
Malam harinya Bagas melihat Dewi sedang termenung di teras lantai dua dekat dengan kamar mereka. Tanpa bisa di cegah Bagas mencoba mendekati Dewi.
"Apa kabar Wi?" sapa Bagas pertama kali.
Dewi terlihat terkejut mendengar suara Bagas.
"A.. alhamdulillah ba.. baik" jawab Dewi kaku.
"Handphone kamu kok gak aktif?" tanya Bagas hati - hati.
"Aku ganti nomor Mas" jawab Dewi dingin.
"Kok ganti nomor?" tanya Bagas lagi.
"Biar aku gak terkenang dengan hal - hal masa lalu. Kan kemarin Mas suruh aku ganti handphone dan laptop untuk menghapus kenangan buruk masa lalu. Sekalian aja aku ganti nomor handphone aku" jawab Dewi.
"Boleh aku minta nomor handphone kamu yang baru?" tanya Bagas sangat berhati - hati.
Dewi menarik nafas panjang.
"Wi.. aku tidak akan memaksa kamu untuk menerima perasaanku. Kalau memang kamu tidak bisa menerima aku setidaknya biarlah hubungan kita seperti dulu. Kita masih bisa berteman kan?" bujuk Bagas.
Dewi masih diam dan menunduk.
"Maafkan aku Wi, aku tidak pernah berniat membohongi atau mempermainkan kamu. Niat aku tulus kepada kamu dan aku sadar aku memang banyak dosa dulu, mungkin ini adalah hukuman buatku. Tapi aku tidak bisa semudah itu menghapus kamu dalam hatiku. Biarkan aku pelan - pelan melupakan kamu. Bisa kan kita berteman dulu, aku janji lambat laun aku tidak akan mengganggu hidup kamu lagi" sambung Bagas.
Dewi meraih ponselnya, Bagas melihat kalau handphone yang di pegang Dewi adalah handphone Dewi yang lama dulu sebelum Bagas membelikan handphone Dewi yang pertama.
Bagas menghempaskan nafasnya kasar.
Memakai barang yang aku beri saja kamu tak mau lagi Wi... Batin Bagas sedih.
Handphone Bagas berbunyi. Bagas melihat ada panggilan telepon tapi dari nomor yang tidak dikenal.
"Itu nomorku yang baru Mas" ujar Dewi.
Alhamdulillah ternyata kamu tidak menghapus nomorku di dalam handphone kamu. Ucap Bagas dalam hati.
"Oke Wi, terimakasih. Akan Mas simpan, siapa tau ada berita penting Mas bisa kabari kamu" jawab Bagas.
Bagas segera menyimpan nomor Dewi dengan inisial nama 'Dewiku'.
"Udah malam Mas, aku mau ke kamar dulu istirahat" ucap Dewi pamit.
"Iya, selamat tidur ya Wi. Semoga mimpi indah" balas Bagas.
Masih bisa kah aku berharap mampir di mimpi kamu Wi? Ya Tuhan... maafkan dosa - dosa yang aku lakukan dulu. Kalaulah aku tau begini sakitnya patah hati pasti dulu aku tidak akan mau mempermainkan perasaan wanita. Batin Bagas.
__ADS_1
Dewi melangkah menuju kamarnya meninggalkan Bagas sendirian di teras atas sambil menatap kepergian Dewi. Bagas mengusap wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
Rasanya sangat nelangsa dan hilang gairah hidup.. Mengapa sangat menyakitkan kisah cintaku Tuhaaaan....
Seminggu ini dia kembali merokok karena stress memikirkan kisah cintanya. Padahal kebiasaannya itu baru saja Bagas hentikan ketika dia berniat ingin berubah. Tapi kepalanya rasanya mau pecah memikirkan semuanya. Pelampiasannya adalah rokok. Bagas mengisap dalam rokok tersebut dan menghembuskan asapnya dari hidung dan mulutnya.
"Lho Mas Bagas merokok?" tanya Ali yang baru saja naik dari lantai satu.
"Iya Al, lagi pengen" jawab Bagas.
"Bukannya kemarin Mas Bagas gak merokok ya. Aku kok baru lihat sekarang Mas Bagas merokok?" tanya Ali tak percaya.
"Dulu sebenarnya aku merokok Al tapi beberapa bulan yang lalu aku berniat untuk meninggalkannya. Tenyata banyak godaannya Al. Kalau kamu mau dengan nasehat Mas, jangan pernah sekalipun sentuh rokok ya Al. Kalau sudah kecanduan akan berat untuk meninggalkannya" ujar Bagas.
Bagas menatap pemandangan malam yang gelap.
Seperti cinta.. sekali aku masuk kedalam lembah cinta dan basah aku terus merasa dahaga tak ingin selesai. Rasanya ingin terus berenang dalam genangan cinta. Tapi saat aku terdampar aku sangat dahaga dan nelangsa. Bahkan semakin lama kini aku hampir kehabisan nafas dan dehidrasi.
Cinta sungguh memabukkan, membuat aku ingin terus memikirkannya, merindukannya dan melihatnya. Cinta bisa membuatku gila, terkadang aku bisa tertawa dan terkadang aku menangis.
Bagas menghapus air mata yang menetes di sudut matanya.
"Mas Bagas kenapa? Mas Bagas menangis?" tanya Ali.
"Kelilipan abu rokok Al. Ini juga salah satu bahayanya. Bisa merusak mata. Jangan pernah sentuh rokok ya Al. Ingat pesan Mas" jawab Bagas.
"Iya Al kamu duluan saja, Mas sebentar lagi mau habisin rokok ini" balas Bagas.
Ali segera masuk ke dalam kamarnya sedangkan Bagas masih melanjutkan menghisap rokok yang ada di tangannya.
Satu jam kemudian Bagas masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Bagas kembali menatap layar ponselnya dan melihat nomor Dewi.
Dewi merubah gambar status w*nya. Ada gambar kartun wanita berjilbab sedang menangis.
Apakah kamu begitu terluka Wi? Sedih dan terluka karena Bapak kamu atau aku? Andaikan sedikit saja kamu mau menerima aku dan memberi aku kesempatan aku akan membahagiakan kamu dengan segenap hatiku. Ucap Bagas dalam hati.
Bagas menutup matanya dan tak lama kemudian nafasnya tampak teratur. Bagas sudah masuk ke alam mimpi.
*********
Esok harinya.
"Ayo Gas ganti pakaian kamu, kita kuras kolam" perintah Wijaya.
"Baik Pak" jawab Bagas sigap.
"Kamu juga Bin" sambung Wijaya.
__ADS_1
"Iya Pak" balas Bintang.
"Aku ikut Jay, aku datang ke sini memang untuk ini" sambut Pak Bambang.
"Ayo kalau kamu mau" jawab Pak Wijaya.
"Aku ikut ya Pak" pinta Ali.
"Ayo masuk semua... Bawa Tegar kalau bisa pasti dia akan senang sekali" ujar Pak Wijaya.
"Asiiiik... ayo Om Ali" ajak Tegar.
Para lelaki semua berganti pakaian dengan baju kaos dan celana pendek mereka lalu terjun ke kolam ikan.
"Yeaaaaaaaaay..... " Teriak Tegar meriah.
"Wiiii... ambil foto mereka gih buat kenang - kenangan. Pasti lucu" perintah Tiara.
"Iya Kak, sebentar ya" Dewi mengambil ponselnya dan mengambil foto mereka.
"Seru sekali masuk ke dalam kolam ikan dan mengambil ikan seperti di kampung dulu. Ini yang aku rindukan, jadi ingat waktu main ke kampung kamu Jay" ujar Pak Bambang.
"Hahaha... iya ya. Kenangan masa muda kita dulu" sambut Pak Wijaya.
"Ayo Pa... tangkap ikannya" Tegar masih di pinggir kolam karena tubuhnya yang mungil takut tenggelam masuk ke dalam kolam yang masih banyak airnya.
"Iya sayaaaang" balas Bintang.
Bagas yang salah langkah terpleset dan jatuh ke dalam kolam dengan wajah penuh lumpur.
"Hahahaha... Wi foto Wi, Mas Bagas lucu sekali" perintah Tiara.
Dewi mengambil foto Bagas yang terjatuh ke dalam kolam. Rambut dan wajahnya kotor tertutup lumpur.
Jepret.....
Dewi tak tahan menahan senyumannya, akhirnya dia juga ikut tersenyum melihat hasil jepretannya. Lucu banget melihat wajah Bagas yang seperti itu.
Bagas yang sempat melihat senyuman di wajah Dewi langsung terpaku.
Kalau memang tampang aku seperti ini bisa membuat senyum terbit di wajah kamu Wi, aku ikhlas kalau harus berenang dan penuh lumpur, setiap hari pun aku mau Wi demi kamu.. Batin Bagas.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1