Tiara

Tiara
Persalinan


__ADS_3

Tak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat. Tiara sudah mulai terbiasa untuk pergi dan pulang sendiri dari Cafe walaupun perutnya sudah semakin besar.


Kini hanya tinggal menunggu hari persalinannya. Sebenarnya Dian pemilik Cafe sudah melarang Tiara untuk bekerja hanya saja Tiara beralasan tidak enak di kosan sendiri tidak melakukan apa - apa. Paling dia hanya tiduran, sementara Tiara berniat untuk melahirkan normal. Itu tandanya dia harus banyak bergerak untuk memperlancar persalinannya.


Hari ini adalah hari Minggu, Tiara lebih lama tiduran dari hari - hari biasa. Maklum kemarin adalah malam minggu, cafe pasti ramai. Dengan usia kehamilan seperti ini dia jadi lebih cepat lelah.


"Baru bangun Ra?" tanya Ridho ketika melihat Tiara keluar dari kamarnya.


"Udah dari tadi subuh cuma aku lagi malas aja bangun, pengen tiduran lebih lama" jawab Tiara.


"Kalau kamu gak kuat minta libur aja Ra, Mbak Dian pasti mengerti. Lagian kan dia sudah nyuruh kamu cuti dari kemarin" ujar Ridho.


"Nggak Dho, badanku sehat kok cuma lagi malas saja hari ini" balas Tiara.


Tiba-tiba Tiara terdiam, wajahnya pucat dan meringis. Ridho yang melihat perubahan wajah Tiara langsung khawatir.


"Kenapa Ra?" tanya Ridho.


"Perutku sakit banget Dho" jawab Tiara.


"Kamu udah mau lahiran?" tanya Ridho tidak mengerti.


"Aku gak tau Dho, belum ada tanda - tanda keluar tapi dari tadi pagi perutku dan sekitar pinggangku sakit. Mungkin karena tadi malam aku terlalu capek" jawab Tiara lagi.


"Kamu duduk dulu Ra" Ridho membawa Tiara kembali masuk ke dalam kamar.


Tiara mencengkram baju Ridho dengan kuat.


"Masih sakit Ra?" tanya Ridho lagi.


Tiara menganggukkan kepalanya.


"Ra kamu pipis?" Ridho menunjuk air yang merembes dari kaki Tiara dan tergenang di lantai.


"Ya Allah... Udah pecah ketubannya" ucap Tiara terkejut.


"Maksudnya Ra?" tanya Ridho bingung.


"Aku sudah mau melahirkan" jawab Tiara pelan sambil menahan rasa sakit di perutnya.


"Kalau begitu kita berangkat ke Rumah Sakit" ajak Ridho.


Ridho membantu Tiara berdiri.


"Dho tolong bawakan tas aku yang itu" tunjuk Tiara.


Ridho meraih tas pakaian Tiara yang ada di dekat lemari. Kemudian kembali memapah Tiara keluar kamar.


"Tolong pesankan taxi online. Tiara mau melahirkan" perintah Ridho kepada salah seorang teman kos mereka.


"Sebentar Dho" jawab Tari teman kamar di sebelah kamar Tari.


Setelah memesan taxi online Tari segera masuk ke dalam kamarnya dan tak lama dia keluar lagi dari kamar.

__ADS_1


"Dho aku ikut ya" ucap Tari.


"Ayok Tar, syukur ada kamu. Kamu sama Tiara naik taxi ke Rumah Sakit. Aku menyusul naik motor ya" jawab Ridho.


Mereka membawa Tiara sampai teras rumah Kos dan tak lama taxi sampai tepat di depan pagar. Tari dan Tiara masuk ke dalam taxi dan mobil langsung meluncur ke rumah sakit.


Ridho segera mengambil jaket, dompet dan kunci sepeda motornya kemudian meluncur menyusul Tiara dan Tari ke Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit wajah Tiara semakin pucat dan dia terus - terusan meringis.


"Bapak siapanya pasien?" tanya Perawat.


"Saya temannya Sus" jawab Ridho.


"Suaminya mana Pak?" tanya Suster.


"Ha.. eh em.. em.. lagi kerja" jawab Ridho terbata - bata.


"Sebaiknya suami pasien bisa hadir Pak, masak istrinya mau melahirkan masih sibuk kerja lagian kan ini hari libur. Kasihan itu istrinya kesakitan" ucap Perawat.


"Iya Dokter" balas Ridho.


"Pasien akan kami bawa ke ruang bersalin ya Pak karena sebentar lagi Ibu Tiara akan melahirkan. Kalau bisa tolong panggilkan suami Ibu Tiara ya Pak" perintah Perawat.


"Baik Sus" jawab Ridho.


Tiara di bawa ke ruang bersalin. Ridho dan Tari menunggu di depan ruang bersalin.


"Tar, kamu tolong tunggu di sini ya. Aku mau pergi sebentar" ucap Ridho pada Tari.


"Aku mau pergi sebentar ke Cafe. Mau ketemu pemilik Cafe. Ada yang mau aku bicarakan kepadanya" balas Ridho.


"Baik. Aku akan tunggu di sini" ucap Tari.


"Kalau ada apa-apa kabari aku ya Tar" ucap Ridho.


"Oke Dho" balas Tari.


Ridho segera berlari ke lapangan parkir dan mengambil sepeda motornya. Setelah itu melaju ke Cafe Cempaka.


"Mbak Dian maaf mengganggu sebentar. Bisa kita bicara" ucap Ridho ketika bertemu Dian.


"Ridho, ada apa?" tanya Dian terkejut.


"Aku mau bicara sama Mbak sebentar. Ini tentang Tiara Mbak" ucap Ridho.


"Baik, ayo kita ke ruangan ku. Biar kita lebih leluasa" jawab Dian.


Mereka masuk ke dalam ruang kerja Dian di Cafe.


"Duduk Dho" ucap Dian mempersilakan.


"Terimakasih Mbak" Ridho duduk di sofa yang ada di depan Dian.

__ADS_1


"Ada apa Dho, sepertinya kamu sangat tergesa-gesa?" tanya Dian penasaran.


"Mbak Tiara saat ini sudah di Rumah Sakit dan sedang proses bersalin. Tadi perawat menyuruhku untuk memanggil suaminya, mm.. maksudku Bapak dari anak yang ada dalam kandungan Tiara" ungkap Ridho.


"Terus kenapa kamu kemari. Kita kan sama - sama tau kalau Tiara tidak punya suami. Bahkan dia tidak kenal dengan pria yang sudah menghamilinya" sambut Dian.


"Dia tidak kenal pria itu kak tapi dia tau siapa pria itu" jawab Ridho.


"Siapa Dho?" tanya Dian penasaran.


"Sahabat Mbak yang bernama Bintang" Jawan Ridho.


"Apa, Bintang? Maksud kamu Bintang Prakasa?" tanya Dian tak percaya.


"Iya Mbak, Bintang Prakasa. Yang dulu pernah main ke Cafe bersama teman-teman Mbak yang lain di ruang khusus dan saat itu Tiara langsung kontraksi palsu karena melihat wajah Mas Bintang" ungkap Ridho.


Dian terdiam dan berusaha mengingat kejadian beberapa pulang yang lalu.


"Pantas waktu itu setelah mencatat meni mereka Tiara tidak kembali. Malah kamu yang menggantikannya membawa pesanan mereka" ucap Dian yang sudah mengingat kejadian waktu itu.


"Iya Mbak, tolong donk Mbak. Aku mau minta alamatnya, aku mau cerita tentang Tiara padanya. Walau Tiara memohon kepadaku untuk tidak mencari ataupun menemui pria itu tapi saat ini nyawa Tiara jadi taruhannya Mbak. Kalau ada apa-apa dengan Tiara dan anaknya bagaimana Mbak?" tanya Ridho.


Dian terlihat sedang berfikir keras. Kemudian segera meraih ponselnya dan mencari nama Bintang kemudian menghubunginya.


"Sebentar Dho, aku coba hubungi dia dulu" ucap Dian


Nomor hp Bintang tidak aktif.


"Gak aktif Dho" ujar Dian.


"Mbak aku boleh minta alamat rumah atau apartementnya. Aku akan menemuinya langsung dan membawanya ke rumah sakit. Kasihan Tiara Mbak, dia sedang berjuang sendiri di Rumah Sakit" ungkap Ridho.


"Baik... nih kamu cari Bintang di apartementnya" Dian menyerahkan alamat apartemen Bintang sekaligus nomor hp Bintang kepada Ridho.


"Terimakasih Mbak, aku pergi dulu ya Mbak" jawab Ridho.


Ridho segera berlalu dari hadapan Dian meninggalkan Dian yang termenung sendiri. Dian sungguh tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Ridho.


Tapi dia tau baik Ridho ataupun Tiara adalah orang-orang yang baik dan jujur. Mereka tidak mungkin berbohong. Apalagi untuk hal serius seperti ini. Tapi mempercayai Bintang lah yang manghamili Tiara itu sangat sulit karena selama ini Dian sangat mengetahui kalau Bintang adalah pria yang baik dan setia.


Tidak mungkin Bintang mengkhianati Siska pacarnya. Malah sebaliknya Siska lah yang sudah mengkhianati cinta Bintang. Hanya saja Bintang terlalu cinta kepada Siska sehingga matanya buta dan tidak mau mendengar omongan orang lain walaupun itu sahabatnya sendiri.


Dulu Roy dan Bagas pernah melihat Siska jalan bersama pria di sebuah diskotik di Jakarta ini. Dan mereka menyampaikannya kepada Bintang, tapi apa yang terjadi.


Akhirnya Bintang malah bertengkar dan saling pukul dengan Roy dan Bagas. Sejak itu baik Dian, Roy ataupun Bagas tidak pernah lagi mau ikut campur dalam hubungan asmara Bintang.


Tapi mendengar Bintang lah Bapak dari anak yang di kandung Tiara, entah mengapa hati Dian merasa sedikit senang. Mungkin inilah jalan satu - satunya untuk memisahkan Bintang dari Siska.


Semoga Bintang mau meninggalkan Siska dan bertanggung jawab pada Tiara.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2