga bulan yang lalu waktu terakhir aku ke Jakarta dan gak ketemu kalian karena kalian pulang kampung. Aku gak sengaja ketemu Ibu. Aku suruh Ibu beli HP baru dan sejak saat itu kamu aktif berhubungan" ungkap Tiara.


"Syukurlah, hati - hati Ra. Nanti Bapak kamu tau lagi, Ibu kamu yang jadi sasarannya" ucap Ridho mengingatkan.


"Iya Dho, aku sudah bilang sama Ibu untuk hati - hati. Besok mereka juga perginya gak barenganan kok dari rumah. Ali izin bermain dengan temannya sedangkan Dewi alasan belajar di rumah teman. Kalau Ibu undangan ke rumah temannya satu pabrik" ujar Tiara.


"Semoga pertemuannya lancar dan tidak ada masalah lagi" balas Ridho.


"Aamiin... Eh kami numpang nginap di sini ya" ucap Tiara.


"Ra.. Ra.. kamu kayak sama siapa aja" jawab Tari.


Mereka tersenyum bersama.


"Mama aku mau hubungi Papa ya, aku mau bilang kalau aku lagi di Jakarta" ucap Tegar.


"Iya sayaaaaaang" jawab Tiara sambil mengeluarkan hpnya dan memberikannya kepada Tegar


"Ya sudah sana telepon Papa nya di kamar aja. Biar kamu tidak terganggu teleponan sama Papa kamu" ucap Ridho.

__ADS_1


"Oke Papa Dho... " Tegar langsung masuk ke kamar tamu tempat dia dan Mamanya biasa tidur setiap ke rumah Ridho.


Tegar mencari nama Bintang di HP Mananya dan segera menghubunginya.


"Assalamu'alaikum Papa" sapa Tegar ceria.


"Wa'alaikumsalam sayaaaang... Kok tumben kamu telepon Papa. Papa baru saja mau berangkat ke Bandung nih" jawab Bintang.


"Jangan Pa.. Jangan ke Bandung, aku sama Mama baru saja nyampai Jakarta" cegah Tegar.


"Kamu sekarang di Jakarta? Kok Mama kamu gak ada cerita sama Papa? Untung saja Papa belum berangkat ke Bandung. Kamu sekarang dimana sayang?" tanya Bintang.


"Aku lagi di rumah Papa Dho Pa" jawab Tegar.


"Coba kamu tanya sama Mama. Papa boleh gak datang ke sana?" tanya Bintang.


"Sebentar ya Pa... " Tegar berlari keluar dan menemui Papnya.


"Ma.. ini Papa mau bicara" Tegar memberikan hpnya kepada Tiara.


"Assalamu'alaikum Mas" sapa Tiara.


"Wa'alaikumsalam salam Ra. Kamu kok gak bilang kalau mau ke Jakarta. Aku baru aja mau berangkat ke Bandung ini. Untung tegar telepon kalau tidak zonk donk aku nyampe Bandungnya" komplain Bintang.


"Ya sudah aku mau ketemu Tegar. Boleh gak aku main ke sana? Lagian aku sudah kadung keluar dari kantor mau ke Bandung tadi" tanya Bintang.


"Boleh. Mas datang aja ke Komplek. xxx" jawab Tiara.


"Oke, aku langsung ke sana ya. Satu jam lagi aku akan sampai di situ" ucap Bintang.


"Kenapa Ra?" tanya Tari.


"Mas Bintang mau ke sini ketemu Tegar" jawab Tiara.


Tiara memberikan kembali ponselnya kepada Tegar dan tegar masih melanjutkan pembicaraan dia dan Bintang di telepon.


"Mau ketemu Tegar atau Mamanya Tegar?" goda Tari.


"Apa sih Ai. Ya ketemu Tegarlah" balas Tiara.


"Mau sampai kapan kalian seperti ini Ra. Kalian mengurus Tegar bersama - sama tanpa status dan ikatan. Itu merusak pertumbuhan Tegar Ra. Lama kelamaan dia akan bertanya mengapa dia berbeda dengan teman - temannya. Mereka punya Papa dan Mama lengkap yang tinggal satu atap. Tapi dia tidak, Papanya hanya bisa datang akhir pekan itupun menginap di Hotel" nasehat Ridho.

__ADS_1


Ridho benar, Tegar mulai banyak pertanyaan mengapa mereka tidak bisa tidur bersama, mengapa tidak menikah dan masih banyak pertanyaan lainnya.


"Dan satu lagi Ra, kamu harus menentukan masa depan kamu. Kamu pantas bahagia. Tidak mungkin kamu hidup seperti ini terus. Kamu harus menikah Ra, mempunyai sebuah keluarga. Mengapa kamu dan Mas Bintang tidak menikah saja" sambung Ridho.


"Aapaaa.. aku dan Mas Bintang tidak ada perasaan apapun Dho" jawab Tiara ragu.


"Belum Ra, jadikan Tegar sebagai alasannya. Lambat laun cinta pasti akan tumbuh. Atau kalau kamu sudah menyukai orang lain saran aku secepatnyalah kamu berkeluarga. Aku rasa Mas Bintang pasti akan mengerti. Kalau memang dia menyukai kamu pasti dia akan mengejar kamu dan tidak mau kehilangan kamu Ra" tegas Ridho.


Tiara terdiam mendengar nasehat Ridho. Sebenarnya sudah dua minggu ini dia sedang galau. Sejak Roy memberikan ultimatum kedua dan akan menagih jawab Tiara dua minggu lagi.


Hatinya masih ragu untuk menerima atau menolak Roy. Sementara entah mengapa sejak kejadian di Ciater kemarin Tiara merasa canggung dan kaku setiap bersama dan bertemu Bintang.


Tari seperti mengerti perasaan Tiara, dia meminta Ridho untuk meninggalkan mereka berdua saja.


"Kamu fikirkan lagi Ra, aku bermain dengan Tegar dulu ya" ucap Ridho. Ridho berlalu meninggalkan istrinya bersama Tiara.


"Ra ada apa? Kenapa kamu diam saja? Ada yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanya Tari lembut.


Tiara langsung memeluk Tari.


"Ai.. aku harus bagaimana? Dua minggu yang lalu Mas Roy mengutarakan perasaannya untuk kedua kalinya. Dia memberiku batas waktu dua minggu lagi untuk menjawab perasaannya" ungkap Tiara.


"Kamu menyukainya?" tanya Tari.


Tiara menggelengkan kepalanya.


"Aku gak tau Ai, aku bingung. Mas Roy memang baik, bertanggung jawab dan serius. Tapi aku.. setiap bersama dengannya perasaanku biasa saja. Tidak ada perasaan lain yang hadir Ai. Aku harus bagaimana?" tanya Tiara bingung.


"Trus.. kalau dengan Bintang?" tanya Tari.


Tiara menghembuskan nafasnya panjang.


"A.. aku bingung Ai. Apakah aku bisa berharap padanya? Bukankah bagi wanita lebih baik di cintai dari pada mencintai? Tapi mengapa aku tidak bisa menerima Mas Roy dengan mudah?" tanya Tiara.


Air mata Tiara mulai menetes.


"Jadi kamu mencintai Mas Bintang?" ....


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2