
"Mulai sekarang jangan panggil Om lagi. Panggil Papa... Aku adalah Papamu... " ucap Bintang.
"Papa, maksud Om sama seperti Papa Dho?" tanya Tegar bingung.
"Tidak sayang, kamu adalah anak Papa kandung. Kamu berasal dari keluarga Prakasa" jawab Bintang.
"Benarkah? Jadi Papaku belum meninggal?" tanya Tegar tidak percaya.
"Benar sayang, Papa masih hidup. Kamu ini anak Papa. Jadi mulai sekarang kamu panggil Papa ya" jawab Bintang penuh kasih sayang.
"Yeaaay aku punya Papa. Papaku tidak jadi mati horeeee" teriak Tegar.
Tiara yang mendengar teriakan Tegar dari balik kamar, meneteskan air matanya. Dari suaranya, dia sangat yakin saat ini Tegar anaknya pasti sangat bahagia mengetahui kalau dia masih punya Papa.
Ya Allah apakah ini jalan yang terbaik untuk kami? Benarkah keputusan yang sudah aku ambil hari ini? Apakah kami harus menerima Mas Bintang di tengah-tengah kami?
Tapi kehidupan seperti apa yang akan kami jalani. Dia hanya ingin mengakui Tegar sebagai anaknya, bertanggung jawab dan akan sering menemui Tegar, hanya Tegar.
Akh... mengapa aku malah berharap lebih? Bukankah memang itu yang aku harapkan dulu. Cukup dia mau mengakui Tegar dan Tegar memiliki seorang Papa sudah cukup. Selebihnya kami bukanlah siapa - siapa hanya sebagai Papa dan Mama Tegar. Perang batin Tiara.
Siang harinya Tiara sudah siap memasak makan siang untuk mereka bertiga. Sepertinya dia harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan Bintang di rumahnya karena kedepannya hal seperti ini akan sering terjadi kalau Bintang ingin mengunjungi Tegar.
Tiara berjalan ke arah kamar Tegar kemudian masuk dan mendapati Tegar sedang tidur di atas paha Bintang.
"Tegar makan yuuuu" suara Tiara terhenti karena takut membangunkan Tegar.
"Sssst... Tegar lagi tidur, biarlah seperti ini sebentar. Aku ingin menebus waktu - waktu yang dia lalui tanpa aku" pinta Bintang.
Tiara duduk di ujung ranjang Tegar.
"Apakah dia anak yang manja dan rewel?" tanya Bintang.
Tiara menggelengkan kepalanya.
"Tegar anak yang pinta, baik budi dan dewasa. Dia tidak pernah merepotkan malah dia sangat pengertian setiap kali aku sedang repot. Dia tidak pernah menggangguku bekerja, dia bisa bermain sendiri atau belajar untuk menutupi kebosanannya" ungkap Tiara.
Bintang mengelus puncak kepala putranya.
"Terimakasih Ra, kamu mau membesarkan anakku. Dan kamu sudah sangat berhasil membesarkannya sampai sekrang ini dengan sangat baik" ucap Bintang.
"Tegar itu anakku Mas, sekuat tenaga akan aku perjuangkan karena hanya dialah tujuan hidupku. Dialah kekuatanku untuk bertahan menghadapi kejamnya kehidupan ini" ungkap Tiara.
__ADS_1
"Maaf Ra, aku tidak bisa memberikan kamu penawaran yang lain. Saat ini jujur aku masih sangat terkejut" ucap Bintang.
"Aku mengerti Mas, malah aku sangat bersyukur kamu menerima keberadaan Tegar dengan sangat baik. Aku kira kamu akan menolah Tegar atau yang lebih parah, kamu membawa Tegar dari aku" balas Tiara.
"Tidak Ra, kamulah sebaik - baiknya pengasuh Tegar karena kamu Ibunya" balas Bintang.
"Sudah kesiangan Mas makan siangnya. Nanti Tegar masuk angin. Tegar tidak biasa telat makan. Tidak apa - apa aku akan membangunkannya" ucap Tiara.
"Biar aku saja Ra" pinta Bintang.
Bintang menggoyang - goyangkan tubuh Tegar dengan pelan berusaha untuk membangunkan Tegar.
"Gar... Tegaaaaaar.... bangun nak. Yuk kita makan dulu" ucap Bintang lembut.
"Papa.. Papa tidak pergi kan? Aku kira aku bermimpi bertemu Papa ternyata semua nyata" jawab Tegar.
Nyeees... hati Tiara terasa sangat sakit. Ternyata anaknya begitu mengharapkan keberadaan Papanya selama ini.
"Papa akan di sini menemani kamu sampai malam. Tapi besok pagi Papa harus balik ke Jakarta ya. Papa harus kerja. Jumat depan Papa akan datang lagi dan main bersama kamu" janji Bintang.
"Benar ya Pa" tagih Tegar.
Mereka bertiga berjalan ke meja makan dan mulai menyantap makanan yang dimasak Tiara.
Mengapa hatiku menghangat seperti ini. Apakah ini yang dimaksudkan Roy kemarin. Kalau dia ingin berubah dan mempunyai rumah dimana ada anak dan istrinya menunggumu di rumah.
Dia yang seorang playboy saja sudah bosan terus - terusan bermain. Mengapa aku tidak berfikiran sama seperti dia? Tanya batin Bintang.
"Enak gak Pa masakan Mama?" tanya Tegar.
"Enak" jawab Bintang.
"Mama pinter masak Ma, apalagi kalau masak nasi goreng. Setiap aku bawa bekal nasi goreng ke sekolah, teman - temanku pasti rebutan untuk meminta bekalku" ungkap Tegar.
"Oh ya?" tanya Bintang untuk menanggapi cerita Tegar.
"Iya, besok Papa rasakan sendiri deh. Ma besok masak nasi goreng ya. Biar Papa rasain nasi goreng masakan Mama" pinta Tegar.
"Iya sayang, besok akan Mama masak. Sekarang kamu makan yang tenang jangan sambil ngobrol nanti bisa tersedak " nasehat Tiara.
"Iya Ma" jawab Tegar patuh.
__ADS_1
Bintang melihat Tiara sangat pintar mendidik Tegar. Tegar terlihat sangat tertib dan disiplin. Pasti semua berkat didikan Tiara.
"Aku izin menginap di sini ya Ra" ucap Bintang.
"Kalau aku tolak kamu akan tetap melakukannya kan Mas?" ucap Tiara.
"Aku tidak memaksa tapi sepertinya setelah ini kita akan sering bertemu" jawab Bintang.
"Aku tidak mau tetangga berkata buruk tentang kami Mas, selama ini mereka tau kami hanya tinggal berdua saja" ujar Tiara.
"Katakan saja kalau aku Papanya Tegar" sambut Bintang dengan tenang.
"Yah kamu memang Papanya Tegar" balas Tiara. Percuma saja bertengkar dengan Bintang karena memang itulah kenyataannya.
"Yuk apa balik ke kamar. Aku masih ngantuk. Aku mau tidur sambil di bacain cerita sama Papa" pinta Tegar.
Tegar keluar dari meja makan dan berjalan ke arah kamarnya.
"Apa dia biasa tidur seperti itu?" tanya Bintang.
"Kalau saat aku libur atau ada waktu sengggang dia sering memintanya" jawab Tiara.
"Baiklah, aku akan melakukannya juga" balas Bintang. Bintang segera menyusul Tegar ke kamarnya.
Satu jam berikutnya Tiara mengintip masuk ke dalam kamar. Tenyata bukan hanya Tegar yang tertidur di kamar itu tapi Bintang juga ikut tertidur.
Mereka tidur saling berpelukan. Entah mengapa hati Tiara sangat senang melihat pemandangan seperti ini. Mungkin ini memang sudah lama di dambakan Tegar.
Tiara kembali ke kamarnya dan beristirahat. Dia juga sangat ngantuk dan letih karena pagi - pagi sekali tadi dia harus bangun kemudian menyetir mobil pulang ke Bandung.
Untung hari ini dia masih libur karena memang sebenarnya niat dia pulang sore ini ke Bandung tapi karena kejadian tadi malam semua jadi berubah.
Tiara merenggangkan otot-otot tubuhnya dan mencoba berbaring di ranjangnya. Satu masalah sudah selesai.. ternyata memang hanya ketakutan yang berlebihan yang dia rasakan. Kenyataannya semua yang terjadi tidaklah seseram yang dia bayangkan selama ini.
Untuk saat ini Tiara dapat bernafas lega karena satu masalahnya telah selesai di atasi dengan baik. Tiara memejamkan matanya dan mulai tertidur.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1