Tiara

Tiara
Pernikahan Papa Dho


__ADS_3

Tiara dan Tegar sedang bersiap untuk pesta pernikahan Ridho dan Tiara pagi ini.


Tegar sudah menggunakan celana panjang berwarna navy dan kemeja lengan panjang berwarna biru muda dengan sepatu senada membuat dia semakin tampan.


Sedangkan Tiara memakai gamis sederhana berwarna biru muda dengan polesan make up tipis memancarkan kecantikan alami yang dimiliki Tiara.


"Mama cantik sekali" puji Tegar.


"Kamu juga tampan sekali sayang.... Kamu sudah siap? Kita turun yuk" ajak Tiara.


"Oke Mama... " jawab Tegar.


Mereka segera turun ke lantai dasar hotel dimana pesta pernikahan Ridho dan Tiara berlangsung.


Ijab kabul berjalan lancar, kini Ridho dan Tari sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tiara dan Tegar mengucapkan selamat kepada mereka berdua.


"Selamat ya Papa Dho dan Tante Ai., semoga aku cepat mendapatkan adik" ucap Tegar.


"Terimakasih sayang, semoga anak Papa dan Tante Ai setampan dan sepintar kamu ya" balas Ridho.


"Aamiin.. kamu ganteng sekali sayang" puji Tari.


"Iya donk, Tante juga sangat cantik hari ini. Mama kalah deh hari ini sama Tante Ai" jawab Tegar.


Ridho, Tari dan Tiara tertawa mendengarkan jawaban Tegar.


"Tante.. Tante... ssst jangan kuat - kuat ya... Mama sengaja membelikan aku baju baru khusus untuk pesta Tante Ai dan Papa Dho hari ini" bisik Tegar di dekat Ridho dan Tari.


"Itu namanya gak rahasia sayang kalau kamu sudah bocorin" potong Tiara.


"Kan cuma sama Papa Dho dan Tante Ai saja Mama" jawab Tegar cuek..


"Iya.. Papa Dho dan Tante Ai saja yang tau. Kami tidak akan bilang siapa-siapa lagi" Ridho tersenyum melihat Tegar.


"Selamat ya Dho, Tar.. Semoga pernikahan kalian SAMAWA. Semoga kalian segera mendapatkan momongan" ucap Tiara tulus.


Tiara menjabat tangan Ridho kemudian memeluk erat Tari.


"Aamiin.. Terimakasih ya Ra, kamu juga semoga secepatnya bisa menyusul kami" balas Ridho.


"Aamiin... biar Tegar dapat Papa baru, ya kan Tegar.." ujar Tari.


"Iya, aku kan pengen punya Papa Ma. Papa Dho nanti kan akan punya anak sama Tante Ai. Pasti aku tidak di sayang lagi" sambut Tegar.

__ADS_1


"Hahaha... kami akan selalu sayang sama kamu sayaaaang. Kamu jangan takut ya" balas Ridho.


"Ya sudah kami menepi dulu, masih banyak yang antrian di belakang kami mau ngucapin selamat" ucap Tiara.


Tiara dan Tegar turun dari pentas pelaminan dan kembali duduk di meja yang kosong di dalam ballroom Hotel tersebut.


"Sudah besar ya anak kamu. Masih belum ketemu siapa Bapaknya?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Ibunya Ridho.


"Astaghfirullah... Maaf Tante. Tolong jangan bicara seperti itu di depan anak saya. Dia tidak mengerti apa - apa" cegah Tiara.


"Huh.. masih saja mau menutup - nutupi kenyataan sebenarnya. Untung Ridho mendapatkan Tari yang jauh lebih baik dari kamu" sambung Ibu Ridho.


Nyeees... sakitnya perasaan Tiara saat itu. Untung saja suasana di pesta itu sangat ramai. Tegar sepertinya tidak mendengar ucapan dari Ibunya Ridho.


Tiara rasanya ingin berlari dan menangis. Dia kira lima tahun berlalu Ibunya Ridho tidak membencinya lagi. Toh Ridho juga bukan menikah dengannya tapi Tari. Dan hubungan mereka juga berkat andil besar dari Tiara untuk menyatukan mereka berdua.


Tetapi mungkin Ibunya Ridho tidak mengetahuinya. Baginya Tiara tetap saja wanita yang tidak baik karena hamil di luar nikah dan tidak jelas siapa Bapak dari anaknya itu.


"Bu.. sudah. Apa yang kamu lakukan di sini. Tiara kan tamu undangan. Kamu jangan mengganggunya lagi" cegah Bapak Ridho.


Bapak Ridho segera menarik istrinya menjauh dari meja Tiara dan Tegar.


"Maafkan istri saya ya Tiara" ucap Bapak Ridho sebelum berlalu dari hadapan Tiara.


Kenyataan adalah kenyataan, apa yang orang lihat tentu hanya luarnya saja. Dia memang hamil di luar nikah dan tidak jelas siapa ayah dari anaknya.


Tapi orang tidak pernah bertanya mengapa dia bisa hamil. Manusia hanya menilai dan memvonis bersalah hanya dari apa yang mereka lihat tanpa mau mencari alasan dan cerita dibalik kejadian itu.


Itulah yang Tiara ketahui dalam kehidupan ini dan dia sudah menjalaninya selama lima tahun. Menanggung sakitnya penderitaan yang dia jalani.


Dituduh bersalah dengan suatu hal yang dia lakukan tanpa sadar, bahkan hal itu terjadi karena dia di jebak oleh sahabat palsunya.


Seandainya waktu dapat di putar. Dia tidak hadir dalam acara kampus, atau dia tidak berteman dengan Ida, mungkin saat ini akan lain. Tiara bisa menegakkan kepalanya tanpa rasa malu dan bersalah yang dia rasakan selama ini.


"Siapa nenek tua itu Mama?" tanya Tegar tidak suka. Karena wanita tua itu sudah membuat Mamanya tampak bersedih.


"Nenek itu Mamanya Papa Dho sayang" jawab Tiara.


"Aku tidak suka melihat nenek itu. Sepertinya dia jahat" sambung Tegar.


"Hus... tidak boleh seperti itu Tegar. Nenek itu Mamanya Papa Dho. Kamu sayang Papa Dho kan?" tanya Tiara.


Tegar menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau sayang sama Papa Dho, kamu harus baik juga sama Mamanya Papa Dho" sambung Tiara.


"Iya Mama" jawab Tegar.


"Sekarang kita makan yuk sayaaaang.. " ajak Tiara.


Tiara dan Tegar menikmati hidangan makan siang, setelah mereka selesai makan Tiara menawarkan kepada Tegar untuk kembali ke kamar.


"Kamu sudah lelah?" tanya Tiara.


"Aku ngantuk Mama" jawab Tegar.


"Mama antar ke kamar yuk, tapi Mama gak temani kamu ya sayang. Setelah ngantar kamu Mama balik lagi ke sini karena teman - teman Mama, Papa Dho dan Tante Ai mau datang. Kamu tidak apa - apakan Mama tinggal sendirian di kamar?" tanya Tiara.


"Tidak apa - apa Ma" jawab Tegar.


"Nanti Mama tinggalin ponsel Mama yang satu ya, jadi kalau kamu terbangun dan butuh Mama kamu tinggal telepon Mama ya" perintah Tiara.


"Iya Ma" sambut Tegar.


"Ya sudah kita naik yuk. Mama antar kamu ke kamar" ajak Tiara.


Tegar dan Tiara kembali ke kamar mereka setelah Tegar berganti baju dan tidur Tiara meninggalkannya sendirian di kamar dan kembali ke lantai dasar tempat pesta Tari dan Ridho berlangsung.


Pesta masih sangat ramai, banyak keluarga dan rekan dan orang tua Tari yang berdatangan.


Tiara kembali mencari tempat duduk yang terletak dekat dengan pentas karena dia sedang menunggu teman - teman satu kos mereka dulu saat bersama Ridho dan Tari. Mereka sudah janjian untuk berkumpul dan bertemu di acara ini.


"Kamu jangan ganggu anak saya lagi ya. Dia sudah bahagia bersama istrinya. Awas kalau Tante dengar sesuatu tentang kamu. Tante tidak akan tinggal diam" ucap seorang wanita yang tiba-tiba menghampirinya.


Tiara sangat terkejut dan tidak menyangka kalau Ibunya Ridho akan menghampirinya lagi. Hal yang selalu ingin dia hindari tapi kali ini dia tidak bisa berbuat apa - apa.


Tiara hanya diam dan pasrah menerima semua perkataan Ibunya Ridho yang sangat menyakitkan.


"Dan satu lagi jauhkan anak kamu dari putra saya. Saya tidak suka anak kamu memanggil Ridho Papa. Dia bukan anak Ridho. Setelah menikah Ridho akan mempunyai anak sendiri bersama istrinya. Jadi jangan mimpi anak kamu mempunyai Papa seperti anak saya. Dengar itu!!" sambung Ibu Ridho lagi.


Setelah mengeluarkan kata - kata yang sangat menyakitkan Ibu Ridho berlalu dari hadapan Tiara.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2