
Malam harinya Tegar merengek kepada Tiara untuk makan malam di luar.
"Ma ayo donk kita makan di luar" ajak Tegar.
"Ngapain sayang? Mama kan bisa masak. Kamu mau makan apa biar Mama masakin?" tanya Tiara.
"Bukan soal makanannya Ma, aku pengennya kita, aku, Mama dan Papa pergi dan makan di luar. Kan baru kali ini aku punya Papa dan Mama yang lengkap" pinta Tegar.
Entah mengapa perkataan putranya itu terasa mengiris hatinya. Haruskah aku turuti, tapi bagaimana mengatakannya pada Mas Bintang? Batin Tiara.
"Kalau itu mau Tegar, yuk kita makan bersama diluar. Tegar mau makan dimana?" tanya Bintang yang tiba - tiba datang dari arah kamar Tegar.
Bintang terlihat sangat segar karena baru saja selesai mandi di kamar Tegar.
"Mas, jangan di manjain" tolak Tiara.
"Ini permintaan putraku yang pertama Ra, masak mau aku tolak" balas Bintang.
"Mama mau kan Ma?" tanya Tegar. Tegar tidak akan berani meminta pada Bintang kalau tidak ada izin dari Tiara.
Tiara menarik nafas panjang dan menunduk. Mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Tegar.
"Ya sudah kamu mau kita makan dimana hemmm?" tanya Tiara sambil tersenyum penuh kasih sayang.
"Yeaaaay... makan di luaaaar" teriak Tegar senang.
Bintang memperhatikan interaksi Tegar dan Bintang, entah mengapa lagi - lagi hatinya menghangat. Hanya mengabulkan permintaan kecil seperti ini sudah membuat mereka berdua sangat bahagia. Ucapnya dalam hati.
"Bilang dulu donk mau makan dimana?" tanya Bintang.
"Aku ingin makan di Pillow Cake Cafe Pa. Kata teman - temanku di sana makannya seru, banyak tempat bermain" ucap Tegar dengan mata berbinar.
Tiara langsung memeluk anaknya.
Maafkan Mama sayang, ternyata selama ini Mama sangat egois. Baru kali ini kamu mengutarakan isi hati kamu.
Makasih Tuhan untuk hari ini, ternyata anakku masih di kasih kesempatan untuk merasakan mempunyai kedua orang tua yang lengkap. Ucap Tiara dalam hati.
"Mama kenapa memelukku. Mama sedih?" tanya Tegar.
"Nggak, justru Mama sangat bahagia karena kamu senang sayang. Gimana Mas kita pergi kesana?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Yuk, kita pergi makan di Pillow Cake Cafe" ajak Bintang.
"Asiiiiik sekarang aku sudah punya Papa Mama... Besok di sekolah aku akan cerita sama teman - teman kalau aku sudah pergi ke Cafe yang mereka bilang itu bersama Papa dan Mamaku. Horeeeee" Tegar bertepuk tangan kegirangan.
Tiara dan Bintang saling pandang. Mereka sangat terharu melihat putra mereka hari ini berteriak senang.
Tiara mengunci pintu rumahnya, sedangkan Tegar dan Bintang sudah menunggu di mobil. Tegar duduk disamping Bintang sedangkan Tiara duduk di kursi belakang.
Mobil berjalan menuju Pillow Cake Cafe sesuai dengan permintaan Tegar malam ini. Dari kaca spion Bintang melirik ke arah Tiara yang sedang duduk di belakang sambil memainkan ponselnya.
Wanita sederhana tapi tidak murahan. Dia bisa membuat dirinya terlihat berharga. Entah mengapa Bintang jadi membandingkan Siska dengan Tiara. Dari segi wajah mereka sama - sama cantik dengan kelebihannya masing-masing.
Siska terlihat cantik dengan berbagai polesan make up di wajahnya sedangkan Tiara hanya dengan sedikit sentuhan lipstik dan bedak sudah membuat wajahnya terlihat cantik.
Siska terlihat sexy setiap dia mengenakan pakaian. Tapi Tiara, jangan tanya bagaimana tubuhnya karena Bintang perbah melihat tubuh polos Tiara tanpa sehelai benangpun.
Tingkah laku... ini yang jauh berbeda bagai bumi dan langit. Siska dengan segala bujuk rayunya. Mencoba menggoda Bintang tapi sayang bukan hanya Bintang saja yang telah berhasil dia goda. Siska berani selingkuh dengan beberapa pria dibelakang Bintang.
Sedangkan Tiara bisa menahan harga dirinya sampai selama ini. Membesarkan Tegar sendiri tanpa bantuan siapapun dan tidak dekat dengan pria manapun. Sudah bisa dipastikan Tiara lebih setia.
Mengapa aku jadi membandingkan mereka berdua? Batin Bintang.
Apakah seperti ini berumah tangga? Pergi kerja di antar istri sampai depan pintu. Pulang kerja di tungguin, dimasakin. Dan saat waktu libur jalan bersama istri dan anak.
Keluargaku belum mengenal Tiara dan apa mereka bisa menerima Tiara dan Tegar? Hah.... Bintang menarik panjang nafasnya.
Tiga puluh menit berlalu mereka sudah sampai di Pillow Cake Cafe. Tegar terlihat sangat antusias diajak ke sini.
Sepertinya anakku sangat senang diajak kemari. Apakah sebahagia ini dia kuajak makan malam bersama Mamanya? Batin Tegar.
Mereka masuk ke dalam Cafe, dan ternyata Cafe ini sangat cocok untuk keluarga.
Di Cafe ini terlihat banyak sekali berbagai macam mainan anak - anak.
Pantas saja Tegar meminta dibawa ke sini. Mungkin dia sering mendengar teman - temannya bermain dan makan bersama keluarganya di sini.
"Mama aku mau main dulu ya" pinta Tegar.
"Kita pesan makan dulu sayang" ucap Tiara.
__ADS_1
"Mama saja yang pesan. Apapun itu aku pasti mau" jawab Tegar.
"Oke, kami hati - hati ya mainnya dan ingat jangan lama mainnya. Nanti kalau sudah selesai makan baru disambung lagi mainannya" ujar Bintang.
"Oke Pa" balas Tegar.
Tiara dan Bintang duduk di meja yang terletak di sudut, dekat dengan tempat bermain anak. Mereka bisa dengan mudah memperhatikan Tegar yang sedang asik bermain dan berkenalan dengan anak-anak lain yang juga bermain disitu.
Tak lama seorang pelayan datang membawa buku daftar menu di Cafe mereka. Tiara menerima buku tersebut dan membacanya.
"Satu sate taichan crispy, Beef Teppanyaki with rice, tambah saru lagu ya nasinya. Mas mau pesan apa?" tanya Tiara.
"Aku chicken curry katsu with rice" jawab Bintang.
Pelayan mencatat pesanan mereka.
"Minumnya Pak, Bu?" tanya pelayan itu.
"Ice lemon yakult, hot chocolate, Mas?" tanya Tiara lagi kepada Bintang.
"Aku Hot coffe aja" balas Bintang.
"Tambah kentang goreng ya Mbak, Tegar paling suka kentang goreng" sambung Tiara.
"Baik, sudah saya catat ya Pak, Bu. Tunggu sebentar" ucap pelayan dan kemudian dia berlalu dari hadapan Tiara dan Bintang.
"Makasih Mas, kamu sudah mau mengajak kami makan di sini, sepertinya Tegar sangat senang sekali" ucap Tiara.
"Sudah sepantasnya aku memang membahagiakan anakku. Kami sudah sangat lama terpisah. Aku ingin menebus waktu yang dilaluinya tanpa ada aku bersamanya. Aku yakin sebenarnya hal ini sudah sangat lama dia inginkan. Tapi baru kali ini bisa terkabul" jawab Bintang.
Entah mengapa Tiara merasa sangat sedih dengan perkataan Bintang.
Kamu hanya menatap Tegar Mas, mungkin kalau saja kejadian malam itu tidak membuatku melahirkan Tegar. Aku rasa kamu tidak akan berbuat seperti ini padaku. Buktinya saja kamu lupa wajahku Mas.
Dan seandainya kita bertemu lagi tanpa ada Tegar diantara kita kamu tidak akan begitu merasa bersalah seperti ini karena sudah merenggut kesucianku. Batin Tiara sedih.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG