Tiara

Tiara
Doa yang mengkhawatirkan


__ADS_3

"Udah diaminkan aja deh.... " ucap Bintang.


Semua bingung menanggapi perkataan Tegar dan Bintang. Mau diaminkan tapi apa iya Ibu bisa hamil lagi. Sepertinya udah gak bisa lagi.


Kalaupun bisa apa iya Ali akan punya adek lagi. Kalau nanti lahir usianya lebih muda dari Zia adeknya Tegar.


Pak Wijaya hanya tersenyum mendengar perkataan cucunya. Cucunya ini memang sangat pintar, ternyata dia cukup menyimak pembicaraan orang dan mencernanya dan dia pikirkan.


Gak salah memang kata - kata Tegar hanya saja Tegar belum cukup umur untuk mengetahui kalau usia eyangnya sudah 'Jelita' alias jelang lima puluh tahun.


"Mas kok tersenyum?" tanya Siti penasaran.


"Ya kalau kita semua mengaminkan perkataan Tegar bukannya mustahil kan Tiara, Dewi dan Ali punya adik. Dulu waktu kita menikah kamu usia delapan belas tahun. Tiara lahir usia kamu sembilan belas tahun. Sekarang usia Tiara sudah dua puluh delapan tahun. Berarti usia kamu baru empat puluh tujuh tahun. Masih bisa kan mereka punya adek?" tanya Wijaya.


Aduh... Mas Jaya masih mau punya anak lagi? Apa aku bisa ya? Batin Siti.


Gleg.... Bintang, Tiara, Dewi dan Ali sangat berat menelan saliva mereka.


Apa iya aku akan punya adek ipar yang usianya di bawah umur anakku? Batin Bintang.


Ibu mau hamil lagi? Apa Ibu masih kuat? Batin Tiara.


Kalau Ibu menikah terus hamil aku juga akan menikah tak jauh waktunya dengan Ibu menikah terus aku hamil. Dan kami sama - sama hamil dan melahirkan. Ibu melahirkan adikku dan aku melahirkan anakmu. Adikku dan anakku usianya sebaya. Aduuuh kok ribet ya. Batin Dewi.


Apa? Aku mau punya adik lagi? Duh kenapa gak kepikiran ya kalau Ibu bisa hamil lagi. Masak iya aku harus punya adek bayi lagi? Batin Ali.


Bagas tersenyum dan sangat menikmati wajah cemas Bintang, Tiara, Dewi dan Ali.


"Hahaha... Pak lihat mereka, wajah mereka semuanya tegang" oceh Bagas.


"Hahaha..." Pak Wijaya ikutan tertawa karena ikut memperhatikan wajah cemas mereka semua.


"Kalian kenapa? Pada cemas? Anak itu adalah rezeki. Kalau Allah masih memberikan aku kesempatan dan amanah untuk mempunyai anak lagi kenapa nggak? Aku justru sangat senang bisa menebus kesalahanku pada Siti. Dulu waktu dia hamil Tiara aku tidak bisa memberikan apapun yang dia inginkan saat dia mengidam karena keterbatasan ekonomi. Kalau Siti bisa hamil lagi, alangkah senangnya aku. Tapi aku tidak memaksa kamu Siti. Kalau kamu tidak bersedia juga tidak apa - apa. Toh kita sudah punya tiga anak kan. Tiara, Dewi dan Ali juga sudah cukup. Rumah sudah ramai kok di tambah dengan Tegar dan Zia. Sebentar lagi Dewi juga akan menikah. Kita akan mendapatkan cucu lagi. Tambah ramai kan?" ucap Pak Wijaya tenang.


"I.. Iya Maas" sambut Siti.


"Kamu pintar ya Tegar, bisa mendoakan Opa dan Eyang untuk punya anak lagi" Pak Wijaya menepuk punggung Tegar dengan lembut.


"Iya donk Opa. Aku kan juara" sambut Tegar


"Hahaha... " tawa Pak Wijaya.


Meja makan masih hening. Siti, Bintang, Tiara, Dewi dan Ali masih sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Akhirnya makan malam berlanjut dengan sebuah kekhawatiran. Khawatir dengan doa Tegar. Baru kali ini ada doa yang mengkhawatirkan.


******


Keesokan harinya Sekar udah datang ke rumah Bintang karena baru mendapat kabar dari Bintang kalau dua minggu lagi Bintang dan Tiara akan mengadakan syukuran kelahiran Zia sekaligus dengan pernikahan sahabatnya Siti yang merangkap sebagai besannya.

__ADS_1


Tentu saja Sekar sangat semangat dan antusias sekali mendengar kabar itu. Dia sudah banyak perencanaan bagaimana nantinya pesta mereka akan dibuat.


Bagas dan Dewi pergi ke Butik tempat mereka memesan gaun pernikahan mereka dan juga gaun pernikahan Bapak dan Ibu.


"Siang Tante... " sapa Bagas.


"Eh Bagas. Lama ya gak datang kemari. Mau jemput gaun pernikahan ya?" tanya pemilik Butik sekaligus designernya.


"Iya Tante gaun punya calon mertua saya. Udah siap Tante?" tanya Bagas.


"Sudah, kapan mau dipakai?" tanya Pemilik Butik.


"Dua minggu lagi" jawab Bagas santun.


"Masih ada waktu. Mending di loundry aja ya biar nanti langsung pakai" sambut wanita itu.


"Boleh.. boleh.. Tante. Kapan bisa kami jemput ke sini lagi?" tanya Bagas.


"Mmmm... minggu depan deh" jawab wanita pemilik Butik.


"Oke Tante kalau begitu minggu depan kami datang lagi ya" balas Bagas.


"Yang punya kalian kapan?" tanya wanita itu lagi.


"Emangnya udah siap?" Bagas balik bertanya.


Bagas dan Dewi saling pandang.


"Kita coba yuk" ajak Bagas.


"Ya udah Mas, terserah aja" jawab Dewi.


Mereka masuk ke ruang ganti dan mencoba gaun pengantin untuk mereka.


Bagas sudah selesai memakai jas dan dia keluar lalu berdiri di depan cermin. Tak lama giliran Dewi yang keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun pengantin mereka.


Deg... Seeeeer...


Jantung Bagas berdetak kencang.


"Subhanallah cantiknya calon istri aku" puji Bagas.


Dewi tersenyum malu dan menunduk.


"Lihat sini donk" goda Bagas.


Dewi mengangkat wajahnya dan menatap Bagas.

__ADS_1


Cekreeek...


Bagas mengambil foto Dewi dan dia tersenyum ketika melihat hasil jepretannya.


"Gimana?" tanya pemilik Butik.


"Cantik Tante, aku suka. Gimana yank?" tanya Bagas pada Dewi.


"Bagus Mas, cantik" jawab Dewi.


"Kamu suka?" tanya Bagas lagi.


"Suka sekali Mas" jawab Dewi malu.


"Tuh denger Tante, calon istriku suka" ujar Bagas.


Wanita itu tersenyum melihat sikap Dewi yang lugu, polos dan pemalu.


"Syukurlah kalau berat badan kalian tidak berubah. Pakaiannya pas di tubuh kalian. Pertahankan ya sampai dua bulan lagi" ujar wanita itu.


"Oke Tante.. Eh tolong fotoin donk Tante pakai baju ini" pinta Bagas.


"Boleh, sini" wanita itu meraih ponsel Bagas dan mengambil foto Bagas dan Dewi.


"Pasangan yang benar - benar serasi. Yang satu tampan dan satu lagi cantik. Kalau kalian nikah nanti pasti anak - anak kalian akan tampan dan cantik juga seperti Mama dan Papanya" puji wanita itu.


"Aamiin... do'ain ya Tante semoga setelah nikah kami langsung mendapatkan momongan" ujar Bagas tanpa rem.


"Maaaas... " panggil Dewi.


"Eh iya.. iya.. lupa kalau istriku masih kuliah. Sebisanya aja deh, kapan Allah kasih aja kalau begitu" ralat Bagas di mulut.


Kalau bisa secepatnya ya Allah. Doa Bagas dalam hati.


Wanita pemilik Butik tersenyum melihat sikap calon pengantin itu. Yang satu udah gak tau malu dan terlalu percayalah diri bahkan terkesan sudah tak sabaran ingin segera menikah.


Sementara yang satunya lagi masih polos dan malu - malu. Membuat wanita itu semakin gemas membayangkan bagaimana nanti mereka menikah.


Jodoh memang rahasia Allah, dia akan memasang - masangkan manusia bukan dari satu jenis yang sama. Bukan dari rumpun yang sama bukan juga memiliki sifat yang sama.


Melainkan semuanya penuh dengan perbedaan. Karena perbedaan itulah mereka saling mengisi dan melengkapi agar hidup penuh berwarna dan sempurna.


Menikah juga merupakan ibadah karena itu, menikah adalah.. melengkapkan separuh agama.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2