
Wijaya lama berbincang - bincang dengan Bambang, Bintang dan yang lainnya di rumah Ibunya Tiara. Bahkan mereka makan malam bersama di rumah Siti.
"Gimana Mas Jay masakan Siti malam ini? Ada yang berubah gak?" tanya Bu Bambang.
"Nggak.. Enak, masih sama enaknya seperti dulu" jawab Wijaya.
Siti tertunduk malu mendapat pujian dari mantan suaminya.
"Oh iya Pak, Ibu punya usaha Cafe lho di sini" ujar Bintang.
"Oh ya, dimana?" tanya Wijaya.
"Di Jl. Dago Pak" jawab Tiara.
"Apa nama Cafenya?" selidik Wijaya.
"Cafe Kenanga" balas Tiara.
"Itu Cafe miliknya Bintang Mas, aku hanya melanjutkan mengelolanya saja" jawab Siti.
"Ya gak apa - apa. Kan gak ada salahnya lagian masakan kamu kan memang enak. Sayang kalau gak disalurkan" sambut Wijaya.
"Aku sudah tidak sekuat dulu Mas, bukan aku yang masak, di Cafe kan ada kokinya" Siti mengelak.
"Kapan - kapan kalau Bapak ada waktu mampir donk ke Cafe" ujar Tiara.
"InsyaAllah Bapak akan mampir" balas Wijaya.
"Opa.. Opa.. tidur di rumah Eyang kan?" tanya Tegar.
"Tidak sayang.. Opa pulang ke rumah Opa, besok - besok Opa akan datang lagi ke sini" jawab Wijaya lembut kepada cucunya.
"Tapi rumah aku di Jakarta Opa. Apa Opa juga mau datang ke Jakarta?" tanya Tegar lagi.
"Iya, nanti Opa juga akan berkunjung ke rumah kamu yang di Jakarta ya" balas Wijaya.
Semua tersenyum melihat wajah lucunya Tegar.
"Kami juga akan balik ke Jakarta ya Bin malam ini" ucap Roy.
"Iya, makasih ya Roy, Gas. Kalian sudah mau repot - repot membantu aku" balas Bintang.
"Gak masalah Bin, nanti kan bisa gantian aku yang ngerepotin kamu" sambut Bagas.
__ADS_1
"Niat banget ya" sindir Roy.
"Yoi.. dan itu pasti. Kamu bersiap - siap saja" goda Bagas.
"Asem lo" balas Bintang.
"Hahaha.. udah bisa marah dia. Tadi siang siapa ya yang linglung dan putus asa jalan lurus ke depan dengan fikiran kosong sampai hampir di tabrak mobil" sindir Bagas.
"Apa, Mas Bintang hampir di tabrak mobil?" tanya Tiara tak percaya.
"Iya, untuk aku dan Bagas tarik dia. Kalau tidak udah gak kebayang gimana keadaannya" jawab Roy.
"Seandainya kami videokan gimana kondisi Bintang saat kamu menghilang kamu pasti akan tau berapa besar cinta Bintang untuk kamu. Sayang kami gak tega melakukannya. Bintang sangat kacau kehilangan kamu dan Tegar Ra" sambut Bagas.
"Maaas... maafkan aku. Aku bertindak terlalu ceroboh dan kekanak - kanakan sehingga merepotkan kalian semua" mata Tiara kembali berkaca - kaca.
"Sudahlah yank yang penting semua sudah berhasil kita lewati. Kita ambil saja hikmah dari semua kejadian ini. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, kita harus saling percaya dan semua masalah harus kita selesaikan langsung jangan lari dan membuat masalah semakin rumit" ucap Bintang sambil memeluk bahu Tiara.
"Iya Mas, lain kali aku tidak akan berbuat seperti ini lagi. Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi" janji Tiara.
"Iya Kak, mending waktu kakak ada di ruangan Mas Bintang. Kakak acak - acak aja tuh perempuan jalan* itu. Tarik rambutnya dan jambak giginya. Kasih pelajaran sama perempuan itu biar dia kapok" potong Dewi dengan semangat membara.
"Galak juga kamu ya Wi, gak nyangka aku. Tapi ada gitu ya gigi yang di jambak? Ada juga giginya di tonjok Wi" sambut Bagas.
Calon istriku kalau marah begini rupanya tingkahnya. Bagas tertawa dalam hati.
Roy melirii Bagas sambil tersenyum.
"Wuiiidiiiih sadis amat kamu Dew.. kayaknya ada yang harus hati - hati nih. Secara mantan playboy punya mantan yang lebih banyak hahahaha" sindir Roy.
"Mampu* lo" Bintang menggerakkan mulutnya ke arah Bagas tanpa suara. Tapi Bagas bisa mengerti apa yang di ucapkan Bintang.
Mati aku.. begini nih resiko punya calon istri masih anak ABG, muda dan enerjik. Semangatnya udah kayak pejuang empat lima. Sebelum menikah sepertinya aku harus bersihkan jalanan menuju halal biar gak banyak kerikil - kerikil tajam yang menghalangi jalanku menuju ke tempatmu pujaan hatiku. Batin Bagas.
Untung saja gak ada yang mengerti sindiran Roy kepada Bagas selain Bintang dan Tiara.
"Ini anak kamu Sit?" tanya Wijaya sambil menunjuk ke arah Dewi.
"Iya Mas, ini adeknya Tiara, namanya Dewi dan ini yang paling kecil Ali" jawab Siti sambil memperkenalkan Dewi dan Ali kepada Wijaya.
"Pantas saja wajahnya mirip dengan Tiara dan kamu, semuanya cantik" puji Wijaya.
Lagi - lagi Siti tertunduk dan tersipu malu.
__ADS_1
Dewi dan Ali seyum dan menunduk hormat kepada Wijaya, Bapaknya Tiara.
Mereka melanjutkan makan malam bersama - sama setelah itu berbincang sebentar di ruang keluarga.
Wijaya melihat kesekeliling rumah dan orang - orang yang ada di rumah. Dia merasa aneh karena tidak menemukan seseorang yang dari tadi membuatnya penasaran.
"Suami kamu mana Sit?" tanya Pak Wijaya akhirnya.
Bintang melirik ke arah Tiara. Bu Bambang dan Pak Bambang juga saling lirik. Sedangkan Tiara, Dewi dan Ali melirik ke arah Ibu mereka.
"Mm.. anu Mas. Su.. Suamiku ada di penjara" jawab Siti malu.
"Di penjara, kenapa?" tanya Wijaya terkejut.
"Kemarin Pak Tarjo melakukan tindakan KDRT kepada Ibu Pak. Jadi aku dan Tiara membujuk Ibu untuk meninggalkan Bapak dan lari ke Bandung. Ibu akhirnya mau menerima tawaran kami untuk mengelola Cafe di Bandung. Ternyata Pak Tarjo yang dulu bekerja sama dengan teman Tiara untuk menjebak Tiara dan ingin menikahkan Tiara dengan juragan dikampung, kembali menjalin kerjasama. Entah dari mana dia bisa tau sekolah Tegar dan dia menculik Tegar. Pada saat penyelamatan Tegar di rumah lama Ibu kami sempat berkelahi dan akhirnya Papa kena tusukan Pak Tarjo. Pak Tarjo di tangkan polisi dan masih dalam proses hukum. Minggu depan adalah sidang akhir, sidang putusan hukuman untuk Pak Tarjo" ungkap Bintang.
"Jadi suami kamu ingin menjual Tiara anakku Sit?" tanya Wijaya geram.
"Ma.. maafkan aku Mas. Aku tidak tau kalau dia merencakan semuanya" jawab Siti.
"Jadi apa yang kamu lakukan untuk menuntutnya Bintang?" tanya Wijaya.
"Aku menuntut dia dengan hukuman yang paling berat Pak. Maaf ya Dewi, Ali. Walaupun Pak Tarjo adalah Bapak kalian tapi kita harus menegakkan keadilan" Bintang merasa sungkan kepada Dewi dan Ali. Bagaimanapun Tarjo adalah Bapak mereka. Bintang tak ingin Dewi dan Ali salah sangka dan berfikiran kalau mereka memang sengaja berbuat seperti itu kepada Tarjo.
"Tidak apa Mas Bintang, kami mengerti. Selama ini Bapak memang sudah banyak menyakiti kita semua. Mudah - mudahan dengan semuanya ini bisa membuat Bapak sadar dan berubah untuk berbuat hal yang lebih baik lagi" jawab Dewi bijaksana.
Waaah pujaan hatiku ternyata sudah sangat dewasa. Puji Bagas dalam hati.
"Minggu depan ajak Bapak untuk mengahadiri sidang akhirnya ya. Bapak ingin melihat pria itu di hukum karena sudah membuat anakkku menderita" ucap Wijaya.
"Baik Pak nanti akan saya kabari Bapak" balas Bintang.
"Sudah malam, kalau begitu saya pamit pulang ya.. Siti, Bambang, Sekar dan semuanya aku pamit dulu" ucap Wijaya mengundurkan diri.
Wijaya segera keluar dari rumah Siti dan masuk kembali ke mobilnya. Tak lama kemudian Wijaya meninggalkan rumah Siti.
Wijaya memandangi wajah Siti dari dalam rumah.
Sit... mengapa hidupmu begitu menderita. Kamu sering mendapatkan tindakan kekerasan dari suami kamu selama bertahun-tahun. Mengapa kamu bertahan selama itu? Apakah ada yang bisa aku lakukan untukmu. Setidaknya di akhir usiaku aku ingin menebus kesalahanku karena dulu sudah menelantarkan kamu. Kalau saja aku tidak datang terlambat, aku pasti sudah membuat keluarga kita bahagia.
Wijaya menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya sambil menatap dari kegelapan cahaya di dalam mobilnya. Dia menatap wajah wanita yang saat ini masih dia cintai.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG