
Tiga hari kemudian..
Bagas pulang lebih malam dari biasanya, karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan sampai selesai. Mungkin karena lelah wajahnya terlihat kusut dan letih tidak seperti biasanya.
Saat Bagas sampai di apartemen, Dewi menyambutnya dengan senyum ceria. Dewi meraih tangan Bagas dan menciumnya. Kemudian Dewi meraih tas kerja Bagas dan meletakkannya di atas meja.
"Lama banget pulangnya hari ini Mas?" tanya Dewi.
"Iya, ada kerjaan yang harus Mas selesaikan" jawab Bagas.
"Sudah makan?" tanya Dewi.
"Belum, tadi sekretaris aku sempat nawarin pesan makanan tapi aku gak mau. Nanggung sebentar lagi pulang mending makan di rumah aja masakan istri" jawab Bagas.
Dewi menyiapkan pakaian Bagas dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Mas mandi dulu ya biar aku panasin makanan. Setelah itu shalat, baru kita makan. Kalau shalatnya setelah makan pasti berat banget" ujar Dewi.
"Iya sayang" jawab Bagas patuh.
Rasanya tubuhnya sangat letih hari ini. Mungkin kalau dia berendam sebentar tubuhnya akan kembali segar.
Bagas segera masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Dewi bergegas menuju dapur. Hari ini dia masak semur ayam dan sayur capcay.
Dewi menyiapkan peralatan makan di atas meja kemudian dia segera menghidangkan makanan dan menatanya di atas meja.
Tak lama kemudian Bagas keluar dengan masih memakai baju koko dan kain sarung. Pasti suaminya itu baru selesai shalat, pikir Kinan.
"Wangi banget sayang. Kamu masak apa?" tanya Bagas.
"Nih aku masak semur ayam dan sayur capcay. Mas suka?" tanya Dewi.
"Suka.. aku suka apapun yang kamu hidangkan" jawab Bagas.
Bagas segera duduk di kursi dan menunggu Dewi mengambilkan makanan untuknya.
"Kamu juga belum makan?" tanya Bagas begitu melihat Dewi juga mengambil makanan.
"Iya aku nungguin Mas dari tadi" jawab Dewi.
"Yank kalau kamu lapar makan aja duluan, jangan nungguin aku. Kasihan kan kamu pasti udah lapar dari tadi" perintah Bagas.
"Nggak kok Mas. Aku memang belum lapar tadi" balas Dewi.
Akhirnya mereka makan malam bersama. Seperti biasa setelah selesai makan Dewi segera membersihkan peralatan makan dan dapur.
Bagas kembali ke kamar dan mengganti bajunya. Dia mengganti baju shalatnha dengan baju kaos dan celana pendek. Setelah itu Bagas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aaaah nyaman sekali kalau sudah sampai di rumah. Disambut dengan senyuman istri, disajikan masakan dengan bumbu cinta dan dilayani dengan baik. Indahnya berumah tangga... Ternyata aku menikah diwaktu yang tepat dan dengan orang yang tepat juga. Kalau dulu aku menikah cepat sudah pasti bukan Dewi istriku, karena Dewi pasti masih kecil saat itu. Ternyata Allah punya rencana lain, aku bertemu Dewi di saat yang tepat" gumam Bagas sendirian di kamarnya.
__ADS_1
Tak lama Dewi menyusulnya ke kamar.
"Baru makan kok langsung tiduran Mas. Nanti kamu gendut lho" komentar Dewi.
"Aku letih sekali hari ini sayang" jawab Bagas.
Tapi besok kan weekend Mas, hari libur" ujar Dewi.
"Iya, justru itu. Lebih baik aku istirahat malam ini, besok aku jadi lebih segar dan siap menemani dan membawa kamu kemana saja" sambut Bagas.
"Yaah sayang sekali... " gumam Dewi kecewa.
"Sayang sekali apa?" tanya Bagas.
"Gak ada" jawab Dewi cepat. Dewi tampak malu - malu.
"Kamu mau ngajak aku pacaran?" tanya Bagas.
"Ng.. gaaaak" elaj Dewi dengan cepat.
"Hayo.. ngaku aja. Ngapain malu - malu.. kalau untuk itu aku masih kuat kok dan langsung segar" goda Bagas.
"Ngga.. gaak Maaas. Mas istirahat aja dan tidur" ujar Dewi. Dewi langsung menjauh.
Bagas memperhatikan tampilan Dewi. Dewi pakai lingerie yang paling sexy malam ini. Sejak awal Bagas selalu menyuruh Dewi memakai baju itu tapi Dewi menolak karena alasannya dia malu tapi malam ini Dewi sengaja memakai lingerie sexy berwarna hitam.
"Kok kamu pakai baju yang ini malam ini sayang? Kamu sengaja mau godain aku ya" goda Bagas.
"Maaas jangan gitu ah, aku kan jadi malu" ucap Dewi.
"Sama suami sendiri kok malu. Kalau kamu yang pengen pacaran katakan aja yank, jangan malu - malu. Aku malah senang sekali jika kamu yang punya inisiatif lebih dulu. Itu artinya kamu juga menikmati dan menyukainya. Tidak terpaksa karena aku yang memintanya" ujar Bagas.
Dewi tertuntuk malu. Bagas langsung mendekati istrinya.
Hemmm... wangi istrinya juga berbeda malam ini. Sepertinya istriku ini memakai parfum sebelum naik ke atas tempat tidur tadi. Malam ini kamu memang benar - benar berniat ingin menggodaku ya sayaaaang... Batin Bagas bersorak gembira.
"Kamu wangi sekali sayang" puji Bagas.
"Kamu suka?" tanya Dewi malu.
"Suka, semua tentang kamu aku suka. Apalagi kalau kamu malu - malu seperti ini aku jadi semakin gemas dan pengen gigit kamu rasanya" goda Bagas.
"Jangan donk Mas, kan sakit" protes Dewi.
"Gigit enak lho... kamu mau aku gigit enak?" Bagas mulai menyentuh tubuh istrinya.
"A.. aku cu.. ma mau bilang se.. suatu kepada Mas" ucap Dewi terbata - bata.
"Kamu mau bilang apa sayaaaang?" tanya Bagas lembut.
__ADS_1
"A.. aku.. a.. aku mau bi.. lang. Ka lau a.. aku sudah bi sa sha lat Maaaas" jawab Dewi dengan jantung yang berdegub kencang.
Tangannya sudah keringat dingin antara takut campur malu. Tapi malam ini adalah malam yang sudah lama di nanti - nantikan oleh suaminya.
Sudah sepantasnya Dewi memberikan hadiah terindah sebagai kado pernikahan mereka.
Bagas sangat terkejut mendengar perkataan Dewi.
"Kamu sudah bisa shalat? Maksudnya sudah bersih?" tanya Bagas.
Dewi menganggukkan kepalanya dan menundukkan wajahnya karena malu. Bagas seperti mendapatkan jackpot malam ini.
"Kita sudah bisa anu - anu gitu?" tanya Bagas tak percaya.
Dewi kembali mengangukkan kepalanya.
"Yeeees... terimakasih sayang.. terimakasih" Bagas langsung memeluk Dewi sangkin senangnya.
"Ta.. pi.. a.. aku mo hon, pe lan - pe lan ya Mas" pinta Dewi dengan takut.
"Kamu tenang sayang, jangan takut. Mas tidak akan menyakiti kamu. Mas akan melakukannya dengan sangat pelan. Mas tidak akan memaksa kamu untuk melakukannya kalau kamu belum siap" ujar Bagas.
"A.. aku sudah siap kok Mas" Dewi memberanikan diri untuk menatap wajah Bagas.
Bagas langsung memulai aksinya.
"Maaaas jangan lupa baca doa dulu" pesan Dewi.
"Emangnya ada doa untuk gituan?" tanya Bagas polos.
Maklum sudah terlalu lama puasa otaknya sudah kosong saat ini.
"Ya Allah Maaaaaaas... " ucap Dewi kesal.
"Oke.. oke.. aku akan baca doa. Bismillahirrahmanirrahim... " Bagas membaca doa singkat.
Dewi mau protes lagi tapi bibirnya sudah tertutup oleh bibir Bagas. Bagas tak memberikan celah untuk Dewi protes. Malam ini adalah malam yang sangat dinanti - nantikan Bagas.
Akhirnya bisa juga buka puasa... Sorak Bagas dalam hati.
Tapi tetap saja Bagas harus bersikap dewasa, dia tidak boleh sesuka hati memperlakukan Dewi. Konon katanya sentuhan pertama harus dilakukan dengan sangat lembut karena kalau dilakukan secara kasar bisa berdampak trauma pada sang wanita.
Bagas tidak mau hal itu terjadi kepada Dewi. Pasti bukan hanya Dewi saja yang terluka, dia juga rugi tidak akan bisa anu - anuan lagi kalau sampai Dewi ngambek.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1