
Sepulang dari kampus Dewi. Bagas, Dewi dan Ali mampir di Cafe Kenanga untuk menemui Pak Wijaya dan Bu Siti. Kini mereka sedang duduk di ruang kerja Bu Siti dengan wajah serius.
"Kalian kenapa kok wajahnya ketat semua?" tanya Bu Siti penasaran.
"Iya benar, Dewi juga pucat. Ada masalah apa?" selidik Pak Wijaya.
Dewi dan Ali diam tak ingin bicara sedangkan Bagas sedang menyusun kata - kata untuk membicarakan masalah mereka.
"Tadi kami baru dari kampus Dewi Pak" jawab Bagas.
"Itu saya sudah tau dari tadi pagi saat kalian berpamitan" jawab Pak Wijaya.
"Begini Pak, tadi saat kami dikampus Morgan datang menemui kami dan secara terang - terangan mengatakan kalau dia ingin merebut Dewi dari saya. Kami bahkan hampir saja adu jotos. Kalau Dewi tidak mencegah saya mungkin sudah terjadi hal - hal seperti yang saya katakan tadi" ungkap Bagas.
"Morgan ternyata benar - benar ingin mengganggu pernikahan kalian ya.. " sambut Pak Wijaya.
"Itulah Pak saya bingung bagaimana harus mensikapi semua ini. Pernikahan tinggal satu bulan lagi. Saya kan tidak bisa setiap saat berada di sisi Dewi. Ya selama saya cuti saya akan berusaha menjaganya tapi setelah selesai cuti Dewi akan tinggal di rumah Bintang. Tapi... " ujar Bagas.
"Tapi apa Gas?" tanya Pak Wijaya.
"Pak, Bu boleh saya meminta sesuatu pada kalian?" tanya Bagas.
Tiba - tiba saja Bagas mendapat ide yang dia rasa ini adalah solusi untuk permasalahan dia dengan Morgan.
"Kamu mau meminta apa Gas?" tanya Siti.
"Begini, pernikahan kami kan tinggal satu bulan lagi. Ancaman Morgan adalah ingin merebut Dewi dari saya dan ingin menggagalkan pernikahan kami. Semua persiapan pernikahan kami sudah hampir rampung hanya tinggal menunggu waktu saja sesuai dengan rencana yang telah kita cetak di surat undangan. Jadi saya meminta izin kepada Bapak dan Ibu boleh tidak saya dan Dewi ijab kabul dulu minggu ini. Nanti pestanya kita laksanakan sesuai dengan rencana kita sebelumnya. Agar saya bisa menjaga Dewi dan selalu berada di sampingnya" pinta Bagas dengan serius.
"Maaas" panggil Dewi.
Pak Wijaya dan Bu Siti saling pandang.
__ADS_1
"Maaf saya tidak ada merencakan hal ini sebelumnya, tiba - tiba ide ini muncul begitu saja Pak, Bu. Saya sangat khawatir dengan keadaan Dewi. Karena saat Morgan mengancam tadi Dewi kembali teringat saat kejadian dia diculik dulu. Tubuhnya langsung bergetar hebat, wajahnya pucat dan keringat dingin" ungkap Bagas.
"Sampai sekarang malah wajahnya masih pucat" sambung Bagas.
"Iya Pak, Bu. Bahkan tadi Kak Dewi sempat menangis waktu kita di kantin kampusnya" sambut Ali.
Pak Wijaya dan Siti saling pandang lagi.
"Ehm.. begini nak Bagas. Kita kan sedang membicarakan pernikahan kalian. Menikah kan bukan hanya menyatukan kalian berdua saja tapi menyatukan dua keluarga. Bisa tidak kamu memberi kami waktu untuk kami berdiskusi? Kamu juga bisa sekalian kabarkan hal ini kepada Papa dan Mama kamu. Bapak hanya takut terjadi fitnah dikemudian hari. Orang - orang mengira pernikahan kalian di percepat karena telah terjadi hal - hal yang tidak diinginkan diantara kamu dan Dewi. Bagaimana pun kami kan dari pihak perempuan yang mempunyai beban moral lebih dalam masyarakat. Ini hanya untuk menjaga nama baik keluarga" ucap Pak Wijaya bijak.
"Tidak masalah Pak. Saya juga akan cerita ke Papa dan Mama saya. Kalau Bapak dan Ibu setuju hari Jumat Papa dan Mama saya datang ke Bandung. Kita bisa laksanakan akad nikahnya di rumah Bapak. Bintang dan Ara juga bisa datang kan hari jumat ke sini" ujar Bagas.
"Kami akan diskusikan hal ini sebelum hari jumat" tegas Pak Wijaya.
"Baiklah Pak, setidaknya saya merasa sedikit lebih lega. Ada secercah cahaya dalam permasalahan kami ini. Dari tadi saya sudah sangat pusing memikirkannya" jawab Bagas.
"Ya sudah kalau begitu lebih baik kalian pulang duluan. Lihat Dewi juga sepertinya masih kurang sehat dan besok dia juga masih ujian. Lebih baik istirahat untuk persiapan ujian besok lagi" perintah Pak Wijaya.
"Aaamiin... " jawab Bagas dan Dewi.
" Yuk Wi, Al kita pulang duluan" ajak Bagas.
"Iya Mas" sambut Ali dan Dewi.
Mereka bangun dari tempat duduknya kemudian pamit dan mencium tangan Pak Wijaya dan Bu Siti. Setelah itu keluar dari Cafe menuju mobil. Lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Wijaya di Lembang.
Di dalam mobil Dewi terus memikirkan permintaan Bagas tadi kepada Bapak dan Ibunya.
"Maaas.. Mas serius dengan ucapan Mas tadi kepada Bapak dan Ibu saat di Cafe?" tanya Dewi.
"Serius donk Wi.. Mas sama kamu tidak pernah main - main. Mas sangat serius kan Mas sudah bilang berulang kali kepada kamu kalau kamu adalah masa depan Mas. Mas sangat takut kehilangan kamu. Mas akan selalu menjaga kamu dari siapapun itu bukan hanya Morgan tapi Morgan - Morgan lainnya yang berusaha ingin merebut kamu dari Mas" jawab Bagas dengn wajah yang sangat serius.
__ADS_1
Dewi menunduk, dia tidak bisa berpikir lagi saat ini. Karena masih shock dengan ancaman Morgan tadi.
"Kalau aku jadi Mas Bagas, aku akan melakukan hal yang sama" sambut Ali.
"Tuh benar kan Al?" ujar Bagas.
"Iya Mas. Kalau Kak Dewi sudah menjadi istri Mas, tidak ada lagi penghalang antara kalian, tidak ada lagi jarak yang perlu di jaga. Itu akan membuat celah pria gila itu semakin sempit untuk mengganggu kalian" sambung Ali.
"Apa kamu keberatan dengan permintaan aku tadi pada Bapak dan Ibu? Kamu tidak setuju kalau kita percepat pernikahan kita sampai akhir minggu ini?" tanya Bagas.
"A.. aku tidak tau Mas. Rasanya mengapa semua terjadi begitu cepat. Aku tidak bisa berpikir lagi" jawab Dewi.
"Anggaplah ini hikmah dari gangguan Morgan. Niat dia ingin merusak rencana pernikahan kita tapi malah sebaliknya ancamannya membuat pernikahan kita jadi lebih cepat tiga minggu dari tanggal yang telah kita rencanakan sebelumnya" ujar Bagas.
"Kak Dewi lupa ya, jodoh pertemuan dan maut itu sudah ditetapkan Allah. Seperti Kak Ara dengan Mas Bintang yang sempat terpisah karena keadaan selama lima tahun tidak bertemu tapi karena takdir mereka berjodoh Allah pertemukan lagi. Begitu juga mungkin dengan Mas Bagas dan Kak Dewi. Rencana awak menikah satu bulan lagi malah di percepat menjadi beberapa hari ke depan. Semua rahasia Allah Kak, tidak ada yang tau" ujar Ali.
"Wah tiba - tiba kamu menjadi sangat bijak sekali Al. Kamu memang adik ipar idolaku" puji Bagas.
"Ah Mas Bagas bisa aja" bantah Ali.
"Tapi Al, yang bersiap - siap bukan hanya kami berdoa lho. Kamu juga harus bersiap" ujar Bagas.
"Aku.. ? harus bersiap? kenapa?" tanya Ali bingung.
"Kamu kan yang akan menikahkan Dewi nanti. Aku akan berjabat tangan dengan kamu dan mengucapkan ijab kabul pernikahan" ungkap Bagas mengingatkan.
"O.. ooooooo" Ali terkejut.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG