Tiara

Tiara
Nostalgia...


__ADS_3

"Aku tetap menunggu kamu Sit.. bahkan sampai aku mati aku akan setia menunggu kamu.. Kamu tetap menjadi cinta pertama dan terakhirku" tegas Wijaya.


Siti terdiam, dia tidak tau apa yang harus dia katakan karena sebenarnya dia juga masih mencintai Wijaya. Wijaya adalah cinta pertamanya.


Pertama kali dia melihat Wijaya saat Pak Bambang Papanya Bintang datang bersama Wijaya membeli bubur ayam jualannya. Pak Bambang sejak awal memang sudah terlihat tertarik dengan Sekar. Hingga akhirnya mereka pacaran.


Wijaya beberapa kali ikut menemani Pak Bambang menemui Sekar di warung Siti. Keluarga Sekar memang tidak menyetujui Sekar berpacaran dengan Pak Bambang dengan alasan karena Pak Bambang adalah orang kota yang suka mempermainkan gadis kampung.


Akhirnya mereka pacaran secara diam - diam dan sembunyi - sembunyi. Tempat pertemuan mereka adalah warung bubur ayamnya Siti. Kalau Pak Bambang sedang berpacaran dengan Sekar, Wijaya yang mengajak Siti ngobrol. Siti tau kalau rumah Wijaya terletak di kampung sebelah dari kampung mereka..


Setelah mereka berhasil membantu Pak Bambang dan Sekar lari kawin, sejak itu Wijaya sendiri jadi rajin datang ke rumah Siti. Mereka menjalin hubungan dan akhirnya menikah.


Wijaya dan Siti tinggal di rumah orang tua Siti karena Siti memang hanya tinggal sebatang kara. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal. Saat itu Wijaya memang belum mempunyai pekerjaan. Setelah menikah pekerjaannya sehari - hari adalah membantu Siti berjualan bubur ayam di warung depan rumah Siti.


Setelah empat tahun pernikahan mereka. Saat anaknya Tiara berumur tiga tahun Wijaya meminta izin kepada Siti untuk merantau. Mencoba mengadu nasib di kota untuk mendapatkan pekerjaan baru.


Rencananya kalau dia berhasil, dia akan kembali dan membawa Siti dan Tiara ikut bersamanya. Tapi sayangnya bertahun - tahun Siti menunggunya tapi dia tak kunjung pulang. Siti menghidupi hidupnya dan anaknya dengan terus berjualan bubur ayam.


Saat Tiara berumur sepuluh tahun dia bertemu dengan Tarjo. Tarjo mengajak Siti menikah dan mau menerima status Siti sebagai janda. Siti menggugat cerai Wijaya kemudian beberapa bulan setelah itu Siti menikah dengan Tarjo.


Sekarang mereka bertemu lagi dalam status yang berbeda. Dan malangnya Wijaya harus melihat Siti mantan istrinya itu hidup menderita dibuat suaminya yang sekarang. Alangkah sakit rasanya hatinya saat ini.


Siti juga merasa sangat malu kepada Wijaya. Dia bercerai dengan Wijaya hanya untuk mendapatkan suami bejat seperti Tarjo. Yang lebih parah lagi, saat melihat kembali Wijaya masih hidup cintanya untuk Wijaya yang telah lama dia lupakan perlahan kembali lagi.


Wajar hal itu terjadi karena pernikahan mereka sebelumnya tidak ada masalah apa - apa. Wijaya memperlakukannya dengan baik, penuh kasih sayang dan cinta kasih. Sekalipun Wijaya tidak pernah memperlakukannya dengan kasar dulu.


Satu - satunya alasan yang membuat mereka berpisah adalah karena Wijaya pergi tanpa kabar berita selama bertahun - tahun. Andai saja ada sepucuk surat atau kabar berita dia akan tetap menunggu Wijaya kembali.

__ADS_1


"Maas.. jadi gak masaknya? Kalau mau dimasakin ya sudah sana panen sayurnya" ucap Siti mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya.


Siti bingung harus menjawab apa. Kalau dia katakan dia juga masih mencintai Wijaya, statusnya saat ini masih resmi menjadi istri Tarjo.


Dari pada pusing terus memikirkannya lebih baik di jalani saja. Kalau memang Allah sambungkan jodoh mereka kembali biarlah nanti mengalir seperti air. Siti tidak mau terlalu berharap. Dia takut kecewa.


Wijaya mengerti kalau Siti merasa tidak enak hati dengan ungkapan hatinya barusan dan Siti sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


"Baiklah, tunggu sebentar ya.. aku mau panen sayur dulu. Kamu siapkan bahan - bahannya di dapur. Minta saja semuanya sama Bibik. Masak yang enak, aku sudah lapar sekali" jawab Wijaya.


Wijaya berjalan ke kebun sayurnya dan memetik beberapa sayur yang akan di masak Siti. Hatinya sangat senang sekali. Akhirnya mimpinya dulu terkabul walau Siti bukan istrinya lagi. Tapi dia bisa memetik sayur - sayur ini dan menyerahkannya kepada Siti untuk diolah Siti menjadi makanan yang sangat enak.


Wijaya berjalan sambil bersenandung dan berbincang - bincang dengan tanamannya. Kata orang tanaman itu kan makhluk hidup dan mempunyai nyawa. Ajak saja mereka ngobrol agar mereka tumbuh dengan subur.


Seperti itulah yang dilakukan Wijaya setiap harinya kepada para tanamannya.


"Hai cabai... tomat.. terong dan semuanya. Hari ini aku akan makan enak, makan masakannya Siti. Aku sudah lama menginginkannya akhirnya terwujud juga. Terimakasih kalian sudah bertahan dan tumbuh dengan subur seperti ini jadi aku bisa memetik kalian langsung dari pohonnya.. tumbuh subur lagi ya dan diakan Siti terus di sini bersamaku" ucapnya sendiri di tengah kebun sayurnya.


Tak lama kemudian Wijaya datang dan langsung ke dapur dengan membawa sayuran di tangannya.


"Sebentar ya aku akan menangkap ikan di kolam. Aaah rasanya aku sudah tidak sabar ingin memakannya" gumam Wijaya.


Siti tersenyum memandang wajah pria cinta pertamanya itu. Kenangan masa lalu kembali berputar saat mereka masih bersama.


Wijaya selalu menemaninya memasak di dapur. Baik saat Siti memasak bubur ayam untuk dagangannya atau di saat Siti sedang memasak makanan untuk mereka.


Wijaya tidak akan malu - malu atau keberatan ikut memetik sayur ataupun membersihkan ikan yang akan mereka masak. Sangat berbeda dengan Tarjo

__ADS_1


Tarjo taunya hanya terima beres. Siang - siang dia bangun makanan harus sudah tersedia. Setelah itu Tarjo akan santai sejenak duduk di teras rumah sambil merokok. Setelah itu dia melanjutkan tidur kembali sampai sore.


Malam harinya Tarjo akan meminta uang kepada Siti untuk dipakai membeli minuman dan mabuk - mabukan dengan teman - temannta.


Kalau Siti tidak memberikan apa yang dia mau, Siti akan dipukul habis - habisan. Setiap itu lah hari - hari yang di jalani Siti bersama Tarjo.


Tanpa terasa air mata Siti jatuh menetes ke pipi. Bersamaan dengan itu Wijaya datang dengan membawa beberapa ekor ikan hasil tangkapannya.


"Kamu terluka?" tanya Wijaya.


"Ha... eh.. enggak Mas" jawab Siti terkejut. Dia segera menghapus air matanya yang menetes di pipi.


"Jadi mengapa kamu menangis? Kamu terpaksa melakukan ini semua? A.. aku tidak memaksa kamu Sit kalau... " ucap Wijaya.


"Nggak Mas, aku senang kok memasak seperti ini. Mataku hanya perih karena sedang mengiris bawang. Makanya aku menangis" potong Siti asal.


"Ooooh.. aku kira kamu .. "


"Nggak Mas.. aku suka kok memasak seperti ini" ulang Siti.


"Makasih Sit, sini aku bantu. Aku yang bersihin ikannya ya... " pinta Wijaya.


Seperti mengulang masa lalu, mereka melakukannya seperti dulu lagi. Siti dan Wijaya larut dalam nostalgia. Mereka berbincang - bincang dan sesekali bercanda sambil memasak.


Siapapun yang melihat mereka berdua pasti sangat tau kalau saat ini Siti dan Wijaya sedang bahagia.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2