
Hari ini adalah jadwal kepulangan Pak Wijaya dan Pak Bambang beserta istri mereka dari Mekkah. Mereka baru saja pulang dari bepergian ke Mekkah melaksanakan ibadah Umroh
Bagas dan Bintang sengaja menjemput mereka ke Bandara dan membawa mereka kembali ke rumah Bintang. Sementara mereka berkumpul di sana untuk istirahat.
Pak Bambang dan Sekar duduk d mobil Bintang sedangkan Pak Wijaya dan Siti duduk di mobil Bagas. Dan mereka langsung menuju tempat tujuan dimana keluarga mereka sudah menunggu.
"Opa... Oma... Eyaaaang" teriak Tegar begitu melihat Pak Wijaya, Pak Bambang, Bu Siti dan Bu Sekar keluar dari mobil.
"Tegaaaaar" sambut mereka.
Tiara, Dewi dan Ali juga menyusul Tegar keluar rumah. Tiara sedang menggendong Zia yang lagi nyenyak tertidur dalam pelukan Tiara.
"Bapak, Ibu" Tiara mencium tangan kedua orang tuanya. Kemudian menjabat tangan kedua mertuanya.
"Papa.. Mama... " Sambung Tiara.
"Masuk yukk" ajak Bintang.
Dewi dan Alu juga menyambut kedatangan Pak Wijaya beserta rombongan.
"Ali tolong Mas kamu angkatin barang - barang" perintah Tiara.
"Iya Kak" jawab Ali.
Ali membantu Bintang dan Bagas mengangkat koper dan membawanya masuk ke dalam rumah Bintang.
Pak Wijaya, Pak Bambang, Bu Sekar dan Bu Siti duduk di sofa.
"Alhamdulillah... sampai juga kita di rumah. Aaah lega rasanya" ujar Siti.
"Iya, aku udah kangen banget sama Tegar dan Zia" sambut Sekar.
"Gimana keadaan kamu sayang?" tanya Pak Wijaya.
"Alhamdulillah aku sudah lebih baik Pak" jawab Tiara.
"Syukurlah. Dua cucu kami ini juga kelihatannya sehat - sehat" sambut Pak Bambang.
"Iya.. Bagaimana perjalanan kalian semua?" tanya Tiara.
"Alhamdulillah menyenangkan dan pastinya seru. Ya kan?" jawab Sekar antusias.
Bintang dan Bagas juga kini ikut bergabung dengan Pak Bambang dan Pak Wijaya juga yang lainnya. Mereka duduk di ruang keluarga.
"Mantap Pak jalan - jalannya?" tanya Bagas.
"Mantap Gas, kerean. Kamu pinter pilih travelnya. Setelah selesai melaksanakan umroh kami melanjutkan wisata rohani" jawab Pak Wijaya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau Bapak, Om juga Ibu dan Tante senang" sambung Bagas.
"Puas banget Gas. Sudah lama kami tidak menikmati jalan - jalan seperti ini dan lagi kami perginya bareng & barang. Seperti mengulang masa muda kami" ujar Sekar.
"Iya apalagi ada yang sekalian honeymoon jadi berasa muda kembali" sambut Pak Bambang.
"Hahahaha.... " Tawa Pak Wijaya.
"Oma.. Eyang... mana oleh - oleh untukku?" tanya Tegar tak sabar.
"Tegar, Opa, Oma dan Eyang kan baru sampai, nanti nak setelah santai baru minta oleh - oleh" bantah Bintang.
"Eh ada donk sayang tapi masih di koper" jawab Sekar.
"Masak adek bayinya di koper, bukannya di dalam perut seperti Mama dan Tante Dian?" tanya Tegar.
"Ya ampun dia serius?" ujar Siti.
Bintang menarik anaknya untuk duduk di dekatnya.
"Sayaaang Oma, Opa dan eyang itu sudah tua jadi gak bisa punya adek bayi lagi" ungkap Bintang menjelaskan.
"Benarkah Pa?" tanya Bintang masih tidak paham.
"Iya, kalau sudah seumuran Oma dan Eyang sangat sulit untuk punya adek bayi lagi" sambut Tiara.
Bintang refleks menginjak kaki Bagas.
"Aaawww.. sakit Bin" teriak Bagas sengaja kuat.
"Lebay lo.. kalau mau punya adek lo aja sono minta sama emak bapak lo" protes Bintang.
"Hahaha.. gak bisa diajak becanda kamu" balas Bagas senang.
"Bapak dan Ibu, Mama dan Papa kalau mau istirahat langsung aja ke kamar, udah disiapkan. Kalian kan capek baru perjalanan jauh" ucap Tiara.
"Iya, Mama mau mandi dulu ah ganti baju. Udah gerah seharian pakai baju ini di pesawat" sambut Sekar.
"Iya Kar, aku juga mau mandi dan ganti baju" ujar Siti.
Sekar dan Siti masing-masing masuk ke kamar mereka untuk membersihkan tubuh mereka.
"Opa kangen banget Zia tapi Opa juga belum mandi. Opa baru dari perjalanan jauh, gak bisa gendong Zia. Kasihan nanti kalau Opa bawa kuman" ujar Bambang.
"Gak apa - apa Pa. Papa mandi aja dulu. Zia juga mau aku bawa ke kamar" jawab Tiara.
"Iya Bang, aku juga mau mandi. Bapak tinggal dulu ya" ujar Pak Wijaya.
__ADS_1
"Iya Pak" jawab yang lain.
"Wi bantuin Bibik untuk masak makan siang kita" perintah Tiara.
"Iya Kak" jawab Dewi. Dewi bergegas ke kamar sedangkan Tiara membawa Zia ke kamarnya.
"Om Ali kita ke kamar aja yuk main" ajak Tegar.
"Yuk Gar" sambut Ali.
Kini tinggal Bintang dan Bagas yang sedang duduk di rumah keluarga.
"Bin kamu udah dapat sebuah alasan untuk menolak tawaran kerja sama Morgan?" tanya Bagas.
"Belum Gas. Apa ya alasan yang tepat buat aku nolak. Biar kesannya aku gak ngelak gitu?" Bintang mengajak Bagas bertukar pendapat.
"Bilang aja kamu sekarang lagi fokus ngurusin dua perusahaan. Perusahaan Papa kamu dan kamu sekalian mau di gabung perusahaannya karena Papa kamu sudah tua. Udah, beres" jawab Bagas.
"Eh iya benar juga. Untung kamu kasih saran. Aku udah pusing mikirin nya dari kemarin" sambut Bintang.
"Kamu sih kebaikan orangnya. Nolak gitu aja pakai kata sungkan. Kalau aku mah main langsung aja. Aku gak mau bekerja sama dengan perusahaan kamu karena gak dapat untung, ada juga kamu yang dapat untung besar" ungkap Bagas.
"Itu kan karena kamu dan Morgan udah jelas dari dulu memang gak pernah cocok. Jadi gak akan mungkin dia mau ngajak kamu kerjasama" ujar Bintang.
"Dari pada kerja sama dengan perusahaannya mending perusahaan kita yang kerja sama. Pakai alasan itu juga masuk akal Bin" sambung Bagas.
"Nah itu juga cocok. Nanti aku akan pilih alasan mana yang paling pantas. Tapi aku heran, sejak kapan ya Siska bekerja di perusahaan Morgan?" tanya Bintang sambil mengkerutkan keningnya.
"Mereka itu emang manusia berhati ular. Selama menguntungkan untuk mereka pasti mereka langsung mau bekerja sama. Aku yakin antara Siska dan Morgan baru bekerjasama, begitu mereka mempunyai tujuan yang jelas untuk mengganggu kita. Kalau ingat Morgan, aku ingin mempercepat pernikahanku dengan Dewi" ungkap Bagas.
"Itu mah memang mau kamu" ejek Bintang.
"Ya itu juga alasannya tapi yang paling aku takutkan dia berusaha untuk menggagalkan pernikahan aku dengan Dewi. Dia kan suka melihat aku gagal. Apalagi ini tentang masa depanku. Pasti dia sangat ingin membuat aku jatuh dan terpuruk. Kalau dia mengajak berperang secara kasar aku sih gak takut. Yang aku takutkan dia pakai cara halus dengan berusaha mendekati Dewi dan merayu Dewi. Aku gak akan tinggal diam jika Dia ingin merebut Dewi dariku" tegas Bagas.
"Dari dulu kan emang seperti itu persaingan kalian. Terlebih masalah wanita. Kalian selalu rebutan target wanita" sambut Bintang.
"Tapi itu hanya wanita - wanita teman semalam Bin kalau Dewi kan teman seumur hidup" protes Bagas
"Ya harus kamu perjuangankan dengan sekuat apapun " tegas Bintang.
Bagas tampak sedang berpikir keras
"Lihat saja Morgan, aku akan memperjuangkan Dewi karena dia wanita yang pantas untuk diperjuangkan" ujar Bagas.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG