
Terlalu banyak yang di fikirkan Bintang saat ini, sehingga sedikitpun dia tidak terpengaruh dengan keberadaan Siska tadi di Butik.
Bintang sedang memikirkan kelancaran acara pernikahannya dan juga keadaan orangtuanya. Sudah beberapa hari ini ucapan Mamanya kemarin waktu Bintang datang ke rumah mereka terus terngiang-ngiang di telinganya.
Flashback On
"Papa kamu terkena serangan jantung dan baru menjalani operasi pemasangan cincin di jantungnya"
flashback Off
Itulah perkataan Mamanya yang terus dia fikirkan beberapa hari ini.
Walau dia masih membenci Papa nya tapi pertalian darah tidak bisa dipungkiri. Bintang terus memikirkan keadaan Papanya.
Bagaimana keadaan Papanya saat ini? Apakah Papanya baik - baik saja? Dan siapa yang mengurus perusahaan Papanya saat Papanya sakit seperti ini?
Jam tiga sore Bintang sudah sampai di kompleks rumah Tiara. Tenda sudah terpasang dan sedang di hias. Bu Siti dan adik - adik Tiara juga baru sampai tiga puluh menit yang lalu.
Ridho dan istrinya Tari terlihat juga sudah hadir di sana. Rumah Tiara sudah ramai dengan keluarga dan sahabat dekat.
"Mas Bintang baru datang?" tanya Tiara.
"Iya Ra baru aja. Nih baju kita buat acara besok" Bintang menyerahkannya kepada Tiara.
Tiara menyambutnya dan menyimpannya ke dalam kamar. Setelah itu dia kembali menemui Bintang yang sedang asik menyamperin Tegar yang sedang main di ruang TV.
"Mas datang sendiri? Orang tua kamu mana?" tanya Tiara.
"Aku sudah datang ke rumah Papa dan Mama Ra, aku sudah ketemu sama Mama tapi maaf mereka tidak bisa datang. Papa baru keluar dari rumah sakit, dia baru terkena serangan jantung dan baru saja menjalani operasi pasang ring di jantungnya" ungkap Bintang.
"Ya Allah Mas, tapi Papa kamu gak apa - apa kan Mas?" tanya Tiara khawatir.
"Alhamdulillah baik, dia sedang pemulihan pasca operasi jadi tidak boleh capek dan juga harus stabil. Tidak boleh emosi dan banyak fikiran" sambung Bintang.
"Pantas wajah Mas murung, namanya juga Papa Mas pasti Mas khawatir kan? Ya sudah Mas yang peting kita terus berdoa buat kesembuhan Papa Mas. Nanti kalau sudah menikah, kita kan bisa datang dan main ke rumah Papa dan Mamanya Mas Bintang" ucap Tiara menenangkan.
"Makasih ya Ra kamu sangat pengertian" balas Bintang.
"Maaas kita menikah gak sampai sehari lagi. Apapun permasalah diantara kita, kita hadapi bersama. Bahagia kamu adalah bahagiaku begitu juga kesedihan kamu juga akan menjadi kesedihanku Mas" ungkap Tiara memberi semangat.
__ADS_1
"Kamu memang baik banget Ra, aku sangat beruntung bisa menikah dengan kamu" sambung Bintang.
"Yuk Mas aku kenalkan sama Pakdeku yang baru sampai dari kampung" ajak Tiara.
Mereka berjalan ke depan menuju ruang tamu merangkap ruang keluarga. Disana sudah berkumpul Ibu Tiara dan beberapa keluarga Tiara dari kampung.
"Pakde, Bukde kenalkan ini Mas Bintang" ucap Tiara memperkenalkan Bintang pada keluarga besarnya.
"Ini toh yang namanya Bintang. Cakep banget ya Sit, Tiara emang pintar pilih suami" Ucap Bukde Tiara.
Tiara hanya tersenyum malu - malu.
Bintang mencium tangan seluruh keluarga besar Tiara yang datang dari kampung.
"Oh iya Nak Bintang datang sendiri? Keluarganya mana?" tanya Pakde Tiara.
"Maaf Pak De, Papa dan Mama saya tidak bisa datang menghadiri pernikahan saya dan Tiara karena Papa saya baru saja terkena serangan jantung dan pasang ring di jantungnya. Jadi pesan dokter belum boleh bepergian jauh takut kecapekan yang bisa mengakibatkan beliau terkena serangan jantung susulan" jawab Bintang.
"Tapi Papa kamu sudah tidak apa- apa kan Bin?" tanya Ibu Tiara terkejut.
"Sudah baik Bu, tinggal pemulihan" jawab Bintang.
"Aamiin..terimakasih Bu" balas Bintang.
"Jadi gimana rencana besok, bisa kamu jelaskan pada Pakde agar Pakde bisa bersiap - siap?" tanya Pakde Tiara.
"Besok akan nikah jam delapan pagi Pakde, dan kami harap Pakde bersedia menjadi wali nikah Tiara" jawab Bintang.
"InsyaAllah saya siap. Itu memang sudah tugas saya sebagai warisnya Tiara, kakak kandung dari Bapak kandungnya Tiara. Maaf kami sudah lama tidak mendapat kabar dari Bapak kandung Tiara dimana saat ini keberadaannya" ungkap Pakde Tiara.
"Tiara sudah menceritakan semuanya kepada saya. Saya tidak mempermasalahkannya dan saya menerima Tiara apa adanya. Yang penting Pakde bisa menikahkan kami secara sah besok" balas Bintang.
"Kami sangat senang, ponakan satu - satunya akhirnya menikah juga walau awalnya kami mendengar berita yang tidak sedap tapi kami sudah bisa menerimanya sekarang" ungkap Pakde.
"Maaf apa yang terjadi pada kami lima tahun yang lalu adalah diluar kesadaran kami. Dan kami tidak saling kenal dan bertemu setelah beberapa tahun. Baru sekitar enam bulan belakang ini saya tau kalau Tegar adalah putra saya yang dilahirkan Tiara. Saya juga mohon maaf kalau sudah membuat nama keluarga besar Pakde dan Ibu jadi jelek karena perbuatan kami" jawab Bintang Tegas.
"Semua sudah berlalu, yang penting kan kalian sudah bertobat, mengakui kesalahan kalian dan tidak mengulanginya lagi. Manusia diberi akal fikiran untuk tidak jatuh di lobang yang sama" nasehat bijak dari Pakde.
"Iya Pakde, InsyaAllah kami akan membangun rumah tangga dengan serius dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya" sambut Bintang.
__ADS_1
"Aamin... " sambut yang lainnya.
"Terus setelah akad nikah apa lagi acaranya?" tanya Bukde Tiara
"Setelah akad nikah, acara bebas Bukde syukuran atas pernikahan kami. Acaranya berlangsung sampai sore hari" jawab Tiara.
"Waaah kalau begitu kita sempat pulang sore Buk. Maaf ya nak Bintang, Tiara dan Siti. Kami tidak bisa tinggal lebih lama di sini. Kami harus segera balik ke kampung karena hari minggu ada pesta dari keluarga Bukde kamu, yang harus kami hadiri juga. Keluarga dekat dan rumah kami juga bertetangga. Jadi sangat tidak enak kalau kami tidak datang. Kami harap kalian bisa mengerti" ungkap Pakde Tiara.
"Iya Mas gak apa - apa. Mas udah datang saja kami sudah sangat senang sekali" sambut Siti.
"Kamu bagaimana kabarnya Sit? Bukannya kamu sudah menikah lagi sejak lama? Mana suami kamu? Mengapa kamu tidak memperkenalkannya kepada kami?" tanya Bukde Tiara.
"A.. anu Mbak, dia gak bisa datang karena ada pekerjaan, maaf" jawab Siti terbata - bata.
"Ooo.. ya sudahlah yang penting acara besok berjalan dengan lancar itu sudah lebih dari cukup" Ujar Pakde Tiara.
"Aamiin.... " sambut yang lain beramai-ramai.
"Kalau begitu Pakde dan Bukde istirahat saja dulu di kamar Tegar ya.. Kan capek baru perjalanan jauh" ucap Tiara.
"Sudah Ra, antarin dulu Pakde dan Bukde kamu ke kamar Tegar" suruh Siti.
Kini tinggal Bintang dan Siti di ruang keluarga.
"Bu, Tiara sudah ada belum bilang sama Ibu tentang rencana kami setelah pesta besok?" tanya Bintang malu - malu.
"Sudah.. kamu tenang saja ya. Tegar biar Ibu, Dewi dan Ali yang jaga. Kamu honeymoon saja di hotel walau hanya satu hari. Minggu sore kami bisa kok pulang ke Jakarta. Ibu sudah izin sama Bapaknya Tiara" jawab Siti.
Bintang tersenyum mendengar jawaban calon mertuanya.
"Maaf ya Bu kalau ini mencampuri masalah keluarga Ibu. Ibu kok betah sih tinggal dan hidup sama Bapak yang seperti itu? Sampai kapan Ibu akan hidup seperti ini? Ibu gak mau kehidupan Ibu berubah lebih tenang dan bahagia lagi?" tanya Bintang.
"Ma.. maksud kamu bagaimana Bintang?" tanya Siti.
"Aku mengatakan ini karena aku sudah menganggap Ibu sebagai orangtua aku sendiri. Ibu mau gak tinggalin Bapak dan pindah sama Dewi dan Ali ke sini? Ke Bandung? Aku bisa bilang sama Roy, Ibu saja yang menggantikan Tiara di sini. Atau aku beli saja sekalian Cafe Roy, biar Ibu yang kelola?" tanya Bintang.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG