
Minggu pagi Bagas kembali datang ke rumah Bintang. Kali ini tampilannya tampak lebih ceria dan lebih gaya. Bagas sengaja menyetel tampilannya lebih muda agar tidak kelihatan jauh beda umurnya dengan Dewi.
Bagas memakai baju kaos lengan panjang tetapi kedua lengannya di tarik sampai siku. Memakai celana jeans dan sepatu sneakers.
"Waah cakep banget kamu Gas hari ini. Mau kemana?" tanya Bintang ketika melihat Bagas masuk ke dalam rumahnya.
"Mau ajak Dewi jalan - jalan" jawab Bagas sambil tersenyum bahagia.
"Kalian mau kencan? Oh tidak bisa... " tolak Bintang.
"Kok gak bisa? Tega banget sih kamu Bin?" protes Bagas.
"Kalau kamu mau pergi, bawa Ali dan Tegar bersama kamu. Bahaya kalau kamu berduaan saja dengan Dewi. Bisa - bisa kamu berencana berbuat yang tidak - tidak untuk mempercepat pernikahan kalian. Jangan kamu kira kami merestui kalian lantas kamu bisa seenaknya saja bawa - bawa Dewi. Dewi masih di bawah umur, kamu minta izin aku dulu sebagai Kakak iparnya" larang Bintang.
Sebenarnya Bintang tidak terlalu ketat seperti itu membuat peraturan untuk Dewi tapi dia memang lagi senang mengerjai Bagas. Lucu rasanya melihat wajah Bagas yang sedang jatuh cinta.
Persis orang bodoh yang mau di perintah apa saja tanpa berpikir panjang. Bintang sama sekali tak menyangka Bagas akan sebucin itu kalau sudah benar - benar jatuh cinta.
"Oke deh terserah kamu mau pakai syarat apa. Sekampung juga akan aku bawa. Yang penting aku bisa pergi dengan Dewi" jawab Bagas.
Nah benarkan tanpa pikir panjang Bagas akan menerima apapun syarat yang diberikan Bintang tanpa mau membantahnya.
Bintang tersenyum menang menatap wajah Bagas.
"Puaskan kamu melihat aku seperti ini?" tanya Bagas kesal.
"Hahaha.. belum. Nanti kamu akan dapat syarat yang lain. Bersiaplah karena syaratnya gak segampang itu" jawab Bintang.
"Cih ada - ada saja kamu Bin. Dasar... sok berkuasa" umpat Bagas.
"Ali.. Tegar... " panggil Bintang.
Tegar dan Ali turun dari lantai dua dan berjalan menghampiri Bintang.
"Ada apa Mas?" tanya Ali.
"Papa memanggil kami?" tanya Tegar.
"Iya. Kamu dan Ali di ajak Om Bagas jalan - jalan sama Tante Dewi" jawab Bintang.
"Benar Pa, serius?" tanya Tegar tak percaya.
"Iya benar, Papa serius nak" jawab Bintang tersenyum.
__ADS_1
"Yeaaaay... Om Bagas baik deh ajakin aku, Om Ali dan Tante Dewi jalan - jalan" puji Tegar yang tidak tau apa - apa.
Bintang tersenyum menang sedangkan Bagas hanya bisa mengharukan kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudah sana pergi ganti baju yang cakep setelah itu balik lagi ke sini ya. Jangan lama, Om Bagas udah nunggu tuh. Panggil juga Tante Dewi ajak turun ke bawah ya" perintah Bintang.
"Oke Papa... Yuk Om Al kita bersiap" ajak Tegar semangat.
Ali dan Tegar naik ke lantai atas untuk berganti pakaian. Kemudian mereka turun bersamaan dengan Dewi.
"Kalian sudah siap?" tanya Bagas ketika melihat mereka bertiga sudah turun.
"Sudah donk Om" jawab Tegar ceria.
Dewi hanya tersenyum malu - malu.
"Lho udah pada cakep semua, mau kemana nih?" tanya Pak Wijaya yang baru datang berbarengan dengan Siti dan Tiara.
"Kami mau pergi Opa sama Om Bagas, Tante Dewi dan Om Ali. Om Bagas mau ajak kami jalan - jalan" jawab Tegar dengan ceria.
"Oh ya.. mau krmana?" selidik Tiara.
"Ke Dufan ya Om" ajak Tegar penuh semangat.
"Boleh deh" jawab Bagas pasrah.
Bintang tersenyum senang melihat Bagas yang sudah serba salah.
Menang banyak gue gas. Batin Bintang.
"Ya sudah kalau begitu selamat bersenang - senang untuk kalian semua. Jangan lupa makan ya, nanti keasikan main sampai lupa makan" ucap Tiara
"Jangan kelamaan pulangnya Gas, besok Tegar harus sekolah" pesan Siti.
"Iya kamu dan Dewi juga besok akan ke kantor polisi kan untuk menghadiri panggilan pertama" sambut Pak Wijaya.
"Iya Pak, Bu. Kalau begitu kami pergi dulu ya" ucap Bagas.
"Ayo salim dulu nak sebelum pergi" ucap Tiara pada Tegar.
Tegar mencium tangan para orang tua yang ada di hadapannya.
"Gas titip anakku ya, dijagain.. jangan keasikan pacaran" sindir Bintang.
__ADS_1
"Iya.. iya.. puas lo rusak hari gue" bisik Bagas kesal.
"Haha.. kamu harus hormat padaku Gas, kamu kan sebentar lagi mau jadi adik iparku" balas Bintang.
Bagas, Dewi, Ali dan Tegar pamitan pada yang lainnya kemudian mereka naik ke mobil Bagas. Dewi duduk di samping Bagas di depan sedangkan Ali dan Tegar duduk di kursi penumpang.
Akhirnya karena permintaan Tegar mereka pergi liburan ke Dufan. Bagas tak bisa berbuat apa - apa selain menuruti keinginan Tegar.
"Jangan jutek gitu Mas wajahnya? Katanya mau kencan dengan gadis di bawah umur ya begini lah model kencannya. Beda dengan wanita dewasa, mungkin Mas akan pergi ke hotel atau tempat - tempat lain" sindir Dewi.
"Kamu udah bisa ya ledekin Mas. Awas kamu" ancam Bagas.
Dewi tersenyum melihat wajah kesah Bagas tapi seketika mood Bagas berubah jadi semangat karena sudah melihat gadis pujaannya tersenyum manis.
Satu jam kemudian mereka sampai di Dufan. Bagas sengaja membeli tiket terusan agar mereka bisa bebas bermain semua permainan yang ada di dalam Dufan.
Sebenarnya lebih banyak permainan Tegar karena Tegar masih di bawah umur. Banyak permaian yang tidak bisa dimasukin Tegar dan tidak mungkin meninggalkan Tegar di luar sementara mereka masuk ke dalam arena permainan. Bagas bisa di penggal Bintang kalau sampai Tegar hilang.
Mereka naik komidi putar, wahana gajah bledug, wahana istana boneka, wahana happy feet dan lainnya.
Ali ternyata juga sangat usil, dia tidak memberikan celah sedikitpun untuk Bagas mendekati Dewi seperti berada dekat dan dua - duaan dengan Dewi. Padahal Bagas sudah mencari berbagai cara biar bisa mojok dan mesra - mesraan dengan Dewi.
Nasibku kok sial amat sih hari ini. Ini adalah kencan pertamaku tapi kok malah ke tempat ini kencannya. Mana harus bawa dua bocah ingusan ini. Dan mereka sepertinya sudah dikasih wangsit sama Bintang untuk menjaga Dewi dengan ketat. Aku gak bisa dekat - dekat dengan Dewi. Gini kali ya nasib punya calon istri di bawah umur, masih suka hal - hal yang kekanak - kanakan. Batin Bagas.
Bagas menarik nafas panjang sambil mojok di sudut untuk merokok.
"Om Bagas makan yuk, aku laper nih" teriak Tegar
"Ya sudah kita makan dulu. Nanti setelah makan lanjut lagi mainnya" jawab Bagas.
Bagas membawa mereka ke tempat makan yang ada di dalam area Dufan. Makanan apalagi yang di senangi anak - anak kalau gak makan ayam goreng, bakso dan sejenisnya.
Lagi - lagi Bagas menghembuskan nafas kasar..
Nasib - nasib.. padahal aku ngebayangin makan di tempat romantis hanya berdua saja sama Dewiku. Tapi ada dua setan pengganggu nih. Mana makanan yang di pesan juga beginian. umpat Bagas dalam hati.
"Kasian ya Mas, Mas Bagas.... "
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1