Tiara

Tiara
Lanjut kencan dengan gadis dibawah umur


__ADS_3

Setelah mereka selesai menonton film di bioskop. Mereka hanya berjalan - jalan di seputaran Mall tersebut.


"Wi, apalagi nih yang harus kita kerjakan dalam berkencan?" tanya Bagas.


"Mmm... apa ya Mas" Dewi tampak sedang berfikir.


"Makan sudah, nonton sudah.. " ucap Dewi.


"Gimana kalau belanja?" Bagas memberi penawaran.


"Aku sih mau tapi kan aku bukan calonnya Mas Bagas, masak aku terima tawaran Mas Bagas kan aku jadi gak enak. Kesannya aku itu cewek matre" jawab Dewi polos.


"Hahaha... cewek matre itu ada maunya sama cowok yang dia tergetkan Wi. Kamu kan saat ini jadi guru kencan Mas jadi kamu pantas mendapatkan imbalan yang setimpal. Kamu mau belanja?" tanya Bagas untuk meyakinkan Dewi.


Dewi terlihat masih ragu.


"Udah gak usah ragu.. Kamu gak perlu sungkan sama Mas. Mas akan kabulkan apapun permintaan kamu hari ini" janji Bagas.


"Benar Mas?" tantang Dewi.


"Benar, apapun permintaan kamu" jawab Bagas sambil tersenyum gemas melihat gadis pujaan hatinya ini.


"Gak ada limit? Aku boleh memilih barang mahal?" tanya Dewi meyakinkan.


"Boleh. Kan Mas sudah bilang apapun permintaan kamu tidak ada limit harga. Terserah kamu mau mahal sekalipun akan aku belikan" ucap Bagas meyakinkan.


"Kalau mobil?" tanya Dewi mencoba memancing keseriusan Bagas.


"Boleh, yuk kita ke showroom nya sekarang" ajak Bagas.


"Eh nggak.. nggak.. aku cuma bercanda. Bisa - bisa aku di penggal Ibu dan Kak Ada Mas minta yang nggak - nggak sama Mas Bagas. Mas itu kan sahabatnya Mas Bintang masak iya aku kuras uangnya" cegah Dewi.


"Ya gak apa - apa. Aku ikhlas kok. Nanti aku yang jelaskan pada Ibu, Tiara dan Bintang. Gimana?" tanya Bagas.


"Nggak.. nggaaak... aku tidak membutuhkannya saat ini" tolak Dewi.


"Jadi apa donk yang kamu butuhkan saat ini?" tanya Bagas serius.

__ADS_1


"Mmm... aku boleh gak minta laptop?" tanya Dewi malu.


"Boleh donk... untuk kuliah kamu kan?" tanya Bagas balik.


Dewi menganggukkan kepalanya.


"Saat ini lagi butuh, tapi mau minta Ibu situasinya sekarang seperti ini. Atau aku minjam aja deh sama Mas Bagas uang untuk beli laptop. Aku jadi gak enak nih minta beliin itu sama Mas Bagas" Dewi merasa sangat sungkan meminta sesuatu kepada Bagas yang menurut Dewi mahal.


Sedangkan menurut Bagas barang yang diminta Dewi itu tidak seberapa dan belum di bilang menguras dompetnya. Cewek - cewek teman kencannya dulu malah lebih banyak dari itu mintanya. Mereka tak sungkan - sungkan meminta tas brand terkenal yang harganya sampai puluhan juta.


Apalagi ini untuk pujaan hatinya, gadis yang akan menjadi masa depannya. Kalau Dewi minta dirinya utuh sekalipun akan dengan ikhlas Bagas berikan. Malah dia sangat berharap itu permintaan Dewi dengan begitu mereka bisa segera menikah. Tawa nakal di benak Bagas.


"Ada aja kamu mau minjam sama Mas. Mas yang malu Wi, minjamin uang segitu pada kamu. Udah yuk kita cari laptop yang kamu perlukan. Bila perlu kita borong semua laptop yang ada di Mall ini" ujar Bagas.


"Eh gak perlu Mas, aku butuhnya cuma satu" tolak Dewi.


Bagas semakin memuji Dewi, selain Dewi cantik, masih polos dan lugu Dewi juga tidak matre. Buktinya tadi dia sempat mengajukan niatnya meminjam uang Bagas saja untuk membeli laptop yang dia inginkan.


"Ya sudah ayo kita cari laptop yang pas untuk kamu" ajak Bagas.


Mereka berjalan ke counter laptop, mencari laptop yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan Dewi. Bagas memilihkan laptop yang terbaik tapi Dewi menolaknya karena terlalu mahal.


Lebay kan? ya itulah Bagas dengan segala ke - lebay-annya hahaha....


Akhirnya laptop untuk Dewi sudah di beli. Bagas sudah membayarnya dengan menggunakan kartu andalannya. Mereka kemudian keluar dari Conter tersebut dengan menjinjing laptop Dewi.


"Mas beneran gak apa - apa nih? Aku gak enak lho Mas nerimanya. Bisa dimarahin Ibu aku Mas" ucap Dewi polos


"Nanti Mas yang akan jelaskan kepada Ibu" ucap Bagas.


"Sekarang kita cari tas yang bagus untuk kamu membawa laptop ini" ajak Bagas.


"Gak usah Mas, biar aku beli sendiri aja" tolak Dewi.


"Sudah sekalian aja kita cari. Mumpung masih di Mall" ucap Bagas.


Lagi - lagi Dewi mengalah dan tak bisa menolak ajakan Bagas. Dengan langkai gontai dia mengikuti langkah Bagas dari belakang.

__ADS_1


Mereka singgah di toko yang menjual perlengkapan sekolah. Bagas membawanya kebagian Tas. Dan memilih tas ransel yang manis dan cocok untuk seumuran Dewi.


"Kamu suka yang ini Wi?" tanya Bagas.


Dewi melihat daftar harganya.


"Jangan Mas kemahalan ini?" tolak Dewi.


"Gak ada yang mahal kalau untuk kamu" jawab Bagas.


"Mas Bagaaaaas" protes Dewi.


"Kamu kan guru kencan aku. Jadi aku harus service kamu yang terbaik" ujar Bagas kembali merayu Dewi agar mau menerima pemberiannya.


"Tapi aku gak dirugikan di sini Mas. Malah dari tadi aku senang - senang bersama Mas Bagas. Aku di ajak makan, di ajak nonton, di beliin laptop nah sekarang mau di beliin tas. Mahal lagi" jawab Dewi masih keberatan dengan tawaran Bagas yang menurutnya kemahalan.


"Ya gak apa - apa. Kamu kan sudah capek berpikir dan mengajarkan aku bagaimana cara kencang dengan gadis di bawah umur seperti kamu.. walaupun sebenarnya seumuran kamu itu sudah boleh lho di nikahi Wi. Di luar sana yang lebih muda dari kamu sudah banyak yang menikah" pancing Bagas.


"Iya Mas tapi kan masih di bawah dua puluh tahun belum matang. Mas juga di tolak sama keluarga calonnya Mas Bagas karena alasan itu juga kan?" desak Dewi.


Bagas mengharukan kapalnya yang tak gatal.


"Iya juga sih, karena alasan itu makanya Mas harus menunggu dua tahun lagi. Udah tua banget umur Mas Wi. Tiga puluh tiga tahun" jawab Bagas pasrah.


"Hahaha... rasain siapa suruh nyarinya anak ABG. Kalau mau cepat nikah, cari noh sana cewek yang sudah mapan juga usianya" ledek Dewi.


"Ya habis jatuh cintanya sama anak ABG itu. Mana bisa Mas menolak kekuatan cinta" jawab Bagas jujur.


"Rasain kena batunya, makanya selama ini jangan permainkan cinta cewek - cewek. Sekarang giliran Mas Bagas kan yang dipermainkan cinta. Udah cinta, mantap nikah eeeh ceweknya masih di bawah umur hahahaha" ejek Dewi, dia tertawa menang melihat wajah Bagas yang sangat kesal.


Tiba - tiba mereka melintasi segerombolan cewek - cewek seumuran Dewi yang ternyata mengenal Dewi.


"Eh lihat tuh si Dewi pacaran sama Om - Om. Apa Dewi dapat sugar daddy ya... "


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2