
Tiara kembali melangkahkan kakinya, setelah sebelumnya ia memberi salah satu dari tiga buku yang ia pegang kepada seorang laki laki remaja yang bernama Rafka.
Ia terus berjalan menelusuri lorong yang memang lumayan panjang hingga akhirnya ia kembali keluar dari lorong itu dan menemukan keramaian. " Setelah ini, kemana lagi aku akan mencari. apa aku harus memutari pasar ini sekali lagi.." ucapnya sembari mengusap keringat yang sudah menetes di dahinya, karna memang mengingat saat ini ia sedang ada di pasar yang cuacanya lumayan terik, dan di tambah dengan keramaian orang yang berlalu lalang, hingga membuat udara yang sudah panas, menjadi semakin panas.
" Huh, mau gimana lagi. mau tidak mau aku memang harus mengitari pasar ini sekali lagi." ucapnya sembari mendengus dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. lalu kembali melangkahkan kakinya.
Lama ia kembali berjalan hingga seseorang yang sepertinya ia kenali menarik perhatiannya. " Itu kan laki laki yang sering ku lewati di jalan ketika aku di antar pagi pagi oleh ayah ke sekolah." ucap Tiara pelan sembari menajamkan penglihatannya kepada seorang laki laki yang masih mengenakan pakaian putih biru dan sedang mengumpulkan botol botol plastik dan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang berada di tangan kirinya.
" iya, itu benar dia. sedang apa dia, kenapa dia mengumpulkan botol botol bekas kedalam plastik, sedangkan ia masih mengenakan pakaian sekolah."ucap Tiara lagi sembari melangkahkan kakinya untuk mendekati laki laki itu.
"Hai kak." ucap Tiara kepada laki laki itu, sembari melambaikan tangannya ke depan, setelah ia berada di depan laki laki tadi.
Sedangkan laki laki yang Tiara sapa itu, kini menundukkan kepalanya untuk melihat Anak yang baru saja menyapa nya itu. lalu ia menyerngitkan dahinya, setelah melihat anak yang tampak asing di depannya itu.
" Kamu siapa..??" ucapnya kepada Tiara heran.
" Tia mau ngajak kakak ngobrol sebentar boleh..??" Bukannya menjawab pertanyaan, Tiara malah mengajukan pertanyaan lain yang menurut laki laki di depannya itu, tidak masuk akal.
" Tidak, saya sedang sibuk. apa kamu tidak lihat..??" ucap laki laki itu ketus sembari mengangkat kantong yang berisi botol plastik yang berada di tangannya itu.
" Sebentar saja kak. nggak lama lama kok. Tia juga tau kalo kakak lagi kerja. jadi Tia nggak akan memakan waktu yang lama." ucap Tiara lagi. yang semakin membuat dahi laki laki didepannya berlipat.
" pertama perkenalkan namamu dulu, baru saya mau kamu ajak bicara." ucap laki laki itu pada akhirnya sembari menghembuskan nafas lelah.
" Nama aku Tiara kak. kakak bisa memanggilku dengan panggilan Tiara atau Tia aja sudah cukup. Oh ya kak. disini panas, gimana kalau kita mengobrol disana saja. karna disana sepertinya terlindung dari sinar matahari." ucap Tiara lagi sembari langsung menarik kuat tangan laki laki itu ke arah yang ia bilang terlindung dari sinar matahari tadi. tanpa memperhatikan expresi dari laki laki yang ia seret.
" Hei pelan pelan dong, kamu bisa terjatuh nanti." ucap laki laki itu sembari mengimbangi langkah Tiara yang setengah berlari dan menarik tangannya kuat.
" Tenang aja kak. Tia nggak bakal jatuh kok. karna Tia kan kuat." ucap Tiara sembari tertawa kecil dan terus melangkahkan kakinya hingga mereka berdua sampai ketempat Tiara tunjukkan tadi.
__ADS_1
"Nah, kita sudah sampai, sekarang apa yang mau kamu bilang ke saya..?" Ucap laki laki itu, begitu mereka sampai dan Tiara melepaskan genggaman tangannya.
" Pertama tama Tia mau nanya, Nama kakak siapa??" ucap Tiara sembari memandang laki laki remaja yang ada dihadapannya itu.
" Nama saya Daren. Mau apa kamu dengan nama saya??" Ucap laki laki yang mengaku sebagai Daren itu dengan sedikit ketus.
" Tia nggak mau ngapa ngapain nama kakak kok.. Tia cuma mau tau nama kakak aja, supaya Tia mengenal kakak." ucap Tiara sembari menghembuskan nafas dalam. lalu menarik tas yang berada di punggungnya itu.
" Oh, Lalu apa yang mau kamu bicarakan dengan saya??" ucap Daren sembari memandangi Tiara yang sedang membuka resleting tasnya dan mengeluarkan sebuah buku yang berwarna kuning dari sana.
" Ini ada buku yang mau Tia kasih ke kakak. Tia harap kakak Mau menerima dan mempelajari isinya." ucap Tiara sembari menyodorkan buku yang sudah di ambilnya itu, ke laki laki di depannya itu.
"Buku apa ini, lalu kenapa saya harus menerima dan mempelajari isinya??" ucap Daren sembari menatap buku yang di sodorkan oleh Tiara itu kepadanya.
" Tia juga nggak tau buku apa ini dan bagaimana isinya. tapi Tia mau kakak mau menerimanya. karna Tia punya firasat bahwa buku ini akan sangat berguna untuk kakak kedepannya." ucap Tiara sembari tetap menyodorkan buku itu.
" Bagaimana kamu tau kalau buku itu bisa berguna untuk saya, sedangkan kamu saja tidak tau apa isinya." ucap Daren lagi sembari masih tetap memandangi buku itu.
" Hei, saya tidak bilang kalau saya ingin mengambil buku yang kamu berikan ini." ucap Daren sembari menatap buku yang kini sudah berpindah kedalam tangannya itu.
" Sudah lah kak. toh bukunya juga sudah berada di tangan kakak. Tia harap, kakak mau menjaga baik baik buku itu, dan mempelajarinya. agar buku itu berguna." ucap Tiara sembari mengancingkan kembali tasnya dan mengembalikannya ke punggung.
" Tapi kan,.."
" Sudah kak, Tia mau pergi dulu. karna Tia juga punya kesibukan lain yang harus segera Tia selesaikan. dan kakak juga pasti mau melanjutkan pekerjaan Kakak." ucap Tiara memotong perkataan yang hendak Daren ucapkan dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan pemuda, yang masih berdiri tegak di tempatnya.
" Hei Tiara,.." panggil Daren setengah berteriak setelah melihat Tiara sudah melangkah menjauh.
" Sudah kak. terima saja, karna Tia yakin kakak mampu dan sanggup." ucap Tiara menyahut dari kejauhan.
__ADS_1
" Hah,.. Bocah itu sangat aneh. tapi mata dan rambutnya sangat unik." ucap Daren sembari tersenyum tipis lalu memasukkan buku yang tadi di berikan Tiara itu kedalam tas yang berada di punggungnya. lalu melangkah pergi untuk melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda.
.
.
.
.
.
.
"Hidup itu akan terus berjalan tanpa atau dengan kamu terus memendam dendam.
untuk itu, jika kamu memiliki dendam di hati, Jangan tahan dan pendam. Balaslah selagi kamu mampu. tapi jika kamu sudah tidak mampu, maka tunggu lah tangan karma yang membalasnya. karna pembalasan itu akan selalu ada. baik itu dari kamu atau dari orang lain, atau mungkin dari sang kuasa itu sendiri.
Jadi jangan bodoh dengan memendam dendam yang bisa menggerogoti jiwa mu sendiri."😊
.
.
.
.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya 🙏
__ADS_1
...**SEE YOU IN THE NEXT CHAPTER 🙏😇...