Tiara

Tiara
Pelajaran hidup


__ADS_3

Siang ini mereka makan siang bersama di rumah Wijaya dengan menu ikan bakar hasil tangkapan Bagas dan Wijaya kemudian dimasak oleh Dewi dan Siti.


"Enak sekali masakan Ibu" puji Bagas.


"Bukan Ibu yang masak. Ibu hanya menyiapkan bumbunya saja selebihnya Dewi yang mengolahnya. Kayanya dia pengen belajar masak" jawab Siti.


"Bagus itu biar kalau nikah di sayang suami" sambut Bagas.


Wijaya melirik ke arah Dewi tapi Dewi hanya diam saja sambil menikmati makanannya.


"Dewi gak mau cepat nikah Gas, tadi dia bilang sama Bapak" ungkap Wijaya.


Uhuuk.. uhuuuk...


Bagas terbatuk karen terkejut mendengar perkataan Wijaya.


"Hati - hati Mas kalau makan ikan seperti ini, nanti tersedak duri lho" ucap Dewi mengingatkan.


"Benar Wi kamu gak pengen cepat nikah?" tanya Bagas pada Dewi.


"Iya, aku belum siap. Masih di bawah umur, nanti aja deh dua tahun lagi baru aku fikirkan lagi" jawab Dewi.


Hancur aku... ucap Bagas dalam hati.


Wijaya tersenyum melihat wajah Bagas yang begitu jelek. Dia pasti sangat kecewa mendengar ucapan Dewi.


"Ibu dulu menikah seumuran kamu lho Wi" ucap Siti.


"Ibu kan dulu tinggal di kampung dan Ibu tidak kuliah. Kalau aku nikah sekarang malah di curigai orang Bu. Nanti mereka akan berpikiran kalau aku sudah hamil duluan makanya nikahkan cepat - cepat" jawab Dewi.


"Peduli amat dengan ucapan orang Wi. Yang penting kan kamu tidak seperti apa yang mereka pikirkan?" sambut Bagas.


"Aku malas Mas lihat tatapan orang" jawab Dewi santai.


Wijaya melirik ke arah Bagas dan berbisik.


"Sabar dua tahun lagi" goda Wijaya.

__ADS_1


Bagas hampir saja menggaruk kepalanya yang gak gatal untung dia ingat kalau tangannya masih kotor dan barusan pegang sambel pasti pedas kalau kena kepalanya.


Setelah selesai makan Bagas duduk santai di ruang kerja Wijaya.


"Pak sudah seminggu aku tinggal di Bandung tapi belum ada tanda - tanda keberadaan Tarjo di sini" ucap Bagas serius.


"Benar, orang-orang Bapak juga belum melihat Tarjo di sekitaran Siti, Dewi dan Ali. Mungkin dia memilih bersembunyi dulu untuk menenangkan polisi. Kalau sudah lama polisi kan akan lengah baru dia muncul lagi" jawab Wijaya.


"Tapi aku tidak bisa berlama - lama lagi tinggal di Bandung. Aku hanya cuti satu minggu, besok aku akan terbang ke Singapura untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda" ujar Bagas.


"Tidak apa Bagas, kamu pergi saja ke sana. Biar Bapak yang jaga mereka di sini" sambut Wijaya.


"Tapi Pak" ucap Bagas terpotong.


"Kenapa? Kamu takut Dewi celaka?" tanya Wijaya.


"Iya, pria itu sangat kejam pada keluarganya Pak" jawab Bagas.


"Dewi itu anak perempuannya, Bapak rasa dia tidak akan tega merusak ataupun melukainya beda dengan Tiara. Tiara kan hanya anak tiri dan dia tidak menyayangi Tiara seperti anaknya sendiri" ungkap Wijaya.


"Ali kan laki - laki dan saat itu mungkin Ali melawan kepadanya karena ingin membela Ibunya yang sedang dipukuli pria itu" ungkap Wijaya.


Bagas menghembuskan nafas dengan kasar. Dia sangat berat sekali meninggalkan Dewi di sini. Rasanya ingin sekali dia membawa Dewi ke luar negeri agar lebih aman. Bagas sangat yakin Tarjo tidak akan bisa menemukan Dewi diluar negeri.


"Pak bagaimana kalau aku bawa Ibu, Dewi dan Ali ke Singapura. Aku rasa pria itu tidak akan bisa menemukan mereka di sana. Mana bisa dia pergi ke luar negeri, lagian aku sangat yakin dia tidak punya paspor" ungkap Bagas.


Wijaya tersenyum mendengar usul dari Bagas.


"Terimakasih kalau kamu sampai berpikir sejauh itu untuk menyelamatkan mereka. Tapi kamu tidak perlu repot dan tak usah takut. Bapak akan menjaga mereka dengan baik. Bapak tidak akan membiarkan pria itu menemui dan menyakiti mereka. Pria itu harus tertangkap dan dijatuhi hukuman berlipat" sambut Wijaya.


Bagas tampak sedang berpikir keras.


"Huh... kapan mereka bisa bebas dari pria itu. Pria kejam yang bisanya menyiksa dan menindas anak istrinya saja. Bukannya bertanggung jawab pada keluarganya tapi malah menyakiti mereka. Dasar bajinga*" umpat Bagas.


"Dia tidak sadar kalau dia mempunyai istri sebaik Siti. Anak - anak yang baik dan berbakti. Mungkin dia tidak tau bagaimana caranya bersyukur atas apa yang dia miliki. Padahal aku sangat iri kepadanya. Karena aku sudah kehilangan kesempatan untuk kembali kepada Siti" ungkap Wijaya.


"Mudah - mudahan dia mati Pak, biar Bapak bisa kembali hidup bersama dan bahagia bersama Bu Siti" doa Bagas.

__ADS_1


"Huuus.. kamu kok do'ain orang jelek begitu. Gak baik" larang Wijaya.


"Habis aku kesal lihat bajinga* itu Pak. Dia gak bisa menghargai apa yang sudah dia miliki padahal apa yang dia miliki itu sebenarnya adalah impian orang lain" jawab Bagas.


Benar apa yang Bagas ucapkan. Apa yang dimiliki Tarjo adalah impian Wijaya. Dia sangat memimpikan bisa memiliki Siti lagi dan membangun keluarga yang bahagia sampai mereka tua. Dan hanya dipisahkan oleh maut.


"Manusia yang tidak tau bagaimana caranya bersyukur kelak dia akan kehilangan apa yang sudah dia miliki. Pada saat itu dia baru sadar berapa berartinya semua yang telah dia miliki itu tapi sayang semua sudah terlambat. Itulah hukuman yang paling kejam Allah berikan kepadanya. Menangispun tidak ada gunanya, memohon dan meminta pun mereka tidak mau lagi kembali kepadanya" ujar Wijaya.


Bagas mencerna semua perkataan Wijaya. Itu adalah nasehat hidup yang sangat baik untuknya secara pribadi. Kelak Bagas berjanji jika dia memiliki keluarga yang utuh dia akan menjaga dan menyayangi mereka dengan segenap hati dan seluruh kekuatannya akan dia kerahkan untuk melindungi mereka.


Hidup hanya sekali cukup sudah bermain - main. Beruntung dia tidak mendapatkan hukuman dari kenakalannya saat remaja dulu. Kalau tidak dia tidak tau bagaimana beratnya hukuman itu dia jalani. Apakah dia sanggup menjalaninya.


Kini Bagas hanya tinggal menyusun masa depan dan berharap apa yang dia lakukan di masa lalu tidak akan menganggu dan menjadi boomerang untuk masa depannya.


"Sudah sore Pak, sudah saatnya saya kembali ke Jakarta. Titip Dewi ya Pak, tolong di jagain" ucap Bagas.


Wijaya tersenyum ramah.


"Kamu benar - benar mencintainya ya, saya masih terkejut kalau ingat akan hal itu" sambut Wijaya.


"Cinta tidak bisa memiliki kemana akan berlabuh Pak. Saat hati saya tertancap panah cinta ternyata nama Dewi yang terlukis di sana" jawab Bagas sedikit puitis.


"Hahaha... untung Dewi masih polos dan lugu tidak mempan dengan bujuk rayu mantan playboy seperti kamu" sindir Wijaya.


"Itulah hukuman saya Pak dari kesalahan masa lalu dan saya harus sabar menjalaninya. Kalau saya berhasil pasti kebahagiaan yang akan menanti saya di masa yang akan datang. Saya harus berjuang" sambut Bagas.


Wijaya menepuk bahu Bagas memberi semangat.


"Berjuanglah, semoga kamu berhasil. Fokus pada pekerjaan kamu saja dulu, serahkan Dewi kepada saya. InsyaAllah saya akan menjaganya seperti anak saya sendiri" ujar Wijaya.


"Terimakasih Pak" balas Bagas.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2